MANAGED BY:
SABTU
24 FEBRUARI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Minggu, 04 Februari 2018 08:12
Kisah Lima Hari Berburu Pemangsa Manusia
Tangkap Buaya dengan Umpan Itik dan Monyet
Warga bergotong royong bersama Tim BKSDA menguburkan buaya muara yang memakan manusia di sungai Sebangau Besar, Kabupaten Pulang Pisau, Jumat (2/1). //BKSDA FOR KALTENG POS

PROKAL.CO, Perburuan buaya pemakan manusia di Desa Sebangau Jaya, Pulang Pisau, membuahkan hasil. Buaya yang diyakini telah memakan korbannya tersebut, ditangkap dengan perangkap.

APRIANDO, Palangka Raya

SAAT ditangkap, buaya sudah dalam kondisi mati. Tetapi, masyarakat meyakini memang buaya tersebut yang memangsa Aman (30) hingga meninggal. Meninggalnya korban beberapa waktu lalu membuat nelayan lainnya sempat trauma. Kini mereka bisa sedikit lega. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng Adif Gunawan melalui Kepala Seksi Wilayah I Kalteng Junaidi Slamet Wibowo, mengatakan perburuan buaya muara itu diawali dari delapan tim berangkat ke Desa Sebangau Jaya, Senin (29/1) pukul 10.00 WIB.

Dengan mobil double cabin, mereka berangkat dari Palangka Raya menuju dermaga di Sebangau Kuala. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kelotok untuk bisa mencapai lokasi.Peralatan dibawa dari Palangka Raya, untuk memburu buaya tersebut, ada kandang kayu untuk melakukan evakuasi buaya jika tertangkap dalam keadaan hidup, tali tambang, tali sling, tali nilon, jeriken untuk pelampung umpan, camera, GPS dan lainnya.

Setelah lima jam perjalanan darat, ditambah dua jam menyusuri sungai, tim BKSDA sampai di lokasi sekitar pukul 16.30 WIB. Sesampainya di sana, mereka terlebih dulu koordinasi dengan petugas kecamatan untuk mengetahui posisi terakhir buaya. Cuaca saat malam hari hujan dan air laut pasang tinggi, memaksa mereka untuk tidak turun ke lokasi.

Selasa  (30/1), setelah merundingkan dan istirahat cukup, tim bersama enam warga survey lokasi terakhir buaya terlihat dan lokasi pemasangan perangkap. “Kondisi lokasi dipengaruhi pasang surut  air laut, sehingga tidak dapat secara bebas melakukan aktivitas, pantai berupa tanah yang berlumpur sehingga tidak memungkinkan dari tim melakukan penangkapan manual pada buaya tersebut, karena begitu kami terperosok malah tidak bisa bergerak dan berbahaya bagi keselamatan,” ujarnya ketika berbincang-bincang dengan Kalteng Pos, kemarin.

Untuk perangkap, tim kesulitan menentukan titik lokasinya. Karena lebar sungai sekitar 100 meter. Di hari kedua ini, jangankan menangkap buaya, mereka baru bisa memasang perangkap. Umpan yang digunakan adalah itik dan monyet yang dibuat seolah-olah terjebak di kalang (alat tangkap ikan).Pada sore hari harinya setelah memasang perangkap dan umpan, tim bersama warga kembali ke desa untuk beristirahat. Dari desa terdekat ke lokasi, mereka harus menyusuri bibir laut dengan cuaca tidak bersahabat ditambah gelombang tinggi. Rabu (31/1), tim kembali menelusuri lokasi buaya pemangsa manusia. Mengecek umpan yang telah dipasang. Ternyata, sisa umpan tergeletak di atas permukaan tanah. Tim tercengang. Kuat dugaan  umpan dimakan biawak atau hewan lainnya yang ada di tempat tersebut.

Mereka kembali memasang umpan baru dan menata umpan yang hancur karena pasang. Hasilnya masih nihil. Sore hari, tim kembali ke desa. Berkunjung ke rumah istri Aman (30) pemuda yang tewas dimangsa buaya muara tersebut. Malam harinya, tim dan warga merencanakan pengecekan. Tetapi, lagi-lagi kondisi cuaca tidak bersahabat, bersamaan dengan fenomena super blue blood moon (gerhana bulan) membuat rencana tersebut gagal.

Kamis (1/2), tim mengulangi aktivitas sehari sebelumnya. Mengecek umpan. Dengan harapan buaya sudah terperangkap. Kali ini, umpan masih utuh dan masih berada di tempatnya.Hampir putus asa. Tim berpikir ulang lokasi buaya terakhir terlihat. Masih di lokasi yang sama atau sudah pergi. Setelah mempertimbangkan berdasarkan hasil umpan dan analisa lokasi, belum ada titik terang.Tim BKSDA pemburu buaya mulai angkat tangan. Mereka koordinasi dengan warga bahwa tidak dapat bertahan lebih lama di lokasi. Apalagi, ada beberapa laporan satwa liar lain seperti beruang di Tumbang Manggu, bayi orangutan di Tumbang Sanaman yang juga harus mendapatkan penanganan.

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Jumat (2/2) menjadi hari yang berkah bagi tim dan warga pemburu buaya. Umpan disambar buaya. Mendengar hal tersebut, tim langsung turun ke lokasi bersama warga lainnya.Sayangnya, sesampainya di lokasi perangkap, buaya sudah mati. Ada dugaan buaya dibunuh karena warga terlanjur kesal, karena telah memakan nelayan hingga meninggal. Setelah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan warga sekitar, buaya muara berjenis kelamin jantan tersebut dikuburkan di pinggir sungai, agar tidak menimbulkan bau busuk. (abe/dar)


BACA JUGA

Sabtu, 24 Februari 2018 07:04
Pihak Sekolah Merasa Dilecehkan karena Kelasnya Dilempari Kotoran Manusia

Guru Mogok Mengajar dan Memasang Spanduk Unik

Info untuk siswa dan wali murid, orang yang anaknya tidak mau ditegur/dididik oleh guru SDN 2 Kubu,…

Sabtu, 24 Februari 2018 04:54
Kisah Kakek Syahrani, Pedagang Mainan Berkursi Roda (2)

Mantan Pelaut Handal, Pernah Menjelajah Hingga Malaysia

Sambil mengayuh kursi roda, kakek Syahrani menyusuri jalananan di Pangkalan Bun. Kaki yang sudah tidak…

Jumat, 23 Februari 2018 09:48
Kisah Kakek Syahrani, Pedagang Mainan Berkursi Roda (1)

Sempat Lima Hari Tidak Makan dan Minum

Sebelum lumpuh, Syahrani berkeliling dengan sepeda tuanya menawarkan dagangan ke kampung-kampung. Puluhan…

Kamis, 22 Februari 2018 09:52
Menelusuri Bekas Kampung Etnis Tionghoa di Kobar (3/Habis)

Tak Diperhatikan, Tetap Jadi Magnet Wisata Sejarah

Keunikan bangunan tua yang berdiri sejak ratusan tahun silam, serta melihat keseharian warga keturunan…

Rabu, 21 Februari 2018 09:16
Melihat Eksotis Taman Hutan Raya Lapak Jarum yang Memesona

Tebing dan Gua Menambah Keindahan Flora dan Fauna

Bumi Habangkalan Penyang Karuhei Tatau menyimpan banyak pemandangan alam yang membelalakkan mata. Topografi…

Selasa, 20 Februari 2018 09:13
Menelusuri Bekas Kampung Etnis Tionghoa di Kobar (1)

Sudah Berdiri sejak Zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit

Bangunan tua bergaya China tradisional yang konon telah berdiri sejak ratusan tahun silam itu, merupakan…

Jumat, 16 Februari 2018 10:54
Fakta Persidangan Dugaan Pembakaran Tujuh Gedung SD

Modus Minta Sumbangan sambil Memetakan Sekolah

Sidang perkara dugaan pembakaran tujuh gedung SD di PN Jakarta Barat, terus berlanjut. Sidang sebelumnya,…

Kamis, 15 Februari 2018 09:36
Ketika Membuka Lahan dengan Cara Dibakar Dilarang

Ratusan Hektare Lokasi Pertanian Sebuai Barat Terbengkalai

Larangan membuka lahan dengan cara dibakar, ternyata berdampak cukup besar bagi masyarakat, karena selama…

Selasa, 13 Februari 2018 10:30

Jaringan Pipa Terbengkalai, Air Tak Mengalir

Berharap Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), dapat mengatasi kesulitan…

Sabtu, 10 Februari 2018 08:11
Melirik Bisnis Budi Daya Madu Kelulut di Kobar (2/Habis)

Satu Liter Bisa Mencapai Rp600 Ribu

Potensi usaha budi daya madu kelulut di Kabupaten Kotawaringin Barat, masih berpeluang besar untuk dikembangkan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .