MANAGED BY:
SENIN
20 AGUSTUS
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Jumat, 30 Maret 2018 10:19
Pak Bo, Penjaga Pintu Rahim Masupa Ria

Tanpa Bius, Kuretase dengan Tangan Kosong

Pak Bo, terbaring lemah saat ditemui di rumahnya, Desa Masupa Ria. Sejak 27 tahun silam, dikenal sebagai sosok penjaga pintu rahim desa yang ada di Kecamatan Mandau Talawang, Kabupaten Kapuas itu. (AGUS PRAMONO/KALTENG POS)

PROKAL.CO, Tenaga kesehatan di Desa Masupa Ria sangat terbatas. Tidak ada bidan maupun perawat, apalagi dokter. Jika ada persalinan, warga pun kesulitan. Beruntung, ada Boiman. Pria ini sudah membantu proses kelahiran lebih 300 bayi.

 

--------------------

MATA Boiman belalakan ketika kelambu putih itu dibuka lebar-lebar. Kaget. Tubuh bertelanjang dada secepat kilat ditutupi sarung putih kombinasi garis hitam.“Ada apa? Siapa yang datang?” tanya Boiman kepada istrinya, Aspiyah yang membuka kelambu. Lalu memperkenalkan wartawan Kalteng Pos yang datang berkunjung.

Di Desa Masupa Ria, Kecamatan Mandau Talawang, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalteng, sosok Boiman tidaklah asing lagi. Selain sebagai sesepuh desa dan tukang pijat, penambang emas tradisional itu mempunyai keahlian yang tidak biasa dilakukan kebanyakan orang.

Masyarakat di lereng Pegunungan Masupa sering memanggilnya Pak Bo. Sejak 27 tahun silam, ia dikenal sebagai sosok penjaga pintu rahim Desa Masupa Ria. Ia bukan bidan. Namun, perannya melebihi bidan. Ia sebagai rujukan kaum ibu yang mau melahirkan di desa itu.

Untuk bisa bertemu langsung dengan Pak Bo di Masupa Ria, tidaklah mudah. Dari Palangka Raya, Ibu Kota Provinsi Kalteng, memerlukan waktu kurang lebih 11 jam, menempuh perjalanan darat dan sungai. Penulis merasakan sendiri. Dari Palangka Raya, untuk bisa sampai ke Desa Masupa Ria, mesti melewati Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, Gunung Mas dan Murung Raya.

Berangkat menggunakan mobil kurang lebih 3 jam, hingga sampai di simpang tiga Desa Sei Hanyu, Kecamatan Kapuas Hulu, Kapuas. Dari desa perbatasan antara Kabupaten Gunung Mas dan Kapuas ini, perjalanan dilanjutkan ke Desa Tumbang Lahung, Kecamatan Permata Intan, Murung Raya. Ditempuh 1 jam 30 menit. Jaraknya hanya 64 km. Medan jalan terjal berliku, membuat perjalanan terasa lebih lama daripada waktu tempuh itu.

Sesampainya di desa tepat di bibir Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito ini, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu kecil bermesin diesel (kelotok). Indahnya Sungai Barito, membuat perjalanan tiga jam terasa singkat.

Sesampai di perbatasan Kabupaten Murung Raya dan Kapuas ini, perjalanan ke Desa Masupa Ria ditempuh 1,5 jam menggunakan sepeda motor. Padahal, jaraknya hanya 18 kilometer. Warga kedua desa menyebut jalan membelah perbukitan dan hutan ini dengan sebutan “jalan got”. Jalan yang terjal, becek, berbatuan hingga harus melintasi sungai. Melengkapi cerita, perjalanan kala itu pada malam hari. Kontur jalan yang dilalui sebagian besar berbatu dan licin. Sebagian kecil melewati jalanan berlumpur yang sangat sulit ditaklukkan. Ongkos ojek motor trail Rp500 ribu sekali jalan.

Beruntung wartawan koran ini bisa bertamu di rumah Pak Bo ditemani Kades Masupa Ria, Mukni. Kini, usia Pak Bo 80 tahun lebih. Meski sudah berusia lanjut, keinginan kerasnya untuk membantu menyelamatkan nyawa ibu dan anak dalam proses persalinan, tak pernah padam. Faktor kesehatan saja yang memaksanya berhenti dengan profesinya itu.

Ia terbaring lemah di lantai kayu, beralaskan anyaman rotan dikelilingi kelambu. Tangan kanan dan kaki kiri sulit digerakkan. Penyakit stroke ringan menyerangnya sejak Januari lalu. Ketika Kalteng Pos mengajak berbincang-bincang, suaranya tergagap-gagap. Tetapi ia mengaku senang, bisa bercerita panjang lebar terkait pekerjaannya.

Pria berkumis tebal ini membantu persalinan, tanpa memiliki pengetahuan medis. Terkadang hanya bermodal pengurang rasa nyeri, yang dikenal dengan sebutan antalgin dan asam mefenamat. Bahkan tanpa obat, ramuan dan alat bantu persalinan. Hanya mengandalkan kedua tangan, silet dan kekuatan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Kalau memotong tali pusar, saya hanya menggunakan silet merek goal. Selebihnya pakai tangan kosong, dan selalu berdoa agar lancar saat persalinan,” ucapnya.

Dia menceritakan, orang yang pertama kali ditolong proses persalinannya adalah istri Robert. Ketika itu, saat tengah malam dan hujan deras, ada yang mengetuk pintu rumah mereka. Meminta bantuan, lantaran istri Robert bak orang kerasukan saat mau melahirkan.

Pak Bo bergegas berganti pakaian. Mengambil senter untuk penerangan berjalan kaki menempuh dua kilometer menuju rumah Robert. Kala itu, usia Pak Bo belum genap 55 tahun. Ia pun masih aktif menambang emas secara tradisional.

“Saya lupa, siapa nama orang yang menjemput saya waktu itu. Tapi saya ingat yang ia katakan di perjalanan, sudah enam dukun beranak yang dipanggil, tetapi tak mampu menenangkan istri Robert,” ujarnya.

Istri Robert meringis kesakitan. Janin dalam kandungan tertahan. Pak Bo langsung memegang perut wanita itu. Mengusir aura mistis. Seketika rasa kesakitan istri Robert mereda. Sejurus kemudian, Pak Bo membantu persalinan, setelah mendapat persetujuan. Sembari memberi motivasi, telapak tangan Boiman yang kasar sudah berada di bibir kemaluan istri Robert.

Detik-detik kengerian perjuangan saat melahirkan pupus. Pak Bo melihat bayi mungil keluar dari mulut rahim sang ibu. Tangisan bayi menggelegar dan memecah kesunyian malam itu. “Saya ingat, waktu itu bayinya laki-laki,” kenang pria beristri tiga itu.

Sukses persalinan pertama, Pak Bo menjadi buah bibir masyarakat. Sejak itulah Pak Bo dikenal sebagai bidan atau lebih tepatnya dukun beranak. Dari tangan kasar pria asal Blitar, Jawa Timur itu, sudah ratusan bayi yang diselamatkan. Pak Bo mencatat, angka persalinan melalui tangannya lebih dari 300 jiwa.

Sebelum Pak Bo, banyak orang yang memiliki kemampuan membantu persalinan. Orang kampung menyebut dukun beranak. Banyak juga proses persalinan yang gagal. Tidak sedikit juga yang meninggal. “Semenjak suami saya bisa membantu, akhirnya banyak yang selamat,” sahut Aspiyah yang duduk di dekat ujung kaki suaminya.

Pak Bo naik daun. Ia dikenal layaknya bidan sungguhan. Untuk urusan persalinan, masyarakat sepenuhnya percaya dengan kemampuannya. Tidak ada tarif khusus saat membantu warga. Tahun 1990, jumlah warga di Desa Masupa Ria sekitar 1.000 jiwa. Sebagian besar warga adalah pendatang dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan Kalimantan Selatan. Jika ada wanita akan melahirkan, Pak Bo yang dipanggil untuk membantu. Ini bisa dimaklumi. Desa Masupa Ria jauh dari pusat kesehatan. Jangankan puskesmas. Pusat kesehatan masyarakat pembantu (pustu) pun tak ada.

Sebelum melakukan proses persalinan, Pak Bo selalu minta restu suami wanita yang akan melahirkan. Maklum, ia bukan muhrim, juga bukan tenaga medis yang sesungguhnya. Intinya, apa yang dilakukan harus mendapat restu dari suami. “Niat saya hanya ingin menolong. Kalau suaminya tidak mengizinkan, saya tidak akan membantu persalinan,” ungkap pria yang mengaku takut disuntik ini.

 

KURETASE DENGAN TANGAN KOSONG

Pak Bo merantau dari Blitar ke Masupa Ria pada 1985. Dulu ia datang mengais rezeki sebagai penambang emas tradisional. Dia juga menyambi sebagai tukang pijat, untuk menambah penghasilan. Oktober 1990 atau dalam penanggalan Islam memasuki Ramadan, Pak Bo mendapat wangsit melalui mimpi. “Tugasmu membantu siapa saja. Kalau ada orang yang mau melahirkan, kamu harus menolongnya,” ucapnya menirukan pesan dalam mimpi itu.

Ia tak langsung percaya. Bahkan merasa malu. Selama tiga bulan, cerita itu dipendamnya rapat-rapat. Walaupun, pada akhirnya ia mesti menceritakan mimpi kepada seseorang, yang dianggapnya sebagai guru spiritual.

“Saya malu mau menceritakan. Tapi saat saya sampaikan dengan kiai (gurunya, red). Beliau bilang, kalau memang saya ada baunya (kemampuan membantu persalinan, red),” tuturnya. Akhirnya, jalan cerita hidup Pak Bo pun berubah.

Pak Bo ahli dalam menghitung usia kehamilan. Tahu kapan tanggal kelahiran. Berpangku pada prediksi aksara Jawa atau yang biasa dikenal menghitung hari Pon Wasidi. Hitung-hitungan itu terbukti tepat. Ia mampu memprediksi waktu persalinan. Rata-rata analisa akurat.

“Saya hanya memeriksa dengan cara memegang perutnya. Jadi, kalau adat Jawa, melahirkan juga tidak sembarangan. Posisi rebahan juga disesuaikan dengan hitung-hitungan hari, arah bulan dan matahari,” jelas pria yang tidak bisa berenang ini.

Kisah heroik yang pernah ia lakukan adalah saat proses kuretase. Kala itu, dilakukan kepada istri Udin. Pak Bo menyebut janin sudah meninggal dalam rahim. Usia kandungan istri temannya menambang emas itu, sudah 9 bulan. Pilihan utama, mengeluarkan janin. Tantangan kedua, Pak Bo harus menyelamatkan ibu dari janin itu. Tak memungkinkan lagi untuk dirujuk ke rumah sakit terdekat di Puruk Cahu, Ibu Kota Kabupaten Murung Raya. Perjalanan ke kabupaten tetangga itu, memerlukan waktu sekitar 12 jam, melalui jalur darat dan juga sungai.

Jangankan rumah sakit, ke puskesmas terdekat saja harus dilalui dengan berjalan kaki. Menerobos hutan belantara. Melintasi tebing curam. Belum lagi, perjalanan mesti dilanjutkan menggunakan kelotok. Itu pun jika kondisi alam mendukung. “Tidak mungkin lagi dibawa ke puskesmas atau ke rumah sakit,” ungkap Aspiyah.

Bidan atau perawat belum ada yang mengginjakkan kaki dan melayani masyarakat di Desa Masupa Ria. Tetapi kondisi seperti itu, justru membuat Pak Bo tetap bertahan menjadi penolong. Di saat ia mesti mengambil keputusan, tidak ada jalan lain baginya selain berjuang sendirian. Ditolong Tuhan Yang Maha Esa.

Keputusan sangat berani diambil lulusan sekolah rakyat ini, demi menyelamatkan nasib istri Udin yang sudah di ambang kematian. Usai mendapatkan restu dari Udin, Pak Bo melaksanakan proses kuretase.

Dalam kamus bahasa Indonesia, kuretase merupakan proses mengeluarkan janin dan membersihkan rahim. Secara medis, pasien harus mendapatkan induksi, untuk memudahkan proses pengambilan janin. Saat tindakan, pasien harus dibius total oleh dokter anestesi. Tenaga medis bekerja menggunakan alat-alat medis steril, seperti batang laminaria (alat bantu dilatasi atau membuka leher rahim), kanula, sendok kuret dan vakum aspirasi (alat kuretase).

Namun, Pak Bo harus melakukan kuretase manual. Ya, dengan tangan kosong. Sementara tangan kirinya memijat perut istri Udin, tangan kanan perlahan merangsek masuk ke pintu rahim. Dengan hati-hati, ia mencari bagian kepala janin. Setelah merasa yakin menemukan, dicengkeramnya bagian kepala itu dan perlahan-lahan janin berbobot lebih dari 2,5 kilogram itu ditarik keluar.

Proses kuretase manual belum selesai. Tangan telanjang tanpa sarung tangan itu, harus kembali masuk dalam rahim untuk membersihkan. Situasi yang sangat sulit dibayangkan dan diceritakan. “Alhamdulillah, istrinya Udin teman saya itu, selamat,” ceritanya dengan mata berkaca-kaca mengingat kembali momen itu.

Kuretase lainnya juga dialami istri Arbela. Istri kepala SDN 1 Masupa Ria ini, keguguran saat usia kandungan 3 bulan. Proses kuretase pun dilakukan di kediaman Kades Masupa Ria, Mukni. Kala itu, Mukni menjadi Ketua Komite SDN 1 Masupa Ria. Mukni juga sempat ditunjukkan Pak Bo jabang bayi yang berhasil dikeluarkan. Beruntungnya, walaupun melalui proses kuretase manual, Arbela kini kembali memiliki anak. “Pernah juga, sehari penuh bapak tidak pulang, demi melayani empat pasien sekaligus,” timpal Aspiyah.

Mendengar perkataan sang istri, Pak Bo cekikikan sendiri. Posisi tidurnya sedikit menyerong ke kiri. Tangannya menepuk jidat. “Ketawa saya kalau mengingatnya,” celetuk Pak Bo.

Momen seperti itu terjadi beberapa kali. Seingatnya, di era 90-an. Ada empat warga sekaligus meminta pertolongan, karena istri mereka akan melahirkan. Hal itu sudah diprediksi Pak Bo sesuai perkiraan kelahiran.

Sambil menahan tawa, Pak Bo melanjutkan cerita. Ketika dia sedang siap-siap membantu persalinan di rumah salah satu warga, datang suami pasien lain yang istrinya hendak melahirkan. Mau tidak mau, Pak Bo seorang diri harus beranjak memastikan pukul berapa jabang bayi lahir. Tak berhenti di situ, suami lain mengatakan istrinya merengek-rengek ingin melahirkan.

“Kalang kabut saya waktu itu. Tapi, memang benar, dalam tempo 24 jam, empat ibu melahirkan. Semuanya sukses,” ungkapnya bersyukur.

Masih banyak cerita heroik lain. Kisah persalinan posisi janin lebih dahulu keluar kaki daripada kepala, melihat tangisan pertama bayi seberat 4 kilogram lebih, bahkan yang terlilit tali pusar, sudah dihadapinya.

Tempo dulu banyak makhluk gaib yang mengganggu proses persalinan. Paling kerap diperbincangkan warga adalah kuyang, makhluk jadi-jadian penghisap darah dan meneror perempuan yang sedang hamil.

Keunikan masyarakat di sana, hari-hari menjelang kehamilan ditutup rapat-rapat dari khalayak umum. Maklum, teror kuyang masih menghantui ibu-ibu hamil di Masupa Ria.

Tak hanya membantu persalinan, pria yang pernah mandi rajah saat menggali ilmu di Gerakan Pemuda (GP) Ansor Blitar itu, juga biasa memandikan bayi. Hal itu dilakukan jika ibu si bayi tersebut belum bisa berbuat apa-apa pascamelahirkan.

 

ANAK SENDIRI TAK MAMPU DISELAMATKAN

Rumahnya terbilang sederhana. Ada dua kamar dan ruang tengah yang memanjang ke belakang. Dinding rumah berwarna biru itu tampak memudar. Dinding kayu juga lapuk. Rumah itu menjadi saksi perjalanan hidup Pak Bo yang kini tak mampu lagi menolong warga.

Pak Bo memiliki tiga istri dan dikaruniai 16 anak. Istri pertama dan kedua berada di Pulau Jawa. Tak pernah tahu kabar dan kondisinya. Yang ia ingat, dari dua istrinya itu, memberikan sembilan anak. “Tak ingat lagi nama-namanya. Kebanyakan,” selorohnya sambil melirik sang istri yang dibalas dengan senyum ketulusan. “Warga Desa Masupa Ria memberi nama ejekan Ayam Bangkok,” celetuk Kades Masupa Ria, Mukni, yang turut hadir dalam obrolan.

Menikah dengan Aspiyah, Pak Bo memiliki tujuh anak. Dua anaknya yakni anak kedua dan ketujuh, meninggal saat proses persalinan yang dibantu Pak Bo. Tangisan anaknya tak sempat didengar.

Kala keluar dari pintu rahim istri, bayinya sudah meninggal. Sebuah penyesalan yang sulit untuk dilupakan. Ia menyebut, usia kandungan istri masih muda. Jika tidak salah, memasuki umur delapan bulan. Aspiyah keguguran. Bayi malang yang dikandung, keluar tanpa sempat melihat dunia. Tanpa ada suara tangis yang biasa didengar Pak Bo, tatkala membantu persalinan istri teman menambang maupun tetangga.

Proses kuretase sehening malam di desa lereng Pegunungan Masupa. Tidak ada warga yang tahu. Hanya Pak Bo dan Aspiyah. Kompak. Keduanya enggan menceritakan kronologinya. Menutup rapat kisah pilu itu. Air mata Pak Bo pertanda kesedihan mendalam, saat ia tak mampu menyelamatkan buah hati. Disusul Aspiyah menundukkan kepala. Sedih. Pak Bo mampu menyelamatkan ratusan nyawa, mampu menghitung hari kelahiran, namun gagal saat menangani anaknya sendiri. Pak Bo tak kuasa melawan takdir Yang Maha Kuasa. “Seingat saya, sudah lebih dahulu meninggal di dalam rahim,” ucap Pak Bo sembari mengusap pipi dan kelopak matanya yang sembab.

Kini, ia tinggal bersama tiga anaknya. Muhammad Dwi, anak keempat, bekerja sebagai penambang emas tradisional. Masitah, anak kelima, menjadi pengurus desa. Abdul Malik, anak keenam, belum bekerja. Anak pertama, Rumiati dan anak ketiga, Imam Muhtarom sudah berkeluarga.

“Rumiati berada di Jawa dan Imam tinggal di Kunyi, Murung Raya,” sebut Aspiyah sembari menunjukkan foto anak-anaknya yang terpajang di dinding kayu rumahnya.

Melihat Pak Bo mengusap air mata, Mukni yang tadinya sempat tersenyum saat berkelakar tentang julukan Ayam Bangkok, turut dirundung kesedihan. Pria yang dianggapnya sebagai ayah itu, juga yang membantu proses persalinan anak pertama dan keduanya. Ia juga ikut merasakan khawatir bercampur ikhlas istri ditangani seorang lelaki.

Apalagi, saat Pak Bo membantu proses kelahiran anak keduanya, Muhammad Safrizal. Istri kades, diprediksi Pak Bo melahirkan sebelum kumandang azan salat maghrib. Namun, paginya, kondisi istri kades semakin melemah. Demikian pula Pak Bo, sudah termakan usia. Situasi membuat Mukni harus memutuskan membawa istri ke Puskesmas Batu Makap. Ia tak ingin kehilangan istri dan anak keduanya. “Karena saat itu atas saran Pak Bo juga, sehingga kami membuat tandu untuk membawa istri saya,” ucap kades.

Mukni rela istri ditandu melewati jalan setapak, hutan belantara dan sungai serta berbatuan. Walaupun saat ditandu, istri sempat beberapa kali hendak jatuh. Meronta-ronta menahan sakit. Belum lagi ditambah mencekamnya situasi hutan belantara. Lantaran sebelum 2016, kondisi jalan tidaklah selebar sekarang. Dulu, akses jalan penghubung antardesa, hanyalah jalan setapak. Jalan di perbukitan yang licin, penuh rerumputan dan bebatuan. Jika hujan deras, jalan berlumpur.

“Kami tandu, dan saya juga mengajak Pak Bo. Karena saya takut istri saya melahirkan di jalan. Meskipun saya tahu, kondisi beliau saat itu sedang sakit. Tapi, beliau mau,” lanjut kades.

Sesampainya di Desa Batu Makab, Mukni hanya bisa berserah kepada bidan laki-laki alias Pak Bo. Saat proses persalinan, Mukni tak banyak bicara. Ia hanya memangku istrinya, seraya tangan istri melingkar di lehernya.

“Saat lahir, anak saya tidak ada suara tangisnya. Saya hanya memandang istri saya. Terdiam kaku menatapnya,” ucap Mukni.

Pak Bo pun tidak tinggal diam melihat keadaan menegangkan itu. Ia pun membawa bayi yang kemudian disapa Rizal tersebut keluar dari kamar persalinan. “Saat di luar, tidak sampai 5 detik ada suara tangisnya,” sebut Mukni sembari melempar senyum.

Rupanya, saat dilahirkan sempat kemasukan air ketuban dan lehernya terlilit tali pusar. Namun Pak Bo tidak ingin kehilangan bayi yang telah dianggap sebagai cucu sendiri. Ia mengangkat dua kaki Rizal hingga keluarlah air yang sempat terminum.

Di Desa Batu Makap ada bidan dan perawat. Sedangkan, di Kelurahan Tumbang Kunyi terdapat seorang dokter. Sementara di Kecamatan Mandau Telawang ada puskesmas yang juga lengkap dengan bidan dan perawat. Namun, untuk ke Tumbang Kunyi, masyarakat mesti melewati Batu Makap dilanjutkan perjalanan menggunakan kelotok yang disebut warga sekitar dengan sebutan taksi air. Sedangkan ke Mandau Talawang, warga harus berjalan kaki kurang lebih 2 jam. Kemudian naik taksi air selama 2,5 jam. “Tapi semuanya jauh. Jadi, kalau sudah kondisinya tidak bisa ditandu, maka harus ditolong di Desa Masupa,” ungkap Mukni.

Karena kondisi dan pengalaman itu, ketika istri hamil anak ketiga, Mukni pun membawa istrinya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puruk Cahu. Mukni tidak ingin pengalaman sebelumnya terulang. Apalagi kondisi Pak Bo semakin melemah karena usia semakin tua. “Anak ketiga saya bernama Muhammad Ridwan Alfarizi, lahir di Puruk Cahu,” ujar pria bertubuh agak tambun ini.

Setelah membantu proses persalinan anak pertama dan kedua, membuat Mukni rela melakukan apa pun demi Pak Bo selalu merasa senang. Apalagi bisa kembali sehat seperti dulu, itulah tujuannya. Ia merasa berutang nyawa, jasa, dan masa depan desa dengan Pak Bo.

Seperti anak Suprapto, Fuji yang kini masih menempuh pendidikan S1 di FISIP Universitas Palangka Raya. Selain telah menjadi seorang mahasiswa, anak penambang emas ini juga menunjukkan kemampuan memimpinnya sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Kapuas di Palangka Raya.

Wajar saja jika yang dibantu Pak Bo sudah ada yang menjadi mahasiswa. Karena, di tangannya sudah lahir dua generasi Desa Masupa Ria. Bahkan, telah banyak yang tumbuh dewasa menjadi bidan, polisi dan tentara.

Sedangkan Fitri--istri Fahri, menjadi ibu hamil terakhir yang merasakan persalinan bersama Pak Bo. Walaupun saat itu Pak Bo sudah tidak terlalu kuat seperti dahulu. Namun, laki-laki berkumis tebal itu masih mampu menolongnya yang juga dihimpit kesulitan ekonomi.

Salman menjadi bayi terakhir yang ditolong Pak Bo. Setelah itu, warga tidak bisa lagi mengharapkan bantuan dan kemampuan orang Blitar, Jawa Timur itu. Sehingga, ketika usia kandungan 3-5 bulan, ibu hamil meninggalkan Masupa Ria. Setelah bayi dilahirkan dan sudah bisa dibawa pulang, barulah warga kembali ke tempat mereka mengais rezeki sampai mati di Desa Masupa Ria.

Kisah heroik itu tinggal kenangan. Tetapi, Pak Bo memang benar-benar pahlawan desa. Pak Bo kini terbaring lemah di kasurnya. Warga tak bisa membawanya ke Puskesmas Tumbang Kunyi, Kelurahan Tumbang Kunyi, Kecamatan Sumber Barito, Murung Raya. Ternyata Pak Bo keras kepala dan memilih tidak merepotkan warga.

“Kalau bisa kami yang membawa beliau berobat ke Puskesmas Tumbang Kunyi. Namun, beliau tidak mau. Karena tidak berani disuntik dan tidak bisa berenang,” ucap Mukni saat itu.

Dilema memang. Mukni dan warga tidak ingin membuat Pak Bo merasa terbebani. Yang warga tahu, Pak Bo selalu berusaha kuat menahan rasa sakit. Termasuk untuk urusan ekonomi, hanya mengharap bantuan dari anaknya yang membuka usaha ternak jangkrik di Jawa, serta bantuan keluarga. (ami/ce/ram)


BACA JUGA

Sabtu, 18 Agustus 2018 11:39
Menengok Tiga Pasutri yang Dikaruniai Anak pada Momen HUT ke-73 RI

Kelahiran Tak Terencana, Binggung Memberi Nama

Tidak semua pasangan suami istri (pasutri) yang beruntung, bisa dikaruniai anak bertepatan dengan momen…

Kamis, 16 Agustus 2018 09:44
Menumbuhkan Kembali Semangat Patriotisme dan Nasionalisme

Kibarkan Merah Putih di Sungai Seruyan

"Janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah." Demikian kutipan yang pernah dikatakan Bung Karno. Tentang…

Rabu, 15 Agustus 2018 09:25
Melihat Suasana Sekolah Inklusi Pertama di Kalteng

Pelajaran Disesuaikan dengan Kemampuan

Terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus, bukan sebuah pilihan. Bukan pula keinginan orang tua. Itu…

Selasa, 14 Agustus 2018 10:42

Panjang Ratusan Meter Menyeberangi Sungai

Pembentangan bendera merah putih di 13 kabupaten dan satu kota mengawali euforia penyambutan Hari Kemerdekaan…

Senin, 13 Agustus 2018 10:33
Eicha, Peraih Golden Champion Perparawi Tingkat Nasional

Catatkan Diri dalam Sejarah Keikutsertaan Kontingen Kalteng

Prestasi membanggakan ditorehkan Eicha Cristy Gianella. Ketika mewakili kontingen Kalteng, putri asal…

Minggu, 12 Agustus 2018 11:57
Menengok Usaha Budi Daya Lebah Madu di Palangka Raya

Jual Pikap Demi 10 Kotak Sarang Mellifera

Petani lebah madu asal Kalampangan ini bernama Yoanes Budiyana. Madu produksinya punya label yang sudah…

Sabtu, 11 Agustus 2018 12:26
Memanfaatkan Bekas Peralatan Elektronik Menjadi Barang Unik

Kreativitas dan Karya dari Balik Penjara

Hidup di balik jeruji besi sudah pasti terisolasi. Terkurung dan terbatas dengan dunia luar. Namun,…

Jumat, 10 Agustus 2018 13:23
Ketika Warga Katingan Kuala Harus Terjebak di Minimnya Infrastruktur Jalan

Meregang Nyawa di Tengah Sungai

Ibu Muntamah (50) warga Desa Jaya Makmur, Kecamatan Katingan Kuala Kabupaten Katingan harus menghembuskan…

Jumat, 10 Agustus 2018 11:02
Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Perkebunan Sawit

PT KLM Terancam Tahanan, Denda, dan Izin Dicabut

Kebakaran seluas 511 hektare lahan perkebunan sawit, menjadi petaka bagi PT KLM. Perusahaan beroperasi…

Kamis, 09 Agustus 2018 10:36
Zein Alitamara Mufthihati, Gadis Kalteng Pencinta Seni Poster

Lima Master Piece Dipamerkan di Rusia

Masih ingat dengan Zein Alitamara Mufthihati? Ya. Wanita kelahiran 2 Desember 1991 itu, tak berhenti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .