MANAGED BY:
SELASA
25 FEBRUARI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Selasa, 06 Juni 2017 02:32
Puasa Rasulullah SAW

Oleh: Drs Rois Mahfud MPd

Drs Rois Mahfud MPd

PROKAL.CO, NABI Muhammad SAW, manusia terbaik dalam sejarah umat manusia, ternyata hanya menjalankan ibadah puasa Ramadan sebanyak 9 kali dalam hidupnya.

Perintah ibadah shaum (puasa) jatuh pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah. Setelah 13 tahun Muhammad SAW diangkat menjadi Rasulullah dan 1 tahun setelah Rasulullah Hijrah ke Madinah. Sementara beliau wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 11 Hijriyah sebelum Ramadan.

Jadi, tahun ke-1 Hijriyah beliau belum mendapat perintah wajib puasa di bulan Ramadan. Praktis beliau hanya puasa Ramadan tahun ke 2 sampai dengan tahun ke-10 Hijriyah.

Ramadan berarti bulan musim panas terik. Pada zaman sebelum Rasulullah Saw, masyarakat Arab tidak murni menggunakan kalender qamariyah (bulan), tetapi setiap tiga tahun menambahkan satu bulan tambahan untuk menyesuaikan dengan musim. Sistem kalender campuran itu biasa disebut sistem qamari-syamsiah (luni-solar calendar). Nama bulan lain yang berkaitan dengan musim adalah Rabiul Awal dan Rabiul Akhir yang berarti bulan musim semi pertama dan terakhir.

Menurut atsar Ibnu Mas'ud dan Aisyah disebutkan bahwa, Rasulullah Saw semasa hidupnya lebih banyak berpuasa Ramadan 29 hari daripada 30 hari. Puasa Ramadan pada zaman Rasulullah Saw ini menarik untuk dibuktikan dengan hisab astronomi. Menghisab posisi hilal awal Ramadan dan Syawal semasa Rasulullah Saw hidup dari 2 H sampai dengan 10 H. Menurut analisis astronomi tersebut memang menunjukkan selama sembilan tahun itu enam kali Ramadan 29 hari, hanya tiga kali yang 30 hari. Dari analisis itu juga diketahui bahwa pada zaman Nabi itu, puasa dilakukan pada musim semi dan musim dingin dengan waktu puasa mulai sekitar pukul 04:30 sampai sekitar 17:30 dan pada musim semi mulai sekitar pukul 04:30 sampai sekitar 16:40. Puasa pertama berawal pada Ahad 26 Februari 624 dan Idulfitrinya jatuh pada Senin 26 Maret 624. Berarti lama puasa 29 hari. Perang Badar yang terjadi saat itu pada 17 Ramadan 2 H. (13 Maret 624) jatuh pada hari Selasa.

Salah satu Idulfitri pada zaman Nabi terjadi pada hari Jumat, yaitu 1 Syawal 3 H. yang bertepatan dengan 15 Maret 625. Inilah satu-satunya Idulfitri yang jatuh pada hari Jumat semasa Rasulullah Saw hidup. Mungkin inilah kejadian yang berkaitan dengan hadits yang membolehkan meninggalkan Salat Jumat bila pagi harinya telah mengikuti salat hari Raya (karena perjalanannya jauh). Dalam hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan dari Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Pada hari ini Jumat telah berkumpul dua hari raya, maka siapa yang mau, salat hari rayanya telah mencukupi salat Jumatnya, tetapi kami tetap akan melakukan salat Jumat."

Walaupun Nabi Muhammad Saw hanya 9 kali menjalankan ibadah puasa, namun kualitas puasanya tentulah jauh lebih sempurna dibanding manusia manapun di muka bumi ini. Sedangkan kita yang telah diberikan waktu untuk menjalankan ibadah pada bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan, justru seringkali menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan semua kemuliaan Ramadan. Kita lebih cenderung menjalankan ibadah puasa untuk sekadar bertahan pada hawa nafsu terhadap makan dan minum saja.

Sebagian kita tentu telah diberikan kesempatan berpuasa lebih banyak dari Rasulullah Saw. Mungkin ada di antara kita yang telah diberikan jatah puasa sampai puluhan kali, dua puluh bahkan lebih. Namun rasanya kalau menghitung nilai kualitas puasa kita belumlah maksimal.

Puasa mendidik kita untuk menyadari betapa tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan kepada kita selama ini, sehingga kemudian kita menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengabaikan arti kenikmatan sekecil apapun itu. Sebab, jika seseorang memiliki rasa syukur yang kuat di dalam hatinya, maka ia akan hidup menjadi manusia yang berbahagia. Cobaan dan godaan hidup akan dijalaninya dengan senantiasa berpegang teguh pada petunjuk dan risalah tuntunan yang dibawa oleh Rasululullah Saw untuk umat manusia. Inilah puncak kebahagiaan di dunia, sehingga dapat bersyukur atas segala nikmat dan bersabar atas segala ujian hidup. (*/c3/nto)


BACA JUGA

Kamis, 17 Oktober 2013 14:22

Terdakwa Pembunuhan Berlagak Bego

<div> <div>PALANGKA RAYA-Sidang atas kasus pembunuhan yang menimpa Kokon, dengan terdakwa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers