MANAGED BY:
SENIN
20 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Senin, 02 Maret 2020 14:33
Madu Borneo Mellifera, Merambah Pasar Nasional dan Internasional

Rasa Istimewa, Ada Manis, Asam dan Pahit

ULET: Budiyana (kiri) bersama Presma, dari PLUD Dinas Koperasi dan UKM menunjukkan kemasan madu. INSET: Lebah madu bergerombol di frame lilin yang dijadikan sarang. AGUS PRAMONO/KALTENG POS

Kemasan begitu menarik. Peta Pulau Kalimantan tampak besar. Berwarna Hitam. Hanya areal Kalteng yang diwarnai oranye. Sepintas melihat, orang akan langsung tertuju, jika madu berasal dari Bumi Tambun Bungai.

AGUS PRAMONO, Palangka Raya

Beraneka ragam jenis tanaman tumbuh di sekitar rumah Budiyana. Rimbun. Bak payung. Bunga yang tumbuh bergantung berayun-ayun. Satu dua lebah terbang di sekitarnya. Mengincar serbuk sari. Makanannya sehari-hari.

Pagi itu, penulis mendatangi rumah yang sekaligus tempat budi daya lebah madu. Berada di Jalan Bereng Bengkel, Desa Kalampangan. Berjarak 20 kilometer atau 28 menit jika ditempuh dengan kendaraan dari pusat Kota Palangka Raya. Must Yoan Farm "Borneo Mellifera" begitu nama usaha yang tercantum di kemasan. Mellifera merupakan nama jenis lebah yang berasal dari Australia yang sudah banyak dibudi daya di tanah Borneo.

Saya langsung disambut oleh Budiyana sendiri. Pria berkumis itu menyambut dengan Senyum manis. Tak langsung mempersilahkan saya duduk. Seolah-olah sudah tahu maksud dan kedatangan saya. Pria berperawakan kurus itu langsung mengajak ke lokasi lebah berproduksi. Bukan yang ada di sekitar rumahnya yang asri. Melainkan ke kebun yang jaraknya sekitar 200 meter. Naik sepeda motor.

Setelah sampai, ada tiga remaja sedang bersantai di teras rumah. Di sampingnya, ada wadah berbentuk kotak. Dua kali ukuran kardus mie instan. Berjejer memanjang. Di bawah pohon rambutan. Yang kebetulan sedang berbuah. Di tempat itulah tempat lebah-lebah bekerja membuat sarang. Bekerja mencari makan. Dan memproduksi madu. Wadah itu merupakan wadah lebah bersarang.

Saya pun sedikit ketakutan untuk mendekat. Tapi, tiga remaja yang ternyata masih berstatus pelajar itu menceletuk."Selama kita tak menyakiti, lebah pun tidak akan menyakiti," ucap salah satu dari mereka yang ternyata lagi magang itu.

Saya pun mendekat. Melihat dari dekat isinya. Sedikitnya ada delapan sekat yang dipisahkan oleh frame atau bingkai yang berbahan dasar lilin lebah. Madu bergerombol di setiap frame. Membuat sarang dan menghasilkan madu. Dalam satu wadah, ada ratusan ekor lebah pekerja. 10 sampai 20 ekor lebah pejantan. Dan satu ekor lebah ratu.Satu per satu frame diangkat. Mencari ratu dari ratusan lebah itu. Frame ketiga, lebah ratu itu ketemu. Ukuran dan panjang tubuh berbeda. Yang pasti lebih besar. Panjangnya diperkirakan satu setengah panjang dari tubuh lebah pekerja.

"Dalam satu kotak ini, hanya ada satu lebah ratu," ujar pemilik nama lengkap Yoanes Budiyana ini.

Usia lebah pekerja hanya 60-70 hari. Lebah pejantan maksimal 90-100 hari. Sekali mengawini ratu, langsung mati. Kalau ratu, hidupnya bisa sampai enam tahun.Tiga tahun masa produktif bertelur. Bagaimana menciptakan ratu? Menciptakan ratu dalam satu koloni, diawali ketika masih berupa telur. Diberi asupan makanan lebih banyak dari calon lebah pekerja. Setelah 11 hari bermetamorfosis, otomatis diangkat menjadi ratu oleh para koloni lebah.

Lebah ratu akan menjalani proses perkawinan alami dengan caranya sendiri. Sepekan setelah keluar dari kepompong, ratu akan diburu para lebah pejantan. Hal ini yang sering gagal dilakukan oleh para petani lebah madu.

"Ratu akan terbang setinggi-tingginya. Lebah pejantan akan mengejar. Kalau jatuhnya tidak di sarang, akan berbahaya, bisa dimakan predator. Dan lebah ratu hanya kawin satu kali sepanjang hidupnya. Begitu juga lebah pejantan, satu kali kawin, akan mati," beber Budiyana.

Budiyana memulai merintis menjadi petani lebah madu pada tahun 2014. Tahun 2012 bekerja sambil belajar di lokasi budi daya lebah madu di Temanggung, Jawa Tengah.

Satu kotak berisi lebah ratu dan koloni dibawa menyeberang laut Jawa. Dipelihara dengan telaten. Tidak hanya coba-coba. Sampai akhirnya, kini ada 50 buah “istana” lebah ratu. Budiyana mengepakkan usahanya. Merangkul orang lain yang menjadi petani lebah madu sebagai mitra.

“Total kotak sarang ada 150 an. Termasuk yang ada di Jalan Tingang, Anjir Kalampan Pulang Pisau, Cempaga Kotim. Kalau musim panen, kami olah di sini,” ujarnya.

Hasil satu kali panen dalam satu bulan, bisa mencapai 500 kilogram madu. Setelah diolah melalui proses penyaringan dan sebagainya, hasilnya menjadi 400- 420 liter madu siap jual,” kata pria yang dikaruniai empat orang anak itu.

Nilai jual madu tergantung dengan kualitas dari madu sendiri. Budiyana sangat memperhatikan sumber makanan bagi para lebah pekerja. Karena nektar bunga berpengaruh dengan rasa. Berkaneka tanaman berbunga ditanam. Mulai akasia, bunga air mata pengantin. bunga kertas, bunga matahari, dan segala macam sayur-sayuran. Air gambut juga sangat berpengaruh dengan kualitas madu. Bahkan hal itu dijadikan kelebihan.

“Ciri khas madu kami atau madu Kalteng, madu bisa beraneka rasa. Ada manisnya, ada asamnya, dan ada pahit-pahitnya.

Kalau madu Jawa, biasanya hanya manis saja,” ungkapnya.

Pihaknya juga menjamin madu hasil produksinya tidak ada dicampur pemanis buatan dan sebagainya. Bisa langsung dites. Coba saja satu sendok madu dipanasi dengan api. Sampai sedikit mendidih. Kalau sudah dingin, coba dilihat apakah madu itu membeku atau tidak.

“Kalau masih dalam kondisi yang sama, berarti madu asli. Kalau membeku atau mengeras, berarti ada campuran gula. Kalau keras banget, ya banyak sekali gulanya,” celetuknya.

Budiyana sangat menghindari para lebah pekerja mencari makanan terlalu jauh. Hal yang dikhawatirkan tak lain adalah bahan kimia. Bisa saja madu menghisap nektar bunga atau tanaman yang sudah disemprot dengan pestisida. “Pestisida bisa membunuh lebah.

Kalau sudah masuk sarang, bisa langsung kontak,” tambahnya.

Untuk itu, sarang lebah tak boleh lepas dari pantauan setiap hari. Untuk perawatan, selalu memperhatikan kondisi sarang. Jangan sampai ada predator masuk. Seperti cicak, semut dan jenis serangga lain.Hal lain yang menjadi kendala saban tahun adalah kondisi kabut asap. Hampir dipastikan ada lebah yang mati.

“Tahun 2015, kami ada 25 kotak, karena kabut asap, tersisa 12 kotak sarang,” sebutnya.

Dalam hal pemasaran, Budiyana tak terlalu kesulitan. Banyak pihak yang mendukung. Lokasinya yang dijadikan tempat pelatihan dan pemagangan ini juga membantu dalam promosi.

Di dalam etalase rumahnya, ada beberapa produk yang dijual. Mulai dari kemasan berisi 500 mililiter yang dihargai Rp150 ribu, 100 mililiter Rp50 ribu. Untuk madu permentasi atau madu wine Rp250 ribu per kemasan.

Madu yang sudah mendapat sertifikat halal dan sudah mendapat perizinan serta terjamin kualitasnya ini sudah dapat ditemui di toko modern yang ada di Palangka Raya, Banjarmasin, Medan, Bekasi, dan seluruh Kalimantan Tengah. Bahkan, saat ini produknya sudah berada di pasaran sebagaian kota besar di Pulau Jawa. “Sebagian warga negara asing juga tertarik dengan produk ini. Kami ke depan juga akan mengembangkan ke pasaran luar negeri, semoga segera, doakan saja,” katanya.(*)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 24 Agustus 2021 11:13

Mengenal Muhamad Ridwan, Dokter yang Rutin Berbagi Berkah Tiap Jumat

Sekali dalam sepekan Muhamad Ridwan rutin menebar kebaikan. Dokter muda…

Jumat, 09 Juli 2021 11:16
Mengikuti Kegiatan Donasi Literasi di Tanjung Pusaka (2/selesai)

Desanya Hanya 400 Meter, Satu Sekolah 14 Murid

Menikmati fasilitas pendidikan yang layak merupakan hak bagi setiap anak…

Senin, 14 Juni 2021 11:05

Melihat Keberadaan Bank Sampah Jekan Mandiri, Anggota Mencapai Ratusan Orang, Hasilnya Cukup Menggiurkan

Masalah sampah menjadi persoalan klasik di kota-kota yang sedang berkembang.…

Selasa, 07 Juli 2020 12:40
Mengenal Lindu Anugraha, YouTuber Kalteng yang Mengusung Kearifan Lokal (2/selesai)

Konsisten Bikin Konten, Warga Dilibatkan sebagai Model

Menjadi salah satu peraih silver play button dari YouTube tentunya…

Selasa, 10 Maret 2020 11:56

Abdullah Gampang, Perintis Usaha Ukiran Kayu Motif Dayak

Hasil kerajinan khas Dayak semakin terkenal dan banyak peminatnya. Mulai…

Senin, 02 Maret 2020 14:33

Madu Borneo Mellifera, Merambah Pasar Nasional dan Internasional

Kemasan begitu menarik. Peta Pulau Kalimantan tampak besar. Berwarna Hitam.…

Senin, 27 Januari 2020 12:28

Mengintip Produksi Makanan Olahan IRT Kalampangan

Kreativitas ibu rumah tangga (IRT) di Kelurahan Kalampangan benar-benar tanpa…

Jumat, 22 November 2019 23:25
Angkie Yudistia, Stafsus Presiden Penyandang Tunarungu dengan Segudang Prestasi

"Sudah Waktunya Disabilitas Bukan Kelompok Minoritas"

SATU di antara tujuh staf khusus presiden Jokowi dari kalangan milenial…

Senin, 23 September 2019 10:51

Cerita Heroik Pemadam Karhutla di Kalteng

Mereka patut mendapat apresiasi lebih. Tak banyak waktu berkumpul dengan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers