MANAGED BY:
JUMAT
22 NOVEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

UTAMA

Rabu, 21 Agustus 2019 12:12
Akar Bajakah Bakal Tak Boleh ke Luar Kalteng

Larang Pengambilan dan Pengiriman ke Luar Kalteng

Pemprov Kalteng bersama pihak-pihak terkait yakni Pemprov akan menerbitkan Surat Edaran (SE) Gubernur tentang larangan pengambilan maupun pengiriman tumbuhan bajakah tunggal

PROKAL.CO, PALANGKA RAYA-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng akhirnya membahas tumbuhan bajakah tunggal yang saat ini sedang viral tidak hanya di Kalteng saja melainkan hingga tingkat nasional. Hasil dari pembahsan yang dilaksanakan oleh Pemprov Kalteng bersama pihak-pihak terkait yakni Pemprov akan menerbitkan Surat Edaran (SE) Gubernur tentang larangan pengambilan maupun pengiriman tumbuhan bajakah tunggal.

SE tersebut dalam rangka mengamankan peredaran daripada bajakah ini, sementara Pemprov melarang tumbuhan bajakah ini keluar Kalteng. Tidak lama lagi, yang pasti dalam minggu ini sudah diterbitkan dan mencakup seluruh wilayah yang ada di Kalteng.

"SE ini nantinya sebagai pedoman para stakeholder baik itu bupati, dinas kehutanan, bandara dan pelabuhan," kata Sekda Kalteng Fahrizal Fitri saat diwawancarai usai rapat koordinasi terkait dengan tumbuhan bajakah di Aula Eka Hapakat Lantai III Kantor Gubernur, Selasa (20/8).

Dengan demikian, lanjutnya, harapanya tidak adanya eksploitasi yang begitu besar yang nantinya akan merusak habitat sekitar. Pihaknya sudah menyurati Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng untuk melakukan pengawasan terhadap tumbuhan bajakah ini.

"Sementara ini tidak ada batasan pengiriman ke luar Kalteng, tetapi memang di setop. Tidak ada pengiriman sama sekali, kecuali nanti disebutkan untuk riset baru itu boleh," tegasnya.

Saat ini, kata Fahrizal, pihaknya akan melakukan pengawasan jalur darat, laut hingga udara dan berkenaan dengan tumbuhan bajakahnya akan terus melakukan riset dan segera menerbitkan atau memproses hak patennya. Berkenaan dengan riset segera mungkin akan dilaksankan untuk itu meminta keterbukaan pada orang tua anak SMA yang melakukan penelitian.

"Yang menemukan ini kan orang tua si anak yang melakukan penelitian, sehingga kami berharap keterbukannya untuk menyampaikan ramuan-ramuan sehingga dijadikan sampel untuk jenis apa dan ketentuannya," ucapnya.

Dalam hal melakukan penelitian untuk riset, pihaknya akan bekerjasama dengan lembaga penelitian, apakah itu nanti di Balai Besar Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional dan mungkin Balai POM pusat. Harapannya ini bagian dari pada proses uji lanjut berkenaan dengan khasiat tumbuban bajakah ini.

"Kami berharap segera mungkin temuan ini akan menghasilkan ramuan obat yang betul-betul bermanfaat yang aman bagi manusia yang layak secara klinis," ujar pria yang pernah menjabat sebagai Kepala DLH Kalteng ini.

Untuk itu, pihaknya akan membentuk tim dalam rangka proses penelitian lanjutannya, sementara proses hak patennya akan dilaksanakan pada proses berikutnya.

Ditegaskannya, bahwa masyarakat perlu mendapatkan edukasi untuk menyadarkan masyarakat luas, sehingga masyarakat diminta bertahan terlebih dahulu. Tidak tergesa-gesa walaupun saat ini adalah impian besar bagi penderita kanker.

"Kita harapkan dengan riset yang lebih lanjut itu betul-betul bisa didapatkan hasil bahwa bajakah dengan jenis tertentu betul-betul bermanfaat," tegasnya.

Lantaran, saat ini, lanjut Fahrizal, yang beredar di pasaran belum tentu sesuai dengan jenis yang dilakukan penelitian. Sementara, bajakah yang sudah dijual oleh pedagang obat tradisonal pihaknya meminta pemprov melakukan pembinaan kepada penjual.

"Agar tidak serta merta menyampaikan bahwa bajakah yang dijual itu dapat menyembuhkan kanker," singkatnya.

BKSDA Tak Memiliki Data Jenis Bajakah

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng mengaku tidak melakukan identifikasi terhadap jenis bajakah. Hal ini disampaikan oleh Kepala BKSDA Kalteng, Adip Gunawan, Selasa (20/8).

Menurutnya identifikasi jenis tanaman bajakah yang banyak jenisnya serta mengandung racun atau bukan menjadi kewenangan BKSDA melainkan lembaga penelitian atau otoritas keilmuan lainnya.

"Kami tidak punya kewenangan sama sekali untuk identifikasi tumbuhan yang dapat menyembuhkan baik itu bajakah maupun tanaman lainnya, melainkan lembaga penelitian yang memiliki otoritas keilmuan," jelasnya.

Jika diminta bantuan untuk mendata dan melakukan identifikasi secara bersama, lanjut Adip, tentu pihaknya akan ikut membantu. Sementara itu berkaitan dengan pemetaan bajakah, Adib menerangkan semua wilayah atau kabupaten terdapat potensi penyebaran tanaman yang dikenal memiliki kasiat dapat menyembuhkan kanker.

“Kalau untuk penyebaran semuanya berpotensi ada di semua wilayah atau kabupaten. Tidak hanya di hutan tetapi juga di ladang masyarakat,” ujarnya.

Meskipun bukan merupakan tupoksi untuk melakukan identifikasi bajakah beracun atau tidak, kata dia, pihak BKSDA sampai dengan saat ini masih turut mengmabil bagian bersama pihak pemerintah dan balai karantina untuk melakukan pencegahan dan pengawasan pengiriman bajakah ke luar daerah.

“Sejak diminta untuk lakukan pengawasan, sampai sekarang tim dilapangan bekerja sama dengan balai karantina terus melakukan pantauan agar bajakah tidak dibawa keluar daerah Kalteng,” ujarnya.

Sedangkan untuk upaya mencegah terjadinya eksploitasi secara berlebihan terhadap bajakah dihutan pihak BKSDA juga sudah melakukan sosialiasi terhadap masyarakat sekaligus melakukan pengawasan disejumlah posko.

“Kami juga sudah lakukan pengawasan agar masyarakat tidak melakukan eksploitasi secara berlebihan. Karena kalau dieksploitasi secara serampangan tanpa mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh, maka bukan tidak mungkin bajakah akan punah,” tutupnya. (abw/old/ala)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 08 Oktober 2013 17:47

Pencemaran Udara Teru Meingingkat

<div> <div><strong>PALANGKA RAYA &ndash; </strong>Banyaknya terjadi kebakaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*