MANAGED BY:
MINGGU
18 NOVEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Minggu, 11 Februari 2018 07:41
Ketika Sembako Mengalir Sampai Jauh
Arief Rahman Hakim

PROKAL.CO, Kolom Happy Monday tanggal 6 Pebruari 2018 yang lalu sungguh menarik. Terutama jika kita juga ikut melihat video berdurasi 3,31 menit yang dijadikan bahasan di awal tulisan. Video itu menggambarkan perjuangan membawa sembako (baca : pangan) ke Desa Tumbang Manjul di Seruyan Hulu. Tulisan bang Husrin A. Latif  selanjutnya membahas tentang sarana transportasi darat di Seruyan Hulu.

Video itu sebenarnya bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Bagi saya sendiri, video itu bisa menjadi bahan penting untuk mendiskusikan teori invisible hand-nya Bapak Ilmu Ekonomi, Adam Smith. Tapi di tulisan ini saya akan mengikuti caption si empunya video yaitu “sembako” maka saya akan mencoba melihatnya  dari sisi distribusi pangan di Propinsi Kalimantan Tengah.

Perwujudan fungsi distribusi ini masih perlu terus ditingkatkan mengingat masih adanya defisit bahan pangan di beberapa wilayah di Propinsi Kalimantan Tengah. Pembangunan sistem dan infrastruktur transportasi dan logistik yang mendukung distribusi pangan serta luas wilayah masih menjadi isu penting dalam aspek ini. Masalah pertama dalam distribusi pangan adalah luas wilayah yang cukup besar dan jarak antar tempat yang jauh. Sebagai contoh di Kabupaten Katingan yang relatif dekat dengan ibukota Propinsi Kalimantan Tengah. Jarak ibukota kecamatan terjauh, yakni Tumbang Kajamei (ibukota Kecamatan Bukit Raya) dari Kasongan adalah 291 km, sedangkan jarak antara kecamatan di ujung selatan (Kecamatan Bukit Raya) dengan kecamatan di ujung utara (Kecamatan Katingan Kuala) adalah 545 km.

Kondisi di Kabupaten Seruyan pun mirip. Jarak antara Kota Kuala Pembuang dengan kecamatan Seruyan Hulu juga lebih dari 500 km. Sebagai gambaran, jarak dari Surakarta ke Semarang (ibukota Propinsi Jawa Tengah) hanya sekitar 100 km, jarak dari Surakarta ke Yogyakarta hanya 60 km.

Pengaruh jarak sangat terasa pada wilayah-wilayah yang jauh. Penuturan rekan peneliti dari Forum Dara Arum yang melakukan penelitian di Desa Kuluk Leleng (Kabupaten Katingan) menemukan bahwa di desa itu persediaan sumber protein sangat terbatas. Satu warung yang dikunjungi hanya menjual sekaleng sarden dan 7 butir telor.

Moda transportasi yang digunakan adalah angkutan sungai, angkutan darat dan angkutan laut. Propinsi Kalimantan Tengah mempunyai 6 sungai besar dengan ribuan anak sungai yang menjadi urat nadi angkutan sungai. Namun angkutan sungai akan terganggu jika permukaan air turun pada musim kemarau, sehingga beberapa daerah yang terletak di hulu sungai tidak bisa terjangkau sarana angkutan air. Pada tahun 1998, sebuah harian nasional ibukota meliput terjadinya kelangkaan pangan (beras) di Kelurahan Panjehang di Kota Palangka Raya. Meskipun kelangkaan hanya terjadi dalam hitungan hari sudah cukup menggambarkan kerentanan moda transportasi sungai pada musim kemarau.

Jika angkutan sungai tidak berfungsi, maka distribusi pangan dilakukan melalui jalur angkutan darat. Panjang jalan di Propinsi Kalimantan Tengah selama periode 1998 sampai 2016 naik dua kali lipat, dari 9.050 km (1998) menjadi 17.921 km (2016). Namun permukaan jalan sangat bervariasi. Jalan Negara dan jalan propinsi kondisinya jauh lebih baik dibanding jalan yang dikelola kabupaten/kota. Pada tahun 2016, jalan Negara dengan permukaan aspal dan kerikil mencapai 98 % dan sisanya (kurang dari 2 %) permukaan tanah dan lainnya. Demikian juga jalan propinsi sebanyak 94 % merupakan jalan aspal/kerikil sedangkan sisanya (6 %) mempunyai permukaan tanah atau lainnya.

Dilihat dari kondisinya, pada tahun 2016, 87 % jalan Negara dan jalan propinsi dalam kondisi baik atau sedang, dan sisanya (23 %) berada dalam kondisi rusak ringan atau rusak berat.

Keadaan ini berbanding terbalik dengan jalan yang dikelola kabupaten/kota. Terlalu banyak kalau disebutkan satu persatu, sehingga saya ambil contoh di Kota Palangka Raya dan Kabupaten Katingan saja.  Di Kota Palangka Raya, 49 % jalan dilapisi aspal atau kerikil sedangkan sisanya (51 %) mempunyai permukaan tanah. Di tinjau dari sisi kondisi, 54 % (dari seluruh ruas jalan) dalam keadaan baik/sedang dan 46 % dalam keadaan rusak ringan atau rusak berat.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Katingan dimana 31 % jalan berlapis aspal/kerikil dan sisanya (69 %) merupakan jalan tanah atau lainnya. Kondisi jalan di kabupaten Katingan tahun 2016 adalah 30 % dalam kondisi baik/sedang dan selebihnya (70 %) dalam kondisi rusak ringan/rusak berat.

Fakta ini memperlihatkan kepada kita bahwa transportasi darat di Propinsi Kalimantan Tengah pada musim hujan akan menghadapi masalah karena becek, licin dan tidak bisa dilewati, sehingga distribusi pangan harus dialihkan melalui angkutan sungai. Sebaliknya pada musim kemarau, angkutan sungai kurang maksimal karena permukaan air yang surut sehingga distribusi pangan dipindahkan melalui angkutan darat.

Kesulitan distribusi pangan ke daerah pedalaman juga tercermin dari reaksi pasar berupa tingginya konsumsi makanan dan minuman jadi. Berdasarkan data Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2016, pengeluaran untuk membeli makanan/minuman jadi paling tinggi dibandingkan bahan pangan lain. Jumlahnya mencapai Rp. 119.445 per kapita per bulan. Jika penduduk Propinsi Kalimantan Tengah sebanyak 2.550.192 jiwa, maka perputaran uang untuk membeli makanan/minuman jadi sebesar Rp. 304,6 milyar per bulan atau Rp. 3,6 trilyun per tahun. Angka yang luar biasa.

Apa implikasi dari keadaan ini jika dilihat dari sisi ketahanan pangan ? Pembangunan prasarana transportasi jelas memerlukan waktu yang panjang. Ada saja faktor penghambat seperti biaya, pembebasan lahan, proses administrasi dan sebagainya. Demi meningkatkan ketahanan pangan penduduk Propinsi Kalimantan Tengah yang tinggal jauh di pedalaman harus ditempuh beberapa langkah strategis yang cepat.

Implikasi pertama, jika melihat pangsa pasar yang begitu besar, mungkin sudah saatnya Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah menghidupkan industri makanan/minuman jadi berskala menengah dan besar. Selama ini, makanan/minuman jadi selalu didatangkan dari luar Propinsi Kalimantan Tengah. Meskipun sudah ada industri makanan/minuman jadi, tetapi masih dalam skala kecil (atau bahkan super kecil) yang hanya membidik pasar lokal. Akan lebih baik kalau ada industri makanan/minuman jadi di daerah yang bisa memanfaatkan pasar yang sangat besar ini. Langkah ini juga harus dibarengi dengan pengawasan makanan olahan yang semakin baik.

Implikasi lain adalah perlunya memperkuat ketahanan pangan dalam skala keluarga. Masyarakat perlu didorong untuk memanfaatkan secara maksimal potensi yang dimiliki misalnya lahan pekarangan dan waktu luang untuk menanam bahan pangan. Satuan produksi skala rumah tangga akan lebih fleksibel dari sisi jenis tanaman, jenis hewan yang dipelihara, jam kerja, mitigasi jika ada bencana banjir/kebakaran dan intensitas budidaya yang dilakukan. Jika setiap keluarga sudah mampu mencukupi kebutuhan pangannya sendiri maka ketahanan pangan secara kolektif juga akan meningkat. Namun demikian juga harus diberikan pengertian bahwa hasil produksi pertanian yang dilakukan pada level keluarga harus dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan pangan dan gizi keluarga. Tanpa kesadaran itu, jangan-jangan nanti hasilnya hanya akan dijual untuk membeli pulsa. Ini yang gawat. Kita harus merubah syairnya Ketika sembako mengalir sampai jauh . . .  akhirnya ke pulsa.

*Penulis adalah Staff Pengajar Fakultas Pertanian Universitas PGRI Palangka Raya


BACA JUGA

Senin, 17 September 2018 09:34

Bank Century Lagi Hidup Mati

Kasus Bank Century hidup lagi. Mati lagi. Di luar negeri. Lebih tepatnya akan hidup-mati terus. Yang…

Kamis, 13 September 2018 10:51

Idealisme New York Time Menunggu Tipping Point

The New York Times kebanjiran pertanyaan. Hanya dalam dua hari. Sudah 30.000 pembaca minta klarifikasi.…

Selasa, 04 September 2018 11:01

Tiap 10 Tahun di Lubang yang Sama

Mengapa setiap 10 tahun terjadi krisis ekonomi? Persis.  Setiap 10 tahun: 1988 (TMP), 1998 (Krismon),…

Sabtu, 11 Agustus 2018 12:23

Tafsir Wapres untuk Nasib Sendiri

Multitafsir. Mengapa Jokowi pilih Ma’ruf Amin. Dan mengapa Prabowo pilih Sandiaga Uno. Tafsir…

Rabu, 08 Agustus 2018 10:40

Imperialis Macan dan Jebakan Naga

Ia tidak mau tinggal di rumah dinas perdana menteri. Ia tidak mau pengawalan yang panjang: maksimum…

Selasa, 13 Maret 2018 10:25

Plasma, Nikmatnya setelah Meninggal

PROGRAM kemitraan perusahaan besar swasta (PBS) sawit melalui plasma masih menjadi polemik. Plasma yang…

Senin, 12 Februari 2018 02:00
Lolos dari Lubang Aorta Dissection (3)

Rakus Lentil dan Kurma Mentah Beku

Minggu 11 feb 2017 Semua itu bermula di hari kedua saya berada di Madinah. Sehari sebelumnya kami tiba…

Senin, 12 Februari 2018 01:56
Lolos dari Lubang Aorta Dissection (2)

Merelakan Ditinggal Anak, Cucu, Menantu

SAYA sabar menunggu pencernaan saya istirahat. Tidak makan apa pun. Dada dan punggung memang masih sakit…

Senin, 12 Februari 2018 01:51
Catatan Aortic Dissection (1)

Lebih Menyiksa dari Sakit Jantung

SAYA jatuh sakit lagi. Serius. Sangat serius. Akhir Desember lalu. Saat menjalani Umroh bersama keluarga.…

Selasa, 06 Februari 2018 15:23

Seruyan (Masih) Tertinggal 

SEBUAH video yang diupload oleh akun facebook Salidin Akhmad mendadak viral dua pekan terakhir. Video…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .