MANAGED BY:
MINGGU
19 AGUSTUS
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Rabu, 28 Maret 2018 09:30
Masupa Ria, “Lumbung” Emas yang Terlupakan (2)
Kasek Hanya Setahun Sekali ke Sekolah
Sari, sedang mengajar murid kelas IV, V dan VI secara bergantian dalam satu ruangan, beberapa waktu lalu. (AGUS PRAMONO/KALTENG POS)

PROKAL.CO, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Masupa Ria dihuni 17 murid. Ada tiga guru berstatus honorer. Bagi mereka, mengajar di desa tertinggal, lebih dari sekadar pengorbanan. Pahlawan tanpa tanda jasa itu merasa terhormat.

JAMIL JANUANSYAH- AGUS PRAMONO, Kapuas

TING... ting... ting.... Bunyi lonceng terdengar nyaring. Sari, guru yang memukul lonceng itu, menyuruh murid-murid untuk segera masuk ke ruang kelas.

Total murid kelas I, II dan III ada 11 orang dalam satu ruangan, meski jenjang mereka berbeda. Empat murid kelas I, tiga murid kelas II dan empat murid kelas III.

Begitu juga kelas IV, V dan VI yang berjumlah enam orang; dua murid kelas IV, satu murid kelas V, dan satu murid kelas VI, yang juga berada dalam satu ruangan. Miris melihat bangunan sekolah itu.

Mulai dibangun dengan dana swadaya warga Desa Masupa Ria pada 1997, hingga kini sekolah itu belum sekali pun direnovasi. Sinar matahari terlihat jelas menerobos sela-sela atap sirap bangunan itu.

“Kalau hujan, terpaksa kami liburkan. Kasihan murid-murid tidak konsentrasi belajar, gara-gara air menetes dari atap,” ucap Reni Masriah Sari, guru honorer yang menuntun penulis melihat semua ruangan, sebelum ia meminta izin masuk kelas untuk mengajar.

Perempuan yang akrab disapa Sari itu mengajar kelas IV, V dan VI. Kala itu, hanya ada tiga dari enam murid yang hadir. Tiga murid lain tak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas.

Pemandangan dalam kelas, membuat penulis mengelus dada. Cat putih yang menempel di dinding, warnanya mulai memudar. Ada dua peta Indonesia. Salah satunya robek. Jam dinding tak berfungsi lagi. Rak sederhana di sudut ruangan atau di belakang tempat duduk guru, hanya bisa menampung sedikit buku dan peralatan tulis.

Ornamen bendera merah putih yang ditancapkan pada bekas kaleng susu, menjadi penyemangat mereka. Bangku dan meja sekolah juga terlihat jadul. Mengingatkan penulis sewaktu duduk di bangku sekolah dasar, sekitar 25 tahun silam.

Ketertinggalan lain, saat sekolah di perkotaan menerapkan kurikulum 2013 alias K-13, banyak pilihan mata pelajaran ekstrakurikuler. Tetapi SDN 1 Masupa Ria masih berkutat dengan buku tua, yang salah satu sampul bertuliskan KTSP 2006.

Mengenakan seragam kebanggaannya, batik hitam putih dipadu jilbab hitam, Sari mengajar Matematika kepada murid kelas V, Hairunnisa. Dalam kelas yang sama, tanpa sekat, murid kelas IV dan VI ikut menyimak.

Sesekali, sang guru melontarkan pertanyaan hitungan sederhana. Bisa jadi belum dipahami murid tunggalnya saat itu. Hairunnisa menjawabnya dengan senyuman. Sepertinya malu. Padahal ingin menjawab. Rupanya ia belum yakin jawabannya benar. Ia menoleh ke kiri dan kanan, meminta dukungan teman yang berbeda jenjang, seolah-olah bertanya tentang jawaban dari pertanyaan ibu guru. Akhirnya, Hairunnisa sendiri bisa menjawabnya.

Di ruangan lain, guru Endang terlihat ceria. Semangatnya terpancar ketika mengajar murid kelas I, II dan III. Guru lulusan SMP ini begitu nyaman dipandang. Memakai baju putih, celana hitam, sepatu hitam, serasi dengan kerudung hitam yang dikenakannya. Ia tampil dinamis.

Suasana ruangan itu lebih ramai dibanding kelas sebelumnya. Di sini, peserta didik saling bercanda sambil menunggu giliran jam belajar. Hanya ada satu guru, yaitu Endang.

Lonceng kembali terdengar. Jam istirahat pun tiba. Murid-murid berlarian ke halaman sekolah. Menghabiskan waktu istirahat dengan permainan tradisional, petak umpet dan kejar-kejaran. Mereka tak merasa rugi tanpa harus pulang ke rumah yang berjarak sekitar 200-300 meter. Padahal, bisa saja pulang untuk makan atau sekadar minum. Tapi, sepertinya bermain di halaman sekolah mengalahkan rasa lapar dan haus.

Penulis mencoba berbincang-bincang dengan Hairunnisa, satu-satunya murid kelas V. Anak usia 9 tahun ini pendiam. Tidak berbaur dengan murid lain. Sesekali ia tak kuasa menahan tawa, ketika melihat tingkah lucu adik maupun kakak kelasnya.

Ia tersipu malu ketika penulis mendekat dan melontarkan beberapa pertanyaan. Ia malah menatap Sari, seakan-akan meminta izin menjawab. Dari beberapa pertanyaan, hanya satu yang dijawabnya. Pertanyaan yang simpel dan kerap dilontarkan kepada anak kecil. Cita-cita. “Saya ingin jadi bidan,” ucapnya singkat, lalu berlari masuk ke kelas. Istirahat selesai. Mereka belajar lagi.

Singkat cerita, lonceng kembali berbunyi. Memecah kesunyian desa. Suara lonceng terakhir di hari itu, pertanda waktunya pulang. Murid-murid mencium tangan kanan guru sebagai wujud kasih sayang dan penghormatan.

Penulis bersama Endang dan Sari, melanjutkan perbincangan yang sempat terpotong jam pelajaran.

Warna merah lipstik melukis pada bibir Endang tampak mulai memudar. Bedak yang melapisi pipinya, berbeda dengan pagi harinya. Berbeda pula dengan Sari. Justru masih terlihat ayu. Bisa jadi Endang lebih terkuras tenaga dan pikirannya karena harus mengajar murid kelas I, II dan III.

Sembari berjalan pelan menuju rumah masing-masing, Endang menyebut sekolah memiliki tiga ruangan, satu dibiarkan kosong. “Dulunya merupakan ruang guru dan kepala sekolah. Namun, seiring waktu, ruang itu tidak digunakan lagi,” kata wanita yang sudah menjadi guru sejak 1997 itu.

Keadaan desa dan bangunan sekolah, tak jauh beda dengan penghargaan bagi guru di SDN 1 Masupa Ria. Endang, Sari dan Rumita (cuti melahirkan), merupakan guru honorer yang sudah merasakan asam garam mengajar tanpa gaji memadai. Hanya dibayar uang hasil patungan wali murid. “Dulu, setiap wali murid memberi Rp3 ribu per bulan. Itu sejak 1997 hingga 2014,” sebut Endang.

Bagi wanita yang hobi bermain bola voli ini, mengajar merupakan panggilan batin. Bukan sekadar pengorbanan, ia mendapatkan suatu kehormatan bisa membantu anak-anak desa.

Meski sekolah tempatnya mengajar juga minim prestasi. Sebab, tak pernah menguji kemampuan murid-murid mengikuti berbagai ajang pendidikan. Infrastruktur jalan menjadi hambatan.

“Pernah kami hitung, untuk ke kecamatan ikut perlombaan, kami harus mengeluarkan uang Rp20 juta untuk biaya transportasi saja,” ungkapnya. Meski tak sanggup memberangkatkan peserta didik ikut lomba di kecamatan, pahlawan tanpa tanda jasa itu terpaksa berlapang dada. Mereka tetap menebarkan ilmu kepada generasi penerus di desa itu.

Terkait gaji, sejak 2017, guru mendapatkan Rp425 ribu per bulan dari statusnya sebagai honorer. Rp500 ribu per bulan dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Rp 300 ribu per bulan dari Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan kayu yang beroperasi di wilayah desa. “Jadi, satu bulan total dapatlah gaji Rp1.225.000,” kata Endang dengan penuh syukur.

Kendala dan hambatan menjadi akrab bagi mereka. Lantaran biaya transportasi sangatlah mahal. Mereka mengambil gaji yang masuk ke rekening, enam bulan sekali. “Harus diambil ke kota. Setiap mengambil (gaji, red), maka akan hilang uang (biaya transportasi, red) setara satu bulan gaji,” ungkap lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini.

Endang merincikan, untuk biaya ojek Masupa Ria-Batu Makap Rp500 ribu. Itu pun jika cuaca dan jalan sedang bersahabat. Biaya transportasi terkadang bisa dinaikkan sepihak oleh tukang ojek. Naik kelotok atau perahu dari Desa Batu Makap ke Puruk Cahu (ibu kota Kabupaten Murung Raya) Rp300 ribu. Belum lagi makan dan penginapan, bisa sampai Rp500 ribu.“Untung saja, gaji sudah melalui sistem rekening. Kalau masih manual, kami harus menempuh jarak ratusan kilometer ke Kuala Kapuas, untuk sekadar mengambil gaji,” ucapnya.

Begitu juga yang dirasakan Sari. Ibu muda yang delapan bulan lalu melahirkan anak pertama itu, merupakan guru kelahiran Masupa Ria. Ia merupakan alumnus SDN 1 Masupa Ria. Melanjutkan pendidikan ke SMP dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Puruk Cahu. Setelah lulus pertengahan 2010, ia memilih mengabdi di kampung halaman.

Sari siap. Sari Sanggup. Sari ingin mengajar dan mengubah masa depan anak di desanya. Meski kala itu, dia hanya mendapat gaji Rp50 ribu per bulan. “Mereka (murid, red) yang memberi semangat kami (guru, red). Kami sangat senang, ketika murid saya bisa menjawab apa cita-citanya kelak. Kami senang mereka memiliki mimpi dan berusaha meraih mimpi. Tugas kami untuk membantu meraihnya,” ungkap ibu guru berusia 25 tahun itu.

Kondisi pejuang pendidikan itu juga dirasakan Kepala Desa (Kades) Masupa Ria, Mukni. Sebab, sebelum menjadi kades, Mukni merupakan ketua Komite SDN 1 Masupa Ria. Ketika menjabat sebagai pimpinan desa, ia menggagas program kerja sama dengan perusahaan kayu PT Gunung Meranti.

Melalui tanggung jawab sosial perusahaan itu, sejak 2014 SDN 1 Masupa Ria mendapat bantuan Rp1 juta per bulan, untuk membantu tiga guru honorer tersebut.

Selaku kades, Mukni menyayangkan minimnya bantuan. Ke depan, terus memperjuangkan untuk merehab bangunan.

Padahal, sebelum Mukni menjadi kades, harusnya SDN 1 Masupa Ria dapat bantuan. Pernah dianggarkan. Namun, entah kenapa, akhirnya bantuan itu diserahkan ke desa tetangga. “Saat ini, sekolah di sana (desa tetangga, red) bagus. Tidak seperti di sini (Masupa Ria, red),” pungkas Mukni.

Penulis sempat menanyakan keberadaan kepala sekolah (kasek). Namun, Endang, Sari dan Mukni tergagap-gagap. Seperti ada yang ditutup-tutupi. Setelah ditanya berulang kali, akhirnya diketahui, kasek bernama Arbela tidak pernah datang  ke sekolah.

Terkadang, kasek hanya menengok peserta didik saat ujian semester. Bahkan, bisa setahun hanya sekali. Hari-hari tinggal di Ibu Kota Provinsi Kalteng, Palangka Raya.“Pak Arbela ada di rumahnya Palangka Raya. Kami memaklumi, kondisi sekolah dan desa tidak memungkinkan Pak Arbela selalu hadir di desa. Tapi, beliau juga banyak membantu sekolah ini dan kami,” ucap Endang, sedikit membela.

Setelah kembali dari Desa Masupa Ria, wartawan Kalteng Pos berkomunikasi dengan Arbela. Dia mengakui, enam bulan hingga satu tahun sekali baru bisa ke Desa Masupa Ria.

Pria 31 tahun itu mengungkapkan, pernah merasakan dampak tinggal di Desa Masupa Ria selama 3 tahun. Karena trauma, ia memilih tinggal dan menetap di Jalan Kecipir, Kompleks Perumahan Kecipir, Palangka Raya.

Trauma yang membuat dia harus meninggalkan sekolah, karena istrinya keguguran di usia kandungan 3 bulan. Istri Arbela ditandu dari Masupa Ria ke Puskesmas Sei Pinang dengan berjalan kaki kurang lebih 3 jam menembus hutan belantara.

Menurut Arbela, sekolah tempatnya bekerja sudah sering diajukan untuk renovasi. Namun selalu saja kalah saat sudah masuk ke Pemkab Kapuas. Warga desa, guru dan Arbela pun mesti gigit jari.“Beruntung masih ada Endang, Sari dan Rumita, guru honorer yang mengabdi bagi desa,” ungkapnya.

Sedangkan Arbela membantu melakukan tugas sebagai kepala sekolah. Ia mencari cara membangun sekolah. Ia juga berupaya agar para guru honorer bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). (*/ce/bersambung)


BACA JUGA

Sabtu, 18 Agustus 2018 11:39
Menengok Tiga Pasutri yang Dikaruniai Anak pada Momen HUT ke-73 RI

Kelahiran Tak Terencana, Binggung Memberi Nama

Tidak semua pasangan suami istri (pasutri) yang beruntung, bisa dikaruniai anak bertepatan dengan momen…

Kamis, 16 Agustus 2018 09:44
Menumbuhkan Kembali Semangat Patriotisme dan Nasionalisme

Kibarkan Merah Putih di Sungai Seruyan

"Janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah." Demikian kutipan yang pernah dikatakan Bung Karno. Tentang…

Rabu, 15 Agustus 2018 09:25
Melihat Suasana Sekolah Inklusi Pertama di Kalteng

Pelajaran Disesuaikan dengan Kemampuan

Terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus, bukan sebuah pilihan. Bukan pula keinginan orang tua. Itu…

Selasa, 14 Agustus 2018 10:42

Panjang Ratusan Meter Menyeberangi Sungai

Pembentangan bendera merah putih di 13 kabupaten dan satu kota mengawali euforia penyambutan Hari Kemerdekaan…

Senin, 13 Agustus 2018 10:33
Eicha, Peraih Golden Champion Perparawi Tingkat Nasional

Catatkan Diri dalam Sejarah Keikutsertaan Kontingen Kalteng

Prestasi membanggakan ditorehkan Eicha Cristy Gianella. Ketika mewakili kontingen Kalteng, putri asal…

Minggu, 12 Agustus 2018 11:57
Menengok Usaha Budi Daya Lebah Madu di Palangka Raya

Jual Pikap Demi 10 Kotak Sarang Mellifera

Petani lebah madu asal Kalampangan ini bernama Yoanes Budiyana. Madu produksinya punya label yang sudah…

Sabtu, 11 Agustus 2018 12:26
Memanfaatkan Bekas Peralatan Elektronik Menjadi Barang Unik

Kreativitas dan Karya dari Balik Penjara

Hidup di balik jeruji besi sudah pasti terisolasi. Terkurung dan terbatas dengan dunia luar. Namun,…

Jumat, 10 Agustus 2018 13:23
Ketika Warga Katingan Kuala Harus Terjebak di Minimnya Infrastruktur Jalan

Meregang Nyawa di Tengah Sungai

Ibu Muntamah (50) warga Desa Jaya Makmur, Kecamatan Katingan Kuala Kabupaten Katingan harus menghembuskan…

Jumat, 10 Agustus 2018 11:02
Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Perkebunan Sawit

PT KLM Terancam Tahanan, Denda, dan Izin Dicabut

Kebakaran seluas 511 hektare lahan perkebunan sawit, menjadi petaka bagi PT KLM. Perusahaan beroperasi…

Kamis, 09 Agustus 2018 10:36
Zein Alitamara Mufthihati, Gadis Kalteng Pencinta Seni Poster

Lima Master Piece Dipamerkan di Rusia

Masih ingat dengan Zein Alitamara Mufthihati? Ya. Wanita kelahiran 2 Desember 1991 itu, tak berhenti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .