MANAGED BY:
SABTU
19 AGUSTUS
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Kamis, 10 Agustus 2017 13:03
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu ke Negeri Matahari Terbit, Jepang (2)
Belajar Cross Culture Understanding di Jalanan
BUDAYA BACA: Seorang pria tampak lusuh duduk di bawah Pohon Sakura terlihat serius membaca sebuah koran, di tengah lalu-lalang wisatawan yang menikmati Kota Tokyo, Jepang, Sabtu (5/7) lalu. (ALBERT M SHOLEH/KALTENG POS)

PROKAL.CO, Kekagetan budaya atau culture shock bisa dialami siapa saja yang baru menginjakkan kakinya di daerah atau bahkan negara baru. Pemahaman lintas budaya atau cross culture understanding, tak kalah serunya dibanding melihat dua orang berbicara yang satu sama lain tidak memahami bahasannya. Apalagi, mengamati dan mengambil hikmah di balik perbedaan budaya.

ALBERT M SHOLEH, Palangka Raya

BUDAYA baru tampak jelas di depan mata. Meski di dalam buku maupun internet banyak diulas, perbedaan budaya sangat menarik diamati. Ketika rombongan Kalteng Pos wisata studi ke Jepang beberapa hari lalu, tak hanya mendapat ilmu dari perusahaan media cetak terbesar di Negeri Sakura, Asahi Simbhun.  

Berawal dari transportasi yang utama digunakan mayoritas masyarakat Jepang adalah kereta, mau tidak mau siapa saja ke sana harus rela jalan naik dan turun stasiun, ganti kereta, hingga berdiri bergelantungan. Jalan kaki, ternyata memang salah satu budaya mereka.

“Mau masuk sekolah atau saat wawancara kerja ditanya jarak tempat tinggal berapa jauh, jalan kaki atau naik sepeda, berapa lama, maksudnya untuk asuransi jika kecelakaan,” ucap Yoko Kadomari saat mengantarkan rombongan Kalteng Pos keliling Jepang.

Selain pemerintah Jepang membudayakan warganya mengutamakan transportasi umum, jalan kaki dan naik sepeda, tujuan utamanya adalah memudahkan mengelola asuransi jiwa saat kecelakaan dalam rute yang sudah disepakati. Jika terjadi kecelakaan di luar jalur atau waktu yang disepakati, tentu tidak ditanggung asuransi oleh pemerintah.

Berjalan kaki ke pusat Kota Tokyo misalnya, tampak semua orang sama. Tua, muda, kaya dan miskin seolah-olah memilih jalan kaki. Langkahnya pendek tapi cepat. Jalannya sambil menunduk, ada yang pegang gadget ada pula yang fokus bahkan membaca buku sambil jalan kaki. Sangat terlihat berbeda ketika melihat wisatawan, jalan santai sambil celingukan melihat kanan dan kiri mencoba menikmati padat dan sibuknya negeri Matahari Terbit.

“Kalau naik eskalator harus di sisi kiri, karena sisi kanan buat yang buru-buru. Kalau naik kereta, menunggu yang turun dulu,” celetuk Yoko.

Selain budaya jalan kaki dan suka membaca, tak kalah uniknya adalah saat pernikahan. Ketika di Indonesia kebanyakan ingin mengundang orang sebanyak-banyaknya, justru di Jepang kebalikannya.

“Yang menikah keluarga ibu misalnya, maka keluarga ayah bisa tidak diundang. Begitu juga teman dan rekan kerja. Undangan dikirim dan harus dikembalikan dengan konfirmasi kehadiran beserta sumbangan (uang, Red) sebelum hari H,” kelakarnya.

Bahkan, lanjut perempuan asal Malang, Jawa Timur itu, saat menghadiri undangan perkawinan tersebut, tempat duduk sudah diatur dan ditempel nama. Tidak bisa asal akrab apalagi pura-pura akrab bisa duduk dekat pengantin.  

“Tidak memuji tapi mungkin sesuai yang dihasilkan di sini, orang Jepang tidak suka jam karet (telat, red) karena di sini tidak ada karet. Sangat menghargai waktu dan disiplin tinggi,” ucap pembina perhimpunan keluarga Indonesia di Jepang itu.

Asyik mendengarkan cerita dan mengamati perbedaan budaya, sering terganggu dengan waktu. Agenda kunjungan wisata yang padat membuat semuanya dipaksa ekstra cepat. Bahkan seolah-olah belum menikmatinya.

Namun, rasanya tak hanya di bangku kuliah saja bisa menerima materi tentang Cross Culter Understanding (CCU) atau mempelajari kebiasaan antar negara, mengunjungi negeri orang menjadi pengalaman dan guru yang luar biasa. (bersambung/nto)


BACA JUGA

Rabu, 16 Agustus 2017 07:02
Yang Dilakukan Sakariyas di Hari Pertama Menjabat Bupati Katingan

Kumpulkan Semua Pegawai dan Tokoh Masyarakat

Sakariyas resmi menjadi orang nomor satu di Kabupaten Katingan, Jumat (11/8) lalu, namun kesibukannya…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:53
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (5)

Anjing Hachiko Sembilan Tahun Menunggu Tuannya

Berkunjung ke Jepang rasanya kurang lengkap sebelum mengunjungi Patung Hachiko. Patung itu dibuat untuk…

Selasa, 15 Agustus 2017 06:24
Slamet, Seniman Berbakat dari Lapas Klas IIB Pangkalan Bun

Lukisan Bupati Jadi Kado di Hari Kemerdekaan

Selama menjalani sepertiga masa hukuman, sudah sederet lukisan lahir dari tangan seniman Slamet Wisnu…

Jumat, 11 Agustus 2017 16:02
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu ke Negeri Matahari Terbit, Jepang (4)

Kerja Sama Tim Membuat Perusahaan Sulit Dikalahkan

Team work (kerja sama tim) menjadi budaya kuat di Jepang. Itu menjadi satu syarat utama bekerja di perusahaan…

Kamis, 10 Agustus 2017 13:06
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu ke Negeri Matahari Terbit, Jepang (3)

Harga Jual Kendaraan di Dalam Negeri Lebih Mahal

Industri otomotif di Jepang memang nomor satu di Dunia. Sederet pabrik raksasa seperti Toyota, Honda,…

Kamis, 10 Agustus 2017 13:03
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu ke Negeri Matahari Terbit, Jepang (2)

Belajar Cross Culture Understanding di Jalanan

Kekagetan budaya atau culture shock bisa dialami siapa saja yang baru menginjakkan kakinya di daerah…

Rabu, 09 Agustus 2017 08:24
Kisah Pasca Ludes Terbakarnya Sembilan Rumah

Warga Sempat Emosi, Pihak Kepolisian Mengajak Berdamai

Kobaran api tidak hanya menghanguskan sembilan rumah di Jalan Cakra Adiwijaya, Kelurahan Padang. Peristiwa…

Selasa, 08 Agustus 2017 08:32
Menjenguk Bayi Penderita Hidrocypallus, Epilepsi dan Meningoceli

Wajib Jalani Operasi di Surabaya, Tak Punya Biaya Orangtua Pasrah

Amora Syahrani bayi mungil yang kini berusia 5 bulan ini adalah pengidap penyakit epilepsy, hidrocepalus…

Senin, 07 Agustus 2017 14:16
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu ke Negeri Matahari Terbit, Jepang (1)

Asahi Simbhun Mencetak Enam Juta Koran Sehari

Hitachi, Sanyo, Panasonic, Canon, Nikon, Yamaha, Mitsubishi, JVC, Seiko, Sharp, Olympus, Toshiba, Fuji…

Kamis, 27 Juli 2017 18:48
Mengikuti Syukuran Pemuda Dalam Rangka HUT ke-44 KNPI

Sebagai Aset Negara, Pemuda Wajib Jadi Pelopor Pembangunan

“Berikan aku sepuluh pemuda maka akan kugoncangkan dunia”. Perkataan Bung Karno tersebut,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .