MANAGED BY:
SABTU
23 FEBRUARI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Kamis, 15 Februari 2018 09:36
Ketika Membuka Lahan dengan Cara Dibakar Dilarang
Ratusan Hektare Lokasi Pertanian Sebuai Barat Terbengkalai
Lokasi pertanian padi di P4S Karya Baru, Desa Kubu ketika masa panen, sekarang masyarakat setempat kesulitan mengelola lahannya. //DOK/ KALTENG POS

PROKAL.CO, Larangan membuka lahan dengan cara dibakar, ternyata berdampak cukup besar bagi masyarakat, karena selama ini petani rata-rata membuka lahan untuk bercocok tanam adalah dengan dibakar. Praktis, ketika muncul larangan, petani akhirnya kelimpungan.

KOKO SULISTYO, Pangkalan Bun

SEJAK membuka lahan pertanian dengan pola bakar dilarang pemerintah, ratusan hektare (Ha) lahan pertanian warga Desa Sebuai Barat, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terbengkalai. Terbengkalainya lahan akibat warga tak mampu mengolah lahan dengan cara manual, yakni dengan pola tebas dan simpuk, selain membutuhkan biaya besar, pengolahan lahan tanpa bakar juga membutuhkan waktu lama.

Akibat larangan ini, warga desa Sebuai banyak yang meninggalkan desanya untuk mencari penghidupan di luar, dengan menjadi buruh sawit dan pekerjaan lainnya untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.Kepala Desa Sebuai Barat, Kecamatan Kumai, Rusli saat dihubungi Kalteng Pos mengatakan bahwa pada bulan Februari ini seharusnya sudah memasuki masa tanam, namun hingga saat ini warga belum bisa mengerjakan lahannya sementara mereka harus menanam padi.

Kebijakan larangan buka lahan tanpa bakar merupakan kebijakan tanpa solusi, sehingga dampaknya kepada masyarakat. Saat ini lahan di wilayahnya sejak dua tahun ini terbengkalai dan kembali menjadi hutan kembali akibat menaati peraturan pemerintah."Kami berusaha menaati peraturan pemerintah yang diterbitkan tapi karena tidak ada solusi maka para petani yang dirugikan, harusnya karena imbasnya luar biasa kepada petani bantuan berupa beras untuk warga karena kehilangan mata pencaharian harus ada, nah karena bantuan tidak ada maka petani mengeluh semuanya," ujarnya, Rabu (14/2).

Selaku kepala desa menyikapi kesulitan warganya ia akhirnya melakukan koordinasi dengan Bupati Kotawaringin Barat, Hj Nurhidayah untuk meminta solusi agar persoalan tersebut tidak menjadi dilematis. Hasil dari koordinasi yang dilaksanakan bupati meminta agar masyarakat agar tetap membuka lahan dengan pola tanpa bakar, dengan membuka secara bertahap.

Rusli juga menyampaikan hasil koordinasi yang dilaksanakan, pemerintah daerah melalui dinas terkait pada Minggu lalu tepatnya Jumat (9/2) telah meminjamkan traktor mini untuk membuka lahan. Namun ia pesimis karena lahan di Desa Sebuai Barat masih merupakan lahan yang belum jadi sehingga banyak akar - akar kayu besar yang masih terdapat di lokasi.

"Kami sudah dipinjamkan satu ekskavator mini tapi engga tahu nanti mampu apa engga," ujarnya pesimis.

Ia mengungkapkan bahwa saat ini lahan pertanian masyarakat Desa Sebuai Barat yang terbengkalai totalnya mencapai 1.135  hektar yang terdiri dari lahan satu seluas 735 hektar dan di lahan dua ada 400 hektar dengan produksi beras per hektarnya mencapai 2 ton gabah.

Menurutnya, kalau nantinya di musim tanam ini ternyata menggunakan traktor mini tidak efektif maka ia khawatir hanya segelintir warga yang mau bercocok tanam, sehingga hamparan tanaman padi yang tidak seberapa itu hanya jadi makanan hama baik tikus maupun burung berbeda kalau ribuan hektar lahan itu tergarap seluruhnya maka akan meminimalisir serangan hama.

Saat ini bajak tangan yang dimiliki oleh desa Sebuai Barat berjumlah 15 unit dan 1 unit ekskavator mini milik pemerintah. Namun, alat mekanis pertanian tersebut juga tidak bisa digunakan karena lahannya masih penuh dengan akar-akar kayu."Harusnya pemerintah yang turun tangan untuk mengolahkan lahan walau kami tahu biayanya tidak sedikit, kalau petani yang disuruh untuk bekerja dengan manual dan tidak dibakar engga mampu," keluhnya.

Saat ini dengan harga kebutuhan sembako terutama beras yang begitu mahal, masyarakat Desa Sebuai Barat yang berjumlah 170 KK bersepakat untuk kembali menggarap lahannya, semangat tersebut harus menjadi perhatian pemerintah untuk mencarikan solusi terhadap hal ini. (ala/dar)


BACA JUGA

Jumat, 07 Desember 2018 14:30
Mengikuti Sidang Tipikor Mantan Kepala BPN Kotim Jamaludin

Terdakwa dan Saksi Saling Membantah

Kepada para saksi yang dihadirkan, sang hakim bertanya: “Apakah blanko…

Kamis, 06 Desember 2018 14:58
BPOM Turun Tangan, Ratusan Obat dan Kosmetik Disita

Pedagang Mengaku Tak Tahu, Asli Atau Palsu

Masyarakat Kotawaringin Barat (Kobar) harus berhati-hati saat membeli atau memakai…

Jumat, 16 November 2018 16:13
Menengok Semangat Anak Panti Asuhan

Ada yang Sarjana, dan Jadi Manajer di Perusahaan

Suasana berbeda saat menengok aktivitas anak-anak di Panti Asuhan Annida…

Senin, 12 November 2018 09:44
Melihat Cara KPU Melindungi Suara Pemilih Milenial

Tak Masuk DPT, Malah Dikasih Hadiah

Pesta demokrasi akan digelar tahun depan. Masih lama. Banyak waktu…

Jumat, 09 November 2018 11:56
Menari Bersama Manekin dan Nekat Keliling Nusantara

Sekali Tampil Meraup Rp 700 Ribu

Menari dengan manekin atau boneka manusia, terdengar biasa saja. Namun,…

Kamis, 08 November 2018 10:33
Ketika Kasatbinmas Polres Kobar Jadi Irup di SMAN 2 Pangkalan Bun

Sosialisasi Saber Pungli, Wawasan Nusantara dan Narkoba

Pemandangan berbeda terlihat di SMAN 2 Pangkalan Bun. Kalau biasanya…

Selasa, 06 November 2018 15:24
Cara Membuat Batik Unik dan Menarik Khas Kalteng (1)

Berbahan Getah Daun Ulin dan Mawar

Batik memang lebih terkenal di Pulau Jawa. Tapi siapa sangka,…

Kamis, 01 November 2018 09:41
Dari Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Sopir Travel di Sampit

KEJAM..!! Ada 15 Adegan, Korban Sempat Dipukuli Lalu Dibuang ke Sungai Mentaya

Ada 15 adegan yang diperagakan tersangka pelaku dalam rekonstruksi kasus…

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:49
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (2/Selesai)

Belajar Dalang karena Sering Ikut Orang Tua

Wayang,sebuah seni pertunjukan dengan memainkan tokoh-tokoh kerajaan masa lalu. Merupakan…

Jumat, 12 Oktober 2018 10:20
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (1)

Tak Ada Danau, Sumber Air Diambil dari Tujuh Rumah

Sukerta, dalam bahasa Jawa adalah orang yang dianggap memiliki aib atau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*