MANAGED BY:
MINGGU
08 DESEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

UTAMA

Rabu, 11 September 2019 11:29
Diare Serang 246 Orang, 1 Meninggal
Selain kebakaran hutan dan lahan, kemarau juga menyebabkan warga kesulitan air bersih. Akibatnya ratusan warga terkena diare akibat diduga mengkonsumsi air tak bersih.

PROKAL.CO, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, sudah memakan korban. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur, ada 246 warga yang kena diare dan 1 diantaranya meninggal dunia. Jumlah penderita diare tersebut terjadi dalam seminggu terakhir, atau minggu pertama September 2019. Belum lagi kasus infeksi saluran pernapasan akut (Ispa).

Jika dibandingkan Agustus 2018 lalu, penderita diare tercatat 672 orang. Pada periode yang sama di 2019 naik cukup siginifikan, yaitu berada di angka 920. Pada September 2018, penderita diare hanya di angka 407 orang. Namun dari 1–7 September 2019, penderita diare di Kotim sudah mencapai 246 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kotim dr Faisal Novendra Cahyanto melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Bakhrudin membenarkan ada salah satu warga yang meninggal dunia akibat diare di daerah itu. Dari data dan laporan yang ada, yang meninggal tersebut adalah warga di Kecamatan Parenggean.

“Saat ini, penderita diare terbanyak berdasarkan data Dinkes Kotim ada di Kecamatan Seranau dengan jumlah penderita 28 orang. Disusul Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Parenggean dengan penderita sebanyak 27 orang pada bulan pertama September 2019 ini,” kata Bakhrudin kepada Kalteng Pos, Selasa (10/9).

Data yang masuk dari 17 kecamatan di Kotim, kondisi saat ini memang masuk musim kemarau dan memungkinkan krisis air bersih. “Inilah beberapa penyebab terjadinya penyakit diare. Karena air (bersih) berkurang dan konsentrasi kuman saat ini memang meningkat. Misalnya saja, kita masukan zat pewarna di gelas kecil dan ember, tentu hasilnya akan berbeda. Lebih jelas gelas kecil warnanya dibandingkan dengan ember yang ukurannya besar. Hal ini sama dengan kuman juga,” ungkapnya.

Bakhrudin mengingatkan kepada masyarakat, jika terkena diare, jangan menunggu parah baru dirujuk ke rumah sakit. “Jika memang ada tanda-tandanya, segera ke fasilitas kesehatan terdekat untuk memeriksakan diri biar petugas memberikan penanganan atau langkah awal. Misalnya saja kasus yang terjadi di Parenggean bernama kirana, pada 3 September lalu sempat dirujuk ke RSUD dr Murjani Sampit dan diagnosa diare, bahkan dehidrasi berat. Takdir berkata lain, saat dioptame ke salah satu ruangan, nyawanya tidak bisa tertolong lagi,” akuinya.

Ditambahkannya, agar masyarakat harus menjaga pola hidup sehat. Diantaranya konsumsi air bersih dan dimasak terlebih dahulu. “Jika buang air besar (bab) atau beraktivitas segera cuci tangan dengan sabun. Bagi yang memiliki anak-anak atau bayi yang muntah-muntah segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan menunggu parah. Jangan menunggu anak atau bayi itu kekurangan cairan di dalam tubuh. Ini bahaya dan jangan ditunda. Selanjutnya kurangi kegiatan yang berlebihan. Cukup istirahat dan jaga kesehatan,” tegasnya. (rif/ens)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 08 Oktober 2013 17:47

Pencemaran Udara Teru Meingingkat

<div> <div><strong>PALANGKA RAYA &ndash; </strong>Banyaknya terjadi kebakaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.