MANAGED BY:
RABU
26 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Jumat, 31 Agustus 2018 10:29
Abib Habibi Igal, Penata Tari Terbaik Parade Tari Nusantara 2018 (2/selesai)
Apapun Terjadi, Harus Tetap Cantik
Penari dan pemusik meluapkan kegembiraan di panggung Sasono Langen Budoyo, TMII, beberapa waktu lalu. (DOKUMEN PRIBADI FOR KALTENG POS)

PROKAL.CO, Panggung Sasono Langen Budoyo menjadi saksi. Peluh keringat terbayar, ketika riuh penonton terhibur dengan tarian Hyang Dadas yang dibawakan oleh penari asal Kalteng. Bahkan, menjadi yang terbaik.  

 

 

AGUS PRAMONO, Palangka Raya

 

“IYA nanti kalau menang, kalau kalah?” ucap Abib, menirukan perkataan salah satu pejabat, ketika meminta dukungan sebelum terbang ke Jakarta.

Mereka (penari, red) menjalani perjalanan yang berliku. Modal nekat. Modal semangat. Modal ingin membawa harum nama Kalteng. Modal uang jajan secukupnya. Mencarinya pun dengan segala cara. Ada yang menjual  dan menggadaikan barang berharganya.

Untungnya, pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalteng bisa membantu dalam mengurus segala administrasi, dan membantu menguruskan penginapan di Anjungan Kalteng di Jakarta.

Tapi, itulah yang menjadi kekuatan bagi Dody Eka, Abib, Wahid, Wais, Indra, Tomy, Ical, Yuda, Elan, Daniel Nuhan, Zulfikar, Dahrul, Alfi, Aisyah, Amat, Eky, Echa, dan Ince. Menjadikan semangat berlipat.

“Penari dan pemusik rata-rata mahasiswa dan pelajar asal Kotim. Wajar kalau uang saku seadanya,” kata Abib.

Saya (penulis, red) memang tak melihat langsung penampilan Abib dkk secara utuh. Tidak merasakan riuh gemuruh penonton. Tidak tahu mimik lima orang dewan juri, yang terdiri dari Wiwiek Sipala, Eko Supriyanto, Frans Sartono, Setyastuti, dan Sigit Gunarjo.

Tapi, dengan melihat video mereka di Youtube berjudul Hyang Dadas Provinsi Kalimantan Tengah, Juara Umum Parade Tari Nusantara ke-37 2018, saya begitu terkesima. Video berdurasi 6.51 menit itu, membuat bulu kuduk merinding. Iringan musik begitu artistik.

Asap dan lighting berwarna merah yang muncul dari bawah lantai panggung Sasono Langen Budoyo yang terbuat dari kaca, menambah seram suasana. Gelang tembaga yang dipakai di kedua tangan penari bergerincing. Begitu nyaring terdengar. Bergerak, mengisyaratkan memohon keselamatan. Ada bagian yang menunjukkan mereka begitu gemulai, meski semua penari adalah pria. Kompak.

Sembari mengelingi Tihang Penangkur (tempat persembahan) sampai mengalami kesarungan. Hyang Dadas merupakan upacara ritual pengobatan masyarakat Dayak Ma’anyan. Menurut Abib, tarian terinspirasi dari bagian inti prosesi ritual pengobatan Wadian Dadas Upu. Konon, gelang yang digunakan seorang wadian, adalah sebuah senjata yang bunyi iramanya bagaikan mantra dan doa permohonan keselamatan. Tihang penangkur dihadirkan sebagai sebuah simbol sublimasi alam manusia dan alam gaib. Kekuatan gelang yang dibawakan tarian ini, mampu menghipnotis siapapun yang menyaksikannya.

Teriakan dan tepuk tangan penonton terdengar di akhir penampilan.

“Penonton dan juri begitu terkesima, menyaksikan penampilan perwakilan Kalimantan Tengah,” kata anak pasangan dari Agus Yuliansyah dan Rachmi Yanti ini.

Penampilan memukau pemuda-pemuda Kalteng itu, dibenarkan oleh Koordinator Lapangan Anjungan Kalteng di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Yeti. Hampir semua penonton bilang, Kalteng menyuguhkan penampilan yang bagus. Pantas menjadi juara umum.

“Wah, Kalteng hebat,” ucap Yeti menirukan ucapan panitia penyelenggara.

Pada gelaran Parade Tari Nusantara (PTN) ke-37 yang diikuti 28 perwakilan setiap provinsi se- Indonesia, disaksikan banyak penonton. Ratusan. Tapi, tidak ada perwakilan dari dinas terkait yang datang bersama mereka dari Kalteng.

“Untuk penonton dari Kalteng, hanya beberapa dari pegawai di Anjungan Kalteng. Saya selaku warga Kalteng, khususnya sebagai warga Sampit, sangat bangga dengan capaian mereka,” katanya melalui pesan WhatsApp.

Ical, salah satu penari menyampaikan, dirinya baru pertama ikut PTN. Pertama kali membawa harum nama Kalteng di kancah nasional. Diakuinya, ada kesulitan ketika menyamakan hitungan gelang. Menyiapkan mental dan fisik.

”Lumayan kesulitan, karena belum terbiasa dengan hitungan yang unik dan materi gelang yang sangat sulit,” ucap pemuda 19 tahun yang hanya berbekal uang saku Rp700 ribu, hasil honor menari selama ini.

Penari lainnya, Indra juga mengakui baru pertama kali mengikuti PTN. Baru pertama juga menginjakkan kaki di panggung Sasono Langen Budoyo. Ada hikmah yang bisa dipetik dalam raihan ini. Dirinya dan penari lainnya bisa tahu cara memberikan hal positif bagi orang banyak dalam bentuk aspek positif.

Banyak halangan yang dihadapi. Mulai dari tempat latihan yang harus gantian sama anak-anak karate hingga akhirnya harus pindah tempat. Selain itu, juga dihujat orang-orang terdekat, lantaran menjadi laki-laki yang kemayu.

“Dari situ, motivasi muncul. Tidak berkecil hati, karena motivasi atau tujuan kami hanya satu titik, yaitu untuk mengangkat nama Kalteng di Parade Tari Nusantara 2018,” ungkap mahasiswa semester V jurusan pendidikan seni tari, fakultas bahasa dan seni, Universitas Negeri Yogyakarta  itu.

Penata tari, Abib juga berperan. Selalu mengakhiri latihan dengan memberi motivasi, yang membuat penari bersemangat.

“Ketika kita sudah merasa berusaha, besarkan lagi usaha kita, karena sesungguhnya kita hanya mengusahakan,” kata Indra mengulangi kata-kata motivasi yang sering diucapkan Abib.

“Dan apapun yang terjadi, harus tetap cantik," tegasnya lagi.

Abib pun menimpali apa arti cantik yang ia sematkan ketika memberi motivasi. Cantik yang dimaksud adalah cantik dalam gerakan menari. Cantik dalam bersikap. Selalu menunjukkan mimik wajah tidak panik ketika berada di atas panggung. Kompak dan kokoh bagai karang.

“Apapun yang terjadi, harus tetap cantik. Harus tetap maju,” katanya.

Juara umum di PTN ke-37 membuka mata semua, jika pemuda-pemudi Kalteng bisa. Mampu bersaing dengan daerah lain. Dapat menjadi yang terbaik.

Sejarah akan mencatat mereka (penari) putra terbaik Kalteng. Pertama yang membawa piala bergilir PTN ke tanah Dayak Kalteng. (*/ce)


BACA JUGA

Selasa, 25 September 2018 10:08
Delapan Tahun Terhambatnya Pembangunan 454 Tower SUTT

Siap Eksekusi, PLN dan Kejaksaan Kerja Sama

Sejak 2011, pembangunan 454 tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) tak kunjung menghubungkan Sampit…

Senin, 24 September 2018 10:00
Dua Hari Operasi Gabungan Penegakan Hukum Bidang Kelautan

Tim Gabungan Aman Satu Kapal Luar Kalteng

Satu unit kapal nelayan yang berasal dari luar Kalteng terjaring dalam operasi gabungan di wilayah laut…

Kamis, 20 September 2018 10:09
Diah Isma Khairani Paparkan Penelitiannya di Depan Sri Mulyani

Murid SD Sanggau, Peneliti Cilik Terunggul 2018

Semangat belajar menjadi kunci sukses. Meski tak punya waktu khusus belajar di rumah, Diah Isma Khairani…

Senin, 17 September 2018 09:50
Arif Rahman, Mempekerjakan 13 Saudaranya Menjadi Badut

Hasil Jukir dan Petugas Kebersihan untuk Beli Kostum

Banyak cara mengais rezeki halal. Ketimbang mencuri dan ditangkap polisi, tentu lebih baik apabila bisa…

Kamis, 13 September 2018 10:11
Cecep Juanda, Tuna Rungu yang Berjalan Kaki Keliling Indonesia

Mengampanyekan Kesehatan dan Persatuan

Kekurangan tak menjadi halangan. Meski dalam keterbatasan, mencoba meraih impian. Menjelajahi negara…

Senin, 10 September 2018 11:01
Mengikuti Aqiqah dan Tasmiyah Putri Gubernur Kalteng

Diberi Nama Nayla, Doa Menjadi Anak Soleha

Setelah satu bulan terlahir ke dunia, putri kecil dari pasangan Gubernur Kalteng, H Sugianto Sabran…

Selasa, 04 September 2018 11:24
Bripka Anastasia H Rompas Terima Penghargaan dari Kapolda

Polwan Kalteng Pertama yang Bertugas di Daerah Konflik

1 September 2019, merupakan HUT ke-70 Polisi Wanita (Polwan) Republik Indonesia. Di Kalteng, dirayakan…

Kamis, 30 Agustus 2018 09:49
Abib Habibi Igal, Penata Tari Terbaik Parade Tari Nusantara 2018 (1)

Berawal dari Mimpi dan Motivasi, Kini Ciptakan 15 Karya Tari

Gelaran Parade Tari Nusantara (PTN) ke-37 tahun 2018, memberi kesan tersendiri bagi Abib Habibi Igal.…

Selasa, 28 Agustus 2018 09:38
Mengenal Adelia, Mahasiswi Pegiat Seni Lukis Mandala dan Body Painting

Bergelut Kuas sejak SD, Lukisan Terjual hingga Jutaan

Melukis di dinding, sudah biasa dilakukannya. Mulai dari menggambar bunga, tulisan, hingga mandala.…

Jumat, 24 Agustus 2018 12:05
Melihat Eksistensi Perajin Alat Musik Tradisional Kalteng

Minim Peminat, Andalkan Jejaring online

Perajin alat musik maupun perajin pernak-pernik khas Kalteng, sudah jarang ditemukan di Palangka Raya.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .