MANAGED BY:
SABTU
27 NOVEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Senin, 23 September 2019 10:51
Cerita Heroik Pemadam Karhutla di Kalteng
M Widodo membasuh mata yang pedih oleh kabut asap, dan wajah yang terkena cipratan air yang bercampur lumpur, di sela-sela pemadaman di area TNS, Jalan Tjilik Riwut Km 23 Palangka Raya, kemarin siang (22/9). (AGUS PRAMONO/KALTENG POS)

Mereka patut mendapat apresiasi lebih. Tak banyak waktu berkumpul dengan keluarga. Bahkan, demi tugas menanggulangi karhutla, ada yang rela tinggalkan istri hamil tua

 

AGUS PRAMONO, Palangka Raya

 

PERALATAN pemadaman sudah siap di bak mobil.  Mesin jinjing, slang, sepatu, bertumpuk menjadi satu. Lima anggota Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan (Brigdalkarhut) sudah bersiap terjun ke lokasi kebakaran yang memasuki wilayah Taman Nasional Sebangau (TNS). Minggu siang (22/9), mereka mendapat adanya titik panas di hutan di Kelurahan Marang, Palangka Raya.

Mobil dobel gardan bertuliskan Polisi Hutan pun melaju. Untuk sampai ke lokasi, mereka bergerak dari dalam kota  menuju Jalan Tjilik Riwut Km 23 Palangka Raya. Belum sampai di situ, petugas harus masuk lagi. Melewati jalan berkontur tanah pasir. Memiliki lebar empat meter. Melaju dengan kecepatan sedang. Mengutamakan keselamatan. Tujuh kilometer berlalu, tiba di lokasi.

Tampak hamparan pohon sawit berdampingan dengan area TNS. Hanya dibatasi sekat kanal. Kebun sawit itu separuh sudah ludes dilalap api. Kobaran api diduga berasal dari lahan tidur persis di belakang kebun sawit.

“Area kami terbakar juga karena api dari lahan punya warga,”ujar Danbrigdalkarhut TNS, Yussaupin kepada Kalteng Pos.

Pria yang bekerja di TNS sejak tahun 2007 itu menyebut, hutan terbakar di TNS tahun ini seluas 123, 67 hektare dari sekitar 500 ribu hektare. Paling luas di Kelurahan Marang. Berbeda jauh dari karhutla tahun 2015 silam yang mencapai 16 ribu hektare hutan di TNS terbakar.

“Kami ada 30 personel dibantu tim yang lain rutin patrol, dengan mengecek kanal, melakukan pembasahan dan menanggulangi kebakaran,”sebutnya.

Personel brigdalkarhut langsung bergerak cepat. Siap “tempur”. Mesin jinjing, tiga rol slang ditenteng. Kaki yang sudah dilindungii sepatu bot melangkah sejauh 400 meter melalui jalan setapak.

Mesin jinjing merk Honda diturunkan di pinggir sekat kanal. Airnya tampak sedikit. Warnanya kemerah-merahan. Byur…Satu personel menceburkan diri sambil membawa slang pendek dilengkapi penyaring. Ukuran air hanya sepinggang orang dewasa.

Sedikit mengalami kendala. Tebalnya lumpur membuat kedua kaki petugas yang bernama Faulan itu sulit bergerak. Slang itu pun ditenggelamkan. Mesin dihidupkan oleh rekannya. Air tak mau keluar. Faulan merespon. Meminta rekannya menarik naik. Dilepas sepatu bot di kaki kanannya. Air yang ada di dalam sepatu diguyurkan ke dalam lubang mesin.

“Kita pancing”celetuknya. Baru guyuran air  yang ada di sepatu kaki kiri baru berhasil.

Mereka pun melakukan pembasahan di titik-titik penghasil asap, yang bisa sewaktu-waktu kembali terbakar. Air keluar tak begitu deras. Akibat air yang disedot tercampur lumpur. Mereka tak peduli. Terus memegang nosel dan mengarahkan ke sasaran.

Satu jam berlalu, suara helikopter terdengar pelan, kemudian nyaring. Mendekat ke arah kami. Membawa air. Lalu mengebom tepat di kepulan asap yang berjarak 400 meter dari kami. Helikopter waterbombing itu hilir mudik. Tak membiarkan pohon-pohon yang tinggi menjulang terbakar dan roboh.

Petugas juga manusia. Dua jam berlalu, sebagian istirahat sejenak. Melemaskan tangan dan menyelonjorkan kaki yang penat. Mengusap keringat yang bercampur debu yang menempel di wajah. Membasuh kedua mata yang dirasa sudah pedih oleh kabut asap dengan air bersih.

Duduk di batang pohon bekas terbakar, penulis ngobrol dengan mereka. Pertama adalah Faulan. Pria usia kepala tiga itu di bulan Juli, Agustus, dan September ini super sibuk. Jarang pulang. Hampir tidak pernah mengajak dua anaknya jalan-jalan mencari hiburan. 

“Seminggu di hutan (pemadaman atau patroli, red), pulang sehari beli kebutuhan dapur, lalu pergi lagi,”katanya, sambil mengusap bulir keringat di keningnya.

Apalagi bulan ini menjadi bulan yang berat. Berat untuk meninggalkan lama-lama keluarga kecilnya. Lantaran, istrinya sudah hamil tua. Usia kehamilan sudah memasuki delapan bulan. Demi tugas menanggulangi karhutla, dirinya rela.

Pria yang terlibat pemadaman di area TNS empat tahun terakhir ini sedikit sedih, masih ada karhutla di Kalteng. Tak jarang dirinya dan rekan-rekan menemukan hewan liar di area TNS yang mati. Seperti ular, dan tenggiling.

“Semoga tidak ada kebakaran lagi tahun depan,”harapnya.

Kisah totalitas petugas juga ada di sosok M Widodo. Pemuda 28 tahun itu juga sama dengan rekan satu regunya. Jarang pulang. Menerobos hutan berkilo-kilometer sudah pernah dilakukan. Bermalam di hutan pernah dirasakan. Momen haru dan kebanggaan baginya adalah ketika sempat menemani istri melahirkan, pertengahan bulan September ini.

Setelah sepekan terlibat pemadaman, pemuda yang bergabung dalam tim pemadaman mulai tahun 2015 itu pulang ke rumah. Sebelum pergi berangkat, tiba-tiba istrinya Rahma Fauziah merasa perutnya sakit. Merasa sudah waktunya melahirkan. Pemuda berkulit sawo matang itu pun membawa istrinya ke rumah bersalin.

“Waktu itu Jumat pagi masih ikut pemadaman.  Malamnya pulang. Sabtu pagi buta, saya bawa ke rumah sakit. Terus Minggu pagi baru lahir anak pertama kami yang bernama M Zavier Arsenio Widodo,”ujarnya sambil tersenyum simpul. “Tak lama-lama, seingat saya dua hari setelah itu saya kerja lagi ikut memadamkan,”tambahnya.(*)


BACA JUGA

Selasa, 09 November 2021 10:34
Karyanya Sudah Laku 25 Item, Dibanderol Rp95 Ribu

Melihat Karya Seni String Art SLBN 2 Pangkalan Bun

Anak-anak disabilitas di Kalimantan Tengah (Kalteng) kini makin dikenal berkat…

Senin, 18 Oktober 2021 13:57

Melihat Usaha Peternakan Kelinci di Tengah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 berdampak terhadap berbagai macam usaha. Dari yang skala…

Sabtu, 09 Oktober 2021 11:52
Semangat Menggebu Pejuang Pendidikan di Kalteng

Tak Bisa Sekolah Daring, Jangankan Internet, Telepon Pun Susah

Lurah Kameloh Baru Rulissantie saat ditemui di kantornya mengatakan, pada…

Sabtu, 09 Oktober 2021 11:50
Semangat Menggebu Pejuang Pendidikan di Kameloh Baru

Murid Tak Mengeluh karena Sudah Terbiasa Susah

Sajidin yang sudah mengabdi menjadi guru sejak 1990 ini menjabarkan,…

Rabu, 06 Oktober 2021 10:51
Dari Pemilihan Duta Tambun Bungai Kalteng 2021

Manfaatkan Kemajuan Teknologi untuk Promosikasi Budaya dan Pariwisata

Andra Pratama dan Yoan Agnes Theresia akhirnya dinobatan sebagai Duta…

Selasa, 24 Agustus 2021 11:13

Mengenal Muhamad Ridwan, Dokter yang Rutin Berbagi Berkah Tiap Jumat

Sekali dalam sepekan Muhamad Ridwan rutin menebar kebaikan. Dokter muda…

Jumat, 09 Juli 2021 11:16
Mengikuti Kegiatan Donasi Literasi di Tanjung Pusaka (2/selesai)

Desanya Hanya 400 Meter, Satu Sekolah 14 Murid

Menikmati fasilitas pendidikan yang layak merupakan hak bagi setiap anak…

Senin, 14 Juni 2021 11:05

Melihat Keberadaan Bank Sampah Jekan Mandiri, Anggota Mencapai Ratusan Orang, Hasilnya Cukup Menggiurkan

Masalah sampah menjadi persoalan klasik di kota-kota yang sedang berkembang.…

Selasa, 07 Juli 2020 12:40
Mengenal Lindu Anugraha, YouTuber Kalteng yang Mengusung Kearifan Lokal (2/selesai)

Konsisten Bikin Konten, Warga Dilibatkan sebagai Model

Menjadi salah satu peraih silver play button dari YouTube tentunya…

Selasa, 10 Maret 2020 11:56

Abdullah Gampang, Perintis Usaha Ukiran Kayu Motif Dayak

Hasil kerajinan khas Dayak semakin terkenal dan banyak peminatnya. Mulai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers