MANAGED BY:
SELASA
17 JULI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Kamis, 10 Agustus 2017 13:06
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu ke Negeri Matahari Terbit, Jepang (3)
Harga Jual Kendaraan di Dalam Negeri Lebih Mahal
SIBUK: Suasana stasiun kereta Omori, Jepang, tampak sedikit lengang di hari libur atau akhir pekan yang jauh berbeda ketimbang hari kerja atau Senin sampai Jumat. (ALBERT M SHOLEH/KALTENG POS)

PROKAL.CO, Industri otomotif di Jepang memang nomor satu di Dunia. Sederet pabrik raksasa seperti Toyota, Honda, Nissan, Suzuki, Mazda, Daihatsu, Mitsubishi dan Subaru ada di sana. Namun, di Jepang sendiri, kendaraan tersebut sangat jarang digunakan masyarakat. Pemerintah menerapkan polotik dumping. Masyarakat lebih mengandalkan kereta pergi ke mana saja.

ALBERT M SHOLEH, Palangka Raya

KOMUTER maupun kereta cepat atau kereta bawah tanah lokal sangat efisien di Jepang. Naik kereta adalah cara terbaik melakukan perjalanan ke seluruh penjuru Negeri Sakura. Jadwal kereta nyaris seluruhnya tepat waktu, membuat siapa saja sangat nyaman.

Meski ada penundaan bahkan perubahan jalur, informasi cepat disebar dan dipahami masyarakat. “Sepertinya ada perubahan jalur, kita cek di berita, ya, kita tunggu sebentar,” kata pemandu wisata lokal Jepang, Yoko Kadomari sembari mengingatkan agar selalu antre dan mendahulukan penumpang yang turun.

Bagi pendatang baru tentu bingung dengan banyaknya jalur kereta. Maklum, kereta sebagai andalan utama transportasi lantaran pemerintah menerapkan politik dumping untuk otomotif yang diproduksi di negerinya sendiri.

Menghafal jalur dan stasiun penting yang ramai dikunjungi wisatawan seperti Shibuya, Ginza, Shinjuku, dan Asakusa sangat penting. Termasuk jalur kereta bawah tanah dan yang menghubungkan ke pusat Kota Tokyo dan sekitarnya.

Kereta, ya, kereta. Empat hari di Jepang menikmati naik turun kereta menjadi pengalaman tak terlupakan. Namun, hal itu tidak lepas dari cara pemerintah mengatur transportasi utama agar menghindari macet.

Jepang melaksanakan politik dumping, dengan kata lain menjual barang di dalam negeri lebih mahal ketimbang di luar negeri. “Tidak semua menggunakan mobil dan motor, harganya mahal dan pajaknya tinggi, malah lebih baik menggunakan kereta,” katanya.

Tak heran rasanya, banyak orang terlihat jalan kaki lantaran memanfaatkan transportasi umum dan harus pindah jalur, stasiun dan kereta. Siapapun yang ingin naik kereta, harus memiliki kartu sebagai ganti tiket. Di dalam kereta tidak ada pemeriksaan tiket. Kartu cukup di-scan (pindai) di pintu masuk jalur kereta.

“Kartu untuk naik kereta cuma 500 yen belinya, ini saya isi 5000 untuk empat hari kira-kira cukup,” imbuh Yoko.

Meski begitu, Jepang tidak lantas meninggalkan transportasi kuno yang terus bersanding dengan kecanggihan teknologi. Jepang juga memiliki becak seperti yang ada di Indonesia. Becak khas Jepang disebut Jinrikisha. Becak di Indonesia pengemudinya di belakang sambil mengayuh, sedangkan pengemudi Jinrikisha di depan dan menarik pegangan becak dengan tangannya lantas ditarik dengan lari dan jalan kaki. (bersambung/c3/nto)


BACA JUGA

Sabtu, 12 Mei 2018 10:05
Toni Ardiyanto, Remaja 14 Tahun dengan Berat Badan 9 Kilogram

Diduga Gizi Buruk sampai Terminum Air Ketuban

Keluarga Suyatno (53) dan Suyati (36) dikaruniai anak pertama mereka bernama Toni Ardiyanto. Namun,…

Sabtu, 07 April 2018 07:49
Ketika Warung Goyang Seberang Vihara Ditutup Paksa

Kini, Pengguna Jalan Tak Lagi Curi-curi Pandang

Keluhan masyarakat akhirnya dijawab Satpol PP Palangka Raya. Warung goyang yang ada di pinggiran Jalan…

Sabtu, 31 Maret 2018 07:10
Sengsaranya Melalui Kubangan Lumpur di Jalan Kolam-Pangkalan Bun

Melewati 10 Meter Serasa 300 Kilometer

Puluhan kendaraan roda empat tak bergeming dari tempatnya. Hanya mesinnya menyala. Ada juga memilih…

Jumat, 30 Maret 2018 10:19

Pak Bo, Penjaga Pintu Rahim Masupa Ria

Tenaga kesehatan di Desa Masupa Ria sangat terbatas. Tidak ada bidan maupun perawat, apalagi dokter.…

Kamis, 29 Maret 2018 09:51
Masupa Ria, “Lumbung” Emas yang Terlupakan (3/habis)

Janji Manis Pemda Sedikit Mengurangi Tangis

Tradisi, potensi dan cita-cita sampai mati di desa menjadi roda kehidupan yang pasti. Pilihannya, bertahan…

Rabu, 28 Maret 2018 09:30
Masupa Ria, “Lumbung” Emas yang Terlupakan (2)

Kasek Hanya Setahun Sekali ke Sekolah

Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Masupa Ria dihuni 17 murid. Ada tiga guru berstatus honorer. Bagi mereka,…

Selasa, 27 Maret 2018 09:48
Masupa Ria, Lumbung Emas yang Terlupakan (1)

Jangankan Bantuan, Wajah Bupati pun Tak Tahu

Era 80-an, Desa Masupa Ria menjadi magnet kuat bagi mereka yang berburu bongkahan emas. Kejayaan itu…

Minggu, 25 Maret 2018 07:32
Senja Kala Lokasi Prostitusi Dukuh Mola (2)

Ratusan PSK Tak Mampu Bayar Hutang ke Muncikari

Kebijakan penutupan lokasi prostitusi memukul perekonomian di kawasan itu, sehingga perputaran uang…

Rabu, 14 Maret 2018 07:43
Ziarah Rohani ke Yerusalem-Mesir 11 Hari Bersama Rich Tour (4)

Sulitnya Masuk ke Negeri Perjanjian

Oh.. Yerusalem, Kota Mulia, hatiku rindu ke sana… Itulah sepenggal lagu yang menggambarkan keinginan…

Selasa, 13 Maret 2018 10:05
Ziarah Rohani ke Yerusalem-Mesir 11 Hari Bersama Rich Tour (3)

Terbuka, Yordania Penerima Banyak Pengungsi

Dari perjalanan yang panjang, akhirnya kami mendarat mulus di Bandara Amman, Ibu Kota Negara Yordania.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .