MANAGED BY:
RABU
10 AGUSTUS
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Jumat, 01 Juli 2022 13:30
Kisah Pilu Panti Asuhan Annida Qolbu (1)
Menampung Yatim Piatu, Balita, Disabilitas, hingga Jompo

Terlahir menjadi anak yatim piatu bahkan memiliki kekurangan fisik dan mental (disabilitas) bukanlah pilihan hidup. Tak ada manusia yang siap untuk menghadapi cobaan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Terkadang egoisme lebih kuat dibandingkan rasa iba. Panti asuhanlah wadah ternyaman bagi para manusia yang kehilangan asa.

HENY, Sampit

Terlahir tanpa diharapkan kehadirannya, sengaja dibuang, tak dipedulikan, bahkan menjadi korban pelecehan seksual hingga kekerasan dalam rumah tangga. Itulah berbagai persoalan masa lalu yang pilu yang kerap dialami anak Panti Asuhan Annida Qolbu.

Senyum merekah tampak dalam bingkai wajah Titin Sumarni atau akrab disapa Tina. Dia terlihat senang ketika orang lain menyapanya. Dalam kondisi kedua kelopak mata yang tertutup, Tina masih bisa bernyanyi menghibur orang di sekitarnya.

Tina nampaknya mencari sumber suara yang sedari tadi mengajaknya berbincang. Dia menanyakan nama dan berusaha meraba tangan penulis seraya mendoakan. “Pian ini perejekian. Mudah-mudahan rejeki selalu datang untuk pian tanpa terputus,” ucapnya kepada Radar Sampit.

Tak lama dia berucap kelaparan. Energinya seperti gampang habis ketika diajak berbincang ringan. Kebetulan Senin (27/6) siang itu, Yayasan Annida Qolbu usai mengadakan pelepasan sembilan murid TK angkatan keempat dan 6 murid SD angkatan pertama.

Hidangan makanan untuk para tamu tentu saja masih tersisa. Makanan sop berkuah kuning itu disiapkan Sri Rahayu salah satu staf pengasuh yang biasanya bertugas memberi makan dan memandikan anak yatim yang mengalami disabilitas.

Sepiring nasi berkuah sup lengkap dengan lauk dihadapkan pada Tina. Sajian makanan yang masih hangat itu menggugah selera. Dia makan begitu lahapnya dan dengan penuh hati-hati.

Masa lalu Tina cukup menyedihkan. Dia terlantar tak memiliki keluarga. Sejak balita, Tina terlahir tak bisa melihat dan mengalami cacat pada tangan dan kakinya. Disaat usianya beranjak dua tahun tepatnya pada tahun 2001 lalu, kelima orang pendeta dari Tumbang Samba mengantarkannya ke Yayasan Annida Qolbu. Tak ada yang sanggup merawatnya dan tak semua panti mau menerima manusia yang mengalami disabilitas. Namun, dengan segala keterbatasan, Rohani selaku Ketua sekaligus Pendiri Yayasan Annida Qolbu mau menerimanya dan merawatnya selama 20 tahun hingga sekarang.

Tina jua lah yang menyadarkan pendiri yayasan ketika pemerintah daerah hendak membeli tanah yayasan menjadi tanah hibah pada tahun 2007 lalu.

Diusianya yang masih belia, Tina ketika itu bertanya dengan polosnya kepada pendiri Yayasan, “Kalau tanah dibeli pemda dijadikan tanah hibah, kalau saya mati dikubur disini, nanti kuburan saya diangkat (dibongkar/dipindahkan) lah?,” ujarnya dimasa itu.

Pertanyaan itu secara tidak langsung membuat pendiri Yayasan Annida Qolbu berpikir lebih jauh untuk mementingkan nasib anak yatim di masa depan. Hingga pada akhirnya, Yayasan Annida Qolbu yang berlokasi di Jalan Jaya Wjaya IV Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur itu tetap berdiri dan dikelola secara independen atas nama pendiri.

Selain Tina, adapula yang bernasib tak kalah menyedihkan. Dia Aisyah yang ditemukan di hutan dalam kondisi kelaparan. Perempuan yang kini beranjak usia 10 tahun diketahui berasal dari Ramban, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotim. Tak ada yang tahu siapa keluarganya yang tega membiarkannya terlantar di hutan. Dia dibawa oleh dinas sosial ke Yayasan Annida Qolbu ketika usianya masih 5 tahun.

Aisyah memiliki kelainan yang unik, dia tidak bisa melihat Matahari langsung, pendengarannya agak kurang dan selalu tidak nyambung ketika diajak berbicara. Ketika ada yang menyuruhnya mengambil sendok, yang diambil garpu. Ketika diminta mengambil piring, yang diambil gelas. Cara kerja otaknya dalam merespons lawan bicara selalu berlawanan. Namun, perempuan berkerudung ini nampak sopan ketika berbaur dengan orang lain.

Selain itu, adapula perempuan disabilitas yang bernama Ipung. Perempuan berkurudung dengan senyumnya yang manis ini memiliki kelainan penyakit gampang kencing dan mengalami kelainan menyukai lawan jenis dengan cara yang berlebihan.

Sebelum menjadi anak yatim,ibunya pernah menjadi pribadi yang ‘nakal’ dan memiliki ayah yang tidak peduli keluarga serta kerap bermain perempuan.

Ipung merupakan warga asal Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan yang dirawat di Yayasan Annida Qolbu ketika usianya masih 5 tahun. Saat ini usianya sudah 18 tahun.

Sebelum Ningsih dibawa keluarganya ke yayasan, Ningsih pernah ikut orang yang mau mengasuhnya. Namun, pengasuhnya memiliki perangai yang buruk, panjang tangan (mencuri) dan kerap memperlakukan Ningsih dengan cara yang kasar.

Selain Tina, Aisyah dan Ipung. Ada lagi perempuan disabilitas yang sudah 15 tahun tinggal di Panti Asuhan Annida Qolbu. Yana namanya. Usianya sekarang 20 tahun. Yana berasal dari Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotim. Tak memiliki keluarga yang peduli dengannya.

Yana memiliki masa lalu kelam dimana kedua orang tuanya berpisah alias bercerai. Ayahnya menikah lagi, kehidupannya Yana kecil menjadi berantakan tak terurus. Dia memiliki paman, namun sering ‘mengganggu’. Hingga akhirnya seseorang mengantarkan Yana yang saat itu masih berusia lima tahun ke Panti Asuhan Annida Qolbu.

Adapula perempuan disabilitas yang bernama Aulia. Dimasa kecilnya, Aulia harus menghadapi kehidupan pahit. Ibunya meninggal karena kanker payudara dan ayahnya meninggal karena serangan jantung. Saat itu dia dibawa ke panti oleh seorang anggota TNI saat usianya lima tahun. Dia ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan. Bagian kepala dan badannya mengalami luka dan terjadi kebocoran pada kepala, badannya luka-luka. Diduga ada orang yang sengaja melampiaskan tindakan kekerasan kepada Aulia kecil.

Bahkan, bekas luka dan jahitan pada bagian kepala dan badannya masih terlihat sangat jelas. Didalam kepalanya terdapat selang sejak kecil dan belum dikeluarkan hingga sekarang usianya 16 tahun.

Terlepas dari masa lalunya yang pahit, Aulia memiliki kelebihan. Meskipun dia tak cakap berbicara, namun dialah primadona panti. Warga sekitar mengenal Aulia. Wajahnya begitu mudah dikenali. Meskipun perempuan, dia percaya diri dengan penampilan botak tanpa rambut. Aulia memiliki kelainan, dimana dia akan sering pingsan apabila rambutnya dibiarkan panjang. Itulah sebabnya Aulia selalu berpenampilan gundul dan sangat mudah dikenali.

Tak hanya itu, dengan keterbatasannya yang memiliki emosi tidak stabil. Namun, urusan ibadah, Aulia jarang ketinggalan melaksanakan salat lima waktu.

Selain disabilitas perempuan yang dirawat di Panti Asuhan Annida Qolbu, adapula disabilatas laki-laki bernama Arsyil. Usianya kini 10 tahun. Terlahir yatim piatu, memiliki perangai yang super hyper aktif. Dia dibawa oleh kakaknya saat usianya 5 tahun. Arsyil senang mengotak atik barang, tidak bisa mendengar (tuli), tidak bisa berbicara (bisu) dan suka tidur diayunan dan diatas ranting pohon.

Masa lalu memilkukan juga dialami Iyud. Dia dibawa seseorang ke panti saat usianya 3 tahun. Kini usianya sudah 9 tahun. Dia merupakan korban dari orang tua yang mengalami perceraian. Ibunya dulunya bekerja menjual diri alias pekerja seks komersial (PSK).

Ditakdirkan hidup menjadi ujian bagi Udin. Remaja berusia 15 tahun ini memiliki keterbelakangan mental. Orang tuanya tak ingin mengakuinya sebagai anak. Dia manusia yang dilahirkan tanpa diharapkan kehadirannya. Warga Jemaras yang membawanya ke panti saat usianya lima tahun.

Kisah pilu lainnya juga dialami seorang remaja bernama Anwar (bukan nama asli). Anwar memiliki kelainan daya tangkap yang lambat. Dia diketahui berasal dari Seruyan. Namun, ironisnya saat usianya dua tahun dia diletakkan didepan pintu panti tanpa data dan identitas. Usut punya usut, Anwar memiliki nasib yang kurang lebih serupa. Ayahnya meninggal dan ibunya bekerja menjadi PSK.

Serta ada satu lagi disabilitas laki-laki yang punya kelihaian membantu para staf pengasuh dan senang tertawa meskipun tidak lucu.

Itulah 10 anak disabilitas yang hidup dan dirawat di Panti Asuhan Annida Qolbu. Sebelumnya sejak tahun 2000 bangunan Panti Asuhan berdiri masih ada 15 penghuni panti disabilitas yang dijemput keluarganya karena merasa bisa diandalkan dan adapula orang tua lanjut usia yang sudah jompo yang pernah tinggal dan dirawat di Panti Asuhan hingga wafat di Panti Asuhan Annida Qolbu.

Bahkan, ada pula sekitar 20an penghuni Panti Asuhan Annida Qolbu yang kabur ketika usianya sekitar 15-17 tahun.

Rohani mengaku sangat sedih. Meskipun beban dan tanggungjawabnya berkurang, namun dia tetap merasa sedih. Karena sebagian besar anak panti yang dirawatnya sejak usia balita, malah kabur tanpa pamit. Bahkan, tahun 2021 lalu ada 7 anak panti yang kabur.

“Mengasuh, merawat anak yatim piatu dan disabilitas itu tidak mudah. Perjuaangannya luar biasa, ada yang kabur, ada buang hajat dimana-mana, macam-macam problemnya. Semua itu saya lakukan untuk kemashlahatan umat,”.

“Tapi, ketika ada anak panti yang kabur tanpa pamit, saya sangat sedih. Saya berharap mereka ketika dewasa dapat mengabdi di panti ini menjadi manusia yang bermanfaat. Silakan keluar dari panti tetapi dengan cara yang baik, keluar dari panti menjadi manusia yang bermanfaat, mandiri dan sukses,” tambahnya.

Selama belasan tahun, panti menjadi wadah bagi mereka untuk bernaung, beristirahat, ibadah, bermain dan melakukan aktivitas layaknya manusia normal. Panti Asuhan Annida Qolbu tak dapat merubah nasib mereka menjadi manusia normal, namun panti asuhan mampu memberikan harapan bagi mereka untuk terus melanjutkan hidup. Panti mampu mengobati masa lalunya yang kelam menjadi canda dan tawa. Panti mampu merubah pribadi mereka menjadi lebih berakhlak dan bermanfaat bagi sesama. (bersambung)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 17 Oktober 2013 14:22

Terdakwa Pembunuhan Berlagak Bego

<div> <div>PALANGKA RAYA-Sidang atas kasus pembunuhan yang menimpa Kokon, dengan terdakwa…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers