MANAGED BY:
SABTU
20 OKTOBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Sabtu, 29 September 2018 11:07
Taman Baca Baraoi, Membuka Mata dan Melihat Dunia (3/selesai)
Pindah Rumah agar Lebih Dekat Sekolah
Wilse asyik belajar, sementara kakak dan ibunya menjahit baju di ruang utama sekaligus kamar rumahnya, beberapa waktu lalu. (DENAR/KALTENG POS)

PROKAL.CO, No pain no gain.Secara harfiah bisa diartikan, tanpa rasa sakit, tidak akan mendapatkan sesuatu. Demikianlah tuk menggapai cita-cita. Perlu upaya. Jumani dan Eko bersama relawan, telah menunjukkan berbagai upayanya di pedalaman Katingan, Kalteng. Gayung bersambut, gerakan Taman Baca Baraoi mampu mengubah pemikiran anak-anak desa.

 

YUNIZAR PRAJAMUFTI-DENAR, Palangka Raya

==============-=====

 

BERTEMU dengan Wilse, tidak direncanakan. Gadis Desa Tumbang Jala itu punya semangat belajar tinggi. Didukung keluarga. Pindah dari tanah kelahirannya ke Desa Tumbang Baraoi.

“Pindah rumah dari Desa Tumbang Jala ke Desa Tumbang Baraoi, agar dekat dengan SMAN 1 Petak Malai,” ucap Jumani.

Wilse tinggal bersama ibu dan kakaknya. Rumah bekas warung seukuran 3X6 dibeli keluarganya seharga kurang lebih Rp6 juta. Lokasinya tepat di depan lapangan sepak bola Kecamatan Petak Malai.

Siswa kelas XII itu ikut menjadi relawan yang mendidik murid SD dan SMP. Sembari membantu guru SMA yang juga pengurus Taman Baca Baraoi, menyiapkan kebutuhan mengajar. Terutama ketika manalih lewu (mengunjungi desa) dan program lainnya untuk taman baca.

Mengamati dari dekat adik-adik tingkatnya yang masih duduk di bangku SD dan SMP, Wilse tampak semangat. Sambil berdiri. Mengenakan baju hitam. Wilse didampingi pendiri Taman Baca Baraoi, Muhammad Jumani.

“Ini Wilse. Relawan kami kalau sedang ada kegiatan seperti ini. Rajin dan pandai,” ujar Jumani menceritakan sosok Wilse, saat kegiatan mengisi libur 17 Agustus.

Usai belajar di bawah pohon, Wilse sempat bercerita. Nada bicaranya pelan. Tampak agak pemalu. Tapi, anak bungsu dari tiga bersaudara itu paling rajin meminjam buku ke rumah dinas Jumani, yang juga menjadi perpustakaan sekaligus Taman Baca Baraoi.

Gadis berambut panjang itu meminjam buku, tak kenal siang atau sore. Jika sudah selesai dibacanya, ia kembalikan. Bersambung. Pinjam lagi. Jenisnya beragam. Mulai buku pelajaran, komik, novel, hingga cerita rakyat.

Saat itu, Wilse memegang buku berjudul ‘The Lost City: Menelusuri Jejak Nyai Undang dari Kuta Bataguh dalam Memori Suku Dayak Ngaju’.

“Saya senang baca buku. Kalau sedang suka novel, saya baca novel,” kata gadis kelahiran Tumbang Jala, 10 Januari 1999 ini.

Sejak kelas 2 SMP selalu juara kelas. Gadis Dayak penggemar matematika itu bertekad, setelah lulus SMA ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Cita-citanya menjadi guru matematika. Seperti guru SMAN 1 Petak Malai, Delima Sinaga.

Tetapi, orang tuanya tak mampu membiayai ke perguruan tinggi. Sang kakak pun tak bisa banyak membantu. Sebagai buruh penambang emas tradisional, pendapatannya pas-pasan. Cukup untuk beli beras sehari saja. Terkadang juga tidak cukup.

“Saya belum tahu bagaimana setelah lulus sekolah nanti. Saya ingin sekali kuliah. Tapi belum tahu caranya bagaimana. Orang tua saya tidak mampu membiayai,” lirihnya.

Jumani sudah paham keterbatasan ekonomi keluarga Wilse. Jumani dan Eko bersama relawan lainnya, tak berani berjanji membantu Wilse. Menurutnya, kuliah berbeda dengan sekolah. Pendidikan dasar bisa gratis. Tidak banyak biaya tambahan seperti di kampus.

Namun, ia tetap memberi Wilse motivasi. Sembari mencari cara membantu Wilse bisa melanjutkan kuliah. Yang pasti, doa kepada anak didiknya itu tak putus.

Setelah bincang-bincang dengan Wilse di depan rumah Jumani, Kalteng Pos ingin mengunjungi kediaman Wilse. Menemui ibu dan kakaknya.

Sore hari. Bertamu ke rumah Wilse. Ditemani Jumani. Disambut keluarga Wilse yang sedang asyik melihat pertandingan bola di depan rumahnya.

Di awal perbincangan bersama kakak dan ibu Wilse, komunikasi terkendala bahasa. Ibu Wilse, Tapah, tak bisa berbahasa Indonesia. Hanya bisa berbahasa Dayak Dohoi atau Kahayan dan Ngaju. Untung, fotografer Kalteng Pos Denar bisa berbahasa Dayak Kahayan. Percakapan mulai lancar. Meski hanya Denar yang paham.

Sementara saya yang asli Kalimantan Timur, dan Jumani yang bahasa ibunya Kalimantan Selatan, hanya bisa mengangguk. Mereka serius, ikut serius. Tertawa, ikut tertawa.

“Maaf kak, ibu tidak bisa bahasa Indonesia. Jadi, kalau bisa pakai bahasa Kahayan saja. Soalnya ibu hanya bisa bahasa Kedorih dan Kahayan,” tutur Wilse sembari mempersilakan kami duduk di teras rumah mereka yang sederhana.

Duduk di teras rumah kayu super sempit itu, tergambar jelas betapa besar keinginan Wilse untuk meningkatkan derajat keluarganya. Melanjutkan kuliah.

Tapah mulai bercerita. Tahun 2016 silam, ia dan anak sulung bernama Maliono, membulatkan tekad pindah ke Desa Tumbang Baraoi. Bermodalkan uang Rp200 ribu. Sekarung beras dan beberapa hasil pertanian untuk bekal pindah.

Uang dan beras itu untuk menggelar syukuran sederhana kepada warga sekitar yang membantu mengangkut rumah bekas warung yang mereka beli. Bekas warung dibangun dengan fondasi tidak ditancapkan ke tanah. Sehingga perlu sekitar 40 orang mengangkat rumah Wilse dari lokasi sebelumnya. Berjarak sekitar 500 meter.

Sebagai seorang janda, Tapah tetap meyakini masa depan keluarganya lebih baik. Ia mendukung semangat putrinya melanjutknya sekolah ke SMAN 1 Petak Malai. Saat ini, dukungan keluarga itu terbalas prestasi Wilse di kelas.

“Sebenarnya untuk bekerja sudah tidak mampu saya lakukan. Lebih mengandalkan kakak Wilse yang pendapatannya juga tidak pasti,” tutur Tapah dengan tegar.

Tekad agar Wilse tetap bersekolah, melebihi lelah dan lapar yang ditahannya. Bagi Tapah, Wilse harus bersekolah dan punya masa depan lebih baik dari Maliono.

“Kalau makan, sama-sama makan. Kalau tidak makan, juga sama-sama (bahasa Dayak = amun kuman, sama-sama kuman, amun dia kuman, sama-sama kea). Yang penting Wilse ini tetap sekolah,” ujar wanita kelahiran Tumbang Jala, 25 Mei 1950 ini.

Tapah merasakan semangat besar dalam diri Wilse. Tapi, Tapah mengakui ketidakmampuannya membiayai kuliah putrinya.

“Jujur saja, keadaan kami memang sulit. Maka dari itu, saya selalu berpesan kepada Wilse, agar jangan patah semangat belajar. Jangan pikirkan masalah untuk makan sehari-hari. Yang penting dia belajar sungguh-sungguh,” bebernya.

Di mata Tapah, Wilse memang rajin. Ia terus mencoba menularkan semangat, agar beban kehidupan keluarganya terasa ringan bagi Wilse.

“Cekatan. Apapun tugas di rumah yang belum beres, dia selesaikan. Barulah dia belajar dengan tenang. Bahkan dia tidak suka mengeluh dengan keadaan. Itulah yang membuat saya bangga dengan dirinya,” ucap ibunda Wilse.

Sementara itu, Muliono sudah merasa pasrah dengan keadaan. Tidak bisa berbuat banyak untuk membantu sang adik berkuliah. Profesinya sebagai buruh tambang tradisional, tak bisa dinanti masa depannya.

“Sebetulnya hati saya teriris sakit. Sebagai kakak tidak bisa berbuat banyak kepada orang tua, khususnya membantu adik saya untuk meraih cita-citanya,” keluh pemuda 26 tahun itu, seraya mencoba meraih tangan dan menghibur adiknya.

Meski begitu, Muliono tetap tabah. Selalu memberikan motivasi kepada adiknya. Tetap bersabar dan berdoa. Berharap ada secuil bantuan pendidikan dari pemerintah.

“Untuk adik, tetap rajin belajar. Sebagai kakak, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk keluarga. Yang terpenting pendidikan nantinya. Mudah-mudahan pemerintah membantu kekurangan yang dialami kami, terkhusus lagi masyarakat Tumbang Baraoi,” tutupnya.

Mendengar hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Kalteng Slamet Winaryo mengungkapkan, pada 2019 nanti, Pemprov Kalteng menyiapkan beasiswa sebanyak 2.000 lebih. Beasiswa itu disiapkan untuk mahasiswa dari seluruh kabupaten/kota se-Kalteng.

Untuk mendapatkannya, kata Slamet, harus sudah mendaftar atau menjadi mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Artinya, beasiswa itu khusus mahasiswa, dengan besaran sekitar Rp5juta per tahun per mahasiswa.

“Yang penting tetap semangat dan berjuang dahulu untuk kuliah,” ucapnya. (*/ce)


BACA JUGA

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:49
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (2/Selesai)

Belajar Dalang karena Sering Ikut Orang Tua

Wayang,sebuah seni pertunjukan dengan memainkan tokoh-tokoh kerajaan masa lalu. Merupakan budaya dan…

Jumat, 12 Oktober 2018 10:20
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (1)

Tak Ada Danau, Sumber Air Diambil dari Tujuh Rumah

Sukerta, dalam bahasa Jawa adalah orang yang dianggap memiliki aib atau cacat spiritual. Untuk…

Rabu, 10 Oktober 2018 13:07
Peserta Yacht Rally Wonderful Sail to Indonesia 2018 “Mencicipi” Budaya Kalteng

Menikmati Atraksi di Kampung Pelangi

Setelah puas menikmati kesenian dan budaya khas Dayak, turis mancanegara yang tergabung dalam tim yacht…

Selasa, 09 Oktober 2018 10:41
Melihat Pengembangan Pariwisata di Kobar

Tugu Palagan Sambi, Obyek Wisata Bernilai Sejarah

Destinasi wisata di Bumi Marunting Batu Aji—sebutan Kotawaringin Barat (Kobar), tidaklah sedikit.…

Senin, 08 Oktober 2018 09:25
Bambang, pemuda yang meresahkan Warga Kuala Pembuang

Pria Ini Berdoa Minta Gempa dari Atas Jembatan

Cari perhatian. Biar tenar. Momen gempa dianggap sebagai candaan. Hal itulah yang dilakukan Bambang.…

Kamis, 04 Oktober 2018 09:46
Menengok Anak Penderita Gizi Buruk di RSUD dr Doris Sylvanus

Meski Kondisi Pas-pasan, Orang Tua Tak Pernah Berpaling Muka

Harapan Ade Putra untuk bertumbuh dan berkembang layaknya remaja pada umumnya, pupus. Sejak lima tahun…

Senin, 01 Oktober 2018 10:42
Sinergitas Polri dan Insan Pers Demi Menciptakan Pemilu yang Damai

Junjung Tinggi Independensi Pemberitaan

Pemilu 2019 begitu rentan terhadap gesekan antar simpatisan. Belum lagi jika persaingan politik yang…

Selasa, 25 September 2018 10:08
Delapan Tahun Terhambatnya Pembangunan 454 Tower SUTT

Siap Eksekusi, PLN dan Kejaksaan Kerja Sama

Sejak 2011, pembangunan 454 tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) tak kunjung menghubungkan Sampit…

Senin, 24 September 2018 10:00
Dua Hari Operasi Gabungan Penegakan Hukum Bidang Kelautan

Tim Gabungan Aman Satu Kapal Luar Kalteng

Satu unit kapal nelayan yang berasal dari luar Kalteng terjaring dalam operasi gabungan di wilayah laut…

Senin, 17 September 2018 09:50
Arif Rahman, Mempekerjakan 13 Saudaranya Menjadi Badut

Hasil Jukir dan Petugas Kebersihan untuk Beli Kostum

Banyak cara mengais rezeki halal. Ketimbang mencuri dan ditangkap polisi, tentu lebih baik apabila bisa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .