MANAGED BY:
SABTU
27 NOVEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

OLAHRAGA

Kamis, 11 November 2021 15:25
Fransiska Sandra Dewi, Atlet Pencak Silat Asal Palangka Raya yang Mengharumkan Nama Provinsi Sumsel (1)
Sayangnya, Medali Itu Bukan untuk Kalteng
DIBALAS PRESTASI: Fransiska Sandra Dewi (tengah) menahan tangis saat meraih medali emas pada ajang PON XX Papua, beberapa waktu lalu. DOK PRIBADI UNTUK KALTENG POS

Musibah itu datang tahun 2016. Cedera lutut membuatnya menepi. Lebih mirisnya, selama proses pemulihan, pemerintah tak mau menanggung biaya perawatan. Namun, pengalaman itu justru menjadi pelecut baginya hingga berhasil meraih emas pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua.

 

 

EMANUEL LIU, JAYAPURA

 

UCAPAN terima kasih yang sebesar-besarnya diutarakan Fransiska Sandra Dewi kepada mantan pelatihnya, Imam Abdullah, yang telah membinanya sedari kecil hingga menjadi atlet pencak silat profesional. Imam juga yang merawat dan selalu menguatkan hatinya selama mengalami cedera. Susah senang sudah dialami berdua dalam dunia pencak silat.

Dewi, sapaan akrabnya, pun menebus semua itu dengan prestasi di pentas PON XX 2021 Papua. Ketika medali emas dikalungkan di lehernya, tangis bahagia pun tak bisa terbendung. Namun, dalam hatinya merasa ada yang janggal. Atlet pencak silat kelahiran Palangka Raya ini tak bisa mengharumkan nama Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Ya, perempuan kelahiran 24 Juni 1999 itu justru membawa nama Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) pada pentas olahraga terbesar di Indonesia, beberapa waktu lalu. Panjang ceritanya mengapa Dewi sampai berpindah domisili ke Bumi Sriwijaya dan bergabung dengan perguruan Tapak Suci Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

Dewi menyempatkan berbincang-bincang dengan penulis. Raut wajahnya berubah-ubah. Terkadang terlihat senang karena mendapat medali emas di cabang olahraga pencak silat di kelas tanding F 70-75 kg putri. Sepintas terbesit kesedihan karena bukan bendera Kalteng yang berkibar di arena itu.

"Siapa sih yang tidak bangga, bisa tampil di PON dan sukses meraih medali emas. Saya sampai sekarang masih takjub. Namun sayangnya, saya tidak membawa nama Kalteng," ucapnya, beberapa waktu lalu.

Bakat Dewi di dunia pencak silat memang sudah terlihat sejak kecil. Sejumlah prestasi pernah diraihnya. Mengenal dunia persilatan sejak 2008. Ikut Perguruan Tapak Suci di Palangka Raya. Imam Abdullah adalah orang yang menemukan bakat Dewi. "Sejak kecil dibina oleh beliau (imam, red),” ujarnya.

Ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), Dewi pernah mengharumkan nama Kalteng. Menjuarai Popwil 2014 di Bali. Selanjutnya pada 2015 ia menjuarai Popnas dengan emas pertama pencak silat Kalteng.

Setelah itu, pada 2016 Dewi mengalami cedera lutut, sehingga memaksanya harus menjalani terapi rutin. “Pak Iman Abdullah yang membiayai saya untuk terapi,” tuturnya.

Pada 2017, bakat Dewi tercium daerah lain, meski masih dalam kondisi cedera. Tawaran datang dari Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Tengah. Namun, saat itu tidak diizinkan oleh Imam Abdullah. Imam ingin Dewi meraih prestasi dengan membawa nama Kalteng.

Imam, sebut Dewi, pernah ke Dispora Provinsi Kalteng dan KONI Provinsi Kalteng. Memberitahu soal penawaran dari provinsi lain. Kala itu Imam meminta agar pemerintah daerah memberi anggaran untuk pemulihan cedera Dewi. Tidak mahal. Hanya Rp50 ribu dalam sepekan untuk pijat atau terapi.

“Jika Dewi diambil provinsi lain dan bisa lebih baik, maka tidak masalah. Silakan pindah saja,” ucap Dewi mengulang penjelasan pihak pengurus kepada pelatihnya saat itu.

Imam juga sudah angkat tangan. Keterbatasan dana pribadi menjadi alasan utama. Karena itu, Imam menyerahkan sepenuhnya kepada Dewi untuk mengambil keputusan untuk masa depannya. Dewi pun akhirnya mencabut berkas kependudukan dan pindah ke Provinsi Banten.

"Namun saat di sana, saya tidak diurus dengan baik, malah cedera saya lebih parah. Setelah setahun berada di Banten, mereka tidak mau menerima saya lagi. Mereka bilang saya bukan atlet profesional dan tidak bisa menjaga prestasi yang pernah diraih sebelumnya," kisah Dewi.

Apa yang terjadi itu menjadi cambuk bagi Dewi, yang di saat yang sama berhenti kuliah di Universitas Palangka Raya.

"Saya benar-benar bingung saat itu. Padahal hasrat saya untuk tampil di ajang PON begitu besar. Di satu sisi, anterior cruciate ligament (ACL) saya robek,” ungkap .

Tekad Dewi menjadi seorang atlet profesional begitu kuat, walau orang tua menentang keinginannya itu. Bahkan orang tuanya pernah memintanya untuk meninggalkan dunia pencak silat.

"Ibu meminta saya untuk setop, lalu fokus kuliah dan kerja. Namun dari kecil sangat kepingin jadi atlet PON. Saya minta kepada mama agar memberi kesempatan sekali lagi. Jika gagal lolos PON, maka saya akan balik ke Palangka Raya," ujar perempuan berhijab ini.

Dewi pun menerima tawaran Heri Hermansyah, Pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Muba. Mereka mengurus pemulihan cederanya dan memberikan sarana prasarana latihan yang memadai. Beberapa bulan kemudian, mulai uji tanding Pra-PON di bawah arahan pelatih pencak silat Sumsel, Abas Akbar.

“Saat tampil di Pra-PON, saya hanya dapat medali perak, api tetap lolos ke PON. Saya kalah sama atlet pencak silat Jawa Tengah, Paradila Rahma,” sebutnya.

Ketika Dewi menundukkan Siti Nur dari Kalimantan Timur di laga final, orang tuanya pun ikut menyaksikan melalui live streaming. “Saat saya telepon, mereka menangis terus, sampai enggak bisa ngomong apa-apa,” bebernya.

"Dulu Dewi izin pergi dari Palangka Raya untuk juara 1 di PON, dan ini sudah terwujud, medali ini saya persembahkan buat mama dan papa,” ucapnya.

Dewi menyebut, ada hal yang membuat Kalteng berbeda dengan daerah lain. Yakni soal fasilitas dan sarana prasarana. Padahal dari segi kualitas dan kuantitas atlet, sangat mumpuni.

"Sebenarnya saya menunjukkan saya mampu mengharumkan nama Kalteng, walaupun membela Sumsel," tegasnya.

Dewi sangat menyadari, apa yang ia raih ini masih kurang lengkap. Karena Kalteng tidak dapat tampil di PON cabor pencak silat, dan dirinya tidak membawa bendera Kalteng di ajang PON. Meski demikian, prestasi yang diraihnya membuktikan bahwa potensi anak muda Kalteng luar biasa jika diasah secara benar.

"Saya lahir di Kalteng dan saya mengenal pencak silat di Kalteng. Saya memang juara, tapi mewakili provinsi lain. Tentu sangat sedih. Kalau seandainya saya juara dan naik podium dengan membawa nama Kalteng, itu akan lebih bangga lagi. Harapan saya, ke depan pencak silat Kalteng makin maju dan bisa tampil di PON," tutup mahasiswi STIP Anisa Palembang itu. (ram/ce/bersambung)


BACA JUGA

Kamis, 10 Oktober 2013 13:46

Warga Minta Dana Sewa dan Makan

<div> <div><strong>PALANGKA RAYA - </strong>Warga korban kebakaran di daerah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers