MANAGED BY:
KAMIS
27 JANUARI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

SERBA SERBI

Kamis, 08 September 2016 13:23
Hiii... Sudah 15 Bulan Dikubur, "Hidup Lagi" dan Ketuk Pintu, Pulang (Bagian-2)
SEHAT: Waluyo menunjukkan hasil rontgen batok kepala Mr X yang mengalami gegar otak parah. Dia sendiri bingung siapa sebenarnya Mr X .(FERLYNDA Putri/JAWA POS)

BEGITU dokter menyatakan bahwa orang yang mirip Waluyo itu telah meninggal, anak-istri Waluyo pun bertangisan. Mereka merasa kehilangan. 

Keluarga pula yang kemudian merawat jenazah serta menguburkannya di pemakaman Desa Suren Kulon, Kelurahan Canden, Kecamatan Jetis, Bantul, Jogjakarta. Makam Waluyo bersebelahan dengan makam ibunya.

Namun, 15 bulan setelah dimakamkan, tepatnya 2 Agustus 2016, Waluyo ”hidup kembali”. 

Dia pulang ke rumahnya. Dengan percaya diri, Waluyo mengetuk pintu rumahnya yang terletak di sekitar Keraton Jogjakarta itu. 

Sekali, dua kali, ketukan pintunya tak dibukakan keluarganya. Baru pada ketukan dan salam ketiga, pintu rumahnya dibuka. Yang membukakan putrinya, Anti.

Tapi, bukannya gembira sang ayah pulang, Anti mengaku justru ketakutan. Anti kaget melihat ayahnya "hidup kembali”. 

"Karena saya dan ibu menunggui di Sardjito. Bahkan memakamkan ketika bapak dinyatakan meninggal,” ujar perempuan berjilbab tersebut. 

"Saya yakin yang datang waktu itu hantu bapak," imbuhnya. 

Karena itu, Anti tidak langsung membukakan pintu. Dengan gemetar dia amati tubuh bapaknya dari kepala sampai kaki. 

"Saya ingin memastikan apakah kaki bapak napak tanah atau tidak," cerita dia. 

Setelah percaya bahwa orang di depan matanya tersebut adalah bapaknya yang selama ini sudah dinyatakan meninggal, Anti menangis histeris. Dia peluk bapaknya kuat-kuat. 

Begitu pula Katirah, ibu Anti, yang muncul kemudian. Dia juga menangis sambil memeluk suaminya itu. Dia terharu dan bahagia karena suaminya "hidup kembali".

Menurut penuturan Waluyo, dirinya tidak pernah meninggal seperti sempat diakui anak-istrinya. Selama setahun lebih dia minggat ke Semarang.

"Saya pergi dan tidak memberi kabar karena saya mangkel sama keluarga. Mereka selalu menyuruh saya mencari nafkah. Padahal, saya sudah tua dan becak saya disita," cerita Waluyo.

---------- SPLIT TEXT ----------

Empat bulan pertama setelah pergi dari rumah, Waluyo masih tinggal di Jogja. Dia menggelandang di sekitar kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). 

Untuk kebutuhan sehari-hari, dia mencari barang bekas di sekitar kampus. Kemudian menjualnya ke tengkulak barang bekas. 

Setelah punya uang untuk bekal, Waluyo melanjutkan petualangan ke Semarang. 

Dia ingin mencari pekerjaan. Hebatnya, perjalanan ke Semarang dilakukannya dengan berjalan kaki dari Jogja. 

Dari Jogja Waluyo hanya membawa uang Rp 20.000. Di sepanjang jalan, kalau menemukan uang jatuh, dia mengumpulkannya. 

Uang itu dia pakai untuk membeli makan dan minuman selama perjalanan ke Semarang. 

Di Kota Lumpia tersebut Waluyo juga hidup menggelandang. Awalnya mengumpulkan barang bekas. Lalu menjadi tukang parkir dan terakhir jadi petugas kebersihan kota. 

Dia tidur di emperan toko daerah Simpang Lima. Sebagai petugas kebersihan, gajinya hanya Rp 700.000 sebulan. 

”Tapi, selama di Semarang, hati saya tidak tenang. Saya merasa ingin pulang terus,” ungkapnya. 

Menjelang Ramadan, Waluyo pun bertekad untuk pulang setelah Lebaran. Maka, dia pun menabung untuk bekal pulang. Hingga akhirnya terkumpul Rp 400.000. 

Saat pulang ke Jogja, Waluyo mendapat tumpangan kenalannya di Semarang. ”Saya diantarkan sampai rumah menggunakan mobil,” imbuhnya.

Rumahnya yang di dalam gang membuat Waluyo harus berjalan kaki sampai di depan pintu. 

---------- SPLIT TEXT ----------

Nah, saat berjalan kaki itulah, banyak tetangganya yang menghampiri dan menyalaminya. 

Tapi, Waluyo tidak curiga. ”Lha saya kira mereka nyalami karena saya lama tidak pulang,” ucapnya. 

Akhirnya Waluyo bertemu dengan anak-istri dan mengerti bahwa dirinya telah dimakamkan setahun lalu. 

Keluarga dan para tetangga menganggap Waluyo telah tiada. Sejak itu kepulangan Waluyo menggegerkan Jogja. Kabar yang muncul simpang siur. Intinya, Waluyo dianggap ”hidup kembali”.

Kepulangan Waluyo juga menarik perhatian para pejabat di Jogja untuk menemuinya. 

Dia juga diundang sebuah stasiun televisi swasta ke Jakarta. ”Saya ke Jakarta naik pesawat. Deg-degan,” ceritanya.

Dari saran berbagai pihak, Waluyo berniat menghidupkan lagi hak-haknya sebagai manusia. Pasalnya, akta kematian dirinya telah terbit. 

Negara telah mencatat bahwa Waluyo sudah meninggal dunia. Hak-haknya sebagai warga negara Indonesia tentu sudah hilang. 

”Saya ingin diakui telah hidup lagi. Biar saya dapat bantuan raskin (beras untuk rakyat miskin, Red),” katanya. 

Dibantu beberapa perangkat desa, Waluyo pun mengajukan diri untuk dinyatakan hidup oleh keluarganya. Tetapi, prosesnya ternyata tidaklah mudah. 

Setelah berkas-berkas yang dibutuhkan dikumpulkan dan diserahkan ke kecamatan, Waluyo masih harus menjalani tes DNA. 

Untuk mendapatkan kepastian hukum, Waluyo harus menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jogjakarta. 

Hingga saat ini Waluyo masih menjalani sidang itu. ”Katanya harus sampai Jakarta segala mengurusnya,” ujar pria kelahiran 12 Desember 1954 tersebut. (*/c5/c9/ari)


BACA JUGA

Kamis, 24 Oktober 2013 16:01

SMAN 1 Muara Teweh Jadi Tuan Rumah

<div> <div><strong>MUARA TEWEH</strong> &ndash; SMAN 1 Muara Teweh akan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers