MANAGED BY:
RABU
17 JANUARI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Selasa, 15 Agustus 2017 23:53
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (5)
Anjing Hachiko Sembilan Tahun Menunggu Tuannya
Patung Anjing Hachiko di depan Stasiun Shibuya Jepang, menjadi salah satu spot foto dan favorit wisatawan. (ALBERT M SHOLEH / KALTENG POS)

PROKAL.CO, Berkunjung ke Jepang rasanya kurang lengkap sebelum mengunjungi Patung Hachiko. Patung itu dibuat untuk mengenang kesetiaan seekor anjing terhadap majikannya. Bertahun-tahun sang anjing menunggu tuannya di depan Stasiun Shibuya. Berikut tulisannya.

SUYANTO, Palangka Raya

JARAK dari hotel ke Stasiun Shibuya cukup jauh. Tapi jangan khawatir, kecepatan kereta di Jepang luar biasa. Mampu menempuh jarak 100 km/jam. Jarak satu stasiun dengan stasiun lain hanya ditempuh beberapa menit saja.

Di setiap stasiun tersedia map atau peta rute perjalanan kereta sebagai pemandu para wisatawan. Meski semua petunjuk menggunakan Bahasa Jepang, tapi di bagian bawahnya ada tulisan sesuai nama stasiunnya. Sampai stasiun, pengumuman secara otomatis akan muncul dari pengeras suara yang terpasang di setiap gerbong.

Untuk menuju ke Stasiun Shibuya dari Hotel Mystayes Primeir kawasan Shinagawa, perlu berganti beberapa jalur kereta api. Saat rombongan Kalteng Pos group mengunjungi Patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya, puluhan orang dari berbagai negara mengantre di depan patung anjing tersebut.

Mereka ingin antre untuk berfoto di samping Patung Hachiko si Anjing Setia. Patung yang dibuat dari perunggu dengan posisi duduk menghadap pintu stasiun. Konon patung itu dibuat persis seperti saat anjing itu duduk menunggu majikannya keluar dari stasiun.

Cerita Hechiko si anjing setia itu bermula di Tahun 1923. Mengutip dari berbagi sumber, kala itu Profesor Ueno dosen di Universitas Tokyo, berkeinginan untuk mengadopsi anak anjing yang bernama Hichi dari daerah Odate Jepang. Sebelumnya, profesor juga pernah memelihara anjing, tapi usianya tidak bertahan lama. Bersama keluarga profesor, Hichi dipelihara hingga tumbuh besar. Keakraban Hichi dengan majikannya, melebihi watak asli seekor anjing. Setiap majikannya berangkat mengajar, anjing itu mengantarkan sampai di depan pintu gerbang rumahnya.

Begitu akrabnya majikan dengan Hichi, lambat laun anjing itu tidak hanya mengantar majikannya sampai depan pintu gerbang rumahnya. Tapi lebih jauh lagi sampai di Stasiun Shibuya. Begitu juga Hichi selalu menjemput di depan pintu stasiun usai tuannya pulang mengajar. Itu dilakukan Hichi beberapa tahun selama profesor mengajar di universitas tersebut. Kesetiaan Hichi terhadap tuannya, warga sekitar stasiun menambahi nama ko (sayang/setia) di depan Hichi sehingga menjadi Hichiko. Kebanyakan Orang sering menyebut Hachiko.

Beberapa warga yang tinggal di sekitar stasiun mengetahui soal kesetiaan anjing itu. Namun dianggapnya sesuatu yang biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. Apalagi di Jepang memang banyak warganya yang sering membawa anjing jika bepergian. Ketika rombongan manajemen Kalteng Pos berkunjung ke Jepang beberapa hari lalu, pernah menjumpai seorang gadis Jepang yang berjalan dekat hotel tempat jajaran manajemen Kalteng Pos bermalam, membawa serta tiga ekor anjingnya.

Menariknya, gadis berparas putih dan tinggi itu juga membawa botol yang berisi air. Setiap kali tiga ekor anjing berkencing di pohon, gadis itu menyiram air kencing anjing. Gadis itu terlihat begitu menyayangi ketiga ekor anjing itu.

“Orang-orang  Jepang sangat menyayangi binatang terutama anjing. Bahkan anjing dianggap seperti keluarga sendiri,” kata Yoko Kadomaru, orang Indonesia yang bersuami orang Jepang- yang menjadi penerjemah dan mendampingi rombongan manajemen Kalteng Pos selama di Jepang. Jika ada warga Jepang yang ingin memelihara anjing, kata Yoko, harus melapor ke pemerintah untuk didata. Biasanya anjing-anjing peliharaan itu dibawa serta ke mana saja pemiliknya bepergian.

Di dekat Stasiun Omori, penulis sempat melihat wanita Jepang  naik sepeda. Tempat duduk bagian belakang (boncengannya) dibuat seperti tempat untuk membawa bayi atau anak kecil. Lengkap dengan tempat duduknya, sabuk pengaman dan atap untuk melindungi dari sengatan sinar matahari. Di Indonesia persis kereta dorong untuk bayi. Ketika penulis melihat apa yang ada di dalam kereta dorong itu, kagetnya bukan main. Dalam benak terpikir seorang bayi atau anak yang kecil yang dibawa orangtuanya atau pembantunya. Eh ternyata…tiga ekor anak anjing.

Kembali ke cerita Hachiko. Suatu hari di bulan Mei 1925, malapetaka menimpa Profesor Ueno. Tenaga ahli di bidang pertanian itu mendadak terserang stroke dan jatuh saat mengajar. Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit, nyawa profesor tidak bisa diselamatkan. Ia meninggal dunia. Nah, dari situlah awal cerita Hachiko si anjing setia yang mengharukan dan memberikan inspirasi bagi banyak orang.

Hachiko ternyata tidak mengetahui jika Profesor Ueno meninggal dunia. Setiap sore si anjing itu masih datang menjemput majikannya di depan pintu Stasiun Shibuya. Bahkan pada saat pemakaman, Hachiko masih datang ke stasiun menunggu majikannya pulang. Konon tiga hari sejak tuannya meninggal, Hachiko sempat stres karena majikannya tidak pulang. Setiap kali diberi makan, Hachiko tidak mau memakannya. Anjing itu selalu pergi ke stasiun duduk menunggu majikannya yang tak kunjung pulang.

Malapetaka kedua pun menimpa Hachiko. Konon istri Profesor Ueno, Yae meninggalkan rumah karena perkawinannya dengan profesor tidak resmi. Hachiko kini tinggal sendirian di rumah itu. Melihat anjing kesayangnya profesor tidak ada yang memberi makan, Yae menyerahkan ke keluarganya di Asakusa. Kebetulan keluarganya itu membuka toko kimono. Setiap kali ada pembeli, Hachiko meloncat-loncat. Kabarnya meloncat-loncat ini untuk memberi tahu jika ada pembeli. Tapi tinggkah laku Hachiko ini ternyata tidak disukai keluarga Yae. Kemudian Hachiko diserahkan ke keluarga yang lain. Lagi-lagi keluarga yang lain juga tidak menyukai tingkah polah Hachiko. Akhirnya Hachiko diserahkan kepada tukang kebunnya Profesor Ueno yang kebetulan rumahnya dekat dengan Stasiun Shibuya.

Bekas tukang kebunnya Profesor Ueno ini yang akhirnya memelihara Hachiko. Dia diberi makan kesukaannya yakni sate ayam. Kegelisahannya Hachiko tidak berubah. Setiap sore, ia selalu pergi ke stasiun dan duduk di depan pintu stasiun menunggu majikannya yang sudah dikuburkan. Lalu kembali ke rumah bekas tukang kebunnya profesor jika malam tiba. Keesokan harinya Hachiko pergi lagi ke stasiun menunggu profesor datang. Ini dilakukan Hachiko hingga 9 tahun lamanya.

Suatu ketika Kekaisaran Jepang ingin melebarkan Stasiun Shibuya. Seluruh bangunan stasiun dibongkar. Bangunan di sekitarnya juga dibongkar. Melihat bangunan di stasiun rata dengan tanah, Hachiko pergi ke stasiun mencari Profesor Ueno di balik reruntuhan bangunan. Setiap tumpukan bekas bongkaran bangunan diciupnya. Dibolak-balik menggunakan mulut dan kakinya. Sayangnya Hachiko tidak menemukan tuannya. (bersambung/c3/nto)


BACA JUGA

Senin, 15 Januari 2018 06:57
Ketika Peredaran Miras di Pangkalan Lada Masih Marak

Pemain Lama Tak Jera, Terancam Denda Rp50 Juta

Peredaran Minuman Keras (Miras) di Kecamatan Pangkalan Lada sepertinya masih ada, meskipun diam-diam,…

Jumat, 12 Januari 2018 09:40
Yani, Penderita Gizi Buruk Ditinggal Ayah Tirinya

Diduga Korban Eksploitasi, Uang Sumbangan Dibawa Pergi

Perjalanan hidup Yani Ato (6), gadis kecil asal pulau Soe Nusa Tenggara Timur (NTT), yang didiagnosa…

Kamis, 11 Januari 2018 07:30
Ketika Rumah Makan Korban Pelakor Jadi Viral

Siapkan Menu Tumini hingga Janda Gemes

Istilah Zaman Now dan Perebut Laki Orang (Pelakor) adalah kata-kata yang ngetren saat ini. Bagi Lia…

Minggu, 07 Januari 2018 05:55
Mengenal Kayu Halaban, Tanaman Liar di Tanah Dayak (2/Habis)

Kalapapa Membuat Tahan Lama Urusan Ranjang

Percaya atau tidak, kulit halaban (dalam bahasa Dayak disebut kalapapa) memiliki khasiat ampuh. Tak…

Sabtu, 06 Januari 2018 11:42
Mengenal Kayu Halaban, Tanaman Liar di Tanah Dayak

Bisa Sembuhkan Amandel hingga Tahan Lama Urusan Ranjang

Percaya atau tidak, kulit kayu halaban (dalam bahasa Dayak disebut kayu kalapapa) memiliki khasiat ampuh.…

Sabtu, 06 Januari 2018 09:12
Menelisik Kehidupan Perkampungan Terisolir

Dambakan Kesejahteraan, 80 Tahun tak Teraliri Listrik dan Air Bersih

Warga di Dusun Cempedak, RT 33, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan,  Kotawaringin Barat (Kobar)…

Jumat, 05 Januari 2018 07:39
Cara Keluarga Pemulung Tunanetra Bertahan Hidup

Suami Narik Gerobok, Istri sebagai Pemandu Jalan

Keterbatasan yang dimiliki oleh kakek Hamid (75) tidak menyurutkan semangatnya mencari nafkah, di usia…

Kamis, 04 Januari 2018 08:49
Bangunan Bergaya Eropa Perpaduan China Nasibmu Kini

Cikal Bakal Pendidikan Kobar, Lahirkan Tokoh-tokoh Terkenal

Bangun kuno peninggalan Jepang masih berdiri di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), dari bangunan…

Rabu, 03 Januari 2018 07:45
Rahasia Sukses Usaha Pandai Besi di Pangkalan Lada

Awalnya Terkendala Modal Kini Beromzet Ratusan Juta

Di tengah senjakalanya, ternyata usaha pandai besi masih menjadi bisnis yang menjanjikan di Kalteng.…

Selasa, 02 Januari 2018 08:10
Ketika Teror Jambret Semakin Marak di Sampit

Pelakunya Masih Remaja, Kaum Perempuan Jadi “Mangsa”

Masyarakat Kota Sampit, sepertinya harus lebih waspada ketika berkendara. Terutama jangan lengah menyimpan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .