MANAGED BY:
SELASA
26 MEI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Minggu, 21 Mei 2017 18:14
Pendidikan: Gengsi atau Kebutuhan?

OLEH: Penny Kamala Sari, S.Si *

Ilustrasi

PROKAL.CO, SETIAP tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional. Dipelopori oleh pendirinya Dr. Wahidin Sudirohosodo dan Sutomo, lahirlah Budi Utomo, organisasi modern yang bertujuan untuk menyatukan bangsa Indonesia, meningkatkan martabat bangsa dan membangkitkan kesadaran nasional dimana bidang utamanya adalah pendidikan dan kebudayaan pada masa kolonial Belanda.

Kebangkitan Nasional adalah momentum lahirnya rasa kebangsaan akan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa pada saat itu melalui pendidikan. Bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang sebenarnya tidak pernah muncul selama masa penjajahan.

Saya sangat suka dengan peribahasa – “Tuntutlah ilmu sampai ke negari seberang”. Wow.., inilah suatu upaya yang luar biasa. Begitu berharganya ilmu yang ada sehingga orang mesti mempelajarinya ke negeri yang sangat jauh. Tapi itulah realitanya. Faktanya begitu penting dan sangat berharganya pendidikan bagi orang yang mendapatkannya untuk bekal di masa depan.

Peran keluarga sangat penting dan akan sangat mempengaruhi dalam pertimbangan memilih pendidikan anaknya. Keputusan orang tua seakan menjadi “harga mati” dalam menentukan masa depan anaknya. Adanya perbedaan gender antara pria dan wanita juga mempengaruhi keputusan keluarga untuk menyekolahkan anaknya.

Menurut saya ada 3 fase pemikiran pendidikan di masyarakat Dayak dilihat dari perkembangan pendidikan dan pengaruh keluarga sebagai berikut:

1. Sekitar tahun 50-an di kalangan keluarga Dayak Kalimantan Tengah, ada anggapan bahwa anak perempuan jangan disekolahkan tinggi-tinggi, karena akan bekerja di dapur juga (bahasa Dayaknya : “ela nyangkola tinggi-tinggi, awi kareh tame dapur kea”). Jadi pada masa itu anak perempuan kebanyakan disekolahkan paling tinggi hanya sampai Sekolah Menengah Umum atau disingkat SMU. Kadang jika sampai umur untuk menikah maka mereka akan dinikahkan. Kebanyakan mereka tinggal di rumah saja dan mengurus anak. Pekerjaan yang dominan pada saat itu berladang atau bertani untuk membantu suami atau orang tua. Anak laki-laki saja yang biasanya disekolahkan tinggi, karena mereka diharapkan nantinya sebagai kepala keluarga dan akan membawa nama keluarga. Kadang jika anak lelaki tersebut adalah anak pertama sedangkan adik-adiknya adalah perempuan maka hanya kakak yang lelaki yang disekolahkan. Mungkin hal itu masih bisa dimaklumi karena pada masa itu Negara kita Indonesia masih baru merdeka, sarana dan prasarana pendidikan masih belum dibenahi, masih dianggap oleh sebagian besar orang dayak pendidikan masih belum begitu penting.

2. Pendidikan mulai memasuki babak awal dalam pembentukan jati diri sebuah keluarga Dayak sekitar tahun 60-an s/d 70-an. Sekitar tahun tersebut, di Kalimantan Tengah pekerjaan yang sangat banyak diminati dan membutuhkan banyak pekerja adalah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Saat itu kebutuhan pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil lebih besar daripada pekerjanya. Adanya prasyarat minimal lulus Sekolah Menengah Umum atau jenjang diatasnya membuat nilai pendidikan menjadi suatu “kebutuhan” untuk menaikkan “gengsi” sebuah keluarga. Semakin banyak anak-anak Dayak yang disekolahkan pada saat itu dan ada orang tua yang sudah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk mengejar kenaikan pangkat dan golongan pegawainya.

3. Fase tahun 80-an s/d sekarang, bagi masyarakat Dayak pendidikan sudah mulai berubah maknanya. Bukan lagi sebagai “kebutuhan” tapi sudah sebagai “gengsi” bagi suatu keluarga untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Orangtua tidak akan bangga jika anaknya tidak disekolahkan ke Palangka Raya (jika domisili di kabupaten) atau di sekolahkan ke luar propinsi tetangga seperti Banjarmasin atau pulau Jawa. Perbincangan antar keluarga atau tetangga akan menjadi hangat dengan membicarakan pendidikan masing-masing anaknya.

Selain itu, ada anggapan jika anak lulus kelak paling tidak harus menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jika hal itu tidak terwujud maka “gengsi” keluarga akan turun, masih dianggap pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil merupakan orang kantoran yang pandai karena dianggap lebih mengerti administrasi. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena homogenitas pekerjaan terbesar di Kalimantan Tengah adalah Pegawai Negeri Sipil. Pekerjaan sebagai karyawan swasta masih belum banyak dilirik karena dianggap bahwa pendapatan seorang karyawan swasta tidak menjamin kehidupan pada masa tua karena tidak memiliki pensiun.

Ada sindiran pedas yang kadang masih bisa disuarakan dalam sebuah keluarga Dayak. “Bue-tambim, bapa-indum, mama-minam uras ewen PNS. Leha je ikau dia!” (arti dalam bahasa Dayak: “Kakek-nenekmu, ayah-ibumu, paman-bibimu, semua mereka PNS. Kenapa kamu saja yang tidak!”).

Dalam opini ini, saya sendiri (penulis) adalah sebagai anak Dayak yang sebenarnya ingin menyoroti dinamika psikologis suatu pekerjaan yang dipilih sang anak yang terjadi di dalam keluarga Dayak. Adanya perubahan makna pendidikan pada tahun 80-an sampai sekarang, saya melihat bahwa begitu tingginya “keakuan-gengsi” sebuah keluarga dalam menentukan hasil akhir atau output pekerjaan anak dari sebuah pendidikan yang mereka tempuh. Balas jasa biaya pendidikan yang lumayan besar menambah beban yang cukup berat bagi sebuah penghargaan “gengsi” keluarga akan menyebabkan sang anak “harus” balas budi untuk mencapai suatu target memiliki pekerjaan mayoritas yang ada yaitu Pegawai Negeri Sipil.

Hal ini dapat mengakibatkan depresi yang berkepanjangan, kurang percaya diri atau rasa minder yang berlebihan akibat ambisi keluarga yang tidak tersampaikan. Sah-sah saja orang tua menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi bahkan ke sekolah terfavorit sekalipun, yang menjadi salahnya adalah tekanan keluarga dalam hal pekerjaan akhir bagi anak akan berdampak besar secara psikologis bagi anak tersebut.

Keluarga seharusnya menjadi pelindung dan memberikan rasa aman – bukan menjadi penghalang dan bahkan penghancur mental masa depan anak. Ironis memang, tapi hal itulah yang kadang tidak disadari oleh orangtua atau keluarganya.

Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukan sebagai pilihan utama yang harus didapatkan seperti sebuah piala bergilir yang diperebutkan setiap tahunnya. Pekerjaan sebagai swasta juga merupakan pekerjaan yang terhormat dan jika tekun dilakukan dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Saya sendiri pun pernah menjalani pekerjaan di perusahaan swasta selama sepuluh tahun sebelum akhirnya saya diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil di sebuah Kabupaten di Kalimantan Tengah. Lima tahun pertama di dua lembaga lingkungan hidup dan lima tahun kedua di perusahaan tambang batubara.

Sepuluh tahun di pekerjaan swasta menempa saya mempelajari nilai-nilai perjuangan moral sebuah perjuangan kehidupan. Ibarat anak tangga, segala sesuatunya dimulai dari anak tangga terbawah baru menuju ke anak tangga teratas. Marilah dengan adanya semangat Kebangkitan Nasional ini, keluarga perlu mulai membuka diri dalam perubahan dinamika pekerjaan anak. Anak harus didukung dalam pendidikan dan apapun kelak pekerjaannya. Orangtua harus keluar dari zona berpikir tradisi temurun”. Mulailah menganggap bahwa pendidikan adalah sebuah “kebutuhan” bukan lagi sebagai “gengsi” sebuah keluarga. “Kebutuhan” karena banyak sekali sektor pekerjaan swasta yang membutuhkan tenaga kerja terampil “selain” pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Terakhir, ambil hikmahnya bahwa pendidikan merupakan “kebutuhan” setiap orang untuk mendapatkan penghidupan dan pekerjaan yang layak apapun itu entah pekerjaan swasta atau sebagai Pegawai Negeri Sipil, mari semua sama-sama membangun Kalimantan Tengah kita tercinta ini. (*)

*PNS di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Murung Raya


BACA JUGA

Kamis, 17 Oktober 2013 14:22

Terdakwa Pembunuhan Berlagak Bego

<div> <div>PALANGKA RAYA-Sidang atas kasus pembunuhan yang menimpa Kokon, dengan terdakwa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers