MANAGED BY:
SELASA
17 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Rabu, 31 Mei 2017 17:39
Jejak Sejarah Islam di Kesultanan Kutaringin Kalimantan Tengah (1)
Istana Kuning Kebanggaan Umat Muslim sejak Kerajaan Bandjar
Tampak foto bagian depan Istana Kuning awal dibangun dan keterangan foto dalam Buku Republik Indonesia Provinsi Kalimantan. (FOTO REPRO)

PROKAL.CO, Jejak peninggalan sejarah Islam sangat kental hingga kini dan dapat ditelusuri di daerah yang dulunya disebut Bukit Indra Kencana (Marunting Batu Aji).

CALVIN KURDLENSON, Pangkalan Bun

DALAM buku Hikajat Banjar, Kesultanan Kutaringin adalah bagian (pemekeran) dari Kesultanan Bandjar. Pengaruh Islam dari Kerajaan Bandjar sangat kuat terhadap Kesultanan Kutaringin.

Kesultanan Kutaringin mulai membesar di Tanah Bukit Indra Kentjana pada awalnya di Kotawaringin Lawas yang saat ini menjadi Kecamatan Kotawaringin Lama (Kolam). Istana Sultan Kutaringin adalah bangunan yang sangat besar dengan alun-alun yang sangat luas. Saat ini, wilayah ini dikenal sebagai Istana Kuning dan alun-alunnya dengan nama Lapangan Tugu. Istana Kuning berdiri megah di atas Bukit Indra Kentjana di Kota Pangkalan Bun.

Bangunanya berkarakter Islami yang kental dengan paduan Bandjar serta Melayu, dibuktikan dengan adanya Masjid Radjaiyah di depan Alun-Alun Sultan Kutaringin. Istana Kuning mulai didirikan oleh YM Sultan Imanudin ( IX ).

Saat ini, keturunan atau kerabat di Kesultanan Kutaringin ada Sultan XV Pangeran Ratu Alidin, saudara-saudara Sultan Pangeran Arsyadinsyah, Pangeran Muasjidinsyah serta keluarga besar lainnya yang tetap terjaga silaturahminya.

Berbicara tentang Islam di Tanah Bukit Indra Kentjana, masyarakat sekitar tidak asing lagi dengan nama Kiyai Gede. Sosok ulama tersohor dari Kesultanan Kutaringin ini, merupakan ulama pertama yang dipercayai Kesultanan untuk menyiarkan Islam.

Kembali ke sejarah Kesultanan Kutaringin, awalnya dalam buku perjanjian antara Kesultanan Banjarmasin dan VOC, bahwa Sultan Sleman menyerahkan batas Antasari Kexil, Lawai, Jelai, Sintang, Tabanjau, Pagatan, Pulau Laut, Kutaringin diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda.

Sejak tahun 1635, maka Banjarmasin dan beberapa wilayahnya ada hubungannya dengan Inggris dan Hindia Belanda, atas perjanjian Sultan Sleman, Sultan Bandjar. Tahun 1637-1650, Dipati Anta Kusuma bin Sultan Mustambillah merupakan sultan pertama di Kutaringin. Berlanjut sampai Kutaringin bergabung dengan RI.

Pada 17 Desember 1945, Sultan Kutaringin bersama rakyat, setelah lima bulan dari kemerdekaan RI pada Agustus, Sultan Kutaringin menggelar deklarasi di alun-alun (Lapangan Tugu), menyatakan bergabung dengan RI berdasarkan dokumen Komite Nasional Indonesia (KNI).

Kemudian sejak itu, berdasarkan Undang-Undang 22 Tahun 1948 dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1953, Kutaringin ditetapkan sebagai daerah Swapraja Kotawaringin. Artinya daerah yang masih menghormati adat istiadat, contoh seperti daerah istimewa Jogja.

"Ada banyak literatur, sekitar puluhan buku yang dapat menjadi literatur sejarah Kesultanan Kutaringin," kata Humas Silaturahmi Juriat Kesultanan Kutaringin, Agus Padi S kepada Kalteng Pos, beberapa waktu lalu.

Kotawaringin pemerintahannya terdiri atas Sultan (Zelfoestuurder atau kepala pemerintahan, Mangkubumi (Rijksbestuurder), PangeranLangeran Djaksa (lid Rijkraad), Pangeran penghulu dan bendahara, dan masih banyak lagi jajaran dalam susunan pemerintahan di masa lalu seperti saudagar-saudagar.

Saat ini, organisasi resmi yang ada di Kesultanan Kutaringin seperti Juriat, kekerabatan bosar, bukit indra kencana, juriat pangeran sukma negara Kesultanan Kutaringin, yayasan Istana Kutaringin dan masih ada yang lain. "Ada sekitar 10 organisasi atau yayasan yang ada di Kesultanan Kutaringin dan tetap terjaga menjalin silaturahmi," tuturnya. (*/c3/nto/bersambung)


BACA JUGA

Rabu, 24 April 2019 12:13

Harus Menginspirasi Bagi Sesama Perempuan

Hari Kartini memang identik sebagai perayaan bagi kaum perempuan. Siapa…

Jumat, 07 Desember 2018 14:30
Mengikuti Sidang Tipikor Mantan Kepala BPN Kotim Jamaludin

Terdakwa dan Saksi Saling Membantah

Kepada para saksi yang dihadirkan, sang hakim bertanya: “Apakah blanko…

Kamis, 06 Desember 2018 14:58
BPOM Turun Tangan, Ratusan Obat dan Kosmetik Disita

Pedagang Mengaku Tak Tahu, Asli Atau Palsu

Masyarakat Kotawaringin Barat (Kobar) harus berhati-hati saat membeli atau memakai…

Jumat, 16 November 2018 16:13
Menengok Semangat Anak Panti Asuhan

Ada yang Sarjana, dan Jadi Manajer di Perusahaan

Suasana berbeda saat menengok aktivitas anak-anak di Panti Asuhan Annida…

Senin, 12 November 2018 09:44
Melihat Cara KPU Melindungi Suara Pemilih Milenial

Tak Masuk DPT, Malah Dikasih Hadiah

Pesta demokrasi akan digelar tahun depan. Masih lama. Banyak waktu…

Jumat, 09 November 2018 11:56
Menari Bersama Manekin dan Nekat Keliling Nusantara

Sekali Tampil Meraup Rp 700 Ribu

Menari dengan manekin atau boneka manusia, terdengar biasa saja. Namun,…

Kamis, 08 November 2018 10:33
Ketika Kasatbinmas Polres Kobar Jadi Irup di SMAN 2 Pangkalan Bun

Sosialisasi Saber Pungli, Wawasan Nusantara dan Narkoba

Pemandangan berbeda terlihat di SMAN 2 Pangkalan Bun. Kalau biasanya…

Selasa, 06 November 2018 15:24
Cara Membuat Batik Unik dan Menarik Khas Kalteng (1)

Berbahan Getah Daun Ulin dan Mawar

Batik memang lebih terkenal di Pulau Jawa. Tapi siapa sangka,…

Kamis, 01 November 2018 09:41
Dari Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Sopir Travel di Sampit

KEJAM..!! Ada 15 Adegan, Korban Sempat Dipukuli Lalu Dibuang ke Sungai Mentaya

Ada 15 adegan yang diperagakan tersangka pelaku dalam rekonstruksi kasus…

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:49
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (2/Selesai)

Belajar Dalang karena Sering Ikut Orang Tua

Wayang,sebuah seni pertunjukan dengan memainkan tokoh-tokoh kerajaan masa lalu. Merupakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*