MANAGED BY:
SELASA
17 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

UTAMA

Rabu, 24 Juli 2019 11:42
Yantenglie Ngaku Korban Politik
Yantenglie

PROKAL.CO, PALANGKA RAYA-Persidangan tindak pidana korupsi (Tipikor) uang kas Daerah Kabupaten Katingan senilai Rp 100 miliar telah menuju babak akhir. Sidang dengan agenda pembacaan duplik dari terdakwa tersebut dilaksanakan di pengadilan Tipikor Palangka Raya, Selasa (23/7). Sidang dipimpin majelis hakim Agus Windana.

Dalam persidangan itu, Ahmad Yantenglie terus membantah dan mengatakan dirinya sebagai korban politik dalam kasus ini. “Saya sebenarnya korban politik. Karir politik yang saya rintis dari bawah pupus hanya karena kasus yang sebenarnya bukan saya pelakunya,” ujarnya dengan bahasanya sendiri.

Didalam replik JPU, lanjut mantan Bupati Katingan ini, tidak menyimak jalannya persidangan dan hanya menekankan pada unsur-unsur teori dan bukannya fakta yang terungkap dalam persidangan. "Dari analisa dan kesimpulan saya yang tertuang dalam pledoi saya sebelumnya membuktikan bahwa JPU masih ragu-ragu dalam memutuskan bersalahnya terdakwa," ujarnya.

Dalam berkas tuntutan yang telah dibacakan JPU dalam persidangan sebelumnya pun telah mengabaikan fakta-fakta hukum. Selain itu, suami Farida Yeni ini juga menilai bahwa JPU begitu bersemangat menargetkan dirinya sebagai terdakwa.

"Padahal dalam posisi ini saya sebagai korban. JPU semestinya mencantumkan keterlibatan pihak lain dalam BAP, dan BAP pun harus sempurna, jelas siapa pelakunya, " ucapnya.

Dari pantauan awak media setidaknya terdapat delapan poin yang merupakan inti dari duplik yang dibacakan oleh terdakwa. Poin pertama Yantenglie menyebutkan bahwa pemisahan berkas perkara yang dilakukan oleh JPU dalam kasus ini sangat merugikan dirinya. Menurutnya penentuan kualitas penyertaan yang tidak jelas mengakibatkan perbedaan penerapan hukum.

Poin kedua terdakwa menyebut jika dalam BAP Penyidik Polda Kalteng menyebut jika ada kerjasama antara Teguh Handoko dan Heryanto Chandra untuk mengeruk uang kas daerah Kabupaten Katingan dengan bantuan Kuasa Bendahara Umum Daerah (BUD) saat itu, Tekli.

Poin ketiga Yantenglie menyebut jika berdasarkan hasil audit dari BPK RI menyimpulkan bahwa adanya penyimpangan atas dana kas daerah yang menurut tim BPK, diduga ada perubahan nota kesepahaman penempatan deposito menjadi giro tersebut dilakukan oleh Heryanto Chandra, yang tercantum selaku perantara dalam pembukaan rekening.

Pada poin keempat, terdakwa mempertanyakan status hukum dari Teguh Handoko mantan Kepala Kantor Kas BTN Pondok Pinang yang juga terlibat dalam kasus korupsi ini dirasa belum jelas hingga saat ini oleh terdakwa.

Poin kelima terdakwa terdakwa menuntut JPU untuk segera menangkap Heryanto Chandra yang hingga kini masih buron. Menurutnya JPU tidak ada upaya dalam menangkap Heryanto Chandra yang menjadi otak dalam kasus ini.

Pada Poin Keenam dan Ketujuh tedakwa membantah telah mengambil uang negara dengan total nilai Rp 6,5 miliar yang terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama yakni pemberian uang dari Teguh Handoko senilai Rp1,5 miliar, dan bagian kedua adalah Rp5 miliar yang digunakan terdakwa untuk membayar jasa pengacara.

Pada poin kedelapan dalam dupliknya terdakwa secara jelas menolak peyitaan atas barang berharganya oleh JPU dalam tuntutannya. Menurutnya harta benda yang diperoleh terdakwa dalam tuntutan tersebut bukan merupakan suatu hasil tindak pidana.

“Demikian duplik saya sampaikan untuk mencari keadilan. Semoga niat baik saya mendapat perhatian dari majelis hakim,” tutupnya.

Menanggapi duplik yang disampaikan oleh terdakwa, JPU yang di ketuai oleh Kasipidsus Kejari Katingan, Tommy Aprianto tidak banyak berkomentar melainkan hanya menunggu keputusan hakim . Dirinya sangat optimis jika majelis hakim akan memutuskan sesuai dengan tuntutan JPU.

“Lihat saja nanti keputusan Hakim. Prinsipnya kami percayakan sepenuhnya pada hakim yang memutuskannya. Kami tetap optimis putusan hakim akan sesuai tuntutan,” pungkasnya. (old/ala)

loading...

BACA JUGA

Senin, 16 September 2019 13:50

Tak Ada Lagi Ruang Bebas Asap, Jangan Menunggu Kami Mati!

PALANGKA RAYA – Ancaman Presiden RI Joko Widodo terkait pemecatan…

Senin, 16 September 2019 12:13

Warga Kalteng Memburu Udara Segar

BATITA itu duduk di pangkuan ibunya. Didekap hangat. Perawat berusaha…

Senin, 16 September 2019 01:13

Kalimantan Ditutupi Asap, Penerbangan Lumpuh

PALANGKA RAYA - Kabut asap akibatan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)…

Senin, 16 September 2019 01:10

Wali Kota Minta Maaf ke Warga, Lapor ke Presiden Lewat Media Sosial

PALANGKA RAYA – Semakin parahnya kondisi kebakaran hutan dan lahan yang…

Senin, 16 September 2019 01:06

Mulai Senin Ini, Jam Masuk Kerja ASN Dimundurkan

PALANGKA RAYA – Setelah meniadakan proses belajar mengajar atau meliburkan sekolah,…

Minggu, 15 September 2019 09:13

Prediksi Pilgub Kalteng, Selain Dari Parpol ada 1 Independen

PALANGKA RAYA-Pengamat Politik Kota Palangka Raya Dr Jhon Retei Alfri…

Minggu, 15 September 2019 09:11

Sudah Dua Ribuan Warga Kena ISPA

PALANGKA RAYA- Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi ancaman nyata…

Minggu, 15 September 2019 09:06

Kabut Asap Menebal, Gubernur Keluarkan Instruksi, Liburkan Siswa

PALANGKA RAYA-Beberapa wilayah di Kalteng masih diselimuti asap akibat kebakaran…

Jumat, 13 September 2019 12:00

Karhutla Menjadi-Jadi, Sumber Air Jauh, Pemprov Pusing

PALANGKA RAYA-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin menjadi-jadi. Kabut asap…

Jumat, 13 September 2019 11:58

Kasus Korupsi Disparpora, Saksi Bisa Jadi Tersangka

KUALA KURUN-Lama tak terdengar, kasus dugaan korupsi yang terjadi di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*