MANAGED BY:
MINGGU
18 NOVEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Jumat, 31 Agustus 2018 10:29
Abib Habibi Igal, Penata Tari Terbaik Parade Tari Nusantara 2018 (2/selesai)
Apapun Terjadi, Harus Tetap Cantik
Penari dan pemusik meluapkan kegembiraan di panggung Sasono Langen Budoyo, TMII, beberapa waktu lalu. (DOKUMEN PRIBADI FOR KALTENG POS)

PROKAL.CO, Panggung Sasono Langen Budoyo menjadi saksi. Peluh keringat terbayar, ketika riuh penonton terhibur dengan tarian Hyang Dadas yang dibawakan oleh penari asal Kalteng. Bahkan, menjadi yang terbaik.  

 

 

AGUS PRAMONO, Palangka Raya

 

“IYA nanti kalau menang, kalau kalah?” ucap Abib, menirukan perkataan salah satu pejabat, ketika meminta dukungan sebelum terbang ke Jakarta.

Mereka (penari, red) menjalani perjalanan yang berliku. Modal nekat. Modal semangat. Modal ingin membawa harum nama Kalteng. Modal uang jajan secukupnya. Mencarinya pun dengan segala cara. Ada yang menjual  dan menggadaikan barang berharganya.

Untungnya, pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalteng bisa membantu dalam mengurus segala administrasi, dan membantu menguruskan penginapan di Anjungan Kalteng di Jakarta.

Tapi, itulah yang menjadi kekuatan bagi Dody Eka, Abib, Wahid, Wais, Indra, Tomy, Ical, Yuda, Elan, Daniel Nuhan, Zulfikar, Dahrul, Alfi, Aisyah, Amat, Eky, Echa, dan Ince. Menjadikan semangat berlipat.

“Penari dan pemusik rata-rata mahasiswa dan pelajar asal Kotim. Wajar kalau uang saku seadanya,” kata Abib.

Saya (penulis, red) memang tak melihat langsung penampilan Abib dkk secara utuh. Tidak merasakan riuh gemuruh penonton. Tidak tahu mimik lima orang dewan juri, yang terdiri dari Wiwiek Sipala, Eko Supriyanto, Frans Sartono, Setyastuti, dan Sigit Gunarjo.

Tapi, dengan melihat video mereka di Youtube berjudul Hyang Dadas Provinsi Kalimantan Tengah, Juara Umum Parade Tari Nusantara ke-37 2018, saya begitu terkesima. Video berdurasi 6.51 menit itu, membuat bulu kuduk merinding. Iringan musik begitu artistik.

Asap dan lighting berwarna merah yang muncul dari bawah lantai panggung Sasono Langen Budoyo yang terbuat dari kaca, menambah seram suasana. Gelang tembaga yang dipakai di kedua tangan penari bergerincing. Begitu nyaring terdengar. Bergerak, mengisyaratkan memohon keselamatan. Ada bagian yang menunjukkan mereka begitu gemulai, meski semua penari adalah pria. Kompak.

Sembari mengelingi Tihang Penangkur (tempat persembahan) sampai mengalami kesarungan. Hyang Dadas merupakan upacara ritual pengobatan masyarakat Dayak Ma’anyan. Menurut Abib, tarian terinspirasi dari bagian inti prosesi ritual pengobatan Wadian Dadas Upu. Konon, gelang yang digunakan seorang wadian, adalah sebuah senjata yang bunyi iramanya bagaikan mantra dan doa permohonan keselamatan. Tihang penangkur dihadirkan sebagai sebuah simbol sublimasi alam manusia dan alam gaib. Kekuatan gelang yang dibawakan tarian ini, mampu menghipnotis siapapun yang menyaksikannya.

Teriakan dan tepuk tangan penonton terdengar di akhir penampilan.

“Penonton dan juri begitu terkesima, menyaksikan penampilan perwakilan Kalimantan Tengah,” kata anak pasangan dari Agus Yuliansyah dan Rachmi Yanti ini.

Penampilan memukau pemuda-pemuda Kalteng itu, dibenarkan oleh Koordinator Lapangan Anjungan Kalteng di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Yeti. Hampir semua penonton bilang, Kalteng menyuguhkan penampilan yang bagus. Pantas menjadi juara umum.

“Wah, Kalteng hebat,” ucap Yeti menirukan ucapan panitia penyelenggara.

Pada gelaran Parade Tari Nusantara (PTN) ke-37 yang diikuti 28 perwakilan setiap provinsi se- Indonesia, disaksikan banyak penonton. Ratusan. Tapi, tidak ada perwakilan dari dinas terkait yang datang bersama mereka dari Kalteng.

“Untuk penonton dari Kalteng, hanya beberapa dari pegawai di Anjungan Kalteng. Saya selaku warga Kalteng, khususnya sebagai warga Sampit, sangat bangga dengan capaian mereka,” katanya melalui pesan WhatsApp.

Ical, salah satu penari menyampaikan, dirinya baru pertama ikut PTN. Pertama kali membawa harum nama Kalteng di kancah nasional. Diakuinya, ada kesulitan ketika menyamakan hitungan gelang. Menyiapkan mental dan fisik.

”Lumayan kesulitan, karena belum terbiasa dengan hitungan yang unik dan materi gelang yang sangat sulit,” ucap pemuda 19 tahun yang hanya berbekal uang saku Rp700 ribu, hasil honor menari selama ini.

Penari lainnya, Indra juga mengakui baru pertama kali mengikuti PTN. Baru pertama juga menginjakkan kaki di panggung Sasono Langen Budoyo. Ada hikmah yang bisa dipetik dalam raihan ini. Dirinya dan penari lainnya bisa tahu cara memberikan hal positif bagi orang banyak dalam bentuk aspek positif.

Banyak halangan yang dihadapi. Mulai dari tempat latihan yang harus gantian sama anak-anak karate hingga akhirnya harus pindah tempat. Selain itu, juga dihujat orang-orang terdekat, lantaran menjadi laki-laki yang kemayu.

“Dari situ, motivasi muncul. Tidak berkecil hati, karena motivasi atau tujuan kami hanya satu titik, yaitu untuk mengangkat nama Kalteng di Parade Tari Nusantara 2018,” ungkap mahasiswa semester V jurusan pendidikan seni tari, fakultas bahasa dan seni, Universitas Negeri Yogyakarta  itu.

Penata tari, Abib juga berperan. Selalu mengakhiri latihan dengan memberi motivasi, yang membuat penari bersemangat.

“Ketika kita sudah merasa berusaha, besarkan lagi usaha kita, karena sesungguhnya kita hanya mengusahakan,” kata Indra mengulangi kata-kata motivasi yang sering diucapkan Abib.

“Dan apapun yang terjadi, harus tetap cantik," tegasnya lagi.

Abib pun menimpali apa arti cantik yang ia sematkan ketika memberi motivasi. Cantik yang dimaksud adalah cantik dalam gerakan menari. Cantik dalam bersikap. Selalu menunjukkan mimik wajah tidak panik ketika berada di atas panggung. Kompak dan kokoh bagai karang.

“Apapun yang terjadi, harus tetap cantik. Harus tetap maju,” katanya.

Juara umum di PTN ke-37 membuka mata semua, jika pemuda-pemudi Kalteng bisa. Mampu bersaing dengan daerah lain. Dapat menjadi yang terbaik.

Sejarah akan mencatat mereka (penari) putra terbaik Kalteng. Pertama yang membawa piala bergilir PTN ke tanah Dayak Kalteng. (*/ce)


BACA JUGA

Jumat, 16 November 2018 16:13
Menengok Semangat Anak Panti Asuhan

Ada yang Sarjana, dan Jadi Manajer di Perusahaan

Suasana berbeda saat menengok aktivitas anak-anak di Panti Asuhan Annida Qolbu di Jalan Jaya Wijaya,…

Senin, 12 November 2018 09:44
Melihat Cara KPU Melindungi Suara Pemilih Milenial

Tak Masuk DPT, Malah Dikasih Hadiah

Pesta demokrasi akan digelar tahun depan. Masih lama. Banyak waktu bagi kontestan untuk meraup suara.…

Jumat, 09 November 2018 11:56
Menari Bersama Manekin dan Nekat Keliling Nusantara

Sekali Tampil Meraup Rp 700 Ribu

Menari dengan manekin atau boneka manusia, terdengar biasa saja. Namun, pengamen yang menonjolkan aksinya…

Kamis, 08 November 2018 10:33
Ketika Kasatbinmas Polres Kobar Jadi Irup di SMAN 2 Pangkalan Bun

Sosialisasi Saber Pungli, Wawasan Nusantara dan Narkoba

Pemandangan berbeda terlihat di SMAN 2 Pangkalan Bun. Kalau biasanya yang menjadi inspektur upacara…

Selasa, 06 November 2018 15:24
Cara Membuat Batik Unik dan Menarik Khas Kalteng (1)

Berbahan Getah Daun Ulin dan Mawar

Batik memang lebih terkenal di Pulau Jawa. Tapi siapa sangka, justru batik Kalteng pun unik dan menarik…

Kamis, 01 November 2018 09:41
Dari Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Sopir Travel di Sampit

KEJAM..!! Ada 15 Adegan, Korban Sempat Dipukuli Lalu Dibuang ke Sungai Mentaya

Ada 15 adegan yang diperagakan tersangka pelaku dalam rekonstruksi kasus pembunuhan yang menewaskan…

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:49
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (2/Selesai)

Belajar Dalang karena Sering Ikut Orang Tua

Wayang,sebuah seni pertunjukan dengan memainkan tokoh-tokoh kerajaan masa lalu. Merupakan budaya dan…

Jumat, 12 Oktober 2018 10:20
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (1)

Tak Ada Danau, Sumber Air Diambil dari Tujuh Rumah

Sukerta, dalam bahasa Jawa adalah orang yang dianggap memiliki aib atau cacat spiritual. Untuk…

Rabu, 10 Oktober 2018 13:07
Peserta Yacht Rally Wonderful Sail to Indonesia 2018 “Mencicipi” Budaya Kalteng

Menikmati Atraksi di Kampung Pelangi

Setelah puas menikmati kesenian dan budaya khas Dayak, turis mancanegara yang tergabung dalam tim yacht…

Selasa, 09 Oktober 2018 10:41
Melihat Pengembangan Pariwisata di Kobar

Tugu Palagan Sambi, Obyek Wisata Bernilai Sejarah

Destinasi wisata di Bumi Marunting Batu Aji—sebutan Kotawaringin Barat (Kobar), tidaklah sedikit.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .