MANAGED BY:
JUMAT
19 JANUARI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Sabtu, 08 Juli 2017 23:32
Lebih Dekat dengan Nenek Salamah, Penghuni Panti Trisna Werdha (2/habis)
Tidak Ingin Merepotkan Anak dan Cucu, Siapkan Peralatan Ketika Meninggal
Nenek Salamah saat menunjukkan peralatan yang akan dipakai ketika ia meninggal kelak, Kamis (6/7) siang. (NAUVAL FOR KALTENG POS)

PROKAL.CO, Sejatinya di usia senjanya nenek Salamah ingin hidup bahagia bersama anak dan cucunya. Namun apa daya? nasib berkata lain. Di sisa hidupnya, harus menghabiskan hari-harinya di panti jompo.

ENDRAWATI, Palangka Raya

SEBELUM tinggal di panti jompo, nenek Salamah dulu tinggal di Pujon. Setelah suaminya meninggal sekitar 10 tahun yang lalu, ia pun tinggal bersama kedua anaknya. Salamah dikaruniai dua anak perempuan. Anak pertama tinggal di Pujon dan anak keduanya tinggal di Palangka Raya.

Penderitaan Salamah bertambah, ketika sang ingin anak menjual rumah peninggalan almarhum suaminya. Menurut pengakuannya rumah tersebut mereka dijual untuk modal menikah anaknya yang keduanya.

“Rumah di Pujon dijual untuk modal kawin anakku dan untuk beli rumah di Palangka Raya,”ucap nenek Salamah.

Nenek Salamah lantas setuju dengan keinginan anaknya yang ingin menjual rumah mereka. Sejak itu, Salamah pun tinggal di rumah anaknya di Palangka Raya. Selama tinggal bersama anaknya, ia merasa kurang nyaman. Anak dan cucunya tidak memperlakukan dirinya layaknya orangtua.

“Sebelum ke panti, aku pernah ngomong ke anakku untuk sesekali jenguk ibu, siapa tahu ibu sudah tidak ada. Lalu anak saya menjawab “aku repot,” urai Salamah sambil berkaca-kaca.

Selama tinggal di rumah sang anak, ketika ia ingin makan harus masak sendiri. Ironisnya Salamah juga tak diizinkan memasak di dapur rumah anaknya, melainkan di luar rumah mereka.

“Kalau masak di dapur takut dapurnya berantakan dan kotor. Saya takut kena marah anak dan cucu,” sebutSalamah.

Saat ini, Salamah merasa nyaman tinggal di panti. “Keleh aku melai huang panti jompo bara aq melai umba kawan anak kuh...lebih mangat aku melai huang panti jompo keleh oloh je tau dengankuh bara kawan anak kuh (aku lebih senang tinggal di panti jompo daripada sama anak karena lebih nyaman di sini),”bebernya.

 Salamah pun sudah mempersiapkan bekal ketika ia telah tiada. Ada baju kebaya dan peralatan lainnya dalam sebuah kotak yang terbuat dari alumunium. Ia merasa hidupnya tak akan lama. Saat ini ia sudah merasa sering sakit-sakitan. Tidak ada harapan apapun yang diinginkan Salamah, kecuali menunggu maut menjemput dan tidak ingin membuat anak-anaknya repot. Kemarin saja ia mengaku baru suntik karena kakinya merasa sakit.

 “Saya tidak ingin merepotkan anak-anak ketika saya mati, makanya semua sudah saya persiapkan semua barang perlengkapan ketika saya tiada,” ucapnya lirih sembari menunjukkan barang yang ia bawa ke panti.  

Ketika malam tiba, Salamah sering merasa sedih dan menangis. Dia tidak menyangka anak yang ia besarkan tidak peduli dengan dirinya. Meskipun terkadang ia ingin pulang ke rumah anaknya karena merasa rindu. Hanya satu yang ia inginkan yakni ketika di pulang ke rumah anak-anaknya memperlakukannya dengan kasih sayang. (ram/nto)


BACA JUGA

Senin, 15 Januari 2018 06:57
Ketika Peredaran Miras di Pangkalan Lada Masih Marak

Pemain Lama Tak Jera, Terancam Denda Rp50 Juta

Peredaran Minuman Keras (Miras) di Kecamatan Pangkalan Lada sepertinya masih ada, meskipun diam-diam,…

Jumat, 12 Januari 2018 09:40
Yani, Penderita Gizi Buruk Ditinggal Ayah Tirinya

Diduga Korban Eksploitasi, Uang Sumbangan Dibawa Pergi

Perjalanan hidup Yani Ato (6), gadis kecil asal pulau Soe Nusa Tenggara Timur (NTT), yang didiagnosa…

Kamis, 11 Januari 2018 07:30
Ketika Rumah Makan Korban Pelakor Jadi Viral

Siapkan Menu Tumini hingga Janda Gemes

Istilah Zaman Now dan Perebut Laki Orang (Pelakor) adalah kata-kata yang ngetren saat ini. Bagi Lia…

Minggu, 07 Januari 2018 05:55
Mengenal Kayu Halaban, Tanaman Liar di Tanah Dayak (2/Habis)

Kalapapa Membuat Tahan Lama Urusan Ranjang

Percaya atau tidak, kulit halaban (dalam bahasa Dayak disebut kalapapa) memiliki khasiat ampuh. Tak…

Sabtu, 06 Januari 2018 11:42
Mengenal Kayu Halaban, Tanaman Liar di Tanah Dayak

Bisa Sembuhkan Amandel hingga Tahan Lama Urusan Ranjang

Percaya atau tidak, kulit kayu halaban (dalam bahasa Dayak disebut kayu kalapapa) memiliki khasiat ampuh.…

Sabtu, 06 Januari 2018 09:12
Menelisik Kehidupan Perkampungan Terisolir

Dambakan Kesejahteraan, 80 Tahun tak Teraliri Listrik dan Air Bersih

Warga di Dusun Cempedak, RT 33, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan,  Kotawaringin Barat (Kobar)…

Jumat, 05 Januari 2018 07:39
Cara Keluarga Pemulung Tunanetra Bertahan Hidup

Suami Narik Gerobok, Istri sebagai Pemandu Jalan

Keterbatasan yang dimiliki oleh kakek Hamid (75) tidak menyurutkan semangatnya mencari nafkah, di usia…

Kamis, 04 Januari 2018 08:49
Bangunan Bergaya Eropa Perpaduan China Nasibmu Kini

Cikal Bakal Pendidikan Kobar, Lahirkan Tokoh-tokoh Terkenal

Bangun kuno peninggalan Jepang masih berdiri di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), dari bangunan…

Rabu, 03 Januari 2018 07:45
Rahasia Sukses Usaha Pandai Besi di Pangkalan Lada

Awalnya Terkendala Modal Kini Beromzet Ratusan Juta

Di tengah senjakalanya, ternyata usaha pandai besi masih menjadi bisnis yang menjanjikan di Kalteng.…

Selasa, 02 Januari 2018 08:10
Ketika Teror Jambret Semakin Marak di Sampit

Pelakunya Masih Remaja, Kaum Perempuan Jadi “Mangsa”

Masyarakat Kota Sampit, sepertinya harus lebih waspada ketika berkendara. Terutama jangan lengah menyimpan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .