MANAGED BY:
MINGGU
16 DESEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Senin, 17 September 2018 09:50
Arif Rahman, Mempekerjakan 13 Saudaranya Menjadi Badut
Hasil Jukir dan Petugas Kebersihan untuk Beli Kostum
Pemilik dan pemeran badut setelah tampil di Bundaran Besar Palangka Raya, beberapa waktu lalu. (ANISA/KALTENG POS)

PROKAL.CO, Banyak cara mengais rezeki halal. Ketimbang mencuri dan ditangkap polisi, tentu lebih baik apabila bisa membantu masyarakat. Menjadi badut misalnya. Menghibur diri sambil mengais rezeki.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

========-=====================

SEKILAS tampak goyangan badut Pikachu itu lemah gemulai. Menggemaskan. Dari jauh terlihat mungil. Merah. Kuning. Hijau. Biru. Seperti pelangi. Ketika mendekat, berbicara dengannya tentunya harus mendongak. Seorang pria mengenakan kostum Pikachu, beraksi di Bundaran Besar saat Car Free Day (CFD), setiap Minggu pagi.

Pikachu… Pikachu… Suara itu muncul dari boneka besar berwarna kuning. Ya. Dia badut Pikachu. Lucu. Setiap yang melihat, pasti ingin mencubitnya.

Dikerumuni anak-anak, boneka Pikachu itu sepertinya tak kalah menggemaskan. Ada yang mendekat dan memeluk. Ada yang menangis karena takut. Mungkin karena posturnya yang sangat besar. Yang menarik perhatian, sebuah kotak di depanya. Bertuliskan ‘bayar sukarela’.

Diamati dari jauh, dengan sedikit penasaran, akhirnya Kalteng Pos bisa menemui dan bincang-bincang dengan sosok di balik kostum boneka itu.

Setelah sekitar satu jam melihat lenggak-lenggoknya menghibur, boneka itu pergi meninggalkan tempat tampilnya. Dia menabrak tiang listrik lalu jatuh. Sontak pengunjung CFD di sekitar pun tertawa. Ternyata itu sengaja dilakukan, sebagai salah satu aksinya untuk menghibur.

Setelah saya ikuti. Dia menghampiri sekumpulan orang yang juga banyak badut di sekitarnya. Ya. Itulah tempat mereka berkumpul sebelum dan sesudah tampil di CFD. Tepat di belakang ikon Palangka Raya Kota Cantik. Dia membuka kostumnya. Tertawa. Seperti lega. Peluh keringat bercucuran. Tak sedikit. Selepas itu, dia menuangkan kotak yang ternyata berisi uang. Menghitung dan merapikannya.

“Bos, bayar sekarang kah bos,” celetuk seorang yang baru selesai menghitung uangnya. Membuat tanda tanya di kepala saya, siapa bosnya?

Saya menghampiri. Ikut berfoto. Ikut tertawa. Saya meminta izin untuk berbincang-bincang. Bapak-bapak berkulit gelap yang dipanggil bos tadi, menyisihkan waktunya.

Arif Rahman namanya. Diceritakannya, saat dirinya menonton Youtube pada 2013 lalu dan melihat aksi badut di ponselnya itu, muncullah ide untuk meniru.

Pria 30 tahun ini rela mengeluarkan uang Rp4 juta, hasil kerjanya menjadi seorang tukang parkir saat sore dan petugas kebersihan saat pagi. Ia membeli dua buah kostum badut. Masing-masing seharga Rp2 juta. Angry Bird dan Spongebob. Ia memperagakan badut itu bersama kakak kandungnya, Auliya Rahman.

“Dulu. Pagi saya jadi pasukan oranye. Sore jadi tukang parkir. Setelah membeli kostum badut, gantian dengan kakak saya. Saya jadi badut, dia jaga parkir. Begitupun sebaliknya,” tuturnya sembari mengenang masa lalunya.

Saat itu, kedua pria kakak beradik ini menampilkan badutnya di Bundaran Kecil Kota Palangka Raya. Lima bulan kemudian, Arif merasa usahanya terlihat menguntungkan. Ia membeli dua buah badut lagi. Dan mulai tampil di Bundaran Besar saat CFD.

Kini, bos badut ini memiliki 14 buah badut dengan berbagai karakter. Disampaikannya, total modal yang digelontorkan hingga Rp35 juta. Namun, modal itu sudah terbayarkan dengan penghasilan yang ia dapatkan. Setiap harinya, diakui pria beranak dua ini, ia mendapat keuntungan Rp500 ribu per hari.

“Alhamdulillah, penghasilannya untuk kehidupan sehari-hari. Modal sudah balik. Bisa membeli rumah dan tanah tiga kaveling,” sahutnya.

Saat ini, lokasi tampil tak lagi di Bundaran Kecil, melainkan beralih di Taman Pasuk Kameluh. Minggu tetap di Bundaran Besar. Tidak hanya itu, diakuinya sering mendapat panggilan untuk tampil dalam perayaan ulang tahun.

Meskipun usahanya berkembang, pria ini masih tetap mengabdikan dirinya sebagai pasukan oranye.

“Ya mbak, sejak 2005, jika pagi jadi pasukan oranye. Sore jadi badut. Sekarang tetap jadi pasukan oranye, tapi tidak lagi tampil jadi badut. Anak buah saja yang tampil,” sambungnya.

Selain untuk mengais rezeki, pria asal Banjarmasin ini mengaku sangat bangga menjadi badut. Ada kesenangan tersendiri. Bahagia bisa menghibur orang. Terlebih bangga lagi, ia bisa membantu saudara-saudaranya menambah penghasilan. Pasalnya, ia memiliki anak buah hingga 13 orang. Hampir seluruhnya adalah saudaranya sendiri.

“Seneng mbak. Hasilnya lumayan. Hibur orang. Juga bisa bantu saudara tambah penghasilan. Saat siang mereka kerja lain. Sore, ambil kostum di rumah saya dan tampil sebagai badut,” ungkapnya sembari menunjukkan siapa saja saudaranya.

Ditunjuklah salah seorang kakaknya. Auliya Rahman. Menghampiri saya, juga menyampaikan suka dan dukanya menjadi badut. Dikatakannya, menjadi badut sangat asyik.

“Senang apabila ada anak-anak tertawa melihat saya. Kadang juga sedih jika ada yang takut. Padahalkan saya lucu,” celotehnya sambil tertawa.

Kisah menjadi badut penuh warna. Tidak hanya suka. Duka pun dialaminya. “Panas,” itulah jawaban singkat saat saya bertanya duka apa yang dialami. Bagaimana tidak? Berada di dalam kostum yang tebal, di bawah terik matahari. “Justru itu yang membuat saya tambah senang. Panas-panas menghibur orang. Tapi ya bagimana lagi? Sudah pekerjaan saya. Tapi saya menikmatinya,” tambahnya.

“Penghasilan lumayan. Buat tambah-tambah biaya kehidupan sehari-hari. Penghasilan di kotak milik saya dibagi dua dengan pemilik kostum. Alhamdulillah, bersyukur sekali,” tutupnya. (*/ce)


BACA JUGA

Jumat, 07 Desember 2018 14:30
Mengikuti Sidang Tipikor Mantan Kepala BPN Kotim Jamaludin

Terdakwa dan Saksi Saling Membantah

Kepada para saksi yang dihadirkan, sang hakim bertanya: “Apakah blanko…

Kamis, 06 Desember 2018 14:58
BPOM Turun Tangan, Ratusan Obat dan Kosmetik Disita

Pedagang Mengaku Tak Tahu, Asli Atau Palsu

Masyarakat Kotawaringin Barat (Kobar) harus berhati-hati saat membeli atau memakai…

Jumat, 16 November 2018 16:13
Menengok Semangat Anak Panti Asuhan

Ada yang Sarjana, dan Jadi Manajer di Perusahaan

Suasana berbeda saat menengok aktivitas anak-anak di Panti Asuhan Annida…

Senin, 12 November 2018 09:44
Melihat Cara KPU Melindungi Suara Pemilih Milenial

Tak Masuk DPT, Malah Dikasih Hadiah

Pesta demokrasi akan digelar tahun depan. Masih lama. Banyak waktu…

Jumat, 09 November 2018 11:56
Menari Bersama Manekin dan Nekat Keliling Nusantara

Sekali Tampil Meraup Rp 700 Ribu

Menari dengan manekin atau boneka manusia, terdengar biasa saja. Namun,…

Kamis, 08 November 2018 10:33
Ketika Kasatbinmas Polres Kobar Jadi Irup di SMAN 2 Pangkalan Bun

Sosialisasi Saber Pungli, Wawasan Nusantara dan Narkoba

Pemandangan berbeda terlihat di SMAN 2 Pangkalan Bun. Kalau biasanya…

Selasa, 06 November 2018 15:24
Cara Membuat Batik Unik dan Menarik Khas Kalteng (1)

Berbahan Getah Daun Ulin dan Mawar

Batik memang lebih terkenal di Pulau Jawa. Tapi siapa sangka,…

Kamis, 01 November 2018 09:41
Dari Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Sopir Travel di Sampit

KEJAM..!! Ada 15 Adegan, Korban Sempat Dipukuli Lalu Dibuang ke Sungai Mentaya

Ada 15 adegan yang diperagakan tersangka pelaku dalam rekonstruksi kasus…

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:49
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (2/Selesai)

Belajar Dalang karena Sering Ikut Orang Tua

Wayang,sebuah seni pertunjukan dengan memainkan tokoh-tokoh kerajaan masa lalu. Merupakan…

Jumat, 12 Oktober 2018 10:20
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (1)

Tak Ada Danau, Sumber Air Diambil dari Tujuh Rumah

Sukerta, dalam bahasa Jawa adalah orang yang dianggap memiliki aib atau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .