MANAGED BY:
MINGGU
16 DESEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Kamis, 29 Maret 2018 09:51
Masupa Ria, “Lumbung” Emas yang Terlupakan (3/habis)
Janji Manis Pemda Sedikit Mengurangi Tangis
Mukni, menunjukkan PLTA hasil buatan sendiri, yang membantu warga Desa Masupa Ria mendapat aliran listrik, beberapa waktu lalu. (AGUS PRAMONO/KALTENG POS)

PROKAL.CO, Tradisi, potensi dan cita-cita sampai mati di desa menjadi roda kehidupan yang pasti. Pilihannya, bertahan dengan sejuta mimpi atau migrasi.

JAMIL JANUANSYAH-AGUS PRAMONO, Kapuas

SELAWAT terdengar merdu dari pengeras suara Musala Sabilut Taubah. Beberapa warga melangkahkan kaki ke rumah Allah SWT. Mereka berpakaian setelan busana muslim. Tampak serasi dan enak dipandang. Ibu-ibu berjalan bergerombol sambil menggandeng anak masing-masing. “Mas, ayo kita ke musala, ada khataman Alquran,” ajak Kepala Desa (Kades) Masupa Ria, Mukni, yang terlihat sudah bersiap-siap.

Selain mendapat pendidikan di SDN 1 Masupa Ria dari tiga guru honorer, Endang Darmayanti akrab disapa Endang atau Yanti, Reni Masriah Sari atau Sari dan Rumita yang sedang cuti melahirkan, anak-anak desa juga mendapat pendidikan nonformal dari warga kampung.

Siang itu, ada seorang anak bernama Aprilia Lestari tamat membaca Alquran. Kebiasaan warga Desa Masupa Ria, jika ada anak khatam membaca Alquran, selalu menggelar acara. Tradisi ini terus dipertahankan. Tujuannya tak lain agar membawa berkah dan barokah dari khataman membaca Alquran tersebut. “Tradisi ini kami pertahankan, karena salah satu cermin budaya,” ujar pimpinan acara, Mandri Ardat.

Usai menghadiri khataman Alquran, kaum pria pun kembali lokasi penambangan emas. Menggunakan peralatan tradisional seadanya, mereka menghancurkan bongkahan batu dari lereng Pegunungan Masupa. Harapan hanya satu, dari pecahan batu itu akan muncul kilauan emas.

Sejak dulu Desa Masupa Ria memang terkenal sebagai “lumbung” emas. Konon di bukit-bukit yang mengelilingi desa itu tempat emas tersembunyi. Beberapa warga pendatang terutama dari Jawa dan Banjarmasin serta daerah Kalteng sendiri, datang ke desa itu hanya ingin memburu emas.

Boiman (80), seorang warga pendatang dari Blitar, Jawa Timur mengaku sejak 1980 datang ke Masupa Ria ingin menambang emas. Menariknya, dia tidak mengenal daerah lain di provinsi ini kecuali Masupa Ria. Boiman juga mengaku ingin menghabiskan masa tua di desa itu, meskipun jauh dari keramian dan transportasinya sangat sulit.

Pengakuan yang sama juga diungkapkan Suprapto. Pria asal Blitar, Jawa Timur ini tidak akan meninggalkan Desa Masupa Ria sampai kelak daerah tersebut tersentuh pembangunan. “Saya sudah terlanjur cinta dengan Masupa Ria,” ungkap Suprapto.

Untuk itu, sebelum kemajuan menyapa Desa Masupa Ria, dia harus mempersiapkan diri. Dia mulai berkebun. Menanam buah-buahan dan sayuran. Ini untuk persiapan jika kelak Masupa Ria maju, sementara kandungan emasnya habis. Maka sayur-mayur dan buah-buahan sebagai pengganti sumber pendapatan.

“Nanti kalau desa ini maju, akses jalan sudah nyaman dilintasi, kami sudah ada persiapan untuk membawa hasil desa ke kota. Kan enak mas,” ucapnya.

Potensi kandungan emas yang menjanjikan ini, juga mengundang perusahaan untuk membuka pertambangan emas di Masupa Ria. Informasi dari Mukni, sudah ada satu investor yang melakukan survei, eksplorasi potensi emas. “Kabarnya sudah menemukan kandungan emas di pegunungan ini,” sebut Mukni.

Dia mengungkapkan, untuk menambang emas ini, warga harus kerja keras. Berbatuan yang ada di lereng Pegunungan Masupa dibongkar, lalu diambil batunya. Batu yang masih berbentuk gelondongan itu dilebur menggunakan alat tabung besi seukuran elpiji 12 kilogram. Di dalam tabung, batu itu digiling bersama air yang dicampur merkuri. Prosesnya bisa memakan waktu enam sampai delapan jam untuk batu sebesar buah melon. Dari leburan batu itulah, serpihan emas akan terlihat.

Dalam seminggu, lanjut Mukni, seorang penambang bisa menghasilkan rata-rata 5-10 gram emas. Jika beruntung bisa sampai 10 gram. Tergantung kesungguhan mereka bekerja dan kemujuran nasibnya. Sayangnya harga emas di Masupa Ria sangat rendah. “Warga hanya bisa menjual emasnya dengan harga yang ditentukan pengumpul, yaitu Rp400 ribu per gram menjadi harga termahal yang diberikan oleh pengepul emas,” katanya.

Tahun 1990-2005, jumlah penambang emas mencapai 1.000 orang lebih. Berangsur-angsur pergi. Penyebabnya tak lain terisolirnya desa. Masyarakat susah mendapatkan pasokan bahan makanan. Hasil emas juga tak seimbang dengan kebutuhan sehari-hari.

Masalah lain adalah soal pendidikan. Jika anak dari warga yang akan melanjutkan sekolah ke tingkat SMP, harus pindah. Karena di Masupa Ria tidak ada sekolah menengah pertama.

 

TIDAK ADA TENAGA MEDIS

Infrastruktur yang sulit di lereng pegunungan, membuat pemerintah kurang memberikan perhatian terhadap Desa Masupa Ria. Bukan hanya soal pendidikan dan infrastruktur, tenaga medis pun menjadi harapan paling besar bagi warga setempat. Pasalnya sudah puluhan tahun hingga Februari 2018 belum ada tenaga medis yang tinggal di desa itu.

Janji manis mengurangi tangis warga yang sudah lama menderita. Kabar baik pun berhembus. Harapan itu terwujud. Pemerintah Kabupaten Kapuas menginginkan 214 desa se-Kabupaten Kapuas, memiliki satu perawat dan satu bidan. Masupa Ria juga mendapatkan tenaga medis, menyusul Desa Tanjung Rendan, Tumbang Bokoi, Jakatan Masaha, Tumbang Manyarung, Sei Pinang yang masing-masing telah punya satu bidan.

“Pascakunjungan pak bupati, Masupa Ria mendapatkan seorang perawat muda,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Apendi melalui Sekretaris Dinas Kabupaten Kapuas Raison.

Perawat itu bernama Diana Christin. Digaji Rp1,5 juta per bulan. Dia berasal dari Tumbang Manyarung, alumnus Stikes Eka Harap Palangka Raya. Selain itu, warga juga akan menikmati pelayanan kesehatan gratis di puskesmas. “Kami sedang menggodok MoU dengan Pemkab Murung Raya, dengan program jaminan kesehatan. Seluruh warga Masupa Ria dijamin berobat gratis di puskesmas terdekat. Dibantu melalui program Kartu Indonesia Sejahtera (KIS),” ujar Raison.

Selama di Masupa Ria, wartawan koran ini sempat mengunjungi air terjun Masupa Bahandang, satu dari 20 air terjun yang ada di desa itu. Dalam bahasa Dayak, Bahandang memiliki arti merah. Serupa dengan warna airnya yang agak hitam kemerah-merahan. Ketinggian sekitar 60-70 meter. Air terjun lain yang menjadi simbol adalah air terjun Masupa. Airnya jernih dan bisa diminum.

“Air terjun Masupa inilah yang terbesar,” sebut Mukni saat mendampinggi kami menuju air terjun berjarak 150 meter dari rumahnya. Warga begitu menyayangkan potensi wisata tidak dimaksimalkan.

Meskipun berada jauh di pedalaman, Masupa Ria tetap terang benderang. Air terjun menjadi sumber listrik sejak 2013. Air terjun itu mampu menggerakkan 12 Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dengan menghasilkan daya 200-2.200 watt per unit. Satu unit PLTA, sanggup menerangi 10 rumah. “Kami bisa menyalakan televisi, kulkas dan lampu penerangan,” katanya.

Penulis sempat menengok lokasi salah satu PLTA. Airnya cukup deras keluar dari pipa panjang yang tertanam di berbatuan dari air terjun. Kincir kayu, dinamo, dan kabel jaringan tertata rapi.

Jumadi, itulah nama orang yang pertama kali membuat PLTA. Belajar secara otodidak saja. Lalu warga desa pun mulai ikut belajar membuat sendiri. “Sekarang orangnya sudah pindah,” kata Mukni. (*)


BACA JUGA

Jumat, 07 Desember 2018 14:30
Mengikuti Sidang Tipikor Mantan Kepala BPN Kotim Jamaludin

Terdakwa dan Saksi Saling Membantah

Kepada para saksi yang dihadirkan, sang hakim bertanya: “Apakah blanko…

Kamis, 06 Desember 2018 14:58
BPOM Turun Tangan, Ratusan Obat dan Kosmetik Disita

Pedagang Mengaku Tak Tahu, Asli Atau Palsu

Masyarakat Kotawaringin Barat (Kobar) harus berhati-hati saat membeli atau memakai…

Jumat, 16 November 2018 16:13
Menengok Semangat Anak Panti Asuhan

Ada yang Sarjana, dan Jadi Manajer di Perusahaan

Suasana berbeda saat menengok aktivitas anak-anak di Panti Asuhan Annida…

Senin, 12 November 2018 09:44
Melihat Cara KPU Melindungi Suara Pemilih Milenial

Tak Masuk DPT, Malah Dikasih Hadiah

Pesta demokrasi akan digelar tahun depan. Masih lama. Banyak waktu…

Jumat, 09 November 2018 11:56
Menari Bersama Manekin dan Nekat Keliling Nusantara

Sekali Tampil Meraup Rp 700 Ribu

Menari dengan manekin atau boneka manusia, terdengar biasa saja. Namun,…

Kamis, 08 November 2018 10:33
Ketika Kasatbinmas Polres Kobar Jadi Irup di SMAN 2 Pangkalan Bun

Sosialisasi Saber Pungli, Wawasan Nusantara dan Narkoba

Pemandangan berbeda terlihat di SMAN 2 Pangkalan Bun. Kalau biasanya…

Selasa, 06 November 2018 15:24
Cara Membuat Batik Unik dan Menarik Khas Kalteng (1)

Berbahan Getah Daun Ulin dan Mawar

Batik memang lebih terkenal di Pulau Jawa. Tapi siapa sangka,…

Kamis, 01 November 2018 09:41
Dari Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Sopir Travel di Sampit

KEJAM..!! Ada 15 Adegan, Korban Sempat Dipukuli Lalu Dibuang ke Sungai Mentaya

Ada 15 adegan yang diperagakan tersangka pelaku dalam rekonstruksi kasus…

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:49
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (2/Selesai)

Belajar Dalang karena Sering Ikut Orang Tua

Wayang,sebuah seni pertunjukan dengan memainkan tokoh-tokoh kerajaan masa lalu. Merupakan…

Jumat, 12 Oktober 2018 10:20
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (1)

Tak Ada Danau, Sumber Air Diambil dari Tujuh Rumah

Sukerta, dalam bahasa Jawa adalah orang yang dianggap memiliki aib atau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .