MANAGED BY:
SENIN
20 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Selasa, 10 Maret 2020 11:56
Abdullah Gampang, Perintis Usaha Ukiran Kayu Motif Dayak

Terkadang Kesulitan Modal saat Banjir Pesanan

HASIL KARYA: Berbagai macam ornamen khas Dayak diproduksi oleh Workshop Patra Craft di Kelurahan Sebaru. INSET: Abdullah Gampang menunjukkan hasil kerajinannya.

Hasil kerajinan khas Dayak semakin terkenal dan banyak peminatnya. Mulai dari batik, ukiran kayu, maupun kerajinan lainnya. Hal ini menjadi angin segar bagi usaha pembuatan berbagai macam kerajinan khas Dayak, seperti yang ditekuni oleh Abdullah Gampang. Ia nekat beralih profesi dari buruh bangunan, lalu mengembangkan sayap usaha di bidang kerajinan ukiran kayu.

 

AGUS JAYA, Palangka Raya

 

SUARA mesin bor yang dijalankan para pekerja di Workshop Patra Craft terdengar nyaring saat saya (penulis) bertandang ke bangunan yang beralamat di Perumahan Sri Rejaki II, Kelurahan Sabaru, Kecamatan Sebangau Palangka Raya, Sabtu (7/3).

 

Setelah bertanya tentang pemilik rumah kepada salah satu karyawan perempuan, penulis dipersilakan masuk ke ruangan tengah rumah itu. Langsung disambut oleh Abdullah Gampang selaku pemilik toko dan Workshop Patra Kraft.

“Tunggu sebentar ya Mas,” ucap pria berkacamata yang tengah sibuk membalas pesan WhatsApp yang masuk ke ponselnya. Saya pun dipersilakan untuk duduk.

Di dalam ruangan itu, tampak berbagai macam kerajinan ukiran kayu bermotif khas Dayak. Ada kelawang, patung naga, gantungan kunci, asbak, mangkuk atau piring kayu, serta berbagai macam kerajinan kayu setengah jadi maupun yang sudah jadi. Bertebaran dan berjejer di lemari seta di ruang tengah itu.

Tak lama kemudian, pria yang biasa dipanggil Gampang ini pun selesai dengan urusannya. Pria 50 tahun itu menyambut saya dengan ramah. Obrolan pun mengalir.

Gampang menceritakan awal mula dirinya menekuni kerajinan kayu ornamen khas Dayak ini. Berawal dari mengikuti pelatihan kerajinan kayu yang diadakan oleh Pemerintah Kota Palangka Raya dan Pemerintah Provinsi Kalteng.

“Ikut pelatihan mulai tahun 2009 sampai 2011. Pada 2013 barulah mulai bisa bikin produk sendiri” kata Gampang memulai kisahnya. Dalam pelatihan itu, ia mendapat bimbingan dari instruktur asal Bali dan Jepara.

Awalnya Gampang menjalankan usaha kerajinan kayu ukiran khas Dayak dengan memanfaatkan waktu usai bekerja sebagai buruh bangunan. Saat malam hari atau saat memiliki waktu senggang, ia belajar membuat ukiran kayu khas Dayak. Lambat laun usaha ukiran yang dijalankannya semakin berkembang hingga saat ini.

Saat ditanya kenapa ia memilih menjalankan usaha kerajinan ukiran kayu motif khas Dayak dibandingkan motif daerah lain, pria berdarah Jawa itu mengatakan bahwa pengetahuan itulah yang didapatkannya saat mengikuti pelatihan.

“Karena yang saya belajar memang motif Dayak. Kalau motif lain saya enggak tahu,” ujar pria yang mengaku tidak sempat menamatkan pendidikan SMA-nya ini sembari tertawa pelan.

Saat mengikuti pelatihan, tutur Gampang, ada instruktur yang mengatakan bahwa ukiran kayu dengan motif lokal (khas Dayak), jika dibuat menjadi seni kerajinan, maka akan memiliki peluang besar untuk dipasarkan. Hal itulah yang memotivasinya untuk mengembangkan ukiran khas Dayak.

Diakui Gampang, saat ini kerajinan kayu yang banyak dipesan konsumen adalah berbagai bentuk telawang, batang garing, miniatur rumah betang, ukiran bentuk patung masyarakat Dayak, hiasan dinding khas Dayak, maupun plakat serta papan nama dengan ukiran khas Dayak.

“Terkadang ada juga pesanan furnitur dengan ukiran khas Dayak,” tambah ayah dua anak ini.

Berbicara tentang berbagai ukiran atau ornamen kayu bermotif Dayak, terutama menyangkut warna ornamen dan bentuk ukiran khas Dayak, Gampang menjelaskan, walaupun sepintas terlihat mirip, akan tetapi setiap ukiran mempunyai kekhasan motif tersendiri, sesuai daerah asal suku Dayak. Ukiran kayu dari Dayak Kalteng, lanjutnya, berbeda dengan ukiran khas suku Dayak Kalbar atau Dayak di Kaltim. Bahkan di antara ukiran kayu khas Dayak Kalteng juga memiliki motif berbeda.

Selama menekuni usaha ini, beberapa kali Gampang menerima pesanan untuk pembuatan ukiran kayu dan ornamen dengan motif khas Dayak yang digunakan khusus dalam acara adat Dayak. Biasanya ukiran yang dibuat itu berbeda dari ukiran diketahui masyarakat pada umumnya.

Selain motif, warna yang digunakan dalam ukiran kayu juga memiliki makna dan maksud tertentu. Gampang memberi contoh warna pada miniatur Batang Garing yang sudah dibuatnya. Menurutnya, warna dominan kuning atau hijau menandakan kemakmuran. Sementara, jika didominasi oleh warna hitam, menggambarkan keagungan pemiliknya.

Referensi pengetahuan tentang arti dan makna dari bentuk ukiran kayu motif Dayak tersebut didapatkannya dari berbagai buku yang membahas tentang kehidupan suku Dayak, khususnya buku histori terkait kebudayaan masyarakat Dayak pada zaman dahulu. Diakui Gampang, tidak mudah baginya untuk mendapatkan berbagai referensi itu.

“Buku buku itu baru bisa saya dapatkan setelah memenangkan berbagai perlombaan menyangkut ukiran suvenir khas Dayak yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kalteng. Selain itu, saya juga mempunyai kitab pananturan, sehingga saya bisa tahu mana yang boleh dan tidak boleh,” katanya.

Dalam sekian tahun menjalani usaha di bidang kerajinan kayu ukiran khas Dayak, Gampang benar-benar menyadari bahwa salah satu yang menjadi kendala adalah persoalan modal usaha. Untuk menghidupi usahanya, Gampang masih mengandalkan modal hasil pembayaran dari para pemesan. Hingga saat ini pihaknya belum pernah mendapat sokongan dari dinas atau instansi terkait lingkup pemerintah daerah maupun pusat.

Dengan bermodal usaha pas-pasan, tak jarang Gampang mengalami kesulitan menghadapi pesanan konsumen dalam jumlah yang banyak.

“Kadang saya harus meminta pembayaran DP terlebih dahulu atau pelunasan untuk pengerjaan barang yang dipesan, terutama untuk membeli kayu,” ujar nya lagi.

Mengenai sumber bahan baku khusunya kayu, Gampang mengatakan, pihaknya telah memiliki galangan kayu yang menjadi langganan. Bahan baku yang diutamakan adalah kayu ulin dan benuas.

Meski masih terkatung-katung dengan urusan permodalan, Gampang tetap merasa bersyukur karena saat ini usahanya mulai dikenal luas. Selain sering mendapat pesanan perorangan dari warga Kalteng, pesanan juga datang dari luar daerah seperti Kalbar. Bahkan ada pula pesanan dari luar Pulau Kalimantan, seperti Jakarta, Bandung, dan daerah lainnya.

Untuk mengembangkan usahanya, Gampang memiliki keinginan membuka satu toko lagi. Dengan demikian, ia berharap bisa memperluas pemasaran dan penjualan produk kerajinan kayunya. “Karena dengan adanya toko, kami bisa mendapatkan informasi secara langsung dari konsumen soal kekurangan dari produk kami. Ini sangat penting untuk pengembangan usaha,” pungkasnya. (*/ce)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 24 Agustus 2021 11:13

Mengenal Muhamad Ridwan, Dokter yang Rutin Berbagi Berkah Tiap Jumat

Sekali dalam sepekan Muhamad Ridwan rutin menebar kebaikan. Dokter muda…

Jumat, 09 Juli 2021 11:16
Mengikuti Kegiatan Donasi Literasi di Tanjung Pusaka (2/selesai)

Desanya Hanya 400 Meter, Satu Sekolah 14 Murid

Menikmati fasilitas pendidikan yang layak merupakan hak bagi setiap anak…

Senin, 14 Juni 2021 11:05

Melihat Keberadaan Bank Sampah Jekan Mandiri, Anggota Mencapai Ratusan Orang, Hasilnya Cukup Menggiurkan

Masalah sampah menjadi persoalan klasik di kota-kota yang sedang berkembang.…

Selasa, 07 Juli 2020 12:40
Mengenal Lindu Anugraha, YouTuber Kalteng yang Mengusung Kearifan Lokal (2/selesai)

Konsisten Bikin Konten, Warga Dilibatkan sebagai Model

Menjadi salah satu peraih silver play button dari YouTube tentunya…

Selasa, 10 Maret 2020 11:56

Abdullah Gampang, Perintis Usaha Ukiran Kayu Motif Dayak

Hasil kerajinan khas Dayak semakin terkenal dan banyak peminatnya. Mulai…

Senin, 02 Maret 2020 14:33

Madu Borneo Mellifera, Merambah Pasar Nasional dan Internasional

Kemasan begitu menarik. Peta Pulau Kalimantan tampak besar. Berwarna Hitam.…

Senin, 27 Januari 2020 12:28

Mengintip Produksi Makanan Olahan IRT Kalampangan

Kreativitas ibu rumah tangga (IRT) di Kelurahan Kalampangan benar-benar tanpa…

Jumat, 22 November 2019 23:25
Angkie Yudistia, Stafsus Presiden Penyandang Tunarungu dengan Segudang Prestasi

"Sudah Waktunya Disabilitas Bukan Kelompok Minoritas"

SATU di antara tujuh staf khusus presiden Jokowi dari kalangan milenial…

Senin, 23 September 2019 10:51

Cerita Heroik Pemadam Karhutla di Kalteng

Mereka patut mendapat apresiasi lebih. Tak banyak waktu berkumpul dengan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers