MANAGED BY:
JUMAT
19 JANUARI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Kamis, 17 Agustus 2017 21:07
Oleh-oleh dari menuntut Ilmu di Negeri Matahari, Jepang (11)

Jomlo Mengasyikan, Di Indonesia Dianggap Produk Gagal

MEJENG: Pimpred kalteng.prokal.co Abdillah di Kuil Sensoji di Asasuka Jepang.

PROKAL.CO, Banyak alasan orang dewasa di Jepang menunda perkawinan. Bahkan terkesan momok bagi mereka yang ingin berumahtangga. Benarkan menjomblo lebih mengasyikan dari pada punya pasangan?

 

ABDILLAH, Tokyo

 

PARA orangtua di Jepang menanamkan disiplin ketat kepada anak-anaknya. Mereka mengajari si buah hati untuk bertanggungjawab apa yang dilakukannya. Mandiri dalam segala hal, baik menyangkut kebutuhan diri sendiri maupun hal lain yang intinya menghadapi kehidupan yang begitu keras di negara Sakura ini.

Salah satunya menyangkut pernikahan. Pemuda Jepang jika ingin berumah tangga harus mencari modal sendiri. Segala macam tetek bengek dari persiapan awal hingga sampai kepelaminan biaya sendiri. “Di Jepang pesta pernikahan dibiayai sendiri oleh mempelai pria atau patungan dengan mempelai wanita. Selain itu, bikin ribet yang diundang,” kata Yoko Kadomaru warga Jepang asal Malang yang mendampingi rombongan Kalteng Pos Grup selama di Tokyo.

Biasanya para pemuda dan pemudi yang ingin pernikahan sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri. Mengkakulasi biaya, jika dana yang dikeluarkan Rp 200 juta, maka uang yang dikumpulkan dari hasil kerja berapa tahun?

Jika penghasilan rata-rata perbulan Rp 20 juta biasanya separo gajinya di tabung. Jadi Rp 10 juta x 20 bulan sudah mencapai Rp 200 juta. Itu kalau penghasilan Rp 20 juta perbulan. Bagaimana yang hanya berpenghasilan Rp 5 juta perbulan, ya terpaksa kerja keras mencari kerja sampingan untuk menambah penghasilan.

Banyak juga yang sudah mapan memilih sendiri. ‘Nikah bikin resek, enak jomblo’. Pernikahan bagi para jomblo seakan-akan momok. Jomblo di Jepang dianggap biasa, bahkan dinikmati. Usia 50 tahun masih banyak yang belum menikah, mereka santai saja.

Beda di Indonesia! Bagi pemuda-pemudi yang berusia 25 tahun masih jomblo dianggap produk gagal wkwkwk.

Bagi undangan yang ingin menghadiri pesta pernikahan bikin dompet jebol. Tamu wajib memberi ampou sekitar 3000 Yen bahkan bisa lebih, jika dirupiahkan sekitar Rp 375 ribu, ya lumayan besar. Untuk itu undangan disampaikan dua bulan sebelum hari H. Satu bulan sebelum hari H orang yang diundang harus menjawab lewat kantor pos. Apakah akan hadir atau tidak?

Jika tidak hadir, maka tidak ada kursi bagi undangan tersebut. Jika hadir akn ada kursi sesuai namanya. Tamu yang hadir mendapat cinderamata berupa berupa pernak-pernik lucu, bisa mainan yang bisa dipajang di rumah,  boneka dalam bentuk binatang atau gantungan kunci.

Dalam tradisi pernikahan di Jepang para tamu dilarang mengucapkan Kata yang dianggap bisa membuat kesialan bagi mempelai berdua diantaranya memotong, berpisah, berjauhan dan berakhir.

Ada banyak alasan kenapa mereka enggan menikah, selain pendapatan pas-pasan, mereka yang menjoblo tidak dipusingkan dengan berbagai macam urusan rumah tangga. Hunian yang kecil sebesar rumah kos-kosan yang sempit membuat mereka berpikir seribu kali untuk mencari pasangan.

Tempat tidur yang hanya untuk sendiri, jika punya anak dan istri makin sempit. Selain itu para orangtua di Jepang sangat selektif dalam memilih menantu. Yang jelas menantu laki-laki harus bisa mencukupi kebutuhan putrinya. Orang tua mana yang rela anaknya sengsara.(*)


BACA JUGA

Senin, 15 Januari 2018 06:57
Ketika Peredaran Miras di Pangkalan Lada Masih Marak

Pemain Lama Tak Jera, Terancam Denda Rp50 Juta

Peredaran Minuman Keras (Miras) di Kecamatan Pangkalan Lada sepertinya masih ada, meskipun diam-diam,…

Jumat, 12 Januari 2018 09:40
Yani, Penderita Gizi Buruk Ditinggal Ayah Tirinya

Diduga Korban Eksploitasi, Uang Sumbangan Dibawa Pergi

Perjalanan hidup Yani Ato (6), gadis kecil asal pulau Soe Nusa Tenggara Timur (NTT), yang didiagnosa…

Kamis, 11 Januari 2018 07:30
Ketika Rumah Makan Korban Pelakor Jadi Viral

Siapkan Menu Tumini hingga Janda Gemes

Istilah Zaman Now dan Perebut Laki Orang (Pelakor) adalah kata-kata yang ngetren saat ini. Bagi Lia…

Minggu, 07 Januari 2018 05:55
Mengenal Kayu Halaban, Tanaman Liar di Tanah Dayak (2/Habis)

Kalapapa Membuat Tahan Lama Urusan Ranjang

Percaya atau tidak, kulit halaban (dalam bahasa Dayak disebut kalapapa) memiliki khasiat ampuh. Tak…

Sabtu, 06 Januari 2018 11:42
Mengenal Kayu Halaban, Tanaman Liar di Tanah Dayak

Bisa Sembuhkan Amandel hingga Tahan Lama Urusan Ranjang

Percaya atau tidak, kulit kayu halaban (dalam bahasa Dayak disebut kayu kalapapa) memiliki khasiat ampuh.…

Sabtu, 06 Januari 2018 09:12
Menelisik Kehidupan Perkampungan Terisolir

Dambakan Kesejahteraan, 80 Tahun tak Teraliri Listrik dan Air Bersih

Warga di Dusun Cempedak, RT 33, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan,  Kotawaringin Barat (Kobar)…

Jumat, 05 Januari 2018 07:39
Cara Keluarga Pemulung Tunanetra Bertahan Hidup

Suami Narik Gerobok, Istri sebagai Pemandu Jalan

Keterbatasan yang dimiliki oleh kakek Hamid (75) tidak menyurutkan semangatnya mencari nafkah, di usia…

Kamis, 04 Januari 2018 08:49
Bangunan Bergaya Eropa Perpaduan China Nasibmu Kini

Cikal Bakal Pendidikan Kobar, Lahirkan Tokoh-tokoh Terkenal

Bangun kuno peninggalan Jepang masih berdiri di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), dari bangunan…

Rabu, 03 Januari 2018 07:45
Rahasia Sukses Usaha Pandai Besi di Pangkalan Lada

Awalnya Terkendala Modal Kini Beromzet Ratusan Juta

Di tengah senjakalanya, ternyata usaha pandai besi masih menjadi bisnis yang menjanjikan di Kalteng.…

Selasa, 02 Januari 2018 08:10
Ketika Teror Jambret Semakin Marak di Sampit

Pelakunya Masih Remaja, Kaum Perempuan Jadi “Mangsa”

Masyarakat Kota Sampit, sepertinya harus lebih waspada ketika berkendara. Terutama jangan lengah menyimpan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .