MANAGED BY:
MINGGU
22 JULI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Rabu, 16 Agustus 2017 00:50
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (7)
Pekerja Dilarang Telat, Transportasi Harus Sesuai Perjanjian
Rombongan Kalteng Pos Group ketika naik kereta keliling Tokyo dan sekitarnya, beberapa waktu lalu. (ERWIN/KALTIM POST)

PROKAL.CO, Teraturnya lalu lintas di Jepang membuat kagum banyak orang, termasuk rombongan Kalteng Pos Group. Jalan raya selalu lengang. Jarang sekali ada kendaraan melintas, kecuali bus membawa penumpang yang jumlahnya juga tidak banyak. Selain bus dan taksi yang hanya melintas sesekali, di jalan raya justru lebih banyak pejalan kaki yang selalu tertib.

ADY CAHYO JUNARKO, Tokyo

LIMA hari di negeri matahari terbit, nyaris tidak pernah terlihat pengguna jalan melanggar rambu lalu lintas. Pengguna kendaraan maupun pejalan kaki, semuanya taat aturan. Pejalan kaki akan menyeberang, mengambil posisi yang sudah ditentukan. Mereka tidak bergerak sebelum isyarat hijau menyala bagi pejalan kaki.

Berjalan kaki dan naik kereta listrik memang cara yang paling banyak dipilih warga Jepang, untuk pergi dan pulang dari tempat kerja maupun sekolah. Karena naik kereta listrik tidak hanya hemat, bebas macet dan mengurangi polusi udara, namun lebih efektif dalam pengaturan waktu. Naik kereta tidak akan terlambat tiba di kantor atau sekolah.

Tak heran, penumpang kereta listrik selalu penuh. Setiap kereta tiba di stasiun tujuan sesuai waktu yang telah ditentukan. Hal ini mendukung budaya kerja di Jepang yang sangat mengutamakan ketepatan waktu.  Begitu juga ketika ada janji bertemu seseorang. Setiap menit sangat berharga. Apalagi, jika terlambat 4 menit saja, sudah pasti akan ketinggalan satu kereta.

“Kereta datang setiap empat menit sekali. Jadi, kalau kita terlambat empat menit saja tentu harus naik kereta berikutnya, dan untuk itu harus menunggu empat menit lagi. Bisa dihitung bagaimana kalau terlambat 10 menit atau lebih. Semua jadwal akan berantakan,” kata Yoko Kadomaru, Tour Guide rombongan Kalteng Pos Group selama di Jepang.

Menurutnya, perusahaan Jepang menuntut semua karyawannya datang tepat waktu. Begitu ketatnya soal waktu, dalam MoU antara pekerja dan perusahaan, harus dijelaskan alamat rumah, bagaimana cara si pekerja sampai di kantor dan kendaraan apa yang digunakan. Sehingga sudah diketahui berapa lama waktu yang diperlukan pekerja dari rumah sampai tiba di kantor.

Dari MoU tersebut juga akan diketahui rute mana saja yang akan dilalui pekerja saat berangkat dan pulang kantor. Hal ini berkaitan dengan asuransi pekerja. Asuransi tidak bisa diklaim jika terjadi kecelakaan di luar rute atau tidak menggunakan transportasi yang telah ditentukan.

Asuransi ini sendiri juga berlaku bagi anak sekolah yang rute dan alat transportasinya juga telah ditentukan oleh pihak sekolah. Untuk itu, dibentuk regu anak sekolah yang dipimpin satu orang senior yang bertujuan mengontrol adik-adik kelasnya.

Namun, bukan berarti tidak ada pengecualian dalam penggunaan transportasi bagi pekerja yang harus naik kereta listrik. Pengecualian akan berlaku jika si pekerja tinggal di daerah yang tidak memungkinkan menggunakan kereta listrik. Misalnya, tinggal di daerah di pegunungan, atau yang tempat tinggalnya tidak terjangkau kereta listrik.

Hal yang menarik, meski di jalan raya dalam Kota Tokyo jarang sekali kendaraan lalu lalang, bukan berarti warga setempat tidak memiliki mobil atau sepeda motor. Tidak sedikit penduduk Kota Jepang yang memiliki mobil. Hanya saja, mayoritas warga Negeri Sakura tersebut tidak menggunakan kendaraan pribadi saat hari kerja atau untuk keperluan dalam kota.

Mobil hanya dipakai untuk keluar kota dengan jarak tempuh jauh atau memang tidak bisa dijangkau oleh kereta listrik. Diler mobil di Jepang sendiri mempunyai database pelanggan yang isinya sangat detil. Setiap diler selalu menyimpan data yang berkaitan dengan tipe, jenis, merek, aksesoris dan lain-lainnya yang disukai oleh para pelanggannya.

Sehingga ketika beberapa tahun kedepan muncul merek dan tipe sama dengan penambahan fitur-fitur baru yang dikembangkan dari masukan-masukan para konsumen, pihak dieler akan gencar menawarkan produk tersebut kepada pelanggannya. Hal ini membuat diler mampu menarik minat konsumen yang diincar untuk membeli mobil tersebut.

Perlu diketahui, dalam penjualan mobil di Jepang ada kebijakan pemerintah terhadap setiap pemilik kendaraan. Yaitu berupa pajak pemerintah diluar pajak kendaraan. Pajak pemerintah tersebut untuk kendaaran biasa atau kendaraan pada umumnya dengan cc 1,5 liter, dengan nilai yang harus dibayar sekitar 100.000 yen atau setara Rp12.500.000.

Pajak dikenakan setelah tahun ketiga kepemilikan kendaraan, yang kemudian harus dibayarkan setiap 2 tahun sekali hingga 10 tahun. Setelah 10 tahun, pajak harus dibayarkan setiap tahun dengan nilai lebih tinggi, yakni sekitar Rp20 juta. Nilai pajak tersebut hanya untuk mobil standar dengan cc 1,5 liter. Jika cc lebih besar dan lebih mewah, pajak akan lebih besar.

Jadi, tidak mengherankan kalau warga Jepang lebih memilih naik kendaraan umum dan tidak suka mengoleksi banyak mobil seperti kebanyakan orang kaya di Indonesia. Tidak hanya harganya yang mahal, namun pajak yang harus dibayar juga sangat besar. Bahkan, nilai pajak semakin besar seiring dengan pertambahan usia kendaraan tersebut.

Ketat dan tingginya biaya untuk kendaraan di dalam negeri dibanding di luar negeri Jepang tersebut, membuat masyarakatnya memilih jalan kaki dan naik kereta listrik. “Mobil memang mahal di sini. Tapi, yang pasti tidak ada jam karet, karena di Jepang tidak ada karet,” tegas Yoko yang disampaikannya berulang-ulang. (bersambung/c2/nto)


BACA JUGA

Sabtu, 12 Mei 2018 10:05
Toni Ardiyanto, Remaja 14 Tahun dengan Berat Badan 9 Kilogram

Diduga Gizi Buruk sampai Terminum Air Ketuban

Keluarga Suyatno (53) dan Suyati (36) dikaruniai anak pertama mereka bernama Toni Ardiyanto. Namun,…

Sabtu, 07 April 2018 07:49
Ketika Warung Goyang Seberang Vihara Ditutup Paksa

Kini, Pengguna Jalan Tak Lagi Curi-curi Pandang

Keluhan masyarakat akhirnya dijawab Satpol PP Palangka Raya. Warung goyang yang ada di pinggiran Jalan…

Sabtu, 31 Maret 2018 07:10
Sengsaranya Melalui Kubangan Lumpur di Jalan Kolam-Pangkalan Bun

Melewati 10 Meter Serasa 300 Kilometer

Puluhan kendaraan roda empat tak bergeming dari tempatnya. Hanya mesinnya menyala. Ada juga memilih…

Jumat, 30 Maret 2018 10:19

Pak Bo, Penjaga Pintu Rahim Masupa Ria

Tenaga kesehatan di Desa Masupa Ria sangat terbatas. Tidak ada bidan maupun perawat, apalagi dokter.…

Kamis, 29 Maret 2018 09:51
Masupa Ria, “Lumbung” Emas yang Terlupakan (3/habis)

Janji Manis Pemda Sedikit Mengurangi Tangis

Tradisi, potensi dan cita-cita sampai mati di desa menjadi roda kehidupan yang pasti. Pilihannya, bertahan…

Rabu, 28 Maret 2018 09:30
Masupa Ria, “Lumbung” Emas yang Terlupakan (2)

Kasek Hanya Setahun Sekali ke Sekolah

Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Masupa Ria dihuni 17 murid. Ada tiga guru berstatus honorer. Bagi mereka,…

Selasa, 27 Maret 2018 09:48
Masupa Ria, Lumbung Emas yang Terlupakan (1)

Jangankan Bantuan, Wajah Bupati pun Tak Tahu

Era 80-an, Desa Masupa Ria menjadi magnet kuat bagi mereka yang berburu bongkahan emas. Kejayaan itu…

Minggu, 25 Maret 2018 07:32
Senja Kala Lokasi Prostitusi Dukuh Mola (2)

Ratusan PSK Tak Mampu Bayar Hutang ke Muncikari

Kebijakan penutupan lokasi prostitusi memukul perekonomian di kawasan itu, sehingga perputaran uang…

Selasa, 20 Maret 2018 09:55
Ziarah Rohani ke Yerusalem-Mesir 11 Hari Bersama Rich Tour (10/Habis)

Doa Orang Percaya Pindahkan Gunung

Perjalanan atau ziarah rohani Yerusalem-Mesir 11 Hari bersama Rich Tour ditutup dengan tiga hari di…

Rabu, 14 Maret 2018 07:43
Ziarah Rohani ke Yerusalem-Mesir 11 Hari Bersama Rich Tour (4)

Sulitnya Masuk ke Negeri Perjanjian

Oh.. Yerusalem, Kota Mulia, hatiku rindu ke sana… Itulah sepenggal lagu yang menggambarkan keinginan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .