MANAGED BY:
SELASA
18 DESEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Sabtu, 06 Januari 2018 11:42
Mengenal Kayu Halaban, Tanaman Liar di Tanah Dayak
Bisa Sembuhkan Amandel hingga Tahan Lama Urusan Ranjang
Gusti Salsabila bersama temannya Sabrina Salwa Sabila ketika melakukan uji laboratorium kulit kayu halaban di Kalteng, beberapa waktu lalu. //DOKUMENTASI PRIBADI GUSTI SALSABILA

PROKAL.CO, Percaya atau tidak, kulit kayu halaban (dalam bahasa Dayak disebut kayu kalapapa) memiliki khasiat ampuh. Konon katanya, sejak dulu sudah digunakan oleh masyarakat Dayak di Kalteng untuk menyembuhkan sakit tenggorokan yang disebut amandel. Bahkan disebutkan bisa tahan lama urusan ranjang.

AZUBA, Palangka Raya

HALABAN. Kulit kayunyaberwarnacokelat kehitaman. Pohon ini tumbuh besar sekali, karena masuk katregori tumbuhan liar. Biasanya kayu dari pohon halaban ini digunakan untuk membuat kapal, karena konstruksi kayunya kuat, kadang juga untuk kayu bakar.Di balik itu semua, kulit kayu halaban, sejak dulu digunakan untuk mengobati sakit tenggorokan, yang disebut dengan amandel. Tak dipungkiri, Dayak punya banyak obat-obatan tradisional dari tumbuh-tumbuhan. Hanya saja, masih belum dibuktikan dengan sains. Ada juga yang mengira, obat-obatan dari tumbuhan itu dibantu dengan kekuatan magic.

Berawal dari rasa penasaran dengan kayu tersebut, ditambah adanya kompetisi lomba penelitian, dua dara dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Gusti Salsabila dan Sabrina Salwa Sabila melakukan penelitian tentang halaban, yang dalam bahasa Dayak disebut kalapapa. Akhir tahun 2016, jiwa mereka terpanggil untuk membuktikanya dengan sains.

Saat itu, ada salah satu guru mereka bernama Junjung, yang merupakan orang Dayak asli, memberitahukan keberadaan dan manfaat kalapapa itu. Biasanya, orang Dayak mengonsumsi halaban itu dengan cara, kulit kayu dipisahkan dari pohonnya. Kulit luar dari kayu itu dibersihkan tipis, dicuci air sebentar lalu direbus. Hasilnya seperti air teh. Air rebusan kulit kayu itu bisa langsung diminum. 

“Guru saya bilang, biasanya orang Dayak menggunakan kalapapa untuk atasi radang tenggorokan. Kebetulan Pak Junjung juga pengguna kulit kayu halaban tersebut. Saat kita uji coba langsung ketiga penyebab bakteri amandel, hasilnya positif, bakterinya mati,” kata Gusti Salsabila kepada Kalteng Pos, Jumat (5/1).

Setelah melakukan penelitian, ternyata air rebusannya dapat menjadi antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab amandel. Di balik keberhasilan meneliti, banyak kesulitan yang dilalui dua dara ini. Karena alat bahan meneliti di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kotim sangat minim. Selain itu, karena untuk informasi awal, tidak ada sama sekali tentang kayu halaban itu, maka dia bersama Sabrina Salwa Sabila, teman penelitiannya, benar-benar harus menggali dan mengambil sampel kulit kayu itu yang tumbuh liar di Kecamatan Kotabesi. Dengan bekal itu, keduanya mengikuti lomba peneliti belia tingkat provinsi.

Lomba itu pertama kali baginya. Awalnya ada rasa minder, ketika lomba tingkat provinsi. Apalagi ketika beradu dengan siswa di Palangka Raya. “Menurut saya, penelitian mereka oke banget, tapi malah kita juara I,” ungkap Gusti Salsabila yang sering disapa Salsa itu.

Setelah mengikuti lomba peneliti belia tingkat nasional di Jakarta, mereka mendapatkan silver medali dengan penelitian yang sama. Setelah itu, ada pembinaan di Bandung dan Jakarta, untuk mengikuti lomba tingkat internasional di Jerman. Saat itu ada 6 tim dari Indonesia. “Saat pembinaan, diajarkan agar lebih mendalami penelitian kita. Sebelumnya kami tahu, kandungan kalapapa itu apa saja dan tidak tahu bisa membunuh apa saja. Saat itu kita juga mencari responden untuk diwawancara,” tambahnya,

Mereka pun mengikuti lomba ICYS tingkat internasional di Jerman pada April 2017. Lomba yang digelar hampir sama, ada poster sesion, yakni juri melihat satu per satu stan penelitiannya, lalu mereka menjelaskan apa saja penelitiannya. Hari berikutnya presentasi, dan hari ketiga barulah pengumuman. Saat itu mereka mendapatkan penghargaan spesial award. “Penghargaan khusus ini, karena juri tertarik terhadap penelitian kita, karena tidak biasa. Karena kita membawanya dalam keadaan yang suasana Dayak kental, dan di Jerman tidak tahu apa itu Dayak, karena kita membawa muatan lokal Dayak,” akuinya. 

Menurut Salsa, penelitian itu adalah penemuan. Karena sebelumnya, belum ada yang meneliti ini, makanya mereka hanya meneliti saja. Jika ada yang pernah meneliti, maka mereka bisa langsung uji klinis.“Klinis itu untuk mematennya untuk sebuah obat. Karena  kita sudah kelas III dan mau ujian, jadi kita setop dulu menelitinya. Kami harap penelitian kami bisa dikembangkan lagi oleh orang lain. Kita setop penelitiannya, karena mau masuk kuliah. Rencannya mau mengambil jurusan kesehatan masyarakat, kalau Sabrina mau masuk kedokteran,” kata siswa SMAN 1 Sampit ini.

Sejauh ini penelitian mereka hanya sebatas untuk mencari potensi, apakah kulit halaban bisa menjadi antibiotik untuk amandel. Selanjutnya belum bisa diketahui apa saja manfaatnya. Tapi kemungkinan besar ada manfaat lainnya karena bersifat antibiotik. Di beberapa kalangan, kulit kayu halaban ini juga dikenal untuk tahan lama urusan di atas ranjang. (dar/bersambung)


BACA JUGA

Jumat, 07 Desember 2018 14:30
Mengikuti Sidang Tipikor Mantan Kepala BPN Kotim Jamaludin

Terdakwa dan Saksi Saling Membantah

Kepada para saksi yang dihadirkan, sang hakim bertanya: “Apakah blanko…

Kamis, 06 Desember 2018 14:58
BPOM Turun Tangan, Ratusan Obat dan Kosmetik Disita

Pedagang Mengaku Tak Tahu, Asli Atau Palsu

Masyarakat Kotawaringin Barat (Kobar) harus berhati-hati saat membeli atau memakai…

Jumat, 16 November 2018 16:13
Menengok Semangat Anak Panti Asuhan

Ada yang Sarjana, dan Jadi Manajer di Perusahaan

Suasana berbeda saat menengok aktivitas anak-anak di Panti Asuhan Annida…

Senin, 12 November 2018 09:44
Melihat Cara KPU Melindungi Suara Pemilih Milenial

Tak Masuk DPT, Malah Dikasih Hadiah

Pesta demokrasi akan digelar tahun depan. Masih lama. Banyak waktu…

Jumat, 09 November 2018 11:56
Menari Bersama Manekin dan Nekat Keliling Nusantara

Sekali Tampil Meraup Rp 700 Ribu

Menari dengan manekin atau boneka manusia, terdengar biasa saja. Namun,…

Kamis, 08 November 2018 10:33
Ketika Kasatbinmas Polres Kobar Jadi Irup di SMAN 2 Pangkalan Bun

Sosialisasi Saber Pungli, Wawasan Nusantara dan Narkoba

Pemandangan berbeda terlihat di SMAN 2 Pangkalan Bun. Kalau biasanya…

Selasa, 06 November 2018 15:24
Cara Membuat Batik Unik dan Menarik Khas Kalteng (1)

Berbahan Getah Daun Ulin dan Mawar

Batik memang lebih terkenal di Pulau Jawa. Tapi siapa sangka,…

Kamis, 01 November 2018 09:41
Dari Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Sopir Travel di Sampit

KEJAM..!! Ada 15 Adegan, Korban Sempat Dipukuli Lalu Dibuang ke Sungai Mentaya

Ada 15 adegan yang diperagakan tersangka pelaku dalam rekonstruksi kasus…

Sabtu, 13 Oktober 2018 11:49
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (2/Selesai)

Belajar Dalang karena Sering Ikut Orang Tua

Wayang,sebuah seni pertunjukan dengan memainkan tokoh-tokoh kerajaan masa lalu. Merupakan…

Jumat, 12 Oktober 2018 10:20
Melihat Prosesi Ruwatan Sukerta dan Pergelaran Wayang Kulit (1)

Tak Ada Danau, Sumber Air Diambil dari Tujuh Rumah

Sukerta, dalam bahasa Jawa adalah orang yang dianggap memiliki aib atau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .