MANAGED BY:
SELASA
01 DESEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Senin, 01 Agustus 2016 16:45
Mandiri Finansial
Endrawati SH MH

PROKAL.CO,

KEHILANGAN pasangan hidup, bukan berarti kiamat dunia. Takdir menjadi seorang single parent bukanlah sebuah cita-cita. Namun, begitulah rezeki, jodoh dan maut merupakan sebuah misteri. Peristiwa ini terjadi dalam kehidupan nyata saya, tepatnya 6 Desember 2013 silam. Suami saya tercinta Gesang Kang Kokoh mendapat serangan jantung mendadak. Memang pada awalnya, sebagai manusia biasa saya tentu syok dan sempatlah merasa depresi. Alhamdulillah semua bisa saya lalui dan saya jalani hingga saat ini bersama anak semata wayang saya Nauval Kang Kokoh saat ini duduk di kelas III sekolah dasar MIN Langkai Palangka Raya.

Semua semua hal yang terjadi di dalam kehidupan ini, semua sudah menjadi ketentuan Allah SWT. Terlebih lagi kejadian menyedihkan bahkan memilukan hati. Dan, di balik semua kesedihan itu pasti akan ada sebuah kebahagiaan lain yang sudah disiapkan Allah untuk setiap hamba-Nya. Sama seperti sebuah ungkapan “Ada Pelangi Setelah Hujan”. Mau tidak mau, suka tidak suka, inilah takdir hidup yang harus dijalani, dengan penuh kesabaran dan kegigihan.  

Praktis, setelah kepergian suami saya hanya hidup bersama jagoan kecilku yang saat itu masih berusia 5 tahun. Roda ekonomi keluarga pun turut berubah. Ibarat burung, yang patah satu sayapnya, pasti akan sulit untuk bisa terbang kembali. Beruntung, saya memiliki pekerjaan yang bisa menopang kehidupan kami berdua. Meskipun tidak bisa disamakan ketika ada pasangan hidup, namun saya harus tetap bersyukur dan harus tetap bisa bangkit demi sebuah amanah yang dititipkan Allah yaitu anak. Hanya anaklah, yang saat itu bisa membuat saya kembali bangkit dari kesedihan dan keterpurukan.

Kepergian almarhum suamiku Gesang Kang Kokoh memang begitu mendadak seolah meluluhlantakan semua sendi kehidupan. Semua yang biasa dilakukan bersama kini hanya bisa disandang seorang diri. Misalkan dari hal, mengantar dan menjemput anak sekolah, les. Bahkan, hal kecil seperti mengangkat gallon air mineral, mengganti bolam lampu yang mati dan tentunya masih banyak lagi. Belum lagi, ketika awal bulan harus dihadapkan dengan tagihan listrik, air dan tv kabel, hmmm. Tak hanya di situ, seabrek aktivitas pekerjaan di kantor yang tidak hanya menyita waktu namun juga pikiran. Saya bekerja di kantor sejak pagi hingga sore hari, kadang sore setelah pulang kerja saya juga harus menyambi ke kampus untuk mengajar.

---------- SPLIT TEXT ----------

Begitu seterusnya sepanjang hari kerja dari Senin-Sabtu. Dan, dalam setiap doa, saya selalu memanjatkan doa untuk memohon keselamatan dan kesehatan. Mengapa saya tidak berdoa yang lain? Yang terpenting bagi saya saat ini, adalah kesehatan. Jika saya sehat, tentunya saya bisa bekerja mencari nafkah untuk anak saya. Dan, jika sakitpun tentu tidak ada yang merawat saya, seperti ketika masih memiliki pendamping hidup.   

Halaman:

BACA JUGA

Kamis, 17 Oktober 2013 14:22

Terdakwa Pembunuhan Berlagak Bego

<div> <div>PALANGKA RAYA-Sidang atas kasus pembunuhan yang menimpa Kokon, dengan terdakwa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers