MANAGED BY:
KAMIS
21 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Kamis, 10 Agustus 2017 13:03
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu ke Negeri Matahari Terbit, Jepang (2)
Belajar Cross Culture Understanding di Jalanan
BUDAYA BACA: Seorang pria tampak lusuh duduk di bawah Pohon Sakura terlihat serius membaca sebuah koran, di tengah lalu-lalang wisatawan yang menikmati Kota Tokyo, Jepang, Sabtu (5/7) lalu. (ALBERT M SHOLEH/KALTENG POS)

PROKAL.CO, Kekagetan budaya atau culture shock bisa dialami siapa saja yang baru menginjakkan kakinya di daerah atau bahkan negara baru. Pemahaman lintas budaya atau cross culture understanding, tak kalah serunya dibanding melihat dua orang berbicara yang satu sama lain tidak memahami bahasannya. Apalagi, mengamati dan mengambil hikmah di balik perbedaan budaya.

ALBERT M SHOLEH, Palangka Raya

BUDAYA baru tampak jelas di depan mata. Meski di dalam buku maupun internet banyak diulas, perbedaan budaya sangat menarik diamati. Ketika rombongan Kalteng Pos wisata studi ke Jepang beberapa hari lalu, tak hanya mendapat ilmu dari perusahaan media cetak terbesar di Negeri Sakura, Asahi Simbhun.  

Berawal dari transportasi yang utama digunakan mayoritas masyarakat Jepang adalah kereta, mau tidak mau siapa saja ke sana harus rela jalan naik dan turun stasiun, ganti kereta, hingga berdiri bergelantungan. Jalan kaki, ternyata memang salah satu budaya mereka.

“Mau masuk sekolah atau saat wawancara kerja ditanya jarak tempat tinggal berapa jauh, jalan kaki atau naik sepeda, berapa lama, maksudnya untuk asuransi jika kecelakaan,” ucap Yoko Kadomari saat mengantarkan rombongan Kalteng Pos keliling Jepang.

Selain pemerintah Jepang membudayakan warganya mengutamakan transportasi umum, jalan kaki dan naik sepeda, tujuan utamanya adalah memudahkan mengelola asuransi jiwa saat kecelakaan dalam rute yang sudah disepakati. Jika terjadi kecelakaan di luar jalur atau waktu yang disepakati, tentu tidak ditanggung asuransi oleh pemerintah.

Berjalan kaki ke pusat Kota Tokyo misalnya, tampak semua orang sama. Tua, muda, kaya dan miskin seolah-olah memilih jalan kaki. Langkahnya pendek tapi cepat. Jalannya sambil menunduk, ada yang pegang gadget ada pula yang fokus bahkan membaca buku sambil jalan kaki. Sangat terlihat berbeda ketika melihat wisatawan, jalan santai sambil celingukan melihat kanan dan kiri mencoba menikmati padat dan sibuknya negeri Matahari Terbit.

“Kalau naik eskalator harus di sisi kiri, karena sisi kanan buat yang buru-buru. Kalau naik kereta, menunggu yang turun dulu,” celetuk Yoko.

Selain budaya jalan kaki dan suka membaca, tak kalah uniknya adalah saat pernikahan. Ketika di Indonesia kebanyakan ingin mengundang orang sebanyak-banyaknya, justru di Jepang kebalikannya.

“Yang menikah keluarga ibu misalnya, maka keluarga ayah bisa tidak diundang. Begitu juga teman dan rekan kerja. Undangan dikirim dan harus dikembalikan dengan konfirmasi kehadiran beserta sumbangan (uang, Red) sebelum hari H,” kelakarnya.

Bahkan, lanjut perempuan asal Malang, Jawa Timur itu, saat menghadiri undangan perkawinan tersebut, tempat duduk sudah diatur dan ditempel nama. Tidak bisa asal akrab apalagi pura-pura akrab bisa duduk dekat pengantin.  

“Tidak memuji tapi mungkin sesuai yang dihasilkan di sini, orang Jepang tidak suka jam karet (telat, red) karena di sini tidak ada karet. Sangat menghargai waktu dan disiplin tinggi,” ucap pembina perhimpunan keluarga Indonesia di Jepang itu.

Asyik mendengarkan cerita dan mengamati perbedaan budaya, sering terganggu dengan waktu. Agenda kunjungan wisata yang padat membuat semuanya dipaksa ekstra cepat. Bahkan seolah-olah belum menikmatinya.

Namun, rasanya tak hanya di bangku kuliah saja bisa menerima materi tentang Cross Culter Understanding (CCU) atau mempelajari kebiasaan antar negara, mengunjungi negeri orang menjadi pengalaman dan guru yang luar biasa. (bersambung/nto)


BACA JUGA

Sabtu, 09 September 2017 07:04
Pariman, Pengidap Penyakit Misterius Pascaoperasi

Dada Membengkak, Tak Punya Biaya untuk Kemoterafi

Pariman sontak menjadi perhatian dan keprihatinan dari masyarakat Kota Nanga Bulik, karena harus menahan…

Minggu, 03 September 2017 21:56
Sukarman, Tiga Tahun Derita Kanker Darah

Sudah 25 Kali Masuk Rumah Sakit, Dirujuk ke Banjarmasin Tidak Punya Biaya

Sukarman (54) hanya bisa terbaring di dalam rumah berukuran 4x6 milik Anjeng Kartini seorang warga di…

Sabtu, 02 September 2017 01:41
Rinco Norkim Berpulang

Selamat Jalan “Sang Penjaga Hutan”

  DI TENGAH kekhidmatan merayakan Hari Raya Iduladha, kabar duka juga tiba-tiba terdengar menjelang…

Selasa, 22 Agustus 2017 06:56
Cara Polres Kobar Mencegah Karhutla di Bumi Marunting Batu Aji

Sebarkan Maklumat Kapolda Sampai ke Desa Terpencil

Polres Kotawaringin Barat (Kobar) begitu intens menjaga daerah berjuluk Bumi Marunting Batu Aji dari…

Kamis, 17 Agustus 2017 21:07

Oleh-oleh dari menuntut Ilmu di Negeri Matahari, Jepang (11)

Banyak alasan orang dewasa di Jepang menunda perkawinan. Bahkan terkesan momok bagi mereka yang ingin…

Rabu, 16 Agustus 2017 07:02
Yang Dilakukan Sakariyas di Hari Pertama Menjabat Bupati Katingan

Kumpulkan Semua Pegawai dan Tokoh Masyarakat

Sakariyas resmi menjadi orang nomor satu di Kabupaten Katingan, Jumat (11/8) lalu, namun kesibukannya…

Rabu, 16 Agustus 2017 00:50
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (7)

Pekerja Dilarang Telat, Transportasi Harus Sesuai Perjanjian

Teraturnya lalu lintas di Jepang membuat kagum banyak orang, termasuk rombongan Kalteng Pos Group. Jalan…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:58
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (6)

Hachiko Anjing Setia Terkenal setelah Masuk Koran

Hachiko tak kenal menyerah untuk menemukan majikannya. Si anjing itu tetap setia menunggu Profesor Ueno…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:53
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (5)

Anjing Hachiko Sembilan Tahun Menunggu Tuannya

Berkunjung ke Jepang rasanya kurang lengkap sebelum mengunjungi Patung Hachiko. Patung itu dibuat untuk…

Selasa, 15 Agustus 2017 06:24
Slamet, Seniman Berbakat dari Lapas Klas IIB Pangkalan Bun

Lukisan Bupati Jadi Kado di Hari Kemerdekaan

Selama menjalani sepertiga masa hukuman, sudah sederet lukisan lahir dari tangan seniman Slamet Wisnu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .