MANAGED BY:
SABTU
18 AGUSTUS
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Selasa, 27 Maret 2018 09:48
Masupa Ria, Lumbung Emas yang Terlupakan (1)
Jangankan Bantuan, Wajah Bupati pun Tak Tahu
Potret Desa Masupa Ria dari atas tebing Gunung Masupa, beberapa waktu lalu. AGUS PRAMONO/KALTENG POS

PROKAL.CO, Era 80-an, Desa Masupa Ria menjadi magnet kuat bagi mereka yang berburu bongkahan emas. Kejayaan itu pun berlalu. Yang tersisa hanya desa miskin dan terpencil, tanpa sentuhan pemerintah.

JAMIL JANUANSYAH-AGUS PRAMONO, Kapuas

MASUPA Ria, salah satu desa di Kecamatan Mandau Talawang, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang terkadang menimbulkan kepenatan. Sunyi dan dingin.Desa yang terletak di lereng Pegunungan Puti atau Masupa ini berada di ketinggian kurang lebih 900 meter di atas permukaan laut (mdpl). Termasuk dalam jantung Kalimantan, lantaran masih dalam jajaran Pegunungan Schwaner dan Muller, yang puncak tertingginya berada di Bukit Raya, Kabupaten Katingan.

Asal mula Masupa Ria diambil dari gabungan kata Amas (emas, red), Supa (mendapat, red) dan Ria (gembira, red). Jadi Masupa Ria merupakan dusun yang penduduknya bersuka ria karena terdapat “lumbung” emas.

Masupa Ria juga merupakan desa sangat tertinggal dari total 214 desa yang ada di Kabupaten Kapuas. Sebelum diresmikan menjadi desa pada 25 Juli 2013 lalu, Masupa Ria masih berstatus dusun yang ada di Desa Tumbang Manyarung.

Masyarakat setempat menggantungkan hidup sebagai penambang emas. Praktik penambangan tradisional sudah ada sejak 1980. Kala itu, pendatang dari berbagai suku dan daerah mencoba peruntungan mencari bongkahan emas.

Akhir Februari lalu, dua wartawan Kalteng Pos mengunjungi desa tersebut. Perjalanan memakan waktu sekitar 11 jam, menempuh jalur darat dan sungai. Dari Palangka Raya, ada empat wilayah kabupaten yang harus dilewati, yakni Pulang Pisau, Gunung Mas, Kapuas dan Murung Raya.

Pagi, sekitar pukul 08.30 WIB, kendaraan minibus membawa kami menuju Desa Tumbang Lahung, Kecamatan Permata Intan, Murung Raya. Jarak dari Palangka Raya sejauh 169 kilometer (km). Waktu tempuh normal dengan kondisi jalan bagus sekitar 3 jam. Jika dimulai dari ibu kota Kapuas, yaitu Kuala Kapuas, jarak yang ditempuh justru bertambah 142 km, atau total menjadi 311 km.

Ketika memasuki wilayah Kabupaten Gunung Mas, jalan aspal menanjak dan berkelok khas pegunungan, menjadi suguhan dalam perjalanan kami. Sepanjang 64 km, atau tepatnya mulai dari Desa Sei Hanyu menuju Tumbang Lahung, kondisi jalan masih berupa tanah padat bercampur batu kerikil tajam.

Lima jam berlalu. Tibalah kami di Desa Tumbang Lahung. Kami akan berganti melewati jalur sungai untuk tujuan berikutnya, yaitu Desa Batu Makap, Kecamatan Sumber Barito, Kabupaten Murung Raya. Sesaat setelah turun dari mobil, seorang warga bernama Mirwan mengajak kami berbincang. Mempersilakan duduk di kursi kayu depan warung kelontong miliknya.

Lalu, dia berbicara pelan. Memberi tahu kepada kami yang masih dalam kondisi mabuk darat. Ternyata, kami ketinggalan taksi atau perahu mesin yang biasa membawa penumpang hilir mudik lewat sungai dari Puruk Cahu (Ibu Kota Kabupaten Murung Raya) ke Desa Batu Makap.

“Pak, untuk taksi air sudah lewat. Biasa yang arah ke hulu (Desa Batu Makap, red) pukul 11.00 WIB-13.00 WIB. Nggak ada lagi yang lewat, kecuali besok saja,” katanya.

Kami pun diberi alternatif pilihan. Menghabiskan malam di Tumbang Lahung atau menyewa kelotok (perahu mesin, red) dengan biaya yang sangat mahal. “Sewa kelotok Rp 1 juta untuk sekali jalan,” sebut Mirwan.

Kami sejenak terperangah. Menelan ludah yang terasa begitu pahit. Satu jam kami habiskan untuk berpikir. Menghitung ulang uang yang ada di kantong. Cukup atau tidak untuk perjalanan pulang. Akhirnya, kami sepakati untuk melanjutkan perjalanan dengan menyewa kelotok. Meski kami tahu biaya sewa kelotok 20 kali lipat dari harga taksi air yang hanya Rp50 ribu. Ini betul-betul di luar dugaan kami.

Mirwan memandu kami berjalan menuju lanting tempat kelotok singgah. Dikenalkan dengan Khairul dan Abdul Gani, yang siap mengantar kami menggunakan kelotok ke Desa Batu Makap. Kelotok bermesin diesel 24 pk (paar de kraft-bahasa Belanda yang artinya daya kuda) dan memiliki panjang sembilan meter itu pun berangkat.

Kemudi bundar dalam kendali Khairul, yang masih berusia 30 tahun. Sementara Abdul Gani yang sudah berumur di atas 40 tahun, duduk di buritan perahu. Perjalanan membutuhkan waktu paling lambat 3 jam.

Kelotok melaju dengan kecepatan sedang, membelah hulu Sungai Barito yang mulai surut. Terlihat berbatuan yang muncul ke permukaan membentuk riam-riam kecil. Motoris menunjukkan kemahirannya. Memutar kemudi ke kiri dan kanan menghindari riam.

Sesekali kami menahan napas, saat kelotok menghadapi arus air yang membentur berbatuan membentuk riam besar. Membuat perahu bergoyang-goyang. Namun pengalaman sang motoris membuat kami sedikit lega. “Tenang mas, kami sudah hafal jalurnya. Jadi nggak akan kandas,” ucap Khairul.

Setengah perjalanan, hujan turun dengan deras. Pandangan motoris terbatas. Laju kelotok pun lebih pelan dari sebelumnya. Kami berlindung di belakang motoris. Kebetulan atap kelotoknya hanya berukuran kurang lebih 1 x 1,5 meter tepat di atas motoris. Kami pun ikut menutup tubuh dan dua tas dengan terpal. Itu pun tak cukup membantu. Masih basah terkena embusan air hujan yang terbawa angin. Untunglah, hujan turun hanya sebentar saja.

Setelah 25 menit berjalan, cobaan kembali datang. Baling-baling kelotok mengalami masalah. Tak bisa berputar kencang. Motoris pun menambat kelotok ke sisi kiri. Bertelanjang dada, lalu menceburkan diri ke air. Menuju buritan untuk mengecek kerusakan. Kami pun deg-degan. Takut tak bisa meneruskan perjalanan. Khawatir tak ada yang menolong, jika kelotok benar-benar tak bisa diperbaiki. “Nggak ada apa-apa,” kata Abdul Gani, menenangkan kami.

Jantung kami masih berdebar. Bagaimana tidak? Di sekitar lokasi tambat tidak terlihat perkampungan. Lalu-lalang angkutan air juga sudah jarang. 15 menit berlalu, langit pun berangsur gelap. “Selesai,” teriak Abdul Gani, yang sontak membuat kami semringah.

Pukul 18.20 WIB, kelotok yang mengantarkan kami tiba di Desa Batu Makap. Tanpa menunggu lama, kami menuju pangkalan ojek. Ada tiga sampai empat orang di tempat itu. Kami menawarkan siapa yang bisa mengantar ke Desa Masupa Ria, malam itu juga. Mereka terdiam. Wajah mereka penuh ragu untuk mengucap kata “mau”. Kata yang kami harapkan.

Mereka berunding pakai bahasa Dayak lokal, yang kami pun tak tahu artinya. “Bisa, tapi harganya 2 kali lipat ya,” ucap Dokong, nama tukang ojek yang kala itu mau mengantar kami.

Tidak ada pilihan lain. Kami terpaksa mengeluarkan uang Rp1 juta untuk 2 orang. Meski harga itu cukup mahal untuk jarak 18 kilometer.

Malam terasa sangat jauh berbeda dengan malam sebelumnya, yang masih menikmati kerlap-kerlip lampu kota. Jantung kami berdetak lebih cepat. Rasa antusias bercampur takut, karena pengalaman pertama segera dimulai. Kami menerobos hutan belantara.

Dokong dan Ledap, nama kedua tukang ojek yang mau mengantar kami. Dua sepeda motor bermesin Yamaha RX King yang dimodifikasi bak motor trail, siap berangkat.

Tapi mereka sedikit kebingungan. Lampu yang menjadi modal penerangan tak dapat difungsikan. Lagi-lagi, kami berdua menghela napas panjang. Saling menepuk pundak agar bersabar. “Kami nggak biasa antar penumpang malam, jadi lampu nggak terlalu berguna, dan nggak sempat memperbaiki,” ucap Ledap.

Untunglah, dua tukang ojek ini tak hilang akal. Mereka memakai lampu sorot berdiameter sama dengan botol air mineral berukuran 1,5 liter. Normalnya, lampu yang dilengkapi dengan tali karet itu dikalungkan di kepala. Tapi saat itu diikatkan pada kerangka atau rumahan lampu sepeda motor.

Kami pun berangkat. Melewati jalan tanah bercampur berbatuan yang licin. Beberapa titik jalan memang tampak lebar, kendaraan roda empat bisa masuk. Tapi banyak juga jalan yang terjal. Rusak dan berlumpur.

Tiga kali ban sepeda motor terjebak di jalan berlumpur. Memaksa kami untuk turun dan berjalan kaki beberapa meter. “Habis hujan tadi, licin,” celetuk Ledap.

Dua tukang ojek itu meminta kami pegangan erat, karena akan melewati jalur menanjak, sempit dan berlumpur. Kanan dan kiri ada tebing setinggi 1 meter. Jika tubuh tak seimbang, bisa terjatuh dan mandi lumpur. Kami pun mengikuti arahan. Mendekap erat di pinggang. Sekitar 10 meter berjalan, bunyi sepeda motor terdengar lebih kencang. Berusaha keras melewati jalur yang menenggelamkan separuh ban motor. Jarak 18 kilometer terasa begitu lama.

Kerlap-kerlip lampu rumah warga sudah mulai tampak dari kejauhan. Dalam hati berucap, syukur sudah mau sampai tujuan. Semakin dekat, cahaya lampu semakin terlihat terang. Sampai akhirnya, tepat pukul 19.46 WIB, kami menginjakkan kaki di Desa Masupa Ria. Dua tukang ojek menurunkan kami di teras rumah kepala desa (kades), Mukni.

Tiba di depan teras, kami istirahat sejenak sambil rebah-rebah. Dari dalam rumah, Mukni menyapa kami. “Ayo masuk, mandi-mandi, sambil menunggu kopi,” kata pria 41 tahun itu ramah. Tanpa menunggu lama, kami pun beranjak masuk.

Setelah mandi, sambil menyeruput kopi, kami bertiga berbincang soal Desa Masupa Ria di ruang tamu. Menurut pengakuannya, Mukni merupakan kepala desa definitif sejak Juni 2014, atau setelah 1 tahun menjabat sebagai penjabat sementara (Pj) kades. “Bagaimana perjalanannya? Enak kan? Belum pernah kan?” ucapnya berkelakar.

Di Desa Masupa Ria, semua barang kebutuhan serba mahal. Jangan kaget kalau semen satu sak harganya Rp500 ribu. Beras juga begitu. Rp500 ribu untuk 25 kilogram. “Sekarang, harganya sedikit menurun. Sekitar Rp400 ribu saja,” sebut Mukni sembari tersenyum.

Melambungnya harga sejumlah kebutuhan pokok ini, kata Mukni, lantaran akses transportasi yang sulit dan memakan waktu lama. Semua barang didatangkan dari Palangka Raya, Kapuas atau Murung Raya.

Ada sekitar 70 kepala keluarga (KK) berdiam di desa yang memiliki luas 194,92 km2 ini. Meskipun harus hidup di desa sangat tertinggal dan terisolasi, serta minim perhatian pemerintah, namun mereka yakin asa meraih masa depan yang lebih baik masih ada.

Untuk saat ini, warga Desa Masupa Ria masih mengelus-elus dada. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kapuas terkesan masih memandang sebelah mata. Infrastruktur masih jauh tertinggal. Terutama akses jalan yang sangat tidak mendukung perekonomian. Banyak hasil kebun seperti cokelat, petai, jengkol, durian, cempedak dan rambutan yang membusuk di pohon. Tidak bisa dijual ke luar desa. Mahal pada  ongkos transportasinya. Memilih dikonsumsi sendiri. Kalau bosan, dibiarkan membusuk di pohon.

Padahal, jika Desa Masupa Ria masuk Kabupaten Murung Raya, semua urusan akan lebih mudah. Mulai dari administrasi hingga akses transportasi. Lantaran, posisinya yang lebih dekat ke Puruk Cahu dibanding ke Kuala Kapuas. Tapi kecintaan warga dengan Kabupaten Kapuas, membuat mereka enggan berpindah.

“Makar, kalau kami sampai pindah ke Kabupaten Murung Raya,” ucap Mukni dengan nada tinggi meluapkan emosinya sembari posisi tangan kanan menunjuk ke atas.

Dia tak menampik. Banyak warga yang ingin masuk menjadi warga Kabupaten Murung Raya. Alasannya, semua urusan lebih mudah. Bayangkan saja, sebelum jadi desa, dinding rumah warga justru dihiasi foto dan kalender yang terpampang foto Bupati dan Wakil Bupati Murung Raya 2008-2013, Willy M Yoseph-Nuryakin. “Saat itu, jangankan bantuan pemerintah, wajah bupati kami saja, warga tak tahu,” selorohnya. (ce/bersambung)


BACA JUGA

Kamis, 16 Agustus 2018 09:44
Menumbuhkan Kembali Semangat Patriotisme dan Nasionalisme

Kibarkan Merah Putih di Sungai Seruyan

"Janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah." Demikian kutipan yang pernah dikatakan Bung Karno. Tentang…

Rabu, 15 Agustus 2018 09:25
Melihat Suasana Sekolah Inklusi Pertama di Kalteng

Pelajaran Disesuaikan dengan Kemampuan

Terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus, bukan sebuah pilihan. Bukan pula keinginan orang tua. Itu…

Selasa, 14 Agustus 2018 10:42

Panjang Ratusan Meter Menyeberangi Sungai

Pembentangan bendera merah putih di 13 kabupaten dan satu kota mengawali euforia penyambutan Hari Kemerdekaan…

Senin, 13 Agustus 2018 10:33
Eicha, Peraih Golden Champion Perparawi Tingkat Nasional

Catatkan Diri dalam Sejarah Keikutsertaan Kontingen Kalteng

Prestasi membanggakan ditorehkan Eicha Cristy Gianella. Ketika mewakili kontingen Kalteng, putri asal…

Minggu, 12 Agustus 2018 11:57
Menengok Usaha Budi Daya Lebah Madu di Palangka Raya

Jual Pikap Demi 10 Kotak Sarang Mellifera

Petani lebah madu asal Kalampangan ini bernama Yoanes Budiyana. Madu produksinya punya label yang sudah…

Sabtu, 11 Agustus 2018 12:26
Memanfaatkan Bekas Peralatan Elektronik Menjadi Barang Unik

Kreativitas dan Karya dari Balik Penjara

Hidup di balik jeruji besi sudah pasti terisolasi. Terkurung dan terbatas dengan dunia luar. Namun,…

Jumat, 10 Agustus 2018 13:23
Ketika Warga Katingan Kuala Harus Terjebak di Minimnya Infrastruktur Jalan

Meregang Nyawa di Tengah Sungai

Ibu Muntamah (50) warga Desa Jaya Makmur, Kecamatan Katingan Kuala Kabupaten Katingan harus menghembuskan…

Jumat, 10 Agustus 2018 11:02
Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Perkebunan Sawit

PT KLM Terancam Tahanan, Denda, dan Izin Dicabut

Kebakaran seluas 511 hektare lahan perkebunan sawit, menjadi petaka bagi PT KLM. Perusahaan beroperasi…

Kamis, 09 Agustus 2018 10:36
Zein Alitamara Mufthihati, Gadis Kalteng Pencinta Seni Poster

Lima Master Piece Dipamerkan di Rusia

Masih ingat dengan Zein Alitamara Mufthihati? Ya. Wanita kelahiran 2 Desember 1991 itu, tak berhenti…

Rabu, 25 Juli 2018 20:47
Mengenal Menu 10+1 ala Juru Masak RSUD dr Dorius Sylvanus

Dukung Kesembuhan Pasien Melalui Makanan

Keberadaan juru masak di sebuah rumah sakit, ternyata memiliki peran penting untuk kesembuhan pasien.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .