MANAGED BY:
SELASA
26 MEI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Minggu, 21 Mei 2017 17:13
Kekerasan dalam Pendidikan: Tanggung Jawab Siapa?

Oleh: Nuryadin*

Nuryadin

PROKAL.CO, MASIH terjadi dan terulangnya tindak kekerasan dalam pendidikan yang melibatkan oknum pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik maupun orang tua peserta didik, semakin mencoreng citra pendidikan sebagai agen terdepan pembangunan karakter bangsa serta kualitas SDM bangsa.

Lembaga pendidikan dengan beragam bentuknya semestinya hadir sebagai lingkungan dan ruang yang aman serta nyaman bagi peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Suasana kondusif yang dibangun di dalamnya berpengaruh positif bagi seseorang agar kelak lahir insan berkualitas, dengan kompetensi intelektual, spiritual, moral, dan sosial yang memadai.

Lembaga pendidikan dituntut mampu menyediakan ruang yang aman dan kesempatan yang terbuka bagi segenap warganya, terutama dalam aspek interaksi, proses pembelajaran, dan pengembangan kemampuan. Sehingga akan berdampak pada terciptanya habit konstruktif bagi perkembangan potensi dan karakter peserta didik.

Kekerasan dalam pendidikan justru menjadi penghambat bagi terciptanya kondisi demikian. Kekerasan dalam konteks ini dapat terjadi dalam lingkungan dan pada waktu proses pendidikan berlangsung ataupun di luar lingkungan dan jam-jam pendidikan. Realitas yang seharusnya jauh dari dunia pendidikan.

FAKTOR PEMICU

Dewasa ini kekerasan bukan lagi hal asing bagi pendidikan kita. Kekerasan acapkali melengkapi berita kriminal di ruang-ruang publik. Kekerasan tidak hanya berupa kekerasan fisik seperti tawuran, penganiayaan dan pemukulan. Bisa juga berupa kekerasan verbal seperti cacian, hujatan, dan bullying. Bahkan terjadi pula kekerasan lain yang tak kalah mengkhawatirkan, yakni kekerasan dan pelecehan seksual dan tindak asusila.

Kekerasan dalam pendidikan jika kita cermati tidak hadir dalam ruang hampa. Selalu ada pemicunya.

Pertama, kondisi keluarga yang tak harmonis berpotensi memberi pengaruh negatif bagi psikologis serta perilaku seorang anak (baca peserta didik). Bisa jadi ia menjadi tertutup dan pendiam. Tak menutup kemungkinan bisa lepas kendali, dan cenderung lebih keras ketika berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Kedua, lingkungan sosial yang tak lagi menyediakan suasana yang kondusif dan aman bagi anak dan kaum muda. Ketika seorang anak terbiasa tumbuh dan berada dalam lingkungan yang keras, dan tak jarang muncul peristiwa kriminal dari lingkungan tersebut, sikap dan perilakunya juga bisa ikut terpapar pengaruh negatif.

Ketiga, mental dan perilaku pendidik atau tenaga kependidikan yang tak mencerminkan keteladan, yang berakibat pada terbentuknya peserta didik bermental dan berperilaku serupa.

Keempat, kekerasan dipandang sebagai sebuah pembelajaran disiplin dan pembinaan mental, sehingga ia menjadi kebiasaan yang terus dipelihara.

JALAN KELUAR

Kekerasan yang terus terjadi dapat melahirkan generasi yang rentan dalam memproduksi ulang kekerasan dalam lingkungannya maupun di luar itu. Tindak kekerasan yang merasuk dalam kesadaran masyarakat dapat menjadi kultur negatif yang bisa merusak tatanan kehidupan.

Kondisi demikian sangat mengkhawatirkan. Diperlukan formula guna mengantisipasi kekerasan serta bagaimana menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman. Tentu ini bukan tugas ringan. Karenanya komitmen dan kerja sama banyak pihak sangat dinanti.

Pertama, pemerintah melalui instansi terkait perlu memetakan daerah, lingkungan, dan lembaga pendidikan yang rawan akan tindak kekerasan. Untuk selanjutnya dilakukan pembenahan dan pemberdayaan secara kontinu.

Kedua, keterlibatan aktif lembaga pendidikan dalam menanggulangi kekerasan mutlak dikedepankan. Lingkungan pendidikan mesti hadir sebagai ruang publik yang aman dengan kegiatan positif dan pengawasan maksimal.

Ketiga, pendidikan dengan pendekatan kebudayaan (kultur) perlu dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif dalam meminimalisir kekerasan. Pendekatan ini diklaim mampu mengakomodasi keragaman budaya dan latar belakang peserta didik, sehingga dapat meredam munculnya kekerasan.

Keempat, kerja sama lintas instansi mendesak dilakukan. Pemerintah perlu melibatkan kalangan swasta dan masyarakat dalam mencegah munculnya potensi kekerasan di lingkungan pendidikan maupun lingkungan sekitarnya.

*Pengajar IAIN Palangka Raya


BACA JUGA

Kamis, 17 Oktober 2013 14:22

Terdakwa Pembunuhan Berlagak Bego

<div> <div>PALANGKA RAYA-Sidang atas kasus pembunuhan yang menimpa Kokon, dengan terdakwa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers