MANAGED BY:
SABTU
23 MARET
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

UTAMA

Selasa, 13 Maret 2018 10:36
Terkait Sanksi, DAD Serahkan Hasil Investigasi Tim 17

Agustiar Sabran : Ini Adat, Kami Tidak Mau Dimainkan

Ketua Umum DAD Kalteng Agustiar Sabran, saat konferensi pers terkait hasil investigasi DAD Kalteng dan DAD Kotim, di Betang Hapakat, Jalan RTA Milono, Palangka Raya, Senin (12/3).(FOTO : DENAR/KALTENG POS)

PROKAL.CO, PALANGKA RAYA-Kasus dugaan perusakan situs budaya di Desa Pondok Damar, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kotim oleh oknum sekuriti PT Mustika Sembuluh anak perusahaan PT Wilmar Group, dianggap telah melukai hati masyarakat. Bahkan, perusahaan perkebunan kelapa sawit itu dinanti sanksi dari Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng.

DAD Kalteng membentuk Tim 17 yang akan menggodok terkait sanksi bagi perusahaan jika terbukti bersalah. Untuk kemungkinan sanksinya, Agustiar memilih untuk menyerahkan sepenuhnya kepada hasil investigasi Tim 17 nanti.

Demikian juga dengan hukum positif yang masih berproses di kepolisian, kata dia, hukum adat akan terus jalan dan tidak akan ada intervensi dari siapa pun. Ia akan melihat tanggapan perusahaan. Apabila tidak hadir jika diundang pemprov maupun pihaknya.

“Bagi kami, (dugaan perusakan, red) ini merupakan pelecehan. Kami tidak akan berandai-andai. Terkait sanksinya, lihat saja nanti tanggal mainnya. Ini adat kami tidak mau dimainkan,” ucap Ketua Umum DAD Kalteng Agustiar Sabran, saat konferensi pers terkait hasil investigasi DAD Kalteng dan DAD Kotim, di Betang Hapakat, Jalan RTA Milono, Palangka Raya, Senin (12/3).

Menurutnya, seringnya polemik di perusahaan tersebut akan cepat terselesaikan, apabila perusahaan menghormati adat istiadat di Kalteng. Sesuai falsafah Huma Betang, di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung, sudah seharusnya siapa saja ikut menjaga kerukunan dan ketenteraman di Bumi Tambun Bungai.

“Inginnya kami orang Dayak jadi tuan rumah. Ini bukannya apa, supaya tidak ada kecemburuan sosial. Ini untuk menjaga keragaman dan kebersamaan sesuai falsafah Huma Betang. Kami tidak anti, tapi orang Dayak ini saya harapkan agar jangan mati,” ucapnya ditemani sejumlah pengurus DAD Kalteng.

Usai menggelar konferensi pers, pengurus DAD juga berkunjung ke Istana Isen Mulang, rumah jabatan Gubernur Kalteng Sugianto Sabran. Selanjutnya ke Polda Kalteng. DAD bersama pemprov dan aparat duduk bersama melakukan kajian, terkait konflik sosial yang diduga dipicu oleh kasus dugaan pencurian kelapa sawit.

Menurut Agustiar, sah-sah saja pihaknya berkunjung ke gubernur dan juga berdiskusi dengan Kapolda Kalteng Brigjen Pol Anang Revandoko. “Gubernur merupakan pimpinan adat yang paling tertinggi. Kemudian, kapolda adalah Mantir Hai Penambahan, warga kehormatan. Kami konsolidasi. Sah-sah saja,” bebernya.

Sebelumnya, perusahaan juga dinanti sanksi dari gubernur apabila perusahaan tidak hadir saat diundang Pemprov Kalteng. Pemprov berencana mengundang direksi perusahaan dan DAD Kalteng untuk mediasi, sehingga mendapatkan keputusan yang terbaik.

Sementara itu, Manajer Bina Mitra Wilmar Group Andi Ayub, membantah semua tudingan kepada pihaknya. Namun, saat ini pihaknya masih enggan memberikan keterangan lebih dan menyerahkan semuanya ke kepolisian. (ami/ce/abe/CTK)


BACA JUGA

Selasa, 08 Oktober 2013 17:47

Pencemaran Udara Teru Meingingkat

<div> <div><strong>PALANGKA RAYA &ndash; </strong>Banyaknya terjadi kebakaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*