MANAGED BY:
RABU
23 JANUARI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

LINTAS KALTENG

Selasa, 24 April 2018 05:37
Kembali ke Empat Konsensus Dasar

Mantapkan Karakter Berbangsa dan Bernegara

Kolonel Arm M Naudi Nurdika

PROKAL.CO, PALANGKA RAYA- Memasuki tahun 1990an, dunia dikejutkan dengan adanya perubahan besar dalam tatanan dunia. Berawal dari pidato presiden Uni Soviet yang mengumandangkan pembaharuan dan keterbukaan (glasnost dan perestroika) di negaranya.

Implikasi dari hal tersebut membuat wajah dunia berubah total, yang semula terbagi dalam dua kanal besar ideologi yaitu komunis dan kapitalis, telah mulai mencair dalam tatanan baru.

Fakta inilah yang menginspirasi John Naisbitt, seorang futurolog Amerika mengusung idenya dalam buku Global Paradox. Buku ini menggambarkan bahwa dunia sedang mengurai batas-batas negara menjadi nyaris tanpa batas (borderless), seperti terbentuknya uni Eropa, perdagangan bebas.

Namun pada saat yang sama muncul negara-negara baru pecahan Uni Soviet dan Eropa Timur. Jadi pada saat dunia mengupayakan menjadi satu, pada saat yang sama juga terjadi nasionalisme baru dan menunjukkan identitas lokal.

Demikian juga di belahan dunia lain, ketika arus globalisasi teramat kencang, kuat pula politik identitas lokal. Pada dasarnya globalisasi terdorong dengan kuat, karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama informasi dan komunikasi.

Perkembangan zaman yang mencakup segala aspek kehidupan membuat batas negara seakan menghilang. Arti menghilang disini bukan secara eksplisit, tetapi secara implisit. Arus perkembangan bidang kehidupan yang berasal dari luar wilayah Indonesia masuk tanpa filter. Hal ini mengakibatkan setiap perkembangan dunia tidak bisa dibendung.

Tantangan globalisasi berupa semakin berkembangnya aspek kehidupan, maka akan berkembang pula pola atau gaya hidup masyarakat. Secara otomatis, setiap orang akan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada dalam proses globalisasi. Andaikata tidak dapat menyesuaikan diri, maka akan terbawa arus.

Kontrol diri yang tidak berjalan akan mengakibatkan terbawanya seseorang ke arus negatif. Gaya hidup yang diusung dalam globalisasi antara lain adalah modernisasi dan westernisasi. Hal tersebut akan berdampak pada perilaku masyarakat Indonesia yang menganut budaya timur menjadi berkiblat pada pola hidup bangsa barat atau biasa disebut dengan perilaku kebarat-baratan.

Perilaku kebarat-baratan tersebut antara lain sikap hedonis dan materialisme. Seakan kepemilikan material yang bersifat keduniawian diagung-agungkan tanpa batas.Apabila hal ini terus dibiarkan, tanpa upaya yang terencana, terukur, dan berkelanjutan, nasib moral generasi muda akan berada di titik nadir.

Untuk mengembalikan ke arah yang benar dalam berbangsa dan bernegara, perlu komitmen kuat seluruh elemen untuk "khittah" (baca : kembali ke garis awal), dalam empat konsensus dasar berbangsa dan bernegara. Keempat hal tersebut adalah Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

Danrem 102/Pjg, Kolonel Arm Muhammad Naudi Nurdika mengatakan, empat konsensus dasar merupakan penunjuk arah yang benar bagi bangsa Indonesia. “Apabila disinyalir, bahwa saat ini sedang terjadi degradasi nasionalisme, ancaman disintegrasi bangsa, segera kembali ke empat konsensus dasar tersebut,” ucapnya.

Empat konsensus dasar tersebut harus didoktrinkan kepada generasi muda, melalui berbagai metode. Saat ini harus segera berbuat, dan bukan hanya sekedar wacana, karena sampai kapanpun tidak akan ada hasilnya.

Bimbinglah generasi muda dengan kegiatan-kegiatan yang bernilai edukatif dan mampu membentengi dari pengaruh-pengaruh negatif akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Dengan menggiatkan kegiatan positif dan edukatif, maka generasi muda akan terhindar dari kegiatan-kegiatan yang jauh dari nilai-nilai luhur, seperti geng motor, kelompok remaja yang berkumpul tanpa arah,” tegasnya. (hms/ang)


BACA JUGA

Kamis, 10 Januari 2019 10:36

Duel Berdarah Buruh Sawit, Satu Luka Parah, Satu Masuk Penjara

PANGKALAN BUN – Duel berdarah buruh kelapa sawit terjadi antara…

Rabu, 02 Januari 2019 10:21

Tug Boat Tenggelam, Diduga Diterjang Gelombang Laut

SAMPIT – Cuaca yang kurang bersahabat di laut, sekitar perairan…

Kamis, 27 Desember 2018 13:24

720 Janda Baru di Kobar, Ini Sebab Dominannya...

PANGKALAN BUN - Angka perceraian di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar)…

Jumat, 14 Desember 2018 14:09

TERLALU..!! Gara-Gara Aki Dicuri, Ratusan PJU Mati

KUALA PEMBUANG-Matinya lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) diakibatkan hilangnya aki…

Jumat, 14 Desember 2018 13:59
Mengengok Aktivitas Basarnas Sampit Menjelang Natal dan Tahun Baru

Tingkatkan Pengawasan dengan Patroli Rutin

Selain melaksanakan tugas maupun penyelamatan terhadap peristiwa atau musibah yang…

Jumat, 14 Desember 2018 13:57

HEBAT NICH ! Pengemis Nginap di Hotel

PANGKALAN BUN-Pengemis dari luar daerah kembali masuk Pangkalan Bun. Di…

Selasa, 11 Desember 2018 13:13
Cara Kapolsek Parenggean Jaga Kondusifitas Jelang Natal dan Tahun Baru

Dorong Warga Tingkatkan Siskamling

Menjaga kemanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) kondusif menjadi hal paling…

Selasa, 11 Desember 2018 13:04

Aruta Dikepung Banjir

PANGKALAN BUN–Banjir sedang melanda beberapa desa di Kecamatan Arut Utara…

Senin, 10 Desember 2018 11:35

Parenggean, Sasaran Satgas Saber Pungli

SAMPIT-Guna pencegahan terhadap praktik pungutan liar (pungli), satgas saber pungli…

Senin, 10 Desember 2018 11:18

Isi Buku Mutasi, Selalu Melaporkan Situasi Setiap Hari

TAMIANG LAYANG-Kabagops Polres Bartim AKP Asdini Pratam Putra SIK pada…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*