MANAGED BY:
SELASA
19 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Selasa, 15 Agustus 2017 23:53
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (5)
Anjing Hachiko Sembilan Tahun Menunggu Tuannya
Patung Anjing Hachiko di depan Stasiun Shibuya Jepang, menjadi salah satu spot foto dan favorit wisatawan. (ALBERT M SHOLEH / KALTENG POS)

PROKAL.CO, Berkunjung ke Jepang rasanya kurang lengkap sebelum mengunjungi Patung Hachiko. Patung itu dibuat untuk mengenang kesetiaan seekor anjing terhadap majikannya. Bertahun-tahun sang anjing menunggu tuannya di depan Stasiun Shibuya. Berikut tulisannya.

SUYANTO, Palangka Raya

JARAK dari hotel ke Stasiun Shibuya cukup jauh. Tapi jangan khawatir, kecepatan kereta di Jepang luar biasa. Mampu menempuh jarak 100 km/jam. Jarak satu stasiun dengan stasiun lain hanya ditempuh beberapa menit saja.

Di setiap stasiun tersedia map atau peta rute perjalanan kereta sebagai pemandu para wisatawan. Meski semua petunjuk menggunakan Bahasa Jepang, tapi di bagian bawahnya ada tulisan sesuai nama stasiunnya. Sampai stasiun, pengumuman secara otomatis akan muncul dari pengeras suara yang terpasang di setiap gerbong.

Untuk menuju ke Stasiun Shibuya dari Hotel Mystayes Primeir kawasan Shinagawa, perlu berganti beberapa jalur kereta api. Saat rombongan Kalteng Pos group mengunjungi Patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya, puluhan orang dari berbagai negara mengantre di depan patung anjing tersebut.

Mereka ingin antre untuk berfoto di samping Patung Hachiko si Anjing Setia. Patung yang dibuat dari perunggu dengan posisi duduk menghadap pintu stasiun. Konon patung itu dibuat persis seperti saat anjing itu duduk menunggu majikannya keluar dari stasiun.

Cerita Hechiko si anjing setia itu bermula di Tahun 1923. Mengutip dari berbagi sumber, kala itu Profesor Ueno dosen di Universitas Tokyo, berkeinginan untuk mengadopsi anak anjing yang bernama Hichi dari daerah Odate Jepang. Sebelumnya, profesor juga pernah memelihara anjing, tapi usianya tidak bertahan lama. Bersama keluarga profesor, Hichi dipelihara hingga tumbuh besar. Keakraban Hichi dengan majikannya, melebihi watak asli seekor anjing. Setiap majikannya berangkat mengajar, anjing itu mengantarkan sampai di depan pintu gerbang rumahnya.

Begitu akrabnya majikan dengan Hichi, lambat laun anjing itu tidak hanya mengantar majikannya sampai depan pintu gerbang rumahnya. Tapi lebih jauh lagi sampai di Stasiun Shibuya. Begitu juga Hichi selalu menjemput di depan pintu stasiun usai tuannya pulang mengajar. Itu dilakukan Hichi beberapa tahun selama profesor mengajar di universitas tersebut. Kesetiaan Hichi terhadap tuannya, warga sekitar stasiun menambahi nama ko (sayang/setia) di depan Hichi sehingga menjadi Hichiko. Kebanyakan Orang sering menyebut Hachiko.

Beberapa warga yang tinggal di sekitar stasiun mengetahui soal kesetiaan anjing itu. Namun dianggapnya sesuatu yang biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. Apalagi di Jepang memang banyak warganya yang sering membawa anjing jika bepergian. Ketika rombongan manajemen Kalteng Pos berkunjung ke Jepang beberapa hari lalu, pernah menjumpai seorang gadis Jepang yang berjalan dekat hotel tempat jajaran manajemen Kalteng Pos bermalam, membawa serta tiga ekor anjingnya.

Menariknya, gadis berparas putih dan tinggi itu juga membawa botol yang berisi air. Setiap kali tiga ekor anjing berkencing di pohon, gadis itu menyiram air kencing anjing. Gadis itu terlihat begitu menyayangi ketiga ekor anjing itu.

“Orang-orang  Jepang sangat menyayangi binatang terutama anjing. Bahkan anjing dianggap seperti keluarga sendiri,” kata Yoko Kadomaru, orang Indonesia yang bersuami orang Jepang- yang menjadi penerjemah dan mendampingi rombongan manajemen Kalteng Pos selama di Jepang. Jika ada warga Jepang yang ingin memelihara anjing, kata Yoko, harus melapor ke pemerintah untuk didata. Biasanya anjing-anjing peliharaan itu dibawa serta ke mana saja pemiliknya bepergian.

Di dekat Stasiun Omori, penulis sempat melihat wanita Jepang  naik sepeda. Tempat duduk bagian belakang (boncengannya) dibuat seperti tempat untuk membawa bayi atau anak kecil. Lengkap dengan tempat duduknya, sabuk pengaman dan atap untuk melindungi dari sengatan sinar matahari. Di Indonesia persis kereta dorong untuk bayi. Ketika penulis melihat apa yang ada di dalam kereta dorong itu, kagetnya bukan main. Dalam benak terpikir seorang bayi atau anak yang kecil yang dibawa orangtuanya atau pembantunya. Eh ternyata…tiga ekor anak anjing.

Kembali ke cerita Hachiko. Suatu hari di bulan Mei 1925, malapetaka menimpa Profesor Ueno. Tenaga ahli di bidang pertanian itu mendadak terserang stroke dan jatuh saat mengajar. Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit, nyawa profesor tidak bisa diselamatkan. Ia meninggal dunia. Nah, dari situlah awal cerita Hachiko si anjing setia yang mengharukan dan memberikan inspirasi bagi banyak orang.

Hachiko ternyata tidak mengetahui jika Profesor Ueno meninggal dunia. Setiap sore si anjing itu masih datang menjemput majikannya di depan pintu Stasiun Shibuya. Bahkan pada saat pemakaman, Hachiko masih datang ke stasiun menunggu majikannya pulang. Konon tiga hari sejak tuannya meninggal, Hachiko sempat stres karena majikannya tidak pulang. Setiap kali diberi makan, Hachiko tidak mau memakannya. Anjing itu selalu pergi ke stasiun duduk menunggu majikannya yang tak kunjung pulang.

Malapetaka kedua pun menimpa Hachiko. Konon istri Profesor Ueno, Yae meninggalkan rumah karena perkawinannya dengan profesor tidak resmi. Hachiko kini tinggal sendirian di rumah itu. Melihat anjing kesayangnya profesor tidak ada yang memberi makan, Yae menyerahkan ke keluarganya di Asakusa. Kebetulan keluarganya itu membuka toko kimono. Setiap kali ada pembeli, Hachiko meloncat-loncat. Kabarnya meloncat-loncat ini untuk memberi tahu jika ada pembeli. Tapi tinggkah laku Hachiko ini ternyata tidak disukai keluarga Yae. Kemudian Hachiko diserahkan ke keluarga yang lain. Lagi-lagi keluarga yang lain juga tidak menyukai tingkah polah Hachiko. Akhirnya Hachiko diserahkan kepada tukang kebunnya Profesor Ueno yang kebetulan rumahnya dekat dengan Stasiun Shibuya.

Bekas tukang kebunnya Profesor Ueno ini yang akhirnya memelihara Hachiko. Dia diberi makan kesukaannya yakni sate ayam. Kegelisahannya Hachiko tidak berubah. Setiap sore, ia selalu pergi ke stasiun dan duduk di depan pintu stasiun menunggu majikannya yang sudah dikuburkan. Lalu kembali ke rumah bekas tukang kebunnya profesor jika malam tiba. Keesokan harinya Hachiko pergi lagi ke stasiun menunggu profesor datang. Ini dilakukan Hachiko hingga 9 tahun lamanya.

Suatu ketika Kekaisaran Jepang ingin melebarkan Stasiun Shibuya. Seluruh bangunan stasiun dibongkar. Bangunan di sekitarnya juga dibongkar. Melihat bangunan di stasiun rata dengan tanah, Hachiko pergi ke stasiun mencari Profesor Ueno di balik reruntuhan bangunan. Setiap tumpukan bekas bongkaran bangunan diciupnya. Dibolak-balik menggunakan mulut dan kakinya. Sayangnya Hachiko tidak menemukan tuannya. (bersambung/c3/nto)


BACA JUGA

Sabtu, 09 September 2017 07:04
Pariman, Pengidap Penyakit Misterius Pascaoperasi

Dada Membengkak, Tak Punya Biaya untuk Kemoterafi

Pariman sontak menjadi perhatian dan keprihatinan dari masyarakat Kota Nanga Bulik, karena harus menahan…

Minggu, 03 September 2017 21:56
Sukarman, Tiga Tahun Derita Kanker Darah

Sudah 25 Kali Masuk Rumah Sakit, Dirujuk ke Banjarmasin Tidak Punya Biaya

Sukarman (54) hanya bisa terbaring di dalam rumah berukuran 4x6 milik Anjeng Kartini seorang warga di…

Sabtu, 02 September 2017 01:41
Rinco Norkim Berpulang

Selamat Jalan “Sang Penjaga Hutan”

  DI TENGAH kekhidmatan merayakan Hari Raya Iduladha, kabar duka juga tiba-tiba terdengar menjelang…

Selasa, 22 Agustus 2017 06:56
Cara Polres Kobar Mencegah Karhutla di Bumi Marunting Batu Aji

Sebarkan Maklumat Kapolda Sampai ke Desa Terpencil

Polres Kotawaringin Barat (Kobar) begitu intens menjaga daerah berjuluk Bumi Marunting Batu Aji dari…

Kamis, 17 Agustus 2017 21:07

Oleh-oleh dari menuntut Ilmu di Negeri Matahari, Jepang (11)

Banyak alasan orang dewasa di Jepang menunda perkawinan. Bahkan terkesan momok bagi mereka yang ingin…

Rabu, 16 Agustus 2017 07:02
Yang Dilakukan Sakariyas di Hari Pertama Menjabat Bupati Katingan

Kumpulkan Semua Pegawai dan Tokoh Masyarakat

Sakariyas resmi menjadi orang nomor satu di Kabupaten Katingan, Jumat (11/8) lalu, namun kesibukannya…

Rabu, 16 Agustus 2017 00:50
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (7)

Pekerja Dilarang Telat, Transportasi Harus Sesuai Perjanjian

Teraturnya lalu lintas di Jepang membuat kagum banyak orang, termasuk rombongan Kalteng Pos Group. Jalan…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:58
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (6)

Hachiko Anjing Setia Terkenal setelah Masuk Koran

Hachiko tak kenal menyerah untuk menemukan majikannya. Si anjing itu tetap setia menunggu Profesor Ueno…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:53
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (5)

Anjing Hachiko Sembilan Tahun Menunggu Tuannya

Berkunjung ke Jepang rasanya kurang lengkap sebelum mengunjungi Patung Hachiko. Patung itu dibuat untuk…

Selasa, 15 Agustus 2017 06:24
Slamet, Seniman Berbakat dari Lapas Klas IIB Pangkalan Bun

Lukisan Bupati Jadi Kado di Hari Kemerdekaan

Selama menjalani sepertiga masa hukuman, sudah sederet lukisan lahir dari tangan seniman Slamet Wisnu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .