MANAGED BY:
SELASA
24 OKTOBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

ARTIKEL

Senin, 18 September 2017 14:38
Beautiful Monday

Disiplin yang Terpaksa

Oleh; Agus Pramono (Redaktur)

PROKAL.CO, CERITA tentang hari Senin sering digambarkan kecemasan bahkan kegalauan. Senin menjadi hari pertama masuk kerja bagi mereka yang memiliki lima hari kerja. Senin bisa menjadi hari libur bagi mereka yang bekerja dengan sistem sift.

Tetapi, tak ubahnya paradigma, semua hari adalah baik. Kegalauan maupun kecemasan di hari Senin tergambar jelas dalam lagu “Rainy Days and Mondays” oleh The Carpenters. Bahkan, Bob Geldof dan The Boomtown Rats punya lagu “I Don’t Like Mondays” yang menceritakan kebenciannya tentang hari Senin.

Padahal, seharusnya di hari Senin lah menjadi awal menata ulang mood dan feeling lebih baik dari pekan lalu. Sehingga mulai Senin ini dan ke depan lebih baik lagi. Lebih disiplin dan lebih produktif berkarya di tempat kerja.

Sebelum masuk ke pembahasan, saya mau jujur. Saya ulangi, saya mau jujur kalau saya bukan orang yang disiplin. Saya juga bukan orang yang tidak disiplin. Kenapa? Karena bagi saya disiplin menjadi suatu keterpaksaan. Hahaha.

Disiplin terpaksa yang saya lakukan perlahan akan coba saya kurangi. Meski mendisiplinkan diri sangatlah sulit. Hambatannya banyak. Ruwet. Terbentur dengan kebiasaan. Kerap menyalahkan aturan yang kurang tegas. Akhirnya, berujung pada kegagalan.

Contoh sepele disiplin terpaksa dari saya, sulit sekali meninggalkan celana sebut saja Jeans yang sudah robek. Kalau robeknya motif dari toko sih nggak masalah. Masih terlihat rapi.

Celana saya robek dengan sendirinya. Robek oleh saking lamanya dipakai. Letak robekan ada tepat di lutut. Lama kelamaan merembet ke paha.

Memakai celana tanpa robekan bisa dihitung dalam sebulan. Apalagi celana berbahan kain. Sebulan belum tentu berpindah dari lipatan di lemari. Kalaupun memakainya, itu menjadi keterpaksaan lagi bagi saya. Hehehe.

Beberapa hari lalu, menjadi tiga hari sangat berkesan bagi saya. Mengikuti kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PK2MB) di Universitas PGRI selaku Mahasiswa Baru (Maba). Banyak pelajaran tentang disiplin yang membuat saya sedikit tersadar.

Hal pertama yang saya petik pentingnya disiplin terlihat saat upacara pembukaan PK2MB. Molor setengah jam dari jadwal pukul 07.00 WIB. Gara-gara satu peserta laki-laki, Glori, belum datang. Padahal tugasnya sangat vital. Menjadi perwakilan satu dari dua peserta yang mendapat pengalungan tanda peserta dari rektor Universitas PGRI sebagai tanda dibukanya kegiatan PK2MB.

Pembina, Suyatno, dibuat binggung. Sempat menggerutu. Wajar sih sikapnya begitu. Karena sehari sebelumnya sudah dilatih Peraturan Baris Berbaris (PBB). Mulai dari cara menjaga kekompakan. Cara berjalan. Cara jalan di tempat. Haluan kiri, kanan dan kata yang harus diucapkan di hadapan inspektur upacara.

“Bagaimana ini? Sudah dilatih kok malah nggak datang,” cetusnya sambil menggelengkan kepalanya.

Tidak disiplin ternyata bisa merugikan banyak orang. Contohnya ya itu tadi.

Dia memutuskan mencari pengganti. Dapat. Namanya Jay yang mendampingi Yusi. Tapi harus mengulang latihan dari nol. Memakan waktu. Saya dan puluhan peserta lainnya juga tambah capek. Tetap berdiri sambil melihat mereka berlatih.

Semangat kedua pemuda itu patut diberi applause. Di waktu yang singkat itu, mereka bisa. Peserta upacara menghela napas lega. Meski, dalam pelaksanaannya belum sempurna.

Tugas saya selaku peserta upacara lebih mudah. Cuma empat gerakan saja. Siap, istirahat di tempat, hormat dan menunduk saat berdoa. Mendisiplinkan diri waktu upacara berlangsung juga susah. Bagi yang tak terbiasa seperti saya.

Ada saja gerakan-gerakan tak terduga. Garuk-garuk. Kaki goyang-goyang. Ngobrol. Banyak deh. Silakan dilengkapi sesuai dengan pengalaman masing-masing.

PK2MB itu memang penting. Ada hal baru lagi soal disiplin. Yakni posisi duduk siap. Istilah apa lagi ini? Yang saya tahu cuma duduk sopan.

Pembina Suyatno, yang juga anggota TNI berdinas di Kodim 1016/Palangka Raya, mempraktikkan di hadapan peserta PK2MB. Badan tegak. Tangan mengepal taruh di atas lutut. Kaki berdiri seimbang, jangan terlalu melebar. Begitulah gambarannya. Bisa dicoba langsung bagaimana rasanya.

Kembali lagi ke disiplin terpaksa. Mungkin banyak orang sudah pernah melakukannya. Kalaupun tidak pernah, paling tidak pernah melihatnya. Contoh paling gampang dan sering dijumpai adalah ulah pengendara kendaraan bermotor.

Kalau melihat polisi lalu lintas (Polantas) di persimpangan, sabuk pengaman bergegas dikaitkan. Helm diklik. Jalan pelan-pelan pada jalurnya. Traffic light menunjukkan warna kuning menyala atau baru berpindah ke warna merah, sudah berhenti.

Coba kalau nggak ada polantas, bagaimana? Jawab sendiri ya. Nah, kalau sudah ditilang, seribu jurus dikeluarkan agar polantas merasa iba dan melepasnya.

Yuk, sama- sama menjadi disiplin di sekolah, tempat kerja, di jalan raya dan di mana saja. Saya percaya, lama kelamaan disiplin terpaksa menjadi kebiasaan disiplin. Ubah siklus disiplin terpaksa menjadi disiplin terbiasa. Meski, sekali lagi saya tegaskan, mendisiplinkan diri sangatlah sulit. Butuh konsistensi. Butuh kemauan. Butuh banyak hal di luar kebiasaan.

Saya sendiri akan pelan-pelan meninggalkan celana robek-robek yang saya miliki. Yakin bisa. Mengubah kecemasan di hari Senin menjadi Beautiful Monday, juga bisa. Ubah paradigma. Ganti kata cemas dan suram menjadi bahagia dan indahnya hari Senin. Biasakan dengan disiplin! (*/c3)


BACA JUGA

Senin, 04 September 2017 09:06

Arah Baru dari Empat Jurus Mobil Listrik

KINI ada dua aliran besar dalam penggunaan energi mobil listrik. Aliran baterai dan aliran hydrogen…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .