MANAGED BY:
SENIN
26 OKTOBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Minggu, 21 Mei 2017 18:14
Pendidikan: Gengsi atau Kebutuhan?

OLEH: Penny Kamala Sari, S.Si *

Ilustrasi

2. Pendidikan mulai memasuki babak awal dalam pembentukan jati diri sebuah keluarga Dayak sekitar tahun 60-an s/d 70-an. Sekitar tahun tersebut, di Kalimantan Tengah pekerjaan yang sangat banyak diminati dan membutuhkan banyak pekerja adalah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Saat itu kebutuhan pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil lebih besar daripada pekerjanya. Adanya prasyarat minimal lulus Sekolah Menengah Umum atau jenjang diatasnya membuat nilai pendidikan menjadi suatu “kebutuhan” untuk menaikkan “gengsi” sebuah keluarga. Semakin banyak anak-anak Dayak yang disekolahkan pada saat itu dan ada orang tua yang sudah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk mengejar kenaikan pangkat dan golongan pegawainya.

3. Fase tahun 80-an s/d sekarang, bagi masyarakat Dayak pendidikan sudah mulai berubah maknanya. Bukan lagi sebagai “kebutuhan” tapi sudah sebagai “gengsi” bagi suatu keluarga untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Orangtua tidak akan bangga jika anaknya tidak disekolahkan ke Palangka Raya (jika domisili di kabupaten) atau di sekolahkan ke luar propinsi tetangga seperti Banjarmasin atau pulau Jawa. Perbincangan antar keluarga atau tetangga akan menjadi hangat dengan membicarakan pendidikan masing-masing anaknya.

Selain itu, ada anggapan jika anak lulus kelak paling tidak harus menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jika hal itu tidak terwujud maka “gengsi” keluarga akan turun, masih dianggap pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil merupakan orang kantoran yang pandai karena dianggap lebih mengerti administrasi. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena homogenitas pekerjaan terbesar di Kalimantan Tengah adalah Pegawai Negeri Sipil. Pekerjaan sebagai karyawan swasta masih belum banyak dilirik karena dianggap bahwa pendapatan seorang karyawan swasta tidak menjamin kehidupan pada masa tua karena tidak memiliki pensiun.

Ada sindiran pedas yang kadang masih bisa disuarakan dalam sebuah keluarga Dayak. “Bue-tambim, bapa-indum, mama-minam uras ewen PNS. Leha je ikau dia!” (arti dalam bahasa Dayak: “Kakek-nenekmu, ayah-ibumu, paman-bibimu, semua mereka PNS. Kenapa kamu saja yang tidak!”).

Dalam opini ini, saya sendiri (penulis) adalah sebagai anak Dayak yang sebenarnya ingin menyoroti dinamika psikologis suatu pekerjaan yang dipilih sang anak yang terjadi di dalam keluarga Dayak. Adanya perubahan makna pendidikan pada tahun 80-an sampai sekarang, saya melihat bahwa begitu tingginya “keakuan-gengsi” sebuah keluarga dalam menentukan hasil akhir atau output pekerjaan anak dari sebuah pendidikan yang mereka tempuh. Balas jasa biaya pendidikan yang lumayan besar menambah beban yang cukup berat bagi sebuah penghargaan “gengsi” keluarga akan menyebabkan sang anak “harus” balas budi untuk mencapai suatu target memiliki pekerjaan mayoritas yang ada yaitu Pegawai Negeri Sipil.

Hal ini dapat mengakibatkan depresi yang berkepanjangan, kurang percaya diri atau rasa minder yang berlebihan akibat ambisi keluarga yang tidak tersampaikan. Sah-sah saja orang tua menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi bahkan ke sekolah terfavorit sekalipun, yang menjadi salahnya adalah tekanan keluarga dalam hal pekerjaan akhir bagi anak akan berdampak besar secara psikologis bagi anak tersebut.

Halaman:

BACA JUGA

Sabtu, 18 Juli 2020 12:44

Disdukcapil Jamin Tidak Ada Data Ganda

PALANGKA RAYA-Kendati sudah melampaui target nasional perekaman Kartu Tanda Penduduk…

Sabtu, 18 Juli 2020 12:22

HUT Palangka Raya, Drainase dan Jalan Jadi Sorotan

Dalam pembangunan infrastruktur Kota Cantik, hal yang paling diperhatikan Fairid…

Kamis, 16 Juli 2020 11:53

Soal Penanganan Karhutla, Sinergi Pemangku Kepentingan Belum Optimal

PALANGKA RAYA-Sekda Provinsi Kalteng Fahrizal Fitri memaparkan permasalahan kebakaran hutan…

Jumat, 10 Juli 2020 14:15

Coklit Data Pemilih Pilkada

“Kepastian waktu coklit itu diatur petugas masing-masing. Coklit ini berbasis…

Jumat, 03 Juli 2020 12:19

Warga Tolak Rusunawa Jadi Tempat Isolasi, Ini Alasannya

TAMIANG LAYANG-Warga Jaar, Kecamatan Dusun Timur di Kabupaten Bartim menolak…

Selasa, 30 Juni 2020 12:49

Pilgub Kalteng, Golkar Sodorkan Tujuh Nama

PALANGKA RAYA-Partai Golkar hampir pasti menjatuhkan pilihan kepada petahana H…

Sabtu, 11 Mei 2019 12:11

Pesona Mandau

SENJATA tradisional dari tanah Dayak Kalimantan Tengah ini masih ada dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers