MANAGED BY:
MINGGU
29 NOVEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Rabu, 09 November 2016 15:45
Pelajaran dari Kasus Ahok

Oleh BIYANTO*

Biyanto

PROKAL.CO,

KASUS dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) benar-benar menguras energi. Silang pendapat terhadap pernyataan Ahok tentang surah Al Maidah ayat 51 begitu luar biasa. Pro dan kontra tidak hanya melibatkan warga DKI Jakarta. Mereka yang tinggal jauh dari ibu kota juga terlibat dalam perdebatan. Puncaknya, ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan, orang bergerak ke Jakarta untuk melakukan aksi damai pada Jumat, 4 November.

Solidaritas umat dari segenap penjuru tanah air seakan memuncak. Dari berbagai daerah, mereka berbondong-bondong datang ke ibu kota. Mereka menyuarakan tuntutan yang sama, yakni tuntaskan kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan Ahok. Selain gelombang massa yang datang ke Jakarta, masih banyak demonstrasi serupa di daerah. Gelombang demonstrasi damai menunjukkan bahwa efek pernyataan Ahok telah menjadi isu nasional, lintas etnis dan agama.

Sebagian orang mungkin memahami bahwa aksi demo itu digerakkan elite politik. Pandangan tersebut bisa dimaklumi karena faktanya di Jakarta sedang berlangsung tahapan pemilihan gubernur (pilgub). Tetapi, jika dikonstruksi dari awal, jelas aksi demonstrasi damai itu murni dipicu pernyataan Ahok yang dianggap telah menistakan agama. Apalagi, aksi demonstrasi merupakan salah satu bentuk pernyataan aspirasi yang dijamin konstitusi.

Didorong keinginan untuk membela kemuliaan kitab suci, mereka yang tidak berkepentingan dengan pilgub DKI secara sukarela datang ke ibu kota negeri. Peserta aksi damai menganggap calon gubernur petahana itu tidak layak membawa perdebatan penafsiran ayat Alquran dalam konteks pilgub DKI. Kelompok umat yang tersinggung pun melaporkan Ahok ke kepolisian atas tuduhan penistaan agama.

Kasus yang menimpa Ahok penting menjadi pelajaran bagi siapa pun. Tidak sepantasnya seseorang membawa agama dalam pentas persaingan politik. Sebab, politik merupakan urusan duniawi (profan). Sedangkan agama tergolong wilayah suci (sakral). Meminjam istilah cendekiawan muslim Nurcholish Madjid (Cak Nur), semua pihak harus melakukan sekularisasi. Pada konteks ini, sekularisasi dimaknai Cak Nur secara sosiologis. Menurut Cak Nur, sekularisasi bermakna membedakan, bukan memisahkan, urusan politik dan agama. Pemahaman tersebut penting agar tidak terjadi pemaksaan penafsiran ajaran agama untuk agenda politik.

Pelajaran lain dari kontroversi Ahok adalah pentingnya menghargai kebinekaan. Dengan pernyataan kontroversialnya, Ahok tampak tidak menempatkan diri sebagai pejabat publik yang pluralis. Padahal, negeri tercinta ini secara nature dan culture berbineka. Pernyataan itu merujuk pada realitas kemajemukan etnis, budaya, agama, dan paham keagamaan di Nusantara. Meski faktanya berbineka, sampai kapan pun negeri ini harus tunggal ika (semboyan Bhinneka Tunggal Ika).

Halaman:

BACA JUGA

Kamis, 17 Oktober 2013 14:22

Terdakwa Pembunuhan Berlagak Bego

<div> <div>PALANGKA RAYA-Sidang atas kasus pembunuhan yang menimpa Kokon, dengan terdakwa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers