MANAGED BY:
RABU
19 FEBRUARI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

UTAMA

Kamis, 23 Januari 2020 12:25
Di Tahanan, Terdakwa Pembakar Lahan yang Sudah Kai-Kai Itu Mengaku Gemetaran
Sapur (kiri) melempar senyum ketika bertatap muka dengan rekan sejawatnya, Mulyono. (FADLI HERIJA/KALTENG POS)

PROKAL.CO, MUARA TEWEH-Tak pernah terpikirkan sebelumnya, hari-hari pada masa tuanya dilalui di penjara. Lantaran setengah hektare lahan miliknya terbakar, ia pun mesti merasakan dinginnya ruang di balik jeruji besi.

Sekitar pukul 14.00 WIB, mobil tahanan tiba di Pengadilan Negeri (PN) Muara Teweh. Saprudin alias Sapur langsung digiring polisi dan jaksa menuju ruang tahanan. Sidang pada Senin (20/1) itu tak seperti sidang-sidang yang dijalani sebelumnya. Kali ini Sapur tak diperbolehkan berbincang lebih leluasa dengan keluarganya.

Pada sidang sebelumnya, pria 61 tahun itu masih bisa ngobrol santai sambil lesehan di lantai yang tak jauh dari ruang tahanan di lantai dasar. Tak dibatasi oleh jeruji besi. Akan tetapi, kali ini sempat membuat pihak keluarga kecewa.

"Saya tidak tahu kenapa dan tidak ada penjelasan. Bapak Langsung dimasukkan ke sel. Padahal biasanya, sembari menunggu persidangan, kami bisa kumpul-kumpul duduk lesehan," ungkap Edi, anak pertama Sapur.

Pria 35 tahun itu berusaha kuat menahan emosinya, melihat derita yang dialami ayahnya. Edi begitu khawatir dengan kondisi kesehatan ayahnya yang kian hari kian menurun. Sapur mengalami gangguan rabun mata dan pendengaran sebelum ditahan. Pada hari itu, Edi melihat perubahan drastis pada ayahnya. "Tubuh bapak saya gemetaran," sebut Edi.

Penulis menghampiri Sapur yang berdiri di balik jeruji. Memakai kopiah warna putih dan kemeja motif batik. Tampak begitu rapi.

Sapur melemparkan senyum ketika penulis memperkenalkan diri. Sapur tampak tegar, meski ketika penulis bersalaman, tangannya terasa bergetar.

Suasana bahagia bercampur haru tatkala mendengar suara Mulyono (65), rekan sejawatnya yang hadir memenuhi panggilan sebagai saksi dan menemani penulis menghapirinya. "Apa kabar pak?" sapa penulis kepada Sapur.

"Alhamdulilah, saya sehat. Cuma badan saya agak gemetaran. Mungkin karena lama tidak bekerja," ucapnya sembari tersenyum simpul. Sungguh jawaban yang membuat lega hati.

Sapur sedikit bercerita pengalamannya. Ia mengatakan bahwa selama dipenjara jarang melakukan aktivitas. Bagi Sapur yang hari-harinya selalu bergelut dengan aktivitas di ladang, suasana di ruang tahanan terasa sangat membosankan. Ingin membuat kerajinan tangan dan sebagainya. Namun ada daya, penglihatannya  tak mendukung. "Kami yang biasa bekerja ini, kalau diam seperti ini. badan malah sakit-sakitan," ujarnya.

Sapur begitu ingin melepas rindu dengan keluarganya untuk berbagi kisah. Namun, waktunya sangat terbatas.

Sekitar pukul 16.30 WIB, sidang dimulai. Majelis Hakim yang diketuai Cipto Hosari Parsaoran Nababan dan didampingi dua hakim anggota, membuka persidangan dengan agenda menghadirkan saksi yang meringankan.

Mulyono, Sahrudin, Karya Dwi Cahya, dan Baktor Kuling dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan itu. Disumpah untuk menyatakan kebenaran. Hakim menanyakan kepada penasihat hukum terdakwa, Ditta. "Siapa yang terlebih dahulu?" tanya Cipto.

"Mulyono pak, saksi mata pada waktu kejadian," jawab Ditta. Mulyono pun menceritakan peristiwa pada 18 September 2019 lalu itu. Ia menerima kabar bahwa kebun karet miliknya terbakar di daerah Juking Pajang, Kabupaten Murung Raya. Mendengar itu, dirinya pun bergegas menuju kebun. Kebetulan ada lima anggota kepolisian saat itu.

“Jadi kami berbarengan ke kebun. Memang benar ada lahan terbakar, termasuk lahan saya. Jaraknya 100 meter dari punya Pak Sapur. Saya tidak pernah menuduh Pak Sapur, karena rasanya tidak mungkin. Karena lahan punya saya terbakar pada hari itu, sedangkan lahan punya beliau (Sapur, red) sudah dibakar dan jagung-jagung sudah tumbuh sekitar tinggi 20 cm," bebernya.

Baktor Kuling selaku ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Murung Raya, kali ini juga dihadirkan dalam persidangan. Ia menjelaskan, menurut pandangannya, dari sisi budaya, membakar lahan telah menjadi kearifan lokal yang turun-temurun.

"Berladang dengan cara dibakar sudah menjadi budaya masyarakat adat Dayak sejak dahulu kala," ujarnya.

Sementara, kronologi sebagaimana dalam dakwaan jaksa penuntut umum Kejari Murung Raya, pada Selasa 17 September 2019, sekira pukul 13.00 WIB, terdakwa bersama saksi Bendi menuju lahan milik terdakwa di pinggir DAS Barito, Desa Juking Pajang Kecamatan Murung, Kabupaten Murung Raya.

Sesampainya di lahan itu, terdakwa mengumpulkan daun dan dahan yang sudah kering yang sebelumnya telah ditebang dan ditebas menggunakan sebilah parang. Selanjutnya, terdakwa membakar lahan menggunakan macis. Api disulut pada serabut kelapa untuk memudahkan proses pembakaran.  Kemudian, Rabu 18 September 2019, sekitar pukul 13.00 WIB, terdakwa bersama saksi Bendi kembali ke lahan itu, dengan tujuan untuk melanjutkan pembakaran dan membersihkan sisa pembakaran di atas lahan yang telah dibakar. 

Sekitar pukul 15.00 WIB, dua orang anggota Polres Murung Raya melihat ada lahan yang telah terbakar dan api yang masih dalam keadaan menyala. Dua anggota polisi itu mendatangi terdakwa, lalu melakukan penangkapan.  

Terdakwa melakukan pembakaran pada lahan miliknya, dengan luas sekitar dua hektare. Sementara, luas lahan yang telah dibakar terdakwa saat itu sekitar setengah hektare. (adl/ce/ram/dar)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 18 Februari 2020 13:59

Panik..!! Tapi Terdiam Mematung saat Rumah Terbakar

PURUK CAHU-Warga Muara Sumpoi Kecamatan Murung digegerkan dengan peristiwa kebakaran…

Selasa, 18 Februari 2020 13:58

Potensi Ada, Tinggal Promonya

PALANGKA RAYA- Amelia Nurmawati Edmil akan tampil pada grand final…

Selasa, 18 Februari 2020 13:54

Tawon Berbahaya Ini Buat Sarang di Kursi, Pemiliknya Disengat di Kepala

PALANGKA RAYA - Tim Rescue dari Dinas Damkar dan Penyelamatan…

Selasa, 18 Februari 2020 13:53

Ya Tuhan..!! Ada yang Tega Buang Orok, Diduga Digugurkan Pakai Obat-obatan

KUALA KAPUAS - Polsek Selat dibackup Polres Kapuas masih memburu…

Selasa, 18 Februari 2020 13:51

Gubernur Bertemu Buruh Sawit, Ini yang Disampaikannya...

PALANGKA RAYA-Aktivitas PT Sukajadi Sawit Makmur (SSM) sedang menjadi sorotan.…

Senin, 17 Februari 2020 11:44

Begini Jadinya Kalau Baca Berita Cuma Lihat Judulnya

PALANGKA RAYA - Hendaklah menjadi pelajaran bagi kita semua. Kalau…

Senin, 17 Februari 2020 11:42

Sudah Saatnya Larangan Ekspor Rotan Dicabut

PALANGKA RAYA - Larangan ekspor hasil hutan berupa rotan, mendapat…

Senin, 17 Februari 2020 11:38

Melukai Polisi, Pencuri Ini Terkapar Mati Ditembak

KUALA KAPUAS- Langkah tegas ditempuh oleh kepolisian dalam melumpuhkan terduga…

Senin, 17 Februari 2020 11:35

Dayak Jangan Saling Sikut, Jangan Mau Diadu Domba

FOTO   Abdul Rasyid AS Sugianto Sabran     “Sebagai…

Minggu, 16 Februari 2020 11:55

Jembatan Layang Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama Diresmikan

PALANGLA RAYA - Gubernur Kalteng Sugianto Sabran resmikan jembatan layang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers