MANAGED BY:
RABU
20 JUNI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Sabtu, 06 Januari 2018 11:42
Mengenal Kayu Halaban, Tanaman Liar di Tanah Dayak
Bisa Sembuhkan Amandel hingga Tahan Lama Urusan Ranjang
Gusti Salsabila bersama temannya Sabrina Salwa Sabila ketika melakukan uji laboratorium kulit kayu halaban di Kalteng, beberapa waktu lalu. //DOKUMENTASI PRIBADI GUSTI SALSABILA

PROKAL.CO, Percaya atau tidak, kulit kayu halaban (dalam bahasa Dayak disebut kayu kalapapa) memiliki khasiat ampuh. Konon katanya, sejak dulu sudah digunakan oleh masyarakat Dayak di Kalteng untuk menyembuhkan sakit tenggorokan yang disebut amandel. Bahkan disebutkan bisa tahan lama urusan ranjang.

AZUBA, Palangka Raya

HALABAN. Kulit kayunyaberwarnacokelat kehitaman. Pohon ini tumbuh besar sekali, karena masuk katregori tumbuhan liar. Biasanya kayu dari pohon halaban ini digunakan untuk membuat kapal, karena konstruksi kayunya kuat, kadang juga untuk kayu bakar.Di balik itu semua, kulit kayu halaban, sejak dulu digunakan untuk mengobati sakit tenggorokan, yang disebut dengan amandel. Tak dipungkiri, Dayak punya banyak obat-obatan tradisional dari tumbuh-tumbuhan. Hanya saja, masih belum dibuktikan dengan sains. Ada juga yang mengira, obat-obatan dari tumbuhan itu dibantu dengan kekuatan magic.

Berawal dari rasa penasaran dengan kayu tersebut, ditambah adanya kompetisi lomba penelitian, dua dara dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Gusti Salsabila dan Sabrina Salwa Sabila melakukan penelitian tentang halaban, yang dalam bahasa Dayak disebut kalapapa. Akhir tahun 2016, jiwa mereka terpanggil untuk membuktikanya dengan sains.

Saat itu, ada salah satu guru mereka bernama Junjung, yang merupakan orang Dayak asli, memberitahukan keberadaan dan manfaat kalapapa itu. Biasanya, orang Dayak mengonsumsi halaban itu dengan cara, kulit kayu dipisahkan dari pohonnya. Kulit luar dari kayu itu dibersihkan tipis, dicuci air sebentar lalu direbus. Hasilnya seperti air teh. Air rebusan kulit kayu itu bisa langsung diminum. 

“Guru saya bilang, biasanya orang Dayak menggunakan kalapapa untuk atasi radang tenggorokan. Kebetulan Pak Junjung juga pengguna kulit kayu halaban tersebut. Saat kita uji coba langsung ketiga penyebab bakteri amandel, hasilnya positif, bakterinya mati,” kata Gusti Salsabila kepada Kalteng Pos, Jumat (5/1).

Setelah melakukan penelitian, ternyata air rebusannya dapat menjadi antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab amandel. Di balik keberhasilan meneliti, banyak kesulitan yang dilalui dua dara ini. Karena alat bahan meneliti di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kotim sangat minim. Selain itu, karena untuk informasi awal, tidak ada sama sekali tentang kayu halaban itu, maka dia bersama Sabrina Salwa Sabila, teman penelitiannya, benar-benar harus menggali dan mengambil sampel kulit kayu itu yang tumbuh liar di Kecamatan Kotabesi. Dengan bekal itu, keduanya mengikuti lomba peneliti belia tingkat provinsi.

Lomba itu pertama kali baginya. Awalnya ada rasa minder, ketika lomba tingkat provinsi. Apalagi ketika beradu dengan siswa di Palangka Raya. “Menurut saya, penelitian mereka oke banget, tapi malah kita juara I,” ungkap Gusti Salsabila yang sering disapa Salsa itu.

Setelah mengikuti lomba peneliti belia tingkat nasional di Jakarta, mereka mendapatkan silver medali dengan penelitian yang sama. Setelah itu, ada pembinaan di Bandung dan Jakarta, untuk mengikuti lomba tingkat internasional di Jerman. Saat itu ada 6 tim dari Indonesia. “Saat pembinaan, diajarkan agar lebih mendalami penelitian kita. Sebelumnya kami tahu, kandungan kalapapa itu apa saja dan tidak tahu bisa membunuh apa saja. Saat itu kita juga mencari responden untuk diwawancara,” tambahnya,

Mereka pun mengikuti lomba ICYS tingkat internasional di Jerman pada April 2017. Lomba yang digelar hampir sama, ada poster sesion, yakni juri melihat satu per satu stan penelitiannya, lalu mereka menjelaskan apa saja penelitiannya. Hari berikutnya presentasi, dan hari ketiga barulah pengumuman. Saat itu mereka mendapatkan penghargaan spesial award. “Penghargaan khusus ini, karena juri tertarik terhadap penelitian kita, karena tidak biasa. Karena kita membawanya dalam keadaan yang suasana Dayak kental, dan di Jerman tidak tahu apa itu Dayak, karena kita membawa muatan lokal Dayak,” akuinya. 

Menurut Salsa, penelitian itu adalah penemuan. Karena sebelumnya, belum ada yang meneliti ini, makanya mereka hanya meneliti saja. Jika ada yang pernah meneliti, maka mereka bisa langsung uji klinis.“Klinis itu untuk mematennya untuk sebuah obat. Karena  kita sudah kelas III dan mau ujian, jadi kita setop dulu menelitinya. Kami harap penelitian kami bisa dikembangkan lagi oleh orang lain. Kita setop penelitiannya, karena mau masuk kuliah. Rencannya mau mengambil jurusan kesehatan masyarakat, kalau Sabrina mau masuk kedokteran,” kata siswa SMAN 1 Sampit ini.

Sejauh ini penelitian mereka hanya sebatas untuk mencari potensi, apakah kulit halaban bisa menjadi antibiotik untuk amandel. Selanjutnya belum bisa diketahui apa saja manfaatnya. Tapi kemungkinan besar ada manfaat lainnya karena bersifat antibiotik. Di beberapa kalangan, kulit kayu halaban ini juga dikenal untuk tahan lama urusan di atas ranjang. (dar/bersambung)


BACA JUGA

Sabtu, 12 Mei 2018 10:05
Toni Ardiyanto, Remaja 14 Tahun dengan Berat Badan 9 Kilogram

Diduga Gizi Buruk sampai Terminum Air Ketuban

Keluarga Suyatno (53) dan Suyati (36) dikaruniai anak pertama mereka bernama Toni Ardiyanto. Namun,…

Sabtu, 07 April 2018 07:49
Ketika Warung Goyang Seberang Vihara Ditutup Paksa

Kini, Pengguna Jalan Tak Lagi Curi-curi Pandang

Keluhan masyarakat akhirnya dijawab Satpol PP Palangka Raya. Warung goyang yang ada di pinggiran Jalan…

Sabtu, 31 Maret 2018 07:10
Sengsaranya Melalui Kubangan Lumpur di Jalan Kolam-Pangkalan Bun

Melewati 10 Meter Serasa 300 Kilometer

Puluhan kendaraan roda empat tak bergeming dari tempatnya. Hanya mesinnya menyala. Ada juga memilih…

Jumat, 30 Maret 2018 10:19

Pak Bo, Penjaga Pintu Rahim Masupa Ria

Tenaga kesehatan di Desa Masupa Ria sangat terbatas. Tidak ada bidan maupun perawat, apalagi dokter.…

Kamis, 29 Maret 2018 09:51
Masupa Ria, “Lumbung” Emas yang Terlupakan (3/habis)

Janji Manis Pemda Sedikit Mengurangi Tangis

Tradisi, potensi dan cita-cita sampai mati di desa menjadi roda kehidupan yang pasti. Pilihannya, bertahan…

Rabu, 28 Maret 2018 09:30
Masupa Ria, “Lumbung” Emas yang Terlupakan (2)

Kasek Hanya Setahun Sekali ke Sekolah

Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Masupa Ria dihuni 17 murid. Ada tiga guru berstatus honorer. Bagi mereka,…

Selasa, 27 Maret 2018 09:48
Masupa Ria, Lumbung Emas yang Terlupakan (1)

Jangankan Bantuan, Wajah Bupati pun Tak Tahu

Era 80-an, Desa Masupa Ria menjadi magnet kuat bagi mereka yang berburu bongkahan emas. Kejayaan itu…

Minggu, 25 Maret 2018 07:32
Senja Kala Lokasi Prostitusi Dukuh Mola (2)

Ratusan PSK Tak Mampu Bayar Hutang ke Muncikari

Kebijakan penutupan lokasi prostitusi memukul perekonomian di kawasan itu, sehingga perputaran uang…

Selasa, 20 Maret 2018 09:55
Ziarah Rohani ke Yerusalem-Mesir 11 Hari Bersama Rich Tour (10/Habis)

Doa Orang Percaya Pindahkan Gunung

Perjalanan atau ziarah rohani Yerusalem-Mesir 11 Hari bersama Rich Tour ditutup dengan tiga hari di…

Rabu, 14 Maret 2018 07:43
Ziarah Rohani ke Yerusalem-Mesir 11 Hari Bersama Rich Tour (4)

Sulitnya Masuk ke Negeri Perjanjian

Oh.. Yerusalem, Kota Mulia, hatiku rindu ke sana… Itulah sepenggal lagu yang menggambarkan keinginan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .