MANAGED BY:
JUMAT
19 OKTOBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Minggu, 04 Februari 2018 08:12
Kisah Lima Hari Berburu Pemangsa Manusia
Tangkap Buaya dengan Umpan Itik dan Monyet
Warga bergotong royong bersama Tim BKSDA menguburkan buaya muara yang memakan manusia di sungai Sebangau Besar, Kabupaten Pulang Pisau, Jumat (2/1). //BKSDA FOR KALTENG POS

PROKAL.CO, Perburuan buaya pemakan manusia di Desa Sebangau Jaya, Pulang Pisau, membuahkan hasil. Buaya yang diyakini telah memakan korbannya tersebut, ditangkap dengan perangkap.

APRIANDO, Palangka Raya

SAAT ditangkap, buaya sudah dalam kondisi mati. Tetapi, masyarakat meyakini memang buaya tersebut yang memangsa Aman (30) hingga meninggal. Meninggalnya korban beberapa waktu lalu membuat nelayan lainnya sempat trauma. Kini mereka bisa sedikit lega. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng Adif Gunawan melalui Kepala Seksi Wilayah I Kalteng Junaidi Slamet Wibowo, mengatakan perburuan buaya muara itu diawali dari delapan tim berangkat ke Desa Sebangau Jaya, Senin (29/1) pukul 10.00 WIB.

Dengan mobil double cabin, mereka berangkat dari Palangka Raya menuju dermaga di Sebangau Kuala. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kelotok untuk bisa mencapai lokasi.Peralatan dibawa dari Palangka Raya, untuk memburu buaya tersebut, ada kandang kayu untuk melakukan evakuasi buaya jika tertangkap dalam keadaan hidup, tali tambang, tali sling, tali nilon, jeriken untuk pelampung umpan, camera, GPS dan lainnya.

Setelah lima jam perjalanan darat, ditambah dua jam menyusuri sungai, tim BKSDA sampai di lokasi sekitar pukul 16.30 WIB. Sesampainya di sana, mereka terlebih dulu koordinasi dengan petugas kecamatan untuk mengetahui posisi terakhir buaya. Cuaca saat malam hari hujan dan air laut pasang tinggi, memaksa mereka untuk tidak turun ke lokasi.

Selasa  (30/1), setelah merundingkan dan istirahat cukup, tim bersama enam warga survey lokasi terakhir buaya terlihat dan lokasi pemasangan perangkap. “Kondisi lokasi dipengaruhi pasang surut  air laut, sehingga tidak dapat secara bebas melakukan aktivitas, pantai berupa tanah yang berlumpur sehingga tidak memungkinkan dari tim melakukan penangkapan manual pada buaya tersebut, karena begitu kami terperosok malah tidak bisa bergerak dan berbahaya bagi keselamatan,” ujarnya ketika berbincang-bincang dengan Kalteng Pos, kemarin.

Untuk perangkap, tim kesulitan menentukan titik lokasinya. Karena lebar sungai sekitar 100 meter. Di hari kedua ini, jangankan menangkap buaya, mereka baru bisa memasang perangkap. Umpan yang digunakan adalah itik dan monyet yang dibuat seolah-olah terjebak di kalang (alat tangkap ikan).Pada sore hari harinya setelah memasang perangkap dan umpan, tim bersama warga kembali ke desa untuk beristirahat. Dari desa terdekat ke lokasi, mereka harus menyusuri bibir laut dengan cuaca tidak bersahabat ditambah gelombang tinggi. Rabu (31/1), tim kembali menelusuri lokasi buaya pemangsa manusia. Mengecek umpan yang telah dipasang. Ternyata, sisa umpan tergeletak di atas permukaan tanah. Tim tercengang. Kuat dugaan  umpan dimakan biawak atau hewan lainnya yang ada di tempat tersebut.

Mereka kembali memasang umpan baru dan menata umpan yang hancur karena pasang. Hasilnya masih nihil. Sore hari, tim kembali ke desa. Berkunjung ke rumah istri Aman (30) pemuda yang tewas dimangsa buaya muara tersebut. Malam harinya, tim dan warga merencanakan pengecekan. Tetapi, lagi-lagi kondisi cuaca tidak bersahabat, bersamaan dengan fenomena super blue blood moon (gerhana bulan) membuat rencana tersebut gagal.

Kamis (1/2), tim mengulangi aktivitas sehari sebelumnya. Mengecek umpan. Dengan harapan buaya sudah terperangkap. Kali ini, umpan masih utuh dan masih berada di tempatnya.Hampir putus asa. Tim berpikir ulang lokasi buaya terakhir terlihat. Masih di lokasi yang sama atau sudah pergi. Setelah mempertimbangkan berdasarkan hasil umpan dan analisa lokasi, belum ada titik terang.Tim BKSDA pemburu buaya mulai angkat tangan. Mereka koordinasi dengan warga bahwa tidak dapat bertahan lebih lama di lokasi. Apalagi, ada beberapa laporan satwa liar lain seperti beruang di Tumbang Manggu, bayi orangutan di Tumbang Sanaman yang juga harus mendapatkan penanganan.

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Jumat (2/2) menjadi hari yang berkah bagi tim dan warga pemburu buaya. Umpan disambar buaya. Mendengar hal tersebut, tim langsung turun ke lokasi bersama warga lainnya.Sayangnya, sesampainya di lokasi perangkap, buaya sudah mati. Ada dugaan buaya dibunuh karena warga terlanjur kesal, karena telah memakan nelayan hingga meninggal. Setelah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan warga sekitar, buaya muara berjenis kelamin jantan tersebut dikuburkan di pinggir sungai, agar tidak menimbulkan bau busuk. (abe/dar)


BACA JUGA

Rabu, 10 Oktober 2018 13:07
Peserta Yacht Rally Wonderful Sail to Indonesia 2018 “Mencicipi” Budaya Kalteng

Menikmati Atraksi di Kampung Pelangi

Setelah puas menikmati kesenian dan budaya khas Dayak, turis mancanegara yang tergabung dalam tim yacht…

Selasa, 09 Oktober 2018 10:41
Melihat Pengembangan Pariwisata di Kobar

Tugu Palagan Sambi, Obyek Wisata Bernilai Sejarah

Destinasi wisata di Bumi Marunting Batu Aji—sebutan Kotawaringin Barat (Kobar), tidaklah sedikit.…

Senin, 08 Oktober 2018 09:25
Bambang, pemuda yang meresahkan Warga Kuala Pembuang

Pria Ini Berdoa Minta Gempa dari Atas Jembatan

Cari perhatian. Biar tenar. Momen gempa dianggap sebagai candaan. Hal itulah yang dilakukan Bambang.…

Senin, 01 Oktober 2018 10:42
Sinergitas Polri dan Insan Pers Demi Menciptakan Pemilu yang Damai

Junjung Tinggi Independensi Pemberitaan

Pemilu 2019 begitu rentan terhadap gesekan antar simpatisan. Belum lagi jika persaingan politik yang…

Sabtu, 29 September 2018 11:07
Taman Baca Baraoi, Membuka Mata dan Melihat Dunia (3/selesai)

Pindah Rumah agar Lebih Dekat Sekolah

No pain no gain.Secara harfiah bisa diartikan, tanpa rasa sakit, tidak akan mendapatkan sesuatu. Demikianlah…

Selasa, 25 September 2018 10:08
Delapan Tahun Terhambatnya Pembangunan 454 Tower SUTT

Siap Eksekusi, PLN dan Kejaksaan Kerja Sama

Sejak 2011, pembangunan 454 tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) tak kunjung menghubungkan Sampit…

Senin, 24 September 2018 10:00
Dua Hari Operasi Gabungan Penegakan Hukum Bidang Kelautan

Tim Gabungan Aman Satu Kapal Luar Kalteng

Satu unit kapal nelayan yang berasal dari luar Kalteng terjaring dalam operasi gabungan di wilayah laut…

Kamis, 20 September 2018 10:09
Diah Isma Khairani Paparkan Penelitiannya di Depan Sri Mulyani

Murid SD Sanggau, Peneliti Cilik Terunggul 2018

Semangat belajar menjadi kunci sukses. Meski tak punya waktu khusus belajar di rumah, Diah Isma Khairani…

Senin, 17 September 2018 09:50
Arif Rahman, Mempekerjakan 13 Saudaranya Menjadi Badut

Hasil Jukir dan Petugas Kebersihan untuk Beli Kostum

Banyak cara mengais rezeki halal. Ketimbang mencuri dan ditangkap polisi, tentu lebih baik apabila bisa…

Kamis, 13 September 2018 10:11
Cecep Juanda, Tuna Rungu yang Berjalan Kaki Keliling Indonesia

Mengampanyekan Kesehatan dan Persatuan

Kekurangan tak menjadi halangan. Meski dalam keterbatasan, mencoba meraih impian. Menjelajahi negara…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .