MANAGED BY:
KAMIS
30 JUNI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

UTAMA

Selasa, 07 Juni 2022 12:17
Melihat Geliat UMKM di Palangka Raya Pascapandemi, Tak Hanya Dagingnya, Kulit dan Tulang Ikan Disulap Jadi Rupiah
GUDANGNYA OLAHAN IKAN: Abon, keripik dan tepung ikan tersedia di Galeri MEFs Foods and Snacks.

Sebagai daerah yang kaya akan ikan, muncul orang-orang yang penuh kreativitas dalam membuat olahan makanan. Seperti yang dilakukan Aqiedah Wahyuni, yang memproduksi segala jenis produk olahan ikan.

 

 

*ISABELA, Palangka Raya

 

SAAT masuk ke galeri plus rumah produksi, sudah disuguhi kemasan-kemasan berbagai jenis olahan ikan. Kemasannya begitu menarik, ada warna hijau, oranye dan warna merah. Penulis disambut oleh Aqiedah Wahyuni, penggagas dan pembuat olahan hasil perikanan yang dinamakan MEFs Foods and Snacks.

Kelompok usaha mikro kecil dan menengah itu berada di Jalan Merak Nomor 4 Palangka Raya. Sudah berjalan sejak tahun 2016 silam. Di bawah Binaan dari Dinas Perikanan Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya dan Bank Indonesia.

Menerapkan produksi satu atap, pemasaran satu pintu dan kontribusi ibu-ibu menjadikan anggota dalam kelompok ini yang berjumlah 12 orang . wajib produksi di rumah produksi bersama ini.

Ada empat jenis ikan yang dipakai untuk bahan utama. Yaitu, ikan haruan (gabus), patin, tenggiri, dan bandeng. Produknya berupa abon ikan, keripik, frozen food, dan tepung. Dari produk itu memiliki 21 sub varian produk. Di antaranya, mie, keripik kulit, dendeng, pempek, rengginang, petis, bakso, petis, sampai stik tulang. “Kami memiliki konsep mengolah ikan zero waste atau tanpa limbah,”ujarnya saat berbincang dengan Kalteng Pos, beberapa hari lalu.

Maunie, sapaan akrab Aqiedah Wahyuni menyebut, untuk harga tentu bervariasi. Tergantung jenis ikan dan sub varian produk. Semisal, keripik kulit ikan dipatok dengan harga Rp17 ribu. Abon kandas sarai ikan haruan Rp62 ribu.

Pemasaran produk yang dilakukan secara offline pun sudah tersebar di beberapa toko modern, sentra oleh-oleh, dan toko souvenir. Pemasaaran online melalui Instagram, WhatsApp, Facebook, Tokopedia, Shopee. Pelanggan luar Palangka Raya sudah banyak. Ada yang di kota yang ada di Sumatera dan Pulau Jawa.

“Untuk harga sangat terjangkau. Kita melihat bahan dasar ikan apa, kalau dari ikan haruan dan tenggiri otomatis itu lebih mahal karena harga ikannya juga mahal kami beli,”jelasnya.

Jika daging ikan terkenal dengan olahan abonnya, kulit ikan terkenal dengan keripiknya dengan berbagai sub varian rasa, maka tulang ikan terkenal dengan tepungnya. Ya, produk terbaru hasil inovasi Maunie.

Tepung tulang ikan gabus itu dihargai Rp72 ribu per 250 gram.

Ya, selama ini, tulang-tulang ikan itu tidak dibuang. Namun dikeringkan lalu dilembutkan. Jadi tepung. Inovasi itu dinamakan Tabungan Tulang dan Kulit Ikan (Tatuliti). Memanfaatkan ikan dengan sangat baik, tanpa limbah, ramah lingkungan,halal, berkah dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Tatuliti yang mana ini adalah hasil dari buah pikir saya yang ingin memanfaatkan ikan tidak hanya dagingnya saja, tapi juga tulang dan kulitnya berguna bisa dimakan dan memberikan manfaat Kesehatan bagi konsumen,”beber perempuan berpendidikan terakhir pascasarjana di Universitas Mulawarman Bidang Pendidikan Kehutanan Observasi Flora dan Fauna itu.

Produksi olahan yang ditekuni Maunie ini terbilang sukses memajukan hasil perikanan di Kota Cantik ini. Ia sudah mendapatkan sertifikat penghargaan nasional lulus di 17 inovasi terbaik hingga akhirnya masuk di 7 besar inovasi terbaik pada tahun 2019 dengan gagasan inovasi Tabungan Tulang dan Kulit Ikan (Tatuliti). Lalu mendapat penghargaan dari Bank Indonesia sebagai Kelompok Binaan Terprogresif pada tahun 2018. “Jika ditotal, ada 22 penghargaan,”sebut Maunie yang menyebut produknya sudah pernah mengikuti Seafood Show ke-19 di Osaka, Jepang tahun ini.

Sebelum terjun fokus keolahan makanan berbahan dasar ikan ini, pada tahun 2012 silam, Maunie memiliki usaha mandiri yaitu abon yang berbahan dasar mandai terbuat dari kulit cempedak. Respon bagus saat itu. Karena terganjal proses pengiriman kepada pelanggan jarak jauh ditambah buah cempedak yang berbuah musiman, akhirnya memilih beralih ke olahan ikan.

Tidak lama dari berinovasi abon mandai perempuan kelahiran tahun 1975 itu mencoba membuat abon yang berbahan dasar ikan, kurang lebih tiga tahun bergelut dengan usaha abon mandai dan abon berbahan dasar ikan. Pada tahun 2015 Dinas Perikanan Kota Palangka Raya mengadakan pendataan untuk mengetahui usaha perikanan itu apa saja yang dikembangkan masyarakat.

“Karena saya salah satu masyarakat yang punya usaha mandiri dalam produksi makanan berbahan dasar ikan hingga akhirnya saya dikunjungi, didata dan dibina sekaligus diarahkan untuk fokus ke olahan berbahan dasar ikan saja yang pada akhirnya saya meninggalkan abon mandai produk pertama saya,” ungkapnya.

Tiga tahun punya usaha sendiri, tahun 2016 akhirnya disarankan oleh Dinas Perikanan Kota Palangka Raya membetuk kelompok pengolah dan pemasaran hasil perikanan yang pada saat itu diberi nama Poklaser MEFs Foods and Snacks. Seiring berjalannya waktu dengan kebutuhan legalitas badan usaha akhirnya nama kelompok berubah menjadi Perkumpulan Pramesti Malima Energi Fokus Sejahtera (PMEFS).

Selain dibina oleh Dinas Perikanan kelompok pengolahan hasil perikanan “MEFs Foods and Snacks” juga dibina oleh Bank Indonesia sejak 2017 melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) yang mana Bank Indonesia sangat membantu dalam proses produksi dengan menyumbangkan peralatan produksi seperti mesin pemisah tulang ikan, mesin sangraian abon, dan lain-lain.

Pandemi Covid-19 berdampak pada pemasaran produknya. Penurunan omzet sampai 70 persen. Sebelum pandemi sekali produksi atau satu bulan sekali bisa menghabiskan 50 kilogram ikan haruan. Saat pandemi datang, hanya 10 kilogram saja sekali produksi. “Tahun 2022 ini, sudah berangsur-angsur membaik dan semoga terus berkembang, terutama untuk para pleku UMKM lain di Palangka Raya,”tutupnya.(ram)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 28 Juni 2022 19:20

Mantan Kabid di Disdik Kalteng Divonis 4 Tahun Penjara

PALANGKA RAYA -  Majelis Hakim Pengadilan Tindak pidana korupsi Palangka…

Senin, 27 Juni 2022 10:33

3 Hakim PN Pulang Pisau Dilaporkan ke Komisi Yudisial

Tiga Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pulang Pisau (Pulpis), dilaporkan ke…

Minggu, 26 Juni 2022 19:09

Erick Thohir Dominasi Usulan DPD PAN se Kalteng sebagai Capres 2024

PALANGKA RAYA - Mayoritas pengurus DPD PAN di 14 kabupaten/kota…

Sabtu, 25 Juni 2022 13:09

Suplai Sapi Digantung Birokrasi

PALANGKA RAYA-Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak…

Sabtu, 25 Juni 2022 13:08

Kalteng Surplus Hewan Ternak Kurban

Menjelang hari raya Iduladha Juli mendatang, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng…

Sabtu, 25 Juni 2022 13:07
Vaksin Ternak Telah Tiba, Sapi Jokowi Disuntik Perdana

Vaksin Datang, Sapi Langsung Disuntik

Guna mencegah makin meluasnya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK)…

Jumat, 24 Juni 2022 12:37

Waduh! Palangka Raya Alami Kenaikan Kasus Covid-19

Ketua Harian Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Kota Palangka Raya, Emi…

Jumat, 24 Juni 2022 12:36

Hanya Tercemar Ringan, Air Sungai Kahayan Dinilai Masih Aman

Air Sungai Kahayan di wilayah Kabupaten Pulang Pisau tercemar. Namun…

Kamis, 23 Juni 2022 12:23

Merasa Dilecehkan di Atas Panggung, Penyanyi Dangdut Lapor Polisi

Merasa harga dirinya direndahkan saat menyanyi di atas panggung, biduan…

Rabu, 22 Juni 2022 13:22

BISA BERBAHAYA! Sungai Lamandau Diduga Tercemar Limbah

Ribuan ikan di Sungai Lamandau, tepatnya di Desa Kujan ditemukan…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers