MANAGED BY:
SENIN
20 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

METROPOLIS

Rabu, 04 Agustus 2021 13:38
Menikmati Akhir Pekan Di Kedai Itah, Berasa Di Kampung Halaman

Menu yang Disajikan Diolah dari Dapur Tetangga

MEMESAN: Salah satu pengunjung memesan makanan di Kedai Itah, belum lama ini. ANISA/KALTENG POS

Back To Nature, begitulah konsep Kedai Itah. Nuansa pedesaan begitu terasa. Menyeruput kelapa muda dan menyantap nasi jagung. Rempeyek yang renyah melengkapi santapan akhir pekan.

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

MENIKMATI hidangan menu khas pedesaan terkadang menjadi kerinduan para perantau yang jauh dari kampung halaman. Kedai Itah yang beralamatkan di Jalan Bukit Tunggal, Suka Mulia, Tangkiling, Bukit Batu, Kota Palangka Raya ini memberikan nuansa pedesaan lengkap dengan menu-menunya.

Nasi jagung, nasi tiwul, gado-gado dan pecel. Makanan yang masih lestari ini disajikan oleh Kedai Itah yang diolah dari dapur tetangga. Iya, makanan itu tidak tersedia di Kedai Itah tetapi diolah dari beberapa dapur di lingkungan sekitar. Kedai ini tidak hanya berkonsepkan menyatunya alam dengan aktivitas manusia, tetapi juga menyatunya sosial masyarakat.

Sesuai konsepnya, kedai ini mengolah hasil kebun ke meja makan dan kembali ke kebun lagi. Sekaligus mengurangi sampah plastik sehingga lebih banyak menggunakan bahan yang bisa didaur ulang dan kembali ke kebun. Seperti daun pisang yang digunakan untuk bungkus makanan itu bisa didaur ulang dan menjadi pupuk.

Salah satu volunter Kedai Itah Ashadi Ragil mengatakan, sebelum Kedai Itah ini berdiri, ia yang bernaung di Yayasan Permakultur Kaliamnyan ini memang sudah sejak lama mengurangi sampah plastik dan menggantikannya dengan bahan-bahan yang bisa kembali ke alam.

“Makanan di sini dibungkus dengan daun pisang, sedotan dari purun, kelapa langsung dengan batoknya, namun ada sampah dari kotak susu yang tidak bisa didaur ulang menjadi pupuk tetapi tetap kita manfaatkan dengan cara dipres menjadi bata,” katanya saat diwawancarai di Kedai Itah, belum lama ini.

Diungkapkannya, dengan konsep ini pihaknya secara tidak langsung juga ingin menyampaikan pesan kepada pengunjung agar mengurangi sampah plastik. Melalui Kedai Itah dapat memberikan contoh kepada masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan. “Dengan konsep kami ini minimal kami tidak lagi menambah jumlah limbah, seperti diketahui saat ini bahwa Indonesia darurat sampah plastik,” ungkapnya.

Ide berdirnya kedai ini berawal dari kumpulnya para komunitas yang belajar bersama, sharing dan berbagai di Yayasan Permakultur Kalimantan. Untuk menyediakan wadah bagi para komunitas, akhirnya berdirilah kedai ini.Tak disangka, setelah kedai yang berdiri pada awal 2020 lalu ini akhirnya banyak dikunjungan masyarakat.

“Awalnya kedai ini sebagai wadah para komunitas, tetapi lama-lama banyak dikunjungi masyarakat secara umum,” katanya.

Awalnya pun, menu yang disajikan hanya beberapa saja. Semua yang disajikan berasal dari kebun yang dikelola oleh Permakukultur seperti singkong, kepala, jamur dan beberapa lainnya. Namun, semakin ramainya masyarakat yang datang maka menu ditambah.

“Untuk menambah varian menu kami menggandeng masyarakat sekitar, hingga menu saat ini yang ada cukup bervarian, kami pun membuka bagi siapapun yang manu menjual produksinya di kedai ini,” ucap pria 23 tahun ini.

Menariknya lagi, kedai yang dikonsep menyatu dengan alam ini benar-benar terasa. Kesederhanaan yang ditonjolkan justru menjadi daya tarik para pengunjung. Sangat berbeda jauh dengan fasilitas yang ditonjolkan di kafe-kafe perkotaan. Jika kafe atau kedai di perkotaan berlomba-lomba memberikan wifi, ruangan dingin berAC, kusri empuk atau mewah, tetapi tidak dengan kedai ini yang betul-betul menyatu dengan alam.

“Fasilitas yang bisa kami berikan hanya dengan duduk di tanah beralaskan selembar karpet dan kanan kiri kebun seluas dua kavling,” ucap pria alumni Univeristas Palangka Raya jurusan Program Studi Agroteknologi ini.

Ashadi menyebut, pengunjung yang datang dari berbagai kalangan. Mulai dari usia muda hingga tua. Pejabat, komunitas hingga keluarga besar. Yang datang pun banyak mereka bermobil. Tidak hanya dari wilayah Tangkiling saja, tetapi juga ibu kota yakni Palangka Raya.

“Bahkan ada yang datang dari Banjarmasin, kabupaten lain seperti Katingan dan Sampit, mereka menyebut bahwa penasaran dengan tempat ini karena di tmpat ini bisa bernostalgia dengan alam,” tegasnya.

Pria yang lahir pada 29 Maret 1998 ini mengatakan bahwa di tengah pandemi saat ini tentu menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Bahkan, satgas Covid-19 juga datang memantau dan memberikan edukasi terhadap pencegahan penularan Covid-19. “Kami buka dari Kamis hingga Minggu, karena selain hari itu kami aktif di kebun,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu pemilik dapur pecel Tejo mengatakan sangat terbantu dengan adanya Kedai Itah. Di tengah pandemi Covid-19 saat ini banyak masyarakat terdampak termasuk ia yang sehari-hari harus bekerja proyekan ke dareah-daerah. Namun, selama pandemic proyek sepi dan membantu istrinya mengolah pecel dan dititipkan ke Kedai Itah.

“Istri saya yang memasak di rumah, anak saya mencatat keluar masuk pecel yang dipesan Kedai Itah dan saya yang mengantarkan pecel ini dari rumah ke kedai, dalam sehari bisa bolak balik antara lima hingga sepuluh kali,” katanya saat dibincangi.

Pesanan pecelnya akan tinggi jika di akhir pecan yakni Sabtu dan Minggu mencapai 100 bungkus hingga lebih setiap harinya. Sedangkan Kamis dan Jumat pesanan hanya kisaran 60 hingga 70 bungkus saja. “Lama-lama kami kewalahan dan istri saya membayar pekerja untuk membantu memproduksi pecel,” ucapnya.

Omzet yang diterima setiap Minggu malam mencapai Rp2 hingga Rp3 juta. Dari jumlah itu ia bisa mendapatkan keuntungan Rp1 hingga Rp2 juta bersihnya. Pendapatan itu hanya dalam jangka waktu empat hari saja dalam sepekan. Dengan demikian, dalam sebulan ia bisa mendapatkan pendapatan bersih kisaran Rp6 juta.

“Dengan adanya kedai ini perekonomian kami sangat terbantu terlebih di tengah pandemi saat ini,” ucapnya. Dengan penghasilan sudah dapat mencukupi kebutuhan keluarga meski tidak lgi bekerja ke luar. Bahkan, saking banyaknya orderan di kedai, terkadang pelanggan datang langsung ke rumah demi mendapatkan pecel.

Terpisah, salah satu pengunjung Mery mengatakan, ia sudah dua kali datang ke kedai ini. Meski harus menempuh perjalanan yang cukup panjang sekitar 45 menit dari Kota Palangka Raya. “Awalnya saya dengar dari teman-teman dan menceritakan tentang kedai ini, awalnya memang penasaran saja, kemudian ingin kembali lagi ke sini,” katanya.

Perempuan berkacamata ini merasa ada keunikan dari kedai ini. Kembali ke alam sesuai konsep yang ditawakan benar-benar terasa. Ditambah menu makanan yang disajikan khas makanan pedesaan.

“Makan nasi jagung di tengah kebun, saya merasa berada di kampung halaman, tidak rugi jika saya datang dari Palangka Raya untuk menikmati suasana ini,” pungkasnya. (*/ala)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 12:26

Hasil Pemeriksaan Kasus Penyegelan Ribuan Kubik Kayu PT HPL, Belum Ada Titik Terang

PALANGKA RAYA-Hampir dua pekan berlalu, kasus penyegelan ribuan kubik kayu…

Sabtu, 18 September 2021 12:22

Polda Kalteng Musnahkan 1,3 Kilogram Sabu

PALANGKA RAYA-Polda Kalteng memusnahkan 1.374 gram sabu-sabu hasil sitaan Ditresnarkoba…

Rabu, 15 September 2021 13:43
Mengenal Sigit Ari Wibowo, Kepala UT BKN Palangka Raya

Minta Restu Orang Tua sebelum Ikut Tes CPNS

Sigit Ari Wibowo awalnya tidak memiliki minat menjadi abdi negara.…

Selasa, 14 September 2021 13:42

Terjunkan Petugas Medis untuk Pengobatan Korban Banjir

Masih tingginya banjir di Kota Palangka Raya membuat dinas kesehatan…

Selasa, 14 September 2021 13:40

Di Palangka Raya, Jumlah Titik Banjir Terus Bertambah

Titik banjir di Kota Palangka Raya bertambah. Seperti yang terjadi…

Jumat, 10 September 2021 11:34

Green Peace Bilang, Banjir Kalteng karena Kerusakan Alam yang Parah

PALANGKARAYA-Green Peace menyoroti banjir parah yang terjadi di Kalimantan Tengah…

Jumat, 10 September 2021 11:32

Terpapar Covid-19, Tiga Peserta Dijadwalkan Ulang

PALANGKA RAYA-Unit Pelaksana Tugas (UPT) Badan Kepegawaian Negara (BKN) Palangka…

Kamis, 09 September 2021 12:11

Mengunjungi Gereja Katolik Tertua di Kalteng yang Masuk Cagar Budaya

Keberadaan Gereja Katedral St Maria Palangka Raya menjadi simbol kehadiran…

Kamis, 09 September 2021 12:08

SKD Pemprov Kalteng Dilaksanakan Enam Hari

PALANGKA RAYA-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD)…

Kamis, 09 September 2021 12:01

Suroso, Petani Sukses yang Mengubah Lahan Gambut Jadi Agrowisata

Menjadi seorang petani bukanlah profesi rendahan. Suroso bisa membuktikan bahwa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers