MANAGED BY:
KAMIS
13 DESEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:49
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (2/Selesai)
Belajar Dalang karena Sering Ikut Orang Tua
Ki Sucipto Hadi Sudilo saat menampilkan lakon Pandawa Bangun Candi Sapto Argo, beberapa waktu lalu. (HERMAWAN/KALTENG POS)

PROKAL.CO, Wayang,sebuah seni pertunjukan dengan memainkan tokoh-tokoh kerajaan masa lalu. Merupakan budaya dan kesenian asli Indonesia, yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. Kini, wayang juga eksis di Bumi Tambun Bungai.

 

HERMAWAN DP, Palangka Raya

=====================-======

SALAH satu prosesi yang menarik dalam Ruwatan Sukerta, adalah penampilan pergelaran wayang kulit. Pada pergelaran wayang semalam suntuk ini, dalang Ki Sucipto Hadi Sudilo mengambil lakon Pandawa Bangun Candi Sapto Argo.

Kisah Pandawa Bangun Candi Sapto Argo ini dimulai, saat putra-putra Pandawa diasingkan oleh Kurawa di hutan belantara yang bernama Alas Wono Marto. Hutan ini nantinya akan menjadi Kerajaan Amarta, yang juga disebut Pandawa.

Diceritakannya, suatu ketika saat kondisi putra-putra Pandawa sedang memprihatinkan di tengah hutan belantara, muncul seorang Raja Raksasa yang bernama Prabu Newoto Kawoco. Raja Raksasa ini berusaha menyingkirkan putra-putra Pandawa, dibantu Kurawa.

Melihat ada Prabu Newoto Kawoco yang hendak menyerang, Raden Lanoko atau Raden Arjuna mendatangi Semar. Meminta petunjuk cara mengalahkan Raja Raksasa.

Di sana, Semar memberikan petunjuk. Satu-satunya cara mengalahkan Prabu Newoto Kawoco adalah dengan melakukan kebajikan.

“Kaya tanpa harta, memiliki kesaktian tanpa ilmu/benda pusaka, menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan,” ungkapnya.

Berbekal petunjuk tersebut, Pandawa berhasil mengalahkan Prabu Newoto Kawoco. Raja Raksasa itu pun gugur atas perbuatannya sendiri.

Tak selesai di situ, anak Prabu Newoto Kawoco yang memiliki sikap dasar pendendam, akan selalu mengganggu Raden Janoko dan putra Pandawa lainnya.

Saat itu, Raden Janoko kembali mendapat wejangan dari Semar. Semar memintanya untuk membangun candi yang berfungsi untuk memperbaiki batin. Maksudnya adalah perbaikan akhlak manusianya. Menurut Semar, Candi Sapto Argo memiliki makna yang dalam. Yang dibangun itu bukan hanyalah sebuah candi atau prasasti. Akan tetapi, lebih ke moral atau perbuatan atau sikap manusia, untuk membangun suatu negara atau pemerintahan yang baik, adil, dan bijaksana demi kemakmuran bersama masyarakat di dalamnya.

Cerita ini memberikan makna mendalam tentang tata cara membangun pemerintahan yang baik. Sebagaimana halnya Pandawa yang terasingkan, berusaha membangun kerajaan. Sebuah kerajaan dengan akhlak yang baik. Candi adalah sebuah prasasti, sebagai tanda manusia telah melakukan sesuatu. Sehingga sebagal wujudnya, dibuatlah benda yang bisa dilihat dan didokumentasikan.

Usai menyaksikan pergelaran wayang, Kalteng Pos menyempatkan diri mengulik lebih dalam tentang dalang Ki Sucipto Hadi Sudilo. Dalang yang memang spesialis melakukan prosesi ruwatan ini, memang lahir dari keluarga dalang. Mulai dari kakek buyutnya, kakek, bapak, dan kakaknya, ternyata merupakan pendalang.

Kakek kelahiran Cilacap 5 Februari 1966 ini, ternyata tidak pernah secara khusus belajar soal dalang. Dia bisa secara autodidak, karena sering ikut sang ayah saat memainkan wayang dengan berbagai lakon.

“Tidak pernah belajar mendalang. Hanya ikut bapak aja saat mendalang. Sejak SD sudah sering ikut. Duduk di belakang bapak sambil melihat,” ungkap Ki Sucipto.

Bapak tiga anak ini selalu mengikuti ayahnya hingga menginjak SMA. Saat itu, dia mulai mengurangi jam terbang bersama ayah. Lebih fokus ke dunia pendidikan. Setelah lulus SMA, Ki Sucipto muda melanjutkan kuliah di Universitas Palangka Raya. Mengambil Diploma (D3) jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Saat kuliah inilah dia mendapat wejangan dari sang ibu, untuk tidak terlalu menekuni dunia dalang. Karena weton yang sama dengan sang ayah. Lulus kuliah, Sucipto merantau ke Sumatera, bekerja di perusahaan sembari mendalang.

Mendekati tahun 1990-an, dia mencoba keberuntungan dengan mendaftar CPNS. Akhirnya diterima sebagai guru di Kabupaten Lamandau. Sembari mengajar, dia juga masih mengambil job untuk mendalang. Akhirnya, setelah sekitar delapan tahun, dia mengusulkan pindah mengajar di SMPN 7 Palangka Raya.

Laki-laki 52 tahun ini menikah dengan Karmini. Tidak lama setelah itu, sekitar 2012, dia diangkat menjadi pengawas sekolah di Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. Dia pun melanjutkan pendidikan ke Strata 1 (S1) Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Palangka Raya.

Setelah mendapatkan gelar S1, ayah tiga anak ini melanjutkan pendidikan magister di STIE Panca Setia Banjarmasin. Sembari menempuh pendidikan, dia tidak melepas begitu saja kegiatan seni dalangnya. Saat ini dirinya sudah memiliki sanggar seni. Sanggar seni ini diberi nama Sanggar Tirta Kencana, yang beralamat di Kompleks Sri Rejeki.

“Wayang ada dua kotak, gamelan juga punya sendiri. Ada yang baru. Gamelan calong dari bambu. Kalau wayang memang menjiwai. Baik lakon Mahabrata atau Ramayana. Lakon dihafal semuanya. Ada sekitar 100-an lebih,” kelakarnya. (*/ce)


BACA JUGA

Jumat, 07 Desember 2018 14:30
Mengikuti Sidang Tipikor Mantan Kepala BPN Kotim Jamaludin

Terdakwa dan Saksi Saling Membantah

Kepada para saksi yang dihadirkan, sang hakim bertanya: “Apakah blanko…

Kamis, 06 Desember 2018 14:58
BPOM Turun Tangan, Ratusan Obat dan Kosmetik Disita

Pedagang Mengaku Tak Tahu, Asli Atau Palsu

Masyarakat Kotawaringin Barat (Kobar) harus berhati-hati saat membeli atau memakai…

Jumat, 16 November 2018 16:13
Menengok Semangat Anak Panti Asuhan

Ada yang Sarjana, dan Jadi Manajer di Perusahaan

Suasana berbeda saat menengok aktivitas anak-anak di Panti Asuhan Annida…

Senin, 12 November 2018 09:44
Melihat Cara KPU Melindungi Suara Pemilih Milenial

Tak Masuk DPT, Malah Dikasih Hadiah

Pesta demokrasi akan digelar tahun depan. Masih lama. Banyak waktu…

Jumat, 09 November 2018 11:56
Menari Bersama Manekin dan Nekat Keliling Nusantara

Sekali Tampil Meraup Rp 700 Ribu

Menari dengan manekin atau boneka manusia, terdengar biasa saja. Namun,…

Kamis, 08 November 2018 10:33
Ketika Kasatbinmas Polres Kobar Jadi Irup di SMAN 2 Pangkalan Bun

Sosialisasi Saber Pungli, Wawasan Nusantara dan Narkoba

Pemandangan berbeda terlihat di SMAN 2 Pangkalan Bun. Kalau biasanya…

Selasa, 06 November 2018 15:24
Cara Membuat Batik Unik dan Menarik Khas Kalteng (1)

Berbahan Getah Daun Ulin dan Mawar

Batik memang lebih terkenal di Pulau Jawa. Tapi siapa sangka,…

Kamis, 01 November 2018 09:41
Dari Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Sopir Travel di Sampit

KEJAM..!! Ada 15 Adegan, Korban Sempat Dipukuli Lalu Dibuang ke Sungai Mentaya

Ada 15 adegan yang diperagakan tersangka pelaku dalam rekonstruksi kasus…

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:49
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (2/Selesai)

Belajar Dalang karena Sering Ikut Orang Tua

Wayang,sebuah seni pertunjukan dengan memainkan tokoh-tokoh kerajaan masa lalu. Merupakan…

Jumat, 12 Oktober 2018 10:20
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (1)

Tak Ada Danau, Sumber Air Diambil dari Tujuh Rumah

Sukerta, dalam bahasa Jawa adalah orang yang dianggap memiliki aib atau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .