MANAGED BY:
SABTU
28 NOVEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Minggu, 15 Januari 2017 12:48
Menulis Buku, Menulis Kebenaran

Oleh: Listiyono Santoso *

Listiyono Santoso (Jawa Pos Photo)

Tidak bisa dibayangkan apa dampaknya ketika sebuah buku ditulis secara serampangan. Data penuh dengan kepalsuan. Informasi yang disampaikan juga mengandung kesesatan. Di tengah masyarakat dengan budaya literasi yang masih rendah, buku yang sembarangan ditulis tentu saja membahayakan bagi opini publik. Masyarakat mudah menyerap informasi tanpa sikap kritis. Tokoh yang dituliskan secara salah akan mengalami delegitimasi dan peristiwa yang dinarasikan secara manipulatif bakal menjadi jejak sejarah yang menyesatkan publik. Melalui informasi yang sesat dalam sebuah buku, seorang ”pecundang” bisa menjadi pahlawan. Begitu juga seorang ”pahlawan”, dapat dicitrakan sebagai pecundang di mata publik.

Menulis buku itu menulis kebenaran. Seorang penulis akan mendedikasikan integritas intelektualnya untuk mengabdi pada nilai kebenaran. Tidak sekadar mencari popularitas maupun memenuhi kepentingan materiil lainnya. Di dalam buku yang ditulis, ada nilai (value) yang hendak disebarluaskan kepada publik pembaca. Menulis buku adalah menulis dengan jiwa dan kedalaman batin. Dalam menulis sebuah buku, penulis tidak boleh terlibat kemarahan dan kebencian. Setiap kemarahan dan kebencian hanya membuat tulisan tidak bersifat objektif dan tak menghadirkan kebenaran di dalamnya. Karena itu, jangan menulis ketika Anda sedang marah dan benci kepada seseorang.

Risikonya terlalu berat. Selain akan dianggap melanggar Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) dan UU 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, yang paling serius adalah si penulis memberikan informasi yang sesat kepada masyarakat dan generasi selanjutnya. Membohongi publik jelas sebuah kejahatan, apalagi menyandera generasi dengan informasi yang menyesatkan. Saatnya publik diajak kritis dalam memilih dan membaca buku. (*)

*Pendidik serta pengajar mata kuliah ilmu filsafat dan etika di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga Surabaya

Halaman:
loading...

BACA JUGA

Kamis, 17 Oktober 2013 14:22

Terdakwa Pembunuhan Berlagak Bego

<div> <div>PALANGKA RAYA-Sidang atas kasus pembunuhan yang menimpa Kokon, dengan terdakwa…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers