MANAGED BY:
SABTU
28 NOVEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

UTAMA

Sabtu, 12 September 2020 12:38
Mengunjungi Desa Belanti Siam, Lumbung Pangan Nasional

Delapan Tahun Baru Mendapatkan Hasil

SUDAH MODERN: Mesin pemanen padi tak menyisahkan batang-batang padi di sawah milik Manto, petani di Desa Belanti Siam, beberapa waktu lalu. AGUS PRAMONO/KALTENG POS

Kecamatan Maliku juga termasuk daerah penghasil beras. Ada 1.557 hektare lahan produktif. Setengah jam perjalanan, gapura selamat datang di Kecamatan Pandih Batu terlihat jelas. Meski catnya sudah ada yang memudar. Pemandangan serupa terlihat sepanjang perjalanan menuju Desa Belanti Siam. Kanan kiri berupa hamparan padi. Beberapa petak sawah sudah mulai dipanen dengan cara modern, yakni dengan menggunakan mesin pemanen padi. Orang-orang di sana menyebutnya mesin combine.

Akhirnya sampai juga di Desa Belanti Siam. Sesuai petunjuk spidometer, jarak dari pusat Kota Pulang Pisau ke Desa Belanti Siam yakni 62 kilometer. Saya langsung berhenti di depan rumah Kepala Desa Belanti Siam, Amin Arifin. Kebetulan sedang nongkrong bersama tiga orang warga, di bawah pohon rindang tepat samping kiri rumahnya.

Desa ini dahulunya berwajahkan hutan belantara. Pada 1983 lalu, ratusan bahkan ribuan orang dari Pulau Jawa bertransmigrasi. Membabat hutan. Membuat petak-petak sawah. Perjuangan berat yang dilakukan membuahkan hasil. Di desa yang berpenduduk 2.484 jiwa itu, hutan disulap menjadi persawahan seluas 1.687 hektare. 563 hektare lahan sisanya masih belum produktif. Berdasarkan data, Kecamatan Pandih Batu memiliki 6.943 hektare sawah yang tersebar di 16 desa.

“Kemajuan Desa Belanti Siam ini berkat keuletan warganya. Tidak kenal menyerah. Puluhan tahun merintis penuh peluh. Sabar hidup dalam serbakekurangan,” ujar Kepala Desa Belanti Siam, Amin Arifin merendah. “Dulu oyek panganane (dulu nasi oyek makannya, red),” tambahnya.

Padi yang diolah menjadi beras memiliki merek dagang beras Belanti Siam. Sudah dipasarkan di 14 kabupaten/kota se-Kalteng. Bahkan sampai ke beberapa daerah di Kalimantan Selatan (Kalsel). Di Desa Belanti Siam, jenis padi unggulan adalah Hibrida Supadi. Satu hektare bisa menghasilkan enam sampai sepuluh ton padi. “Di sini berasnya enak. Tak kalah dengan daerah lain, meski jenis padinya sama. Beras yang keluar dari Desa Belanti Siam dijual dengan harga Rp9 ribu/kilogram,” ungkapnya.

Kendala yang dialami petani datang kala musim kemarau panjang. Kemungkinan gagal panen lebih besar. “Kenapa? Habis tanah kering, pecah. Mau dikasih air, enggak ada air. Naiklah keasaman,” beber Amin yang baru dilantik jadi kepala desa Oktober 2019 lalu. “Masak mau dijadikan food estate, tapi masih mengenal gagal panen,” sindir bapak dua anak ini.

Halaman:
loading...

BACA JUGA

Selasa, 08 Oktober 2013 17:47

Pencemaran Udara Teru Meingingkat

<div> <div><strong>PALANGKA RAYA &ndash; </strong>Banyaknya terjadi kebakaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers