MANAGED BY:
SABTU
15 DESEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Rabu, 15 Agustus 2018 09:25
Melihat Suasana Sekolah Inklusi Pertama di Kalteng
Pelajaran Disesuaikan dengan Kemampuan
Anak-anak disabilitas sedang berbaris dan belajar bersama teman-temannya di lingkungan sekolah, belum lama ini. (NIZAR/KALTENG POS)

PROKAL.CO, Terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus, bukan sebuah pilihan. Bukan pula keinginan orang tua. Itu sudah menjadi suratan takdir Sang Maha Kuasa. Oleh karena itu, tak boleh ada diskriminasi terhadap mereka, bahkan dalam menuntut ilmu.

 

YUNIZAR PRAJAMUFTI, Palangka Raya

SEKOLAH Sahabat Alam, merupakan sekolah inklusi pertama yang ada di Kalteng. Didirikan sejak tahun 2010. Sekolah ini menjadi sekolah yang sangat terbuka bagi siapa saja. Sekolah ini menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Jumlahnya 20 murid. Sekolah ini berusaha menjadi tempat yang bisa mengakomodasi semua anak. Tanpa membeda-bedakan.

Anak-anak yang bersekolah tidak memakai seragam. Karena bagi sekolah ini, disiplin itu bukan harus seragam yang sama, tetapi tanggung jawab atas diri sendiri oleh murid. Ruang kelasnya pun tak ada meja dan kursi. Bangunannya sama semua. Beratap seng dan ruang terbuka. Berjejer. Dari ruang kelas 1 hingga kelas 6.

Sekolah ini juga memiliki prinsip, guru bukan hanya mendidik, tapi lebih pada mengasuh. Sebab mengasuh melibatkan hati, dan harus sesuai tahapan perkembangan anak.

Bertandang ke Sekolah Sahabat Alama yang berada di Jalan RTA Milono Km 4, penulis disambut hangat salah seorang pendiri sekolah, Qanita. Wanita berhijab ini, mengajak saya melihat-lihat kegiatan yang terjadi di sana.

Penulis pun melihat ada anak-anak yang sedang berada di kelas bersama gur. Ada pula yang di luar kelas terbuka beratap seng dan berlantai papan itu.

Saya diajak melihat 2 ruangan yang berseberangan dengan kelas. Ruang itu dinamakan Learning Sport Center (LSC). Ruang belajar khusus. Ruang pertama pintunya terbuka setengah. Sambil berbincang di depan ruangan, penulis melihat seorang anak berbaju kaos ungu, sedang melempar bola basket ke ring.  Jaraknya tak jauh. Mungkin setengah meter. Beberapa kali dia mencoba melempar. Ada yang masuk. Banyak yang tidak.

“Dia berkebutuhan khusus. Sudah kelas 2 SMP di sini. Sejak awal bersekolah, di sini,” ujar Qanita.

Tak berselang lama, anak itu terlihat sedikit lelah. Dia duduk di atas matras. Tak jauh dari tempat ia melempar bola. Ketika ditanya kenapa duduk, dia menjawab dengan singkat, namun bisa dipahami. Ternyata dia sedang sedikit lelah.

“Istirahat,” ucap anak berkebutuhan khusus ini, dengan suara sedikit kurang jelas.

Guru pendamping, Sigit Setiawan menimpali, pernyataan anak tersebut yang berucap walau satu kata, yaitu “istirahat”, merupakan salah satu perkembangan dan kemajuan. Sangat membanggakan. Ketika dia tidak suka atau ada hal yang ingin diungkapkan, dia bisa menyampaikan. Sebelumnya, jika dia tidak suka, anak ini lebih memilih diam dan memendam. Jika sudah tak tahan, dia bisa jadi tantrum.

“Bisa mengungkapkan kalau tidak suka. Itu perkembangan yang cukup baik bagi saya. Saya sendiri mendampinginya sejak kelas 4 SD. Hanya dia saja. Tidak ada anak lain,” jelas Sigit.

Di sekolah ini, anak berkebutuhan khusus akan disesuaikan dengan kemampuannya. Jika tak bisa ikut kelas dengan teman-teman yang lain, karena pelajaran itu cukup rumit, guru akan membawanya ke ruang LSC untuk diberikan pelajaran secara khusus. Pelajaran disesuaikan dengan kemampuan. Tanpa memaksa melebihi dari kemampuannya. Tetap dibimbing perlahan agar mengerti.

Kurikulum di Sahabat Alam lebih fleksibel bagi kebutuhan anak. Bukan sesuatu yang mati tanpa bisa berkompromi dengan keadaan. Walau kurikulum standar juga menjadi acuan, tapi bukan yang utama.

Pada hari berbeda, penulis juga sempat mengunjungi Sekolah Sahabat Alam ini. Di sana, bertemu dengan anak berkebutuhan khusus berinisial H. Ia sedang bersama teman-temannya. Membentuk barisan lurus. Melakukan gerakan-gerakan seperti senam, sambil diarahakan oleh gurunya.

H tampak riang. Terlihat senang, ikut bergerak sesuai arahan. Kadang bercanda dengan temannya. Di depannya, ada juga anak yang berbutuhan khusus. Namun, masih ringan jika dibandingkan H. Anak tersebut masih bisa ikut pelajaran kelas. Tapi, pada saat-saat tertentu, mereka bersama.

“Teman-temannya yang lain juga kami beri pemahaman, bahwa temannya ini berkebutuhan khusus. Agar mereka mengerti. Alhamdulillah, anak-anak yang lain bisa mengerti. Ketika ada hal yang tidak boleh dilakukan anak berkebutuhan khusus, mereka ikut mengingatkan,” pungkas Qanita. (ce/ram)


BACA JUGA

Jumat, 07 Desember 2018 14:30
Mengikuti Sidang Tipikor Mantan Kepala BPN Kotim Jamaludin

Terdakwa dan Saksi Saling Membantah

Kepada para saksi yang dihadirkan, sang hakim bertanya: “Apakah blanko…

Kamis, 06 Desember 2018 14:58
BPOM Turun Tangan, Ratusan Obat dan Kosmetik Disita

Pedagang Mengaku Tak Tahu, Asli Atau Palsu

Masyarakat Kotawaringin Barat (Kobar) harus berhati-hati saat membeli atau memakai…

Jumat, 16 November 2018 16:13
Menengok Semangat Anak Panti Asuhan

Ada yang Sarjana, dan Jadi Manajer di Perusahaan

Suasana berbeda saat menengok aktivitas anak-anak di Panti Asuhan Annida…

Senin, 12 November 2018 09:44
Melihat Cara KPU Melindungi Suara Pemilih Milenial

Tak Masuk DPT, Malah Dikasih Hadiah

Pesta demokrasi akan digelar tahun depan. Masih lama. Banyak waktu…

Jumat, 09 November 2018 11:56
Menari Bersama Manekin dan Nekat Keliling Nusantara

Sekali Tampil Meraup Rp 700 Ribu

Menari dengan manekin atau boneka manusia, terdengar biasa saja. Namun,…

Kamis, 08 November 2018 10:33
Ketika Kasatbinmas Polres Kobar Jadi Irup di SMAN 2 Pangkalan Bun

Sosialisasi Saber Pungli, Wawasan Nusantara dan Narkoba

Pemandangan berbeda terlihat di SMAN 2 Pangkalan Bun. Kalau biasanya…

Selasa, 06 November 2018 15:24
Cara Membuat Batik Unik dan Menarik Khas Kalteng (1)

Berbahan Getah Daun Ulin dan Mawar

Batik memang lebih terkenal di Pulau Jawa. Tapi siapa sangka,…

Kamis, 01 November 2018 09:41
Dari Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Sopir Travel di Sampit

KEJAM..!! Ada 15 Adegan, Korban Sempat Dipukuli Lalu Dibuang ke Sungai Mentaya

Ada 15 adegan yang diperagakan tersangka pelaku dalam rekonstruksi kasus…

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:49
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (2/Selesai)

Belajar Dalang karena Sering Ikut Orang Tua

Wayang,sebuah seni pertunjukan dengan memainkan tokoh-tokoh kerajaan masa lalu. Merupakan…

Jumat, 12 Oktober 2018 10:20
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (1)

Tak Ada Danau, Sumber Air Diambil dari Tujuh Rumah

Sukerta, dalam bahasa Jawa adalah orang yang dianggap memiliki aib atau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .