MANAGED BY:
MINGGU
21 JULI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

UTAMA

Rabu, 10 Juli 2019 22:08
Dituntut 12 Tahun, Yantenglie Harus Mengganti Rp6,5 Miliar
Terdakwa Ahmad Yantenglie saat mengikuti sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Palangka Raya, kemarin (9/7). (DENAR/KALTENG POS)

PROKAL.CO, PALANGKA RAYA- Perkara atas raibnya uang kas daerah Kabupaten Katingan belum berakhir. Mantan Bupati Katingan Ahmad Yantenglie (AY) dinilai paling berperan dalam kasus tersebut jika dibandingkan terdakwa lain. Hal tersebut menjadi pertimbangan jaksa penuntut umum (JPU) untuk menuntutnya dengan hukuman 12 tahun penjara, dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tipikor Palangka Raya (9/7).

Dalam persidangan kemarin, situasi di Pengadilan Tipikor Palangka Raya terlihat tegang. Terdakwa, kuasa hukum, majelis hakim, dan para simpatisan tampak serius dan saksama memerhatikan pembacaan dakwaan dan tuntutan terhadap Ahmad Yantenglie.

Di tengah ketegangan tersebut, JPU di bawah pimpinan Eman Sulaiman lantang membacakan dakwaan dan tuntutan terkait kasus raibnya uang kas daerah Kabupaten Katingan sebesar Rp100 miliar. JPU menuntut terdakwa dengan tuntutan 12 tahun penjara, denda Rp500 juta, dan subsider 6 bulan penjara.

Dalam tuntutannya, JPU juga menegaskan bahwa terdakwa harus mengganti uang negara yang telah dinikmatinya selama ini, yakni Rp6,5 miliar. Terdakwa diberi waktu satu bulan untuk mengantikan uang tersebut, terhitung  sejak putusan pengadilan.

"Jika uang tidak diganti dalam kurun waktu satu bulan, maka aset miliknya (Ahmad Yantenglie) akan disita oleh penegak hukum,” ucap Eman Sulaiman.

Meskipun demikian, jika terdakwa masih belum bisa mengganti uang Rp6,5 miliar selama menjalani masa tahanan dan aset yang disita tidak mencukupi menganti uang negara, maka hukuman terhadap terdakwa akan ditambah, yakni enam tahun penjara.

Dalam tuntutannya, JPU menyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi sesuai Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU RI Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHPidana.

Berbeda dengan Yantenglie. Tekli selaku mantan bendahara umum daerah (BUD) mendapat tuntutan lebih ringan. Dalam kasus yang sama, Tekli hanya dituntut tujuh tahun penjara. Perbedaan tuntutan ini bukan tanpa alasan. Menurut JPU Eman Sulaiman, tuntutan terhadap Tekli lebih ringan dibandingkan dengan Yantenglie karena terdakwa Tekli dinilai kooperatif dan tidak berbelit-belit menyampaikan pengakuan dalam persidangan selama ini.

“Selama persidangan, Tekli memang tidak berbelit-belit dan mengakui perbuatannya dalam kasus ini. Berbeda dengan Pak Yantenglie yang selalu memberi keterangan berbelit-belit dalam persidangan,” jelasnya.

Tak hanya soal pengakuan yang berbelit-belit, tuntutan 12 tahun penjara terhadap Yantenglie, juga dikarenakan fakta persidangan dari berbagai saksi fakta yang dihadirkan mengarah kepada mantan Bupati Katingan sebagai yang paling berperan dalam kasus ini.

“Lihat saja hampir semua pengakuan saksi, baik itu Tekli, Teguh Handoko, dan beberapa yang lainnya. Mereka mengatakan bahwa terdakwa Yantenglie-lah yang paling berperan penting dalam kasus raibnya kas daerah Kabupaten Katingan,” jelasnya. 

Menanggapi tuntutan JPU, Antoninus Kristianto sebagai kuasa hukum Ahmad Yantenglie mengatakan, pihaknya membantah atas tuntutan terhadap kliennya.

“Kami akan membuat bantahan terhadap JPU dalam bentuk pleidoi yang akan kami sampaikan minggu depan. Kami tidak terima dengan tuntutan itu,” tegasnya usai persidangan yang dipimpin Majelis Hakim Agus Windana.

Antoninus mempertanyakan pernyataan JPU yang mengatakan jika kliennya telah menikmati uang negara sebesar Rp6,5 miliar. “Mereka membuat asumsi tersebut atas dasar apa? Padahal dalam persidangan selama ini, tidak ada saksi yang mengatakan jika klien kami menikmati uang negara,” pungkasnya. (old/ce/ala)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 21 Juli 2019 12:03

Kapal Bermuatan Karet dari Sampit Tenggelam, Bagaimana Nasib Awaknya..??

SAMPIT – Sebuah kapal layar motor (KLM) bermuatan karet yang berangkat…

Minggu, 21 Juli 2019 10:24

Met..Met..Ngapain Nyebur ke Sumur..?? Mau Ditolong Malah Nolak

PANGKALAN BUN – Slamet (57), membuat geger warga Desa Kumpai Batu Atas Kecamatan…

Minggu, 21 Juli 2019 10:15

Lahan Sengaja Dibakar, Belasan TKP Disegel Polisi

PALANGKA RAYA–Beberapa pekan terakhir kabut asap sudah menyelimuti Kota Palangka…

Sabtu, 20 Juli 2019 12:06

TENANG..., Karhutla Tak Pengaruhi Pemindahan Ibu Kota

PALANGKA RAYA-Hari pengumuman ibu kota negara pengganti DKI Jakarta semakin…

Sabtu, 20 Juli 2019 00:54

Dua Hal Penting yang Mesti Diperhatikan Jika Ibu Kota Pindah ke Kalteng

PALANGKA RAYA – Persiapan pemindahan ibukota negara (IKN) Republik Indonesia ke…

Sabtu, 20 Juli 2019 00:50

Yakin Jadi Ibu Kota Baru, Sugianto : Kalteng Telah Miliki Semua yang Disyaratkan

PALANGKA RAYA - Provinsi Kalimantan Tengah calon kuat lokasi Ibu…

Jumat, 19 Juli 2019 10:33

Yantenglie Menangis dalam Persidangan, Bukan Air Mata Penyesan

PALANGKA RAYA-Ruang sidang tipikor seketika hening. Bersamaan dengan itu, air…

Jumat, 19 Juli 2019 08:25

Ngaku Dapat Petunjuk Mistis, Anak Sekdes Dicabuli Pak Kades

MUARA TEWEH-Oknum Kepala Desa Narui, Puncak Mandala Putra (49) diadlili…

Jumat, 19 Juli 2019 08:23

Ini Alasan Mengapa Mantan Bupati Menangis saat Persidangan

PALANGKA RAYA – Sidang lanjutan kasus dugaan tindak pidana korupsi dengan…

Jumat, 19 Juli 2019 08:21

Di Persidangan, Mantan Bupati Ini Menangis

PALANGKA RAYA – Sidang lanjutan kasus dugaan tindak pidana korupsi dengan terdakwa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*