MANAGED BY:
SELASA
21 AGUSTUS
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Minggu, 04 Februari 2018 08:12
Kisah Lima Hari Berburu Pemangsa Manusia
Tangkap Buaya dengan Umpan Itik dan Monyet
Warga bergotong royong bersama Tim BKSDA menguburkan buaya muara yang memakan manusia di sungai Sebangau Besar, Kabupaten Pulang Pisau, Jumat (2/1). //BKSDA FOR KALTENG POS

PROKAL.CO, Perburuan buaya pemakan manusia di Desa Sebangau Jaya, Pulang Pisau, membuahkan hasil. Buaya yang diyakini telah memakan korbannya tersebut, ditangkap dengan perangkap.

APRIANDO, Palangka Raya

SAAT ditangkap, buaya sudah dalam kondisi mati. Tetapi, masyarakat meyakini memang buaya tersebut yang memangsa Aman (30) hingga meninggal. Meninggalnya korban beberapa waktu lalu membuat nelayan lainnya sempat trauma. Kini mereka bisa sedikit lega. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng Adif Gunawan melalui Kepala Seksi Wilayah I Kalteng Junaidi Slamet Wibowo, mengatakan perburuan buaya muara itu diawali dari delapan tim berangkat ke Desa Sebangau Jaya, Senin (29/1) pukul 10.00 WIB.

Dengan mobil double cabin, mereka berangkat dari Palangka Raya menuju dermaga di Sebangau Kuala. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kelotok untuk bisa mencapai lokasi.Peralatan dibawa dari Palangka Raya, untuk memburu buaya tersebut, ada kandang kayu untuk melakukan evakuasi buaya jika tertangkap dalam keadaan hidup, tali tambang, tali sling, tali nilon, jeriken untuk pelampung umpan, camera, GPS dan lainnya.

Setelah lima jam perjalanan darat, ditambah dua jam menyusuri sungai, tim BKSDA sampai di lokasi sekitar pukul 16.30 WIB. Sesampainya di sana, mereka terlebih dulu koordinasi dengan petugas kecamatan untuk mengetahui posisi terakhir buaya. Cuaca saat malam hari hujan dan air laut pasang tinggi, memaksa mereka untuk tidak turun ke lokasi.

Selasa  (30/1), setelah merundingkan dan istirahat cukup, tim bersama enam warga survey lokasi terakhir buaya terlihat dan lokasi pemasangan perangkap. “Kondisi lokasi dipengaruhi pasang surut  air laut, sehingga tidak dapat secara bebas melakukan aktivitas, pantai berupa tanah yang berlumpur sehingga tidak memungkinkan dari tim melakukan penangkapan manual pada buaya tersebut, karena begitu kami terperosok malah tidak bisa bergerak dan berbahaya bagi keselamatan,” ujarnya ketika berbincang-bincang dengan Kalteng Pos, kemarin.

Untuk perangkap, tim kesulitan menentukan titik lokasinya. Karena lebar sungai sekitar 100 meter. Di hari kedua ini, jangankan menangkap buaya, mereka baru bisa memasang perangkap. Umpan yang digunakan adalah itik dan monyet yang dibuat seolah-olah terjebak di kalang (alat tangkap ikan).Pada sore hari harinya setelah memasang perangkap dan umpan, tim bersama warga kembali ke desa untuk beristirahat. Dari desa terdekat ke lokasi, mereka harus menyusuri bibir laut dengan cuaca tidak bersahabat ditambah gelombang tinggi. Rabu (31/1), tim kembali menelusuri lokasi buaya pemangsa manusia. Mengecek umpan yang telah dipasang. Ternyata, sisa umpan tergeletak di atas permukaan tanah. Tim tercengang. Kuat dugaan  umpan dimakan biawak atau hewan lainnya yang ada di tempat tersebut.

Mereka kembali memasang umpan baru dan menata umpan yang hancur karena pasang. Hasilnya masih nihil. Sore hari, tim kembali ke desa. Berkunjung ke rumah istri Aman (30) pemuda yang tewas dimangsa buaya muara tersebut. Malam harinya, tim dan warga merencanakan pengecekan. Tetapi, lagi-lagi kondisi cuaca tidak bersahabat, bersamaan dengan fenomena super blue blood moon (gerhana bulan) membuat rencana tersebut gagal.

Kamis (1/2), tim mengulangi aktivitas sehari sebelumnya. Mengecek umpan. Dengan harapan buaya sudah terperangkap. Kali ini, umpan masih utuh dan masih berada di tempatnya.Hampir putus asa. Tim berpikir ulang lokasi buaya terakhir terlihat. Masih di lokasi yang sama atau sudah pergi. Setelah mempertimbangkan berdasarkan hasil umpan dan analisa lokasi, belum ada titik terang.Tim BKSDA pemburu buaya mulai angkat tangan. Mereka koordinasi dengan warga bahwa tidak dapat bertahan lebih lama di lokasi. Apalagi, ada beberapa laporan satwa liar lain seperti beruang di Tumbang Manggu, bayi orangutan di Tumbang Sanaman yang juga harus mendapatkan penanganan.

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Jumat (2/2) menjadi hari yang berkah bagi tim dan warga pemburu buaya. Umpan disambar buaya. Mendengar hal tersebut, tim langsung turun ke lokasi bersama warga lainnya.Sayangnya, sesampainya di lokasi perangkap, buaya sudah mati. Ada dugaan buaya dibunuh karena warga terlanjur kesal, karena telah memakan nelayan hingga meninggal. Setelah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan warga sekitar, buaya muara berjenis kelamin jantan tersebut dikuburkan di pinggir sungai, agar tidak menimbulkan bau busuk. (abe/dar)


BACA JUGA

Kamis, 16 Agustus 2018 09:44
Menumbuhkan Kembali Semangat Patriotisme dan Nasionalisme

Kibarkan Merah Putih di Sungai Seruyan

"Janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah." Demikian kutipan yang pernah dikatakan Bung Karno. Tentang…

Rabu, 15 Agustus 2018 09:25
Melihat Suasana Sekolah Inklusi Pertama di Kalteng

Pelajaran Disesuaikan dengan Kemampuan

Terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus, bukan sebuah pilihan. Bukan pula keinginan orang tua. Itu…

Selasa, 14 Agustus 2018 10:42

Panjang Ratusan Meter Menyeberangi Sungai

Pembentangan bendera merah putih di 13 kabupaten dan satu kota mengawali euforia penyambutan Hari Kemerdekaan…

Sabtu, 11 Agustus 2018 12:26
Memanfaatkan Bekas Peralatan Elektronik Menjadi Barang Unik

Kreativitas dan Karya dari Balik Penjara

Hidup di balik jeruji besi sudah pasti terisolasi. Terkurung dan terbatas dengan dunia luar. Namun,…

Jumat, 10 Agustus 2018 13:23
Ketika Warga Katingan Kuala Harus Terjebak di Minimnya Infrastruktur Jalan

Meregang Nyawa di Tengah Sungai

Ibu Muntamah (50) warga Desa Jaya Makmur, Kecamatan Katingan Kuala Kabupaten Katingan harus menghembuskan…

Jumat, 10 Agustus 2018 11:02
Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Perkebunan Sawit

PT KLM Terancam Tahanan, Denda, dan Izin Dicabut

Kebakaran seluas 511 hektare lahan perkebunan sawit, menjadi petaka bagi PT KLM. Perusahaan beroperasi…

Kamis, 09 Agustus 2018 10:36
Zein Alitamara Mufthihati, Gadis Kalteng Pencinta Seni Poster

Lima Master Piece Dipamerkan di Rusia

Masih ingat dengan Zein Alitamara Mufthihati? Ya. Wanita kelahiran 2 Desember 1991 itu, tak berhenti…

Rabu, 08 Agustus 2018 10:47
Susistiyono, Penginjil yang Buta setelah Kecelakaan

Kehilangan Pekerjaan dan Hidup Serba Keterbatasan

Susistiyono, seorang asisten pendeta harus kehilangan penglihatannya, usai kecelakaan tiga tahun silam.…

Rabu, 25 Juli 2018 20:47
Mengenal Menu 10+1 ala Juru Masak RSUD dr Dorius Sylvanus

Dukung Kesembuhan Pasien Melalui Makanan

Keberadaan juru masak di sebuah rumah sakit, ternyata memiliki peran penting untuk kesembuhan pasien.…

Sabtu, 12 Mei 2018 10:05
Toni Ardiyanto, Remaja 14 Tahun dengan Berat Badan 9 Kilogram

Diduga Gizi Buruk sampai Terminum Air Ketuban

Keluarga Suyatno (53) dan Suyati (36) dikaruniai anak pertama mereka bernama Toni Ardiyanto. Namun,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .