MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Sabtu, 06 Januari 2018 11:42
Mengenal Kayu Halaban, Tanaman Liar di Tanah Dayak
Bisa Sembuhkan Amandel hingga Tahan Lama Urusan Ranjang
Gusti Salsabila bersama temannya Sabrina Salwa Sabila ketika melakukan uji laboratorium kulit kayu halaban di Kalteng, beberapa waktu lalu. //DOKUMENTASI PRIBADI GUSTI SALSABILA

PROKAL.CO, Percaya atau tidak, kulit kayu halaban (dalam bahasa Dayak disebut kayu kalapapa) memiliki khasiat ampuh. Konon katanya, sejak dulu sudah digunakan oleh masyarakat Dayak di Kalteng untuk menyembuhkan sakit tenggorokan yang disebut amandel. Bahkan disebutkan bisa tahan lama urusan ranjang.

AZUBA, Palangka Raya

HALABAN. Kulit kayunyaberwarnacokelat kehitaman. Pohon ini tumbuh besar sekali, karena masuk katregori tumbuhan liar. Biasanya kayu dari pohon halaban ini digunakan untuk membuat kapal, karena konstruksi kayunya kuat, kadang juga untuk kayu bakar.Di balik itu semua, kulit kayu halaban, sejak dulu digunakan untuk mengobati sakit tenggorokan, yang disebut dengan amandel. Tak dipungkiri, Dayak punya banyak obat-obatan tradisional dari tumbuh-tumbuhan. Hanya saja, masih belum dibuktikan dengan sains. Ada juga yang mengira, obat-obatan dari tumbuhan itu dibantu dengan kekuatan magic.

Berawal dari rasa penasaran dengan kayu tersebut, ditambah adanya kompetisi lomba penelitian, dua dara dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Gusti Salsabila dan Sabrina Salwa Sabila melakukan penelitian tentang halaban, yang dalam bahasa Dayak disebut kalapapa. Akhir tahun 2016, jiwa mereka terpanggil untuk membuktikanya dengan sains.

Saat itu, ada salah satu guru mereka bernama Junjung, yang merupakan orang Dayak asli, memberitahukan keberadaan dan manfaat kalapapa itu. Biasanya, orang Dayak mengonsumsi halaban itu dengan cara, kulit kayu dipisahkan dari pohonnya. Kulit luar dari kayu itu dibersihkan tipis, dicuci air sebentar lalu direbus. Hasilnya seperti air teh. Air rebusan kulit kayu itu bisa langsung diminum. 

“Guru saya bilang, biasanya orang Dayak menggunakan kalapapa untuk atasi radang tenggorokan. Kebetulan Pak Junjung juga pengguna kulit kayu halaban tersebut. Saat kita uji coba langsung ketiga penyebab bakteri amandel, hasilnya positif, bakterinya mati,” kata Gusti Salsabila kepada Kalteng Pos, Jumat (5/1).

Setelah melakukan penelitian, ternyata air rebusannya dapat menjadi antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab amandel. Di balik keberhasilan meneliti, banyak kesulitan yang dilalui dua dara ini. Karena alat bahan meneliti di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kotim sangat minim. Selain itu, karena untuk informasi awal, tidak ada sama sekali tentang kayu halaban itu, maka dia bersama Sabrina Salwa Sabila, teman penelitiannya, benar-benar harus menggali dan mengambil sampel kulit kayu itu yang tumbuh liar di Kecamatan Kotabesi. Dengan bekal itu, keduanya mengikuti lomba peneliti belia tingkat provinsi.

Lomba itu pertama kali baginya. Awalnya ada rasa minder, ketika lomba tingkat provinsi. Apalagi ketika beradu dengan siswa di Palangka Raya. “Menurut saya, penelitian mereka oke banget, tapi malah kita juara I,” ungkap Gusti Salsabila yang sering disapa Salsa itu.

Setelah mengikuti lomba peneliti belia tingkat nasional di Jakarta, mereka mendapatkan silver medali dengan penelitian yang sama. Setelah itu, ada pembinaan di Bandung dan Jakarta, untuk mengikuti lomba tingkat internasional di Jerman. Saat itu ada 6 tim dari Indonesia. “Saat pembinaan, diajarkan agar lebih mendalami penelitian kita. Sebelumnya kami tahu, kandungan kalapapa itu apa saja dan tidak tahu bisa membunuh apa saja. Saat itu kita juga mencari responden untuk diwawancara,” tambahnya,

Mereka pun mengikuti lomba ICYS tingkat internasional di Jerman pada April 2017. Lomba yang digelar hampir sama, ada poster sesion, yakni juri melihat satu per satu stan penelitiannya, lalu mereka menjelaskan apa saja penelitiannya. Hari berikutnya presentasi, dan hari ketiga barulah pengumuman. Saat itu mereka mendapatkan penghargaan spesial award. “Penghargaan khusus ini, karena juri tertarik terhadap penelitian kita, karena tidak biasa. Karena kita membawanya dalam keadaan yang suasana Dayak kental, dan di Jerman tidak tahu apa itu Dayak, karena kita membawa muatan lokal Dayak,” akuinya. 

Menurut Salsa, penelitian itu adalah penemuan. Karena sebelumnya, belum ada yang meneliti ini, makanya mereka hanya meneliti saja. Jika ada yang pernah meneliti, maka mereka bisa langsung uji klinis.“Klinis itu untuk mematennya untuk sebuah obat. Karena  kita sudah kelas III dan mau ujian, jadi kita setop dulu menelitinya. Kami harap penelitian kami bisa dikembangkan lagi oleh orang lain. Kita setop penelitiannya, karena mau masuk kuliah. Rencannya mau mengambil jurusan kesehatan masyarakat, kalau Sabrina mau masuk kedokteran,” kata siswa SMAN 1 Sampit ini.

Sejauh ini penelitian mereka hanya sebatas untuk mencari potensi, apakah kulit halaban bisa menjadi antibiotik untuk amandel. Selanjutnya belum bisa diketahui apa saja manfaatnya. Tapi kemungkinan besar ada manfaat lainnya karena bersifat antibiotik. Di beberapa kalangan, kulit kayu halaban ini juga dikenal untuk tahan lama urusan di atas ranjang. (dar/bersambung)


BACA JUGA

Senin, 17 September 2018 09:50
Arif Rahman, Mempekerjakan 13 Saudaranya Menjadi Badut

Hasil Jukir dan Petugas Kebersihan untuk Beli Kostum

Banyak cara mengais rezeki halal. Ketimbang mencuri dan ditangkap polisi, tentu lebih baik apabila bisa…

Kamis, 13 September 2018 10:11
Cecep Juanda, Tuna Rungu yang Berjalan Kaki Keliling Indonesia

Mengampanyekan Kesehatan dan Persatuan

Kekurangan tak menjadi halangan. Meski dalam keterbatasan, mencoba meraih impian. Menjelajahi negara…

Senin, 10 September 2018 11:01
Mengikuti Aqiqah dan Tasmiyah Putri Gubernur Kalteng

Diberi Nama Nayla, Doa Menjadi Anak Soleha

Setelah satu bulan terlahir ke dunia, putri kecil dari pasangan Gubernur Kalteng, H Sugianto Sabran…

Jumat, 31 Agustus 2018 10:29
Abib Habibi Igal, Penata Tari Terbaik Parade Tari Nusantara 2018 (2/selesai)

Apapun Terjadi, Harus Tetap Cantik

Panggung Sasono Langen Budoyo menjadi saksi. Peluh keringat terbayar, ketika riuh penonton terhibur…

Kamis, 30 Agustus 2018 09:49
Abib Habibi Igal, Penata Tari Terbaik Parade Tari Nusantara 2018 (1)

Berawal dari Mimpi dan Motivasi, Kini Ciptakan 15 Karya Tari

Gelaran Parade Tari Nusantara (PTN) ke-37 tahun 2018, memberi kesan tersendiri bagi Abib Habibi Igal.…

Selasa, 28 Agustus 2018 09:38
Mengenal Adelia, Mahasiswi Pegiat Seni Lukis Mandala dan Body Painting

Bergelut Kuas sejak SD, Lukisan Terjual hingga Jutaan

Melukis di dinding, sudah biasa dilakukannya. Mulai dari menggambar bunga, tulisan, hingga mandala.…

Jumat, 24 Agustus 2018 12:05
Melihat Eksistensi Perajin Alat Musik Tradisional Kalteng

Minim Peminat, Andalkan Jejaring online

Perajin alat musik maupun perajin pernak-pernik khas Kalteng, sudah jarang ditemukan di Palangka Raya.…

Kamis, 23 Agustus 2018 09:51
Mengenal Cupang Air Tawar dan Penggemarnya (2/Selesai)

Seharga Rp5 Ribu Menjadi Rp200 Ribu

Setiap orang memiliki alasan tersendiri terhadap hobinya masing-masing. Termasuk seorang penghobi ikan…

Selasa, 21 Agustus 2018 10:24
Mengenal Cupang Air Tawar dan Penggemarnya (1)

Terkadang Rewel dan Merepotkan

Mungil. Cantik. Dan indah. Itulah gambaran ikan cupang. Ikan air tawar dengan berbagai warna dan motif…

Senin, 20 Agustus 2018 09:43
Cara Wali Kota Palangka Raya Terpilih Serap Aspirasi Masyarakat

Kota Cantik “Banjir” Harapan

Banyak cara demi mendapat masukan dan saran untuk pembangunan. Seperti memanfaatkan media sosial. Itulah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .