MANAGED BY:
RABU
14 NOVEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

LINTAS KALTENG

Jumat, 19 Januari 2018 07:36
Bocah Penderita Gizi Buruk Selalu Memanggil Ayahnya Sebelum Meninggal
Kondisi Yani saat masih hidup. //KOKO SULISTYO/KALTENG POS

PROKAL.CO, PANGKALAN BUN- Setelah tiga pekan mendapat perawatan intensif dari dokter, gadis cilik asal Pulau Soe, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu tak mampu bertahan dari penyakit komplikasi yang menggerogoti tubuhnya, ia meninggal Rabu (17/1) tepat pukul 18.30 WIB.  Mendung menggelayuti sal isolasi ruang Lanan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Imanuddin, Pangkalan Bun. Gadis kecil itu terbujur kaku di ranjang ruang Isolasi Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Imanuddin, Pangkalan Bun, jasad kasarnya (tubuh)  terbungkus kain batik berwarna cokelat. Tidak ada satupun sanak keluarga dan handai taulannya, hanya puluhan warga yang tergabung dalam Relawan Kobar yang menunggui jenazahnya.

Kereta dorong tak lama tiba ke ruangan itu, dua perawat berpakaian putih mengangkat tubuh kaku itu dan memindahkannya ke kereta dorong, untuk di bawa ke ruang jenazah rumah sakit. Yani Ato (6), gadis cilik yang didiagnosa dokter menderita Marasmus (gizi buruk) telah menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Meninggalnya Yani memukul perasaan ribuan warga Kobar yang bersimpati kepadanya terkhusus para Relawan Kobar yang selama Yani dirawat selalu mendampinginya.Pascaopname di RSUD Sultan Imanudin, kondisi kesehatan Yani sempat menunjukkan perkembangan positif, bobotnya terus meningkat, yang semula hanya 6 kilogram naik hingga 8 kilogram. 

Subuh, Rabu (10/1) merupakan kilas balik bagi perkembangan kesehatan Yani, pasalnya ayah angkatnya Antonius Ato (42) pergi meninggalkannya, tiga hari paska kepergian Antonius kesehatan Yani kerap drop, hape yang berisi konten film kartun kegemarannya juga tak mampu lagi membuatnya lupa akan ayah angkatnya yang selama ini merawatnya.

Sehari sebelum Yani menghembuskan napas terakhir, ia selalu memanggil ayahnya, psikologisnya goncang, karena sang ayah tak kunjung  kembali, sehingga penyakit komplikasi jantung dan paru yang dideritanya semakin hebat menyerangnya. Hingga akhirnya, sekitar pukul 17.00 WIB Yani kritis, ia sempat mendapat bantuan pernapasan, dan tim dokter pun sudah berupaya maksimal menyelamatkan nyawa Yani, tepat pukul 18.30 WIB, diawali muntah darah akhirnya Yani meninggal.

"Tepat jam 18.30 WIB, Yani meninggal, sebelumnya sempat kritis dan muntah darah," papar salah seorang relawan Kobar, yang akrab di sapa Udin Loteng kepada Kalteng Pos.

Pihak Rumah Sakit Sultan Imanuddin, Pangkalan Bun mengatakan bahwa setelah mendapat perawatan selama 19 hari pasien Yani dua hari sebelumnya sudah mengalami penurunan kondisi pasien, dipastikan dengan kondisi yang lemah dan daya tahan tubuh yang rendah Yani mendapatkan sakit baru yakni infeksi baru yang lazim disebut Sepsis."Sepsis ini adalah proses infeksi seluruh tubuh yang tidak mampu ditangani secara maksimal oleh tim dokter karena kondisi pasien yang lemah dan belum sembuh 100 persen," Terang Kasi Pelayanan RSUD Sultan Imanuddin, Hardiono.

Ia menjelaskan bahwa proses infeksi Sepsis yakni seluruh organ tubuh mengalami infeksi termasuk pembuluh darah juga mengalami infeksi sehingga muncul keluhan atau gejala seperti mimisan, gusi berdarah dan muntah darah. Sementara Isak tangis pecah saat jenazah Yani dimasukan ke liang lahat, Yani dimakamkan secara Katholik di pemakaman Katholik di jalan Ahmad Yani, KM 12, Kecamatan Arut Selatan, siang sekitar pukul 10.30 WIB, Kamis (18/1).Yani, diantarkan sejumlah Relawan termasuk Relawan Kobar, Relawan Lamandau, KNPI Kobar dan Dinsos serta perwakilan gereja, menggunakan mobil ambulance.

Begitu dekatnya sosok Yani dihati para relawan sehingga air mata relawan tak tertahankan saat proses pemakaman. Terlebih bagi Indra Alfian dari Relawan Kobar yang sejak awal selalu menemani Yani di rumah sakit, ia terus menangis bahkan saat Yani dinyatakan meninggal, Indra Alfian sempat pingsan. Menurut para Relawan Kobar, Yani sebelum meninggal minta dibelikan anting dan sepatu. Belum juga sempat dibelikan Yani sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Namun relawan tetap membelikan permintaan untuk dikenakan pada saat dimakamkan. (KOKO/ala/dar)


BACA JUGA

Rabu, 07 November 2018 09:50

Polisi Terus Buru Pelaku Penusukan

KUALA PEMBUANG - Hingga Selasa (6/11), pelaku penusukan terhadap Suladi…

Rabu, 07 November 2018 09:48

Banyak Ditemukan Pelanggar Melawan Arus

SAMPIT - Operasi Zebra Telabang 2018 yang digelar Polres Kotim…

Rabu, 07 November 2018 09:34

Rem Blong, Escudo Seruduk Traffic Light

SAMPIT - Kecelakaan tunggal terjadi di Jalan Achmad Yani, tepatnya…

Selasa, 06 November 2018 15:14

Kepala Dinas Meninggal Ketika Rapat BBM

SAMPIT-Berita duka dating dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kepala Dinas…

Senin, 05 November 2018 09:25

PATUT DICONTOH ! Uang Urunan Anggota Komunitas untuk Membantu Korban Kebakaran

BUNTOK- Hingga Sabtu (4/8) kemarin, bantuan bagi korban kebakaran Panti…

Kamis, 01 November 2018 10:19

24 Ditilang, Didominasi Anak di Bawah Umur

KUALA PEMBUANG - Hari pertama razia yang dikakukan Satuan Lalu…

Kamis, 01 November 2018 10:10

Kecelakaan Selalu Merenggut Korban Jiwa

PURUK CAHU-Masih cukup tingginya angka pelanggaran dan kecelakaan, memaksa aparat…

Selasa, 30 Oktober 2018 10:58

Kebanyakan Anak-anak, Bupati Minta Bantuan Dinkes Kalteng

Sudah 25 orang yang terdeteksi menderita Demam Bersarah Dengue (DBD).…

Selasa, 30 Oktober 2018 10:55

Dua Korban Tenggelam Berhasil Ditemukan

NANGA BULIK - Upaya tim gabungan yang terdiri dari Badan…

Kamis, 11 Oktober 2018 11:05

Seni dan Budaya Kalteng ke Pentas Internasional

PALANGKA RAYA-Malay Heritage Centre merupakan salah satu lembaga budaya Melayu.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .