MANAGED BY:
SABTU
19 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Sabtu, 17 Juni 2017 14:37
Bung Karno dan Prinsip Ketuhanan

Oleh: Sutia Budi

Ir Soekarno

PROKAL.CO,

MEMASUKI pertengahan Juni, bulan ini sering disebut sebagai Bulan Bung Karno. Bulan di mana Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901 dan pada 21 Juni 1970 menghadap Sang Khaliq.

Tulisan singkat ini akan mengulas tentang pergumulan Bung Karno dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila Pertama Pancasila. Sebagaimana kita ketahui bahwa prinsip Ketuhanan dicetuskan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, itu berada pada urutan kelima, namun setelah kembali dirumuskan oleh Panitia Sembilan, yang juga Bung Karno berada di dalamnya, berubahlah menjadi Sila Pertama Pancasila.

Tentang prinsip Ketuhanan, pada pidato 1 Juni 1945, Bung Karno menegaskan: "... Marilah kita di dalam Indonesia yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan bahwa prinsip ke-5 daripada Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!".

Kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa itu telah dilontarkan Bung Karno pada 1 Juni 1945. Kemudian berubah pada 22 Juni 1945 (lahir Piagam Jakarta). Setelah muncul adanya keberatan, Bung Karno segera menghubungi Bung Hatta, lalu dialog mendalam dengan tokoh-tokoh Islam (Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Teuku Moh Hasan), pada 17 Agustus 1945 diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" demi kesatuan Indonesia.

Negara Indonesia yang berprinsip Ketuhanan dalam pandangan Bung Karno, juga diartikan sebagai negara yang setiap warganya dapat menyembah Tuhan-nya dengan cara leluasa. Sementara bertuhan secara kebudayaan, dimaknai dengan tiada "egoisme-agama". Bung Karno juga mengajak untuk mengamalkan dan menjalankan ajaran agama masing-masing, dengan cara yang berkeadaban, yaitu hormat-menghormati satu sama lain.

Bisa dibayangkan, jika The Founding Father Indonesia tidak berpikir negarawan, apa jadinya Indonesia di kemudian hari? Namun nyatanya, dengan kejernihan berpikir dan kedewasaan membaca realita, para pendahulu itu “melepaskan ego-nya” hingga hari ini kita masih bisa menikmati Persatuan Indonesia. Lahir batin kita bisa “mesra” dari Sabang sampai Merauke.

Halaman:
loading...

BACA JUGA

Sabtu, 18 Juli 2020 12:44

Disdukcapil Jamin Tidak Ada Data Ganda

PALANGKA RAYA-Kendati sudah melampaui target nasional perekaman Kartu Tanda Penduduk…

Sabtu, 18 Juli 2020 12:22

HUT Palangka Raya, Drainase dan Jalan Jadi Sorotan

Dalam pembangunan infrastruktur Kota Cantik, hal yang paling diperhatikan Fairid…

Kamis, 16 Juli 2020 11:53

Soal Penanganan Karhutla, Sinergi Pemangku Kepentingan Belum Optimal

PALANGKA RAYA-Sekda Provinsi Kalteng Fahrizal Fitri memaparkan permasalahan kebakaran hutan…

Jumat, 10 Juli 2020 14:15

Coklit Data Pemilih Pilkada

“Kepastian waktu coklit itu diatur petugas masing-masing. Coklit ini berbasis…

Jumat, 03 Juli 2020 12:19

Warga Tolak Rusunawa Jadi Tempat Isolasi, Ini Alasannya

TAMIANG LAYANG-Warga Jaar, Kecamatan Dusun Timur di Kabupaten Bartim menolak…

Selasa, 30 Juni 2020 12:49

Pilgub Kalteng, Golkar Sodorkan Tujuh Nama

PALANGKA RAYA-Partai Golkar hampir pasti menjatuhkan pilihan kepada petahana H…

Sabtu, 11 Mei 2019 12:11

Pesona Mandau

SENJATA tradisional dari tanah Dayak Kalimantan Tengah ini masih ada dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers