MANAGED BY:
SENIN
25 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Sabtu, 08 Juli 2017 23:32
Lebih Dekat dengan Nenek Salamah, Penghuni Panti Trisna Werdha (2/habis)
Tidak Ingin Merepotkan Anak dan Cucu, Siapkan Peralatan Ketika Meninggal
Nenek Salamah saat menunjukkan peralatan yang akan dipakai ketika ia meninggal kelak, Kamis (6/7) siang. (NAUVAL FOR KALTENG POS)

PROKAL.CO, Sejatinya di usia senjanya nenek Salamah ingin hidup bahagia bersama anak dan cucunya. Namun apa daya? nasib berkata lain. Di sisa hidupnya, harus menghabiskan hari-harinya di panti jompo.

ENDRAWATI, Palangka Raya

SEBELUM tinggal di panti jompo, nenek Salamah dulu tinggal di Pujon. Setelah suaminya meninggal sekitar 10 tahun yang lalu, ia pun tinggal bersama kedua anaknya. Salamah dikaruniai dua anak perempuan. Anak pertama tinggal di Pujon dan anak keduanya tinggal di Palangka Raya.

Penderitaan Salamah bertambah, ketika sang ingin anak menjual rumah peninggalan almarhum suaminya. Menurut pengakuannya rumah tersebut mereka dijual untuk modal menikah anaknya yang keduanya.

“Rumah di Pujon dijual untuk modal kawin anakku dan untuk beli rumah di Palangka Raya,”ucap nenek Salamah.

Nenek Salamah lantas setuju dengan keinginan anaknya yang ingin menjual rumah mereka. Sejak itu, Salamah pun tinggal di rumah anaknya di Palangka Raya. Selama tinggal bersama anaknya, ia merasa kurang nyaman. Anak dan cucunya tidak memperlakukan dirinya layaknya orangtua.

“Sebelum ke panti, aku pernah ngomong ke anakku untuk sesekali jenguk ibu, siapa tahu ibu sudah tidak ada. Lalu anak saya menjawab “aku repot,” urai Salamah sambil berkaca-kaca.

Selama tinggal di rumah sang anak, ketika ia ingin makan harus masak sendiri. Ironisnya Salamah juga tak diizinkan memasak di dapur rumah anaknya, melainkan di luar rumah mereka.

“Kalau masak di dapur takut dapurnya berantakan dan kotor. Saya takut kena marah anak dan cucu,” sebutSalamah.

Saat ini, Salamah merasa nyaman tinggal di panti. “Keleh aku melai huang panti jompo bara aq melai umba kawan anak kuh...lebih mangat aku melai huang panti jompo keleh oloh je tau dengankuh bara kawan anak kuh (aku lebih senang tinggal di panti jompo daripada sama anak karena lebih nyaman di sini),”bebernya.

 Salamah pun sudah mempersiapkan bekal ketika ia telah tiada. Ada baju kebaya dan peralatan lainnya dalam sebuah kotak yang terbuat dari alumunium. Ia merasa hidupnya tak akan lama. Saat ini ia sudah merasa sering sakit-sakitan. Tidak ada harapan apapun yang diinginkan Salamah, kecuali menunggu maut menjemput dan tidak ingin membuat anak-anaknya repot. Kemarin saja ia mengaku baru suntik karena kakinya merasa sakit.

 “Saya tidak ingin merepotkan anak-anak ketika saya mati, makanya semua sudah saya persiapkan semua barang perlengkapan ketika saya tiada,” ucapnya lirih sembari menunjukkan barang yang ia bawa ke panti.  

Ketika malam tiba, Salamah sering merasa sedih dan menangis. Dia tidak menyangka anak yang ia besarkan tidak peduli dengan dirinya. Meskipun terkadang ia ingin pulang ke rumah anaknya karena merasa rindu. Hanya satu yang ia inginkan yakni ketika di pulang ke rumah anak-anaknya memperlakukannya dengan kasih sayang. (ram/nto)


BACA JUGA

Sabtu, 09 September 2017 07:04
Pariman, Pengidap Penyakit Misterius Pascaoperasi

Dada Membengkak, Tak Punya Biaya untuk Kemoterafi

Pariman sontak menjadi perhatian dan keprihatinan dari masyarakat Kota Nanga Bulik, karena harus menahan…

Minggu, 03 September 2017 21:56
Sukarman, Tiga Tahun Derita Kanker Darah

Sudah 25 Kali Masuk Rumah Sakit, Dirujuk ke Banjarmasin Tidak Punya Biaya

Sukarman (54) hanya bisa terbaring di dalam rumah berukuran 4x6 milik Anjeng Kartini seorang warga di…

Sabtu, 02 September 2017 01:41
Rinco Norkim Berpulang

Selamat Jalan “Sang Penjaga Hutan”

  DI TENGAH kekhidmatan merayakan Hari Raya Iduladha, kabar duka juga tiba-tiba terdengar menjelang…

Selasa, 22 Agustus 2017 06:56
Cara Polres Kobar Mencegah Karhutla di Bumi Marunting Batu Aji

Sebarkan Maklumat Kapolda Sampai ke Desa Terpencil

Polres Kotawaringin Barat (Kobar) begitu intens menjaga daerah berjuluk Bumi Marunting Batu Aji dari…

Kamis, 17 Agustus 2017 21:07

Oleh-oleh dari menuntut Ilmu di Negeri Matahari, Jepang (11)

Banyak alasan orang dewasa di Jepang menunda perkawinan. Bahkan terkesan momok bagi mereka yang ingin…

Rabu, 16 Agustus 2017 07:02
Yang Dilakukan Sakariyas di Hari Pertama Menjabat Bupati Katingan

Kumpulkan Semua Pegawai dan Tokoh Masyarakat

Sakariyas resmi menjadi orang nomor satu di Kabupaten Katingan, Jumat (11/8) lalu, namun kesibukannya…

Rabu, 16 Agustus 2017 00:50
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (7)

Pekerja Dilarang Telat, Transportasi Harus Sesuai Perjanjian

Teraturnya lalu lintas di Jepang membuat kagum banyak orang, termasuk rombongan Kalteng Pos Group. Jalan…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:58
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (6)

Hachiko Anjing Setia Terkenal setelah Masuk Koran

Hachiko tak kenal menyerah untuk menemukan majikannya. Si anjing itu tetap setia menunggu Profesor Ueno…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:53
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (5)

Anjing Hachiko Sembilan Tahun Menunggu Tuannya

Berkunjung ke Jepang rasanya kurang lengkap sebelum mengunjungi Patung Hachiko. Patung itu dibuat untuk…

Selasa, 15 Agustus 2017 06:24
Slamet, Seniman Berbakat dari Lapas Klas IIB Pangkalan Bun

Lukisan Bupati Jadi Kado di Hari Kemerdekaan

Selama menjalani sepertiga masa hukuman, sudah sederet lukisan lahir dari tangan seniman Slamet Wisnu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .