MANAGED BY:
KAMIS
18 OKTOBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

LINTAS KALTENG

Selasa, 24 April 2018 05:37
Kembali ke Empat Konsensus Dasar

Mantapkan Karakter Berbangsa dan Bernegara

Kolonel Arm M Naudi Nurdika

PROKAL.CO, PALANGKA RAYA- Memasuki tahun 1990an, dunia dikejutkan dengan adanya perubahan besar dalam tatanan dunia. Berawal dari pidato presiden Uni Soviet yang mengumandangkan pembaharuan dan keterbukaan (glasnost dan perestroika) di negaranya.

Implikasi dari hal tersebut membuat wajah dunia berubah total, yang semula terbagi dalam dua kanal besar ideologi yaitu komunis dan kapitalis, telah mulai mencair dalam tatanan baru.

Fakta inilah yang menginspirasi John Naisbitt, seorang futurolog Amerika mengusung idenya dalam buku Global Paradox. Buku ini menggambarkan bahwa dunia sedang mengurai batas-batas negara menjadi nyaris tanpa batas (borderless), seperti terbentuknya uni Eropa, perdagangan bebas.

Namun pada saat yang sama muncul negara-negara baru pecahan Uni Soviet dan Eropa Timur. Jadi pada saat dunia mengupayakan menjadi satu, pada saat yang sama juga terjadi nasionalisme baru dan menunjukkan identitas lokal.

Demikian juga di belahan dunia lain, ketika arus globalisasi teramat kencang, kuat pula politik identitas lokal. Pada dasarnya globalisasi terdorong dengan kuat, karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama informasi dan komunikasi.

Perkembangan zaman yang mencakup segala aspek kehidupan membuat batas negara seakan menghilang. Arti menghilang disini bukan secara eksplisit, tetapi secara implisit. Arus perkembangan bidang kehidupan yang berasal dari luar wilayah Indonesia masuk tanpa filter. Hal ini mengakibatkan setiap perkembangan dunia tidak bisa dibendung.

Tantangan globalisasi berupa semakin berkembangnya aspek kehidupan, maka akan berkembang pula pola atau gaya hidup masyarakat. Secara otomatis, setiap orang akan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada dalam proses globalisasi. Andaikata tidak dapat menyesuaikan diri, maka akan terbawa arus.

Kontrol diri yang tidak berjalan akan mengakibatkan terbawanya seseorang ke arus negatif. Gaya hidup yang diusung dalam globalisasi antara lain adalah modernisasi dan westernisasi. Hal tersebut akan berdampak pada perilaku masyarakat Indonesia yang menganut budaya timur menjadi berkiblat pada pola hidup bangsa barat atau biasa disebut dengan perilaku kebarat-baratan.

Perilaku kebarat-baratan tersebut antara lain sikap hedonis dan materialisme. Seakan kepemilikan material yang bersifat keduniawian diagung-agungkan tanpa batas.Apabila hal ini terus dibiarkan, tanpa upaya yang terencana, terukur, dan berkelanjutan, nasib moral generasi muda akan berada di titik nadir.

Untuk mengembalikan ke arah yang benar dalam berbangsa dan bernegara, perlu komitmen kuat seluruh elemen untuk "khittah" (baca : kembali ke garis awal), dalam empat konsensus dasar berbangsa dan bernegara. Keempat hal tersebut adalah Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

Danrem 102/Pjg, Kolonel Arm Muhammad Naudi Nurdika mengatakan, empat konsensus dasar merupakan penunjuk arah yang benar bagi bangsa Indonesia. “Apabila disinyalir, bahwa saat ini sedang terjadi degradasi nasionalisme, ancaman disintegrasi bangsa, segera kembali ke empat konsensus dasar tersebut,” ucapnya.

Empat konsensus dasar tersebut harus didoktrinkan kepada generasi muda, melalui berbagai metode. Saat ini harus segera berbuat, dan bukan hanya sekedar wacana, karena sampai kapanpun tidak akan ada hasilnya.

Bimbinglah generasi muda dengan kegiatan-kegiatan yang bernilai edukatif dan mampu membentengi dari pengaruh-pengaruh negatif akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Dengan menggiatkan kegiatan positif dan edukatif, maka generasi muda akan terhindar dari kegiatan-kegiatan yang jauh dari nilai-nilai luhur, seperti geng motor, kelompok remaja yang berkumpul tanpa arah,” tegasnya. (hms/ang)


BACA JUGA

Kamis, 11 Oktober 2018 11:05

Seni dan Budaya Kalteng ke Pentas Internasional

PALANGKA RAYA-Malay Heritage Centre merupakan salah satu lembaga budaya Melayu. Setiap tahun, menyelenggarakan…

Kamis, 11 Oktober 2018 10:51
Melihat Geliat Peternakan Sapi di Kobar

Dulu Inseminasi, Kini Pakai Transfer Embrio

Peternakan merupakan salah satu program unggulan atau prioritas pemerintahan Bupati Hj Nurhidayah dan…

Sabtu, 06 Oktober 2018 13:57
Cegah Terorisme, Polres Katingan Sosialisasi Sampai ke Nelayan

Jangan Mudah Terpengaruh Paham Radikalisme

Untuk mengantisipasi masuknya paham radikalisme di Kabupaten Katingan, jajaran Satpolair Polres Katingan…

Sabtu, 06 Oktober 2018 13:54

Dua Perwira Polres Kotim Diganti

SAMPIT- Dua perwira Polres Kotim bergeser. Pergantian itu ditandai dengan serah terima jabatan yang…

Sabtu, 06 Oktober 2018 13:52

Piton 5 Meter “Serang” Rumah Warga

PANGKALAN BUN – Kediaman Gusti Basri di RT 17, Jalan Pagunegara, Kelurahan Raja, Kecamatan Arut…

Sabtu, 06 Oktober 2018 13:49

Polres Lamandau Terus Menyelidiki Kasus SHU Koperasi Berkah Kujan

NANGA BULIK -  Hingga Jumat (5/10), Polres Lamandau terus menyelidiki kasus pembagian sisa hasil…

Sabtu, 06 Oktober 2018 13:48

Harga Turun, Petani Kelapa Banyak Gulung Tikar

KUALA PEMBUANG– Harga kelapa di wilayah Kecamatan Seruyan Hilir Timur Kabupaten Seruyan turun.…

Jumat, 05 Oktober 2018 10:20

Salat Ghaib untuk Korban Gempa dan Tsunami

PALANGKA RAYA- Anggota Polda Kalteng menggelar salat ghaib yang ditujukan kepada seluruh korban gempa…

Selasa, 02 Oktober 2018 11:49
Cara Polres Katingan Mengantisipasi Tindak Kriminal di Wilayahnya

Polisi dan Juga Satpam Harus Aktif Patroli

Untuk mengantisipasi terjadinya berbagai tindak kejahatan di Kabupaten Katingan, polres setempat menerapkan…

Selasa, 02 Oktober 2018 11:45

Ancam Lapor ke Polda Kalteng

NANGA BULIK – Sejak dilaporkan pada 12 September 2018, kasus dugaan penyimpangan dana sisa hasil…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .