MANAGED BY:
KAMIS
21 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Kamis, 10 Agustus 2017 13:06
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu ke Negeri Matahari Terbit, Jepang (3)
Harga Jual Kendaraan di Dalam Negeri Lebih Mahal
SIBUK: Suasana stasiun kereta Omori, Jepang, tampak sedikit lengang di hari libur atau akhir pekan yang jauh berbeda ketimbang hari kerja atau Senin sampai Jumat. (ALBERT M SHOLEH/KALTENG POS)

PROKAL.CO, Industri otomotif di Jepang memang nomor satu di Dunia. Sederet pabrik raksasa seperti Toyota, Honda, Nissan, Suzuki, Mazda, Daihatsu, Mitsubishi dan Subaru ada di sana. Namun, di Jepang sendiri, kendaraan tersebut sangat jarang digunakan masyarakat. Pemerintah menerapkan polotik dumping. Masyarakat lebih mengandalkan kereta pergi ke mana saja.

ALBERT M SHOLEH, Palangka Raya

KOMUTER maupun kereta cepat atau kereta bawah tanah lokal sangat efisien di Jepang. Naik kereta adalah cara terbaik melakukan perjalanan ke seluruh penjuru Negeri Sakura. Jadwal kereta nyaris seluruhnya tepat waktu, membuat siapa saja sangat nyaman.

Meski ada penundaan bahkan perubahan jalur, informasi cepat disebar dan dipahami masyarakat. “Sepertinya ada perubahan jalur, kita cek di berita, ya, kita tunggu sebentar,” kata pemandu wisata lokal Jepang, Yoko Kadomari sembari mengingatkan agar selalu antre dan mendahulukan penumpang yang turun.

Bagi pendatang baru tentu bingung dengan banyaknya jalur kereta. Maklum, kereta sebagai andalan utama transportasi lantaran pemerintah menerapkan politik dumping untuk otomotif yang diproduksi di negerinya sendiri.

Menghafal jalur dan stasiun penting yang ramai dikunjungi wisatawan seperti Shibuya, Ginza, Shinjuku, dan Asakusa sangat penting. Termasuk jalur kereta bawah tanah dan yang menghubungkan ke pusat Kota Tokyo dan sekitarnya.

Kereta, ya, kereta. Empat hari di Jepang menikmati naik turun kereta menjadi pengalaman tak terlupakan. Namun, hal itu tidak lepas dari cara pemerintah mengatur transportasi utama agar menghindari macet.

Jepang melaksanakan politik dumping, dengan kata lain menjual barang di dalam negeri lebih mahal ketimbang di luar negeri. “Tidak semua menggunakan mobil dan motor, harganya mahal dan pajaknya tinggi, malah lebih baik menggunakan kereta,” katanya.

Tak heran rasanya, banyak orang terlihat jalan kaki lantaran memanfaatkan transportasi umum dan harus pindah jalur, stasiun dan kereta. Siapapun yang ingin naik kereta, harus memiliki kartu sebagai ganti tiket. Di dalam kereta tidak ada pemeriksaan tiket. Kartu cukup di-scan (pindai) di pintu masuk jalur kereta.

“Kartu untuk naik kereta cuma 500 yen belinya, ini saya isi 5000 untuk empat hari kira-kira cukup,” imbuh Yoko.

Meski begitu, Jepang tidak lantas meninggalkan transportasi kuno yang terus bersanding dengan kecanggihan teknologi. Jepang juga memiliki becak seperti yang ada di Indonesia. Becak khas Jepang disebut Jinrikisha. Becak di Indonesia pengemudinya di belakang sambil mengayuh, sedangkan pengemudi Jinrikisha di depan dan menarik pegangan becak dengan tangannya lantas ditarik dengan lari dan jalan kaki. (bersambung/c3/nto)


BACA JUGA

Sabtu, 09 September 2017 07:04
Pariman, Pengidap Penyakit Misterius Pascaoperasi

Dada Membengkak, Tak Punya Biaya untuk Kemoterafi

Pariman sontak menjadi perhatian dan keprihatinan dari masyarakat Kota Nanga Bulik, karena harus menahan…

Minggu, 03 September 2017 21:56
Sukarman, Tiga Tahun Derita Kanker Darah

Sudah 25 Kali Masuk Rumah Sakit, Dirujuk ke Banjarmasin Tidak Punya Biaya

Sukarman (54) hanya bisa terbaring di dalam rumah berukuran 4x6 milik Anjeng Kartini seorang warga di…

Sabtu, 02 September 2017 01:41
Rinco Norkim Berpulang

Selamat Jalan “Sang Penjaga Hutan”

  DI TENGAH kekhidmatan merayakan Hari Raya Iduladha, kabar duka juga tiba-tiba terdengar menjelang…

Selasa, 22 Agustus 2017 06:56
Cara Polres Kobar Mencegah Karhutla di Bumi Marunting Batu Aji

Sebarkan Maklumat Kapolda Sampai ke Desa Terpencil

Polres Kotawaringin Barat (Kobar) begitu intens menjaga daerah berjuluk Bumi Marunting Batu Aji dari…

Kamis, 17 Agustus 2017 21:07

Oleh-oleh dari menuntut Ilmu di Negeri Matahari, Jepang (11)

Banyak alasan orang dewasa di Jepang menunda perkawinan. Bahkan terkesan momok bagi mereka yang ingin…

Rabu, 16 Agustus 2017 07:02
Yang Dilakukan Sakariyas di Hari Pertama Menjabat Bupati Katingan

Kumpulkan Semua Pegawai dan Tokoh Masyarakat

Sakariyas resmi menjadi orang nomor satu di Kabupaten Katingan, Jumat (11/8) lalu, namun kesibukannya…

Rabu, 16 Agustus 2017 00:50
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (7)

Pekerja Dilarang Telat, Transportasi Harus Sesuai Perjanjian

Teraturnya lalu lintas di Jepang membuat kagum banyak orang, termasuk rombongan Kalteng Pos Group. Jalan…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:58
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (6)

Hachiko Anjing Setia Terkenal setelah Masuk Koran

Hachiko tak kenal menyerah untuk menemukan majikannya. Si anjing itu tetap setia menunggu Profesor Ueno…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:53
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (5)

Anjing Hachiko Sembilan Tahun Menunggu Tuannya

Berkunjung ke Jepang rasanya kurang lengkap sebelum mengunjungi Patung Hachiko. Patung itu dibuat untuk…

Selasa, 15 Agustus 2017 06:24
Slamet, Seniman Berbakat dari Lapas Klas IIB Pangkalan Bun

Lukisan Bupati Jadi Kado di Hari Kemerdekaan

Selama menjalani sepertiga masa hukuman, sudah sederet lukisan lahir dari tangan seniman Slamet Wisnu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .