MANAGED BY:
SABTU
28 NOVEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Minggu, 21 Mei 2017 18:14
Pendidikan: Gengsi atau Kebutuhan?

OLEH: Penny Kamala Sari, S.Si *

Ilustrasi

PROKAL.CO,

SETIAP tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional. Dipelopori oleh pendirinya Dr. Wahidin Sudirohosodo dan Sutomo, lahirlah Budi Utomo, organisasi modern yang bertujuan untuk menyatukan bangsa Indonesia, meningkatkan martabat bangsa dan membangkitkan kesadaran nasional dimana bidang utamanya adalah pendidikan dan kebudayaan pada masa kolonial Belanda.

Kebangkitan Nasional adalah momentum lahirnya rasa kebangsaan akan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa pada saat itu melalui pendidikan. Bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang sebenarnya tidak pernah muncul selama masa penjajahan.

Saya sangat suka dengan peribahasa – “Tuntutlah ilmu sampai ke negari seberang”. Wow.., inilah suatu upaya yang luar biasa. Begitu berharganya ilmu yang ada sehingga orang mesti mempelajarinya ke negeri yang sangat jauh. Tapi itulah realitanya. Faktanya begitu penting dan sangat berharganya pendidikan bagi orang yang mendapatkannya untuk bekal di masa depan.

Peran keluarga sangat penting dan akan sangat mempengaruhi dalam pertimbangan memilih pendidikan anaknya. Keputusan orang tua seakan menjadi “harga mati” dalam menentukan masa depan anaknya. Adanya perbedaan gender antara pria dan wanita juga mempengaruhi keputusan keluarga untuk menyekolahkan anaknya.

Menurut saya ada 3 fase pemikiran pendidikan di masyarakat Dayak dilihat dari perkembangan pendidikan dan pengaruh keluarga sebagai berikut:

1. Sekitar tahun 50-an di kalangan keluarga Dayak Kalimantan Tengah, ada anggapan bahwa anak perempuan jangan disekolahkan tinggi-tinggi, karena akan bekerja di dapur juga (bahasa Dayaknya : “ela nyangkola tinggi-tinggi, awi kareh tame dapur kea”). Jadi pada masa itu anak perempuan kebanyakan disekolahkan paling tinggi hanya sampai Sekolah Menengah Umum atau disingkat SMU. Kadang jika sampai umur untuk menikah maka mereka akan dinikahkan. Kebanyakan mereka tinggal di rumah saja dan mengurus anak. Pekerjaan yang dominan pada saat itu berladang atau bertani untuk membantu suami atau orang tua. Anak laki-laki saja yang biasanya disekolahkan tinggi, karena mereka diharapkan nantinya sebagai kepala keluarga dan akan membawa nama keluarga. Kadang jika anak lelaki tersebut adalah anak pertama sedangkan adik-adiknya adalah perempuan maka hanya kakak yang lelaki yang disekolahkan. Mungkin hal itu masih bisa dimaklumi karena pada masa itu Negara kita Indonesia masih baru merdeka, sarana dan prasarana pendidikan masih belum dibenahi, masih dianggap oleh sebagian besar orang dayak pendidikan masih belum begitu penting.

Halaman:

BACA JUGA

Kamis, 17 Oktober 2013 14:22

Terdakwa Pembunuhan Berlagak Bego

<div> <div>PALANGKA RAYA-Sidang atas kasus pembunuhan yang menimpa Kokon, dengan terdakwa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers