MANAGED BY:
SABTU
22 JULI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Jumat, 07 Juli 2017 21:24
Lebih Dekat dengan Nenek Salamah Penghuni Panti Trisna Werdha (1)
Pilih Tinggal di Panti Sampai Mati Daripada Hidup Bersama sang Anak
Nenek Salamah ketika dibincangi di panti jompo Trisna Werdha Kecamatan Bukit Batu Tangkiling, Kamis (6/7) siang. (Nauval for Kalteng Pos)

PROKAL.CO, Ada tiga fase besar dalam kehidupan manusia, yakni lahir, hidup dan mati. Ketiga fase ini akan dilalui setiap manusia di dunia. Seperti manusia yang lain, fase kehidupan menuju fase terakhir inilah kini yang ditunggu-tunggu nenek Salamah.

Endrawati – Palangka Raya

PAGI itu, Kamis (6/7) mentari tampak tersipu malu memancarkan sinarnya. Sekitar pukul 07.00 pagi, nenek Salamah sudah berada di Jalan Tjilik Riwut Km 1. Pagi itu, rencananya nenek berusia 80 tahun ini ingin ke Panti Jompo Trisna Werdha yang ada di Kecamatan Bukit Batu Tangkiling.

Salah seorang ibu, Vivi Suminah namanya yang merasa iba pun menghampiri sang nenek ketika melintas di jalan tersebut.  Niat Vivi saat itu ingin menyapa dan memberikan buah yang dibawanya. Perbincangan pun terjadi. Nenek Salamah menceritakan bahwa ia ingin pergi ke panti jompo dengan berjalan kaki dan tinggal di sana.

“Saya kasihan melihatnya berjalan kaki membawa banyak barang. Waktu itu saya mau berangkat kerja, kebetulan lihat nenek ini saya berhenti. Niatnya pengen kasih buah saja. Ketika saya tanya si nenek ingin pergi ke panti jompo jalan kaki,” ungkap Vivi Suminah ketika dibincangi Kalteng Pos, Kamis (6/7) siang.

Mendengar cerita sang nenek Vivi pun merasa iba. Singkat cerita, sang nenek pun diantar ke panti oleh suami Vivi Suminah yang kebetulan juga sedang menjalankan tugas ke arah Tangkiling menggunakan sepeda motor.

Sekitar pukul 12.30 saat jam istirahat kerja, penulis berkesempatan bisa bertatap muka dengan nenek Salamah atas fasilitasi Vivi Suminah dan rekan-rekan komunitas Human Community Palangka Raya (HCP).

Sekitar pukul 13.00 siang diiringi rintik hujan penulis meluncur ke Tangkiling bersama rombongan HCP. Tepat pukul 13.30 kami pun tiba di sana, hujan bertambah lebat tak menyurutkan niat kami untuk menjenguk nenek Salamah.

Ketika ditemui, nenek Salamah sedang berada di kamarnya. Meskipun saat ini wajahnya dipenuhi kerutan, namun masih terlihat cantik. Nenek asal Pujon ini tampaknya tengah beristirahat, ketika ditemui sedang mengenakan bahalai (kain serupa dengan sarung) dan berkebaya putih. Salamah menyambut kami dengan senyum ramah. Perbincangan pun mengalir dengan santai diwarnai deru hujan dan sesekali bunyi petir memekakan telinga. Nenek dua anak ini menceritakan sekilas perjalanan hidupnya. Sayangnya nenek Salamah tidak fasih berbahasa Indonesia, sehingga berkomunikasinya pun menggunakan bahasa Dayak.

Nenek Salamah pun bercerita, ia memilih tinggal di panti karena merasa lebih nyaman dan diperhatikan. Menurut penuturannya, selama tinggal di rumah ia kurang mendapat perhatian.

Dulu, ujar Salamah, ia punya rumah peninggalan suaminya di daerah Pujon. Setelah suaminya meninggal ia pun tinggal bersama kedua anaknya. Salamah dikaruniai dua anak dan semua perempuan. Anak pertama tinggal di Pujon dan anak keduanya tinggal di Palangka Raya.

Penderitaan Salamah bertambah, ketika sang ingin anak menjual rumah peninggalan almarhum suaminya. Menurut pengakuannya rumah tersebut mereka dijual untuk modal menikah anaknya yang keduanya. “Rumah di Pujon dijual untuk modal kawin anakku dan untuk beli rumah di Palangka Raya,” urai nenek Salamah.

Lantas setelah itu, Salamah ikut tinggal di rumah anaknya di Palangka Raya. Selama tinggal bersama anaknya, ia merasa kurang nyaman jauh dari kata menyenangkan.  Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di panti. “Aku pernah ngomong ke anakku sesekali jenguk mama, kalau- kalau mama sudah meninggal. Anak saya menjawab “aku repot,” urai Salamah sambil berkaca-kaca.

Masih menurut pengakuan nenek Salamah, selama tinggal di rumah sang anak, ia masak sendiri. Ironisnya Salamah juga tak diizinkan memasak di dapur rumah anaknya, melainkan di luar rumah mereka. “Kalau masak di dapur takut dapurnya berantakan dan kotor. Saya takut kena marah anak dan cucu,” urai Salamah.

Saat ini Salamah merasa nyaman tinggal di panti. “Keleh aku melai huang panti jompo bara aq melai umba kawan anak kuh...lebih mangat aku melai huang panti jompo keleh oloh je tau dengankuh bara kawan anak kuh (aku lebih senang tinggal di panti jompo daripada sama anak karena lebih nyaman di sini),”ucap Salamah.

Salamah pun sudah mempersiapkan bekal ketika ia telah tiada. Sembari menunjukkan barang yang ia bawa ke panti. Ada baju kebaya dan peralatan lainnya dalam sebuah kotak yang terbuat dari alumunium. Ia merasa hidupnya tak akan lama. Saat ini ia sudah merasa sering sakit-sakitan. Tidak ada harapan apapun yang diinginkan Salamah, kecuali menunggu maut menjemput dan tidak ingin membuat anak-anaknya repot.

Kemarin saja ia mengaku baru suntik karena kakinya merasa sakit.  “Saya tidak ingin merepotkan anak-anak ketika saya mati, makanya semua sudah saya persiapkan semua barang perlengkapan ketika saya tiada,” ucapnya lirih.

Ketika malam tiba, Salamah sering merasa sedih dan menangis. Dia tidak menyangka anak yang ia besarkan tidak peduli dengan dirinya. Salamah merasa menyesal telah melahirkan anak-anaknya. Baginya lebih baik hidup sama orang lain daripada sama anak-anaknya. Menurutnya orang lain lebih baik memperlakukan dirinya.

Sementara menurut Untung rekan Salamah sesama penghuni panti. Salamah orang yang baik dan ramah. Senada Ane, rekan sekamarnya Salamah pun mengatakan demikian. Rupanya, Salamah sering keluar masuk panti. Terkadang ia pulang ke rumah anaknya karena merasa rindu. Salamah juga tak ingat ketika ditanya berapa lama sudah menjadi penghuni panti. Ia menginginkan ketika di pulang ke rumah anak-anaknya memperlakukannya dengan kasih sayang. (*/nto)


BACA JUGA

Sabtu, 08 Juli 2017 23:32
Lebih Dekat dengan Nenek Salamah, Penghuni Panti Trisna Werdha (2/habis)

Tidak Ingin Merepotkan Anak dan Cucu, Siapkan Peralatan Ketika Meninggal

Sejatinya di usia senjanya nenek Salamah ingin hidup bahagia bersama anak dan cucunya. Namun apa daya?…

Jumat, 07 Juli 2017 21:24
Lebih Dekat dengan Nenek Salamah Penghuni Panti Trisna Werdha (1)

Pilih Tinggal di Panti Sampai Mati Daripada Hidup Bersama sang Anak

Ada tiga fase besar dalam kehidupan manusia, yakni lahir, hidup dan mati. Ketiga fase ini akan dilalui…

Rabu, 05 Juli 2017 13:29

Cerita Agustiar tentang Sugianto Sabran

SOSOK Sugianto Sabran bagi sang kakak, Agustiar Sabran, bukan hanya sekadar adik tapi juga teman dan…

Rabu, 05 Juli 2017 12:35

Melihat Permainan Baru Yang Menyedot Perhatian Anak-Anak

Eksavator mini tenaga air sedang digemari anak-anak. Mainan kecil yang sedang booming di daerah lain…

Senin, 03 Juli 2017 17:12
Arti Pakaian Dinas di Mata Purnawirawan Polri

Hargai dan Jangan Melukai Seragammu

Makna Tribata jangan hanya diucap secara lisan. Jangan hanya diucapkan saat masa-masa pendidikan. Tetapi…

Senin, 03 Juli 2017 16:48

Kisah Unik Usai Lebaran, Perjaka yang Nikahi Dua Gadis Sekaligus

Idulfitri 1438 Hijriyah ini tampaknya betul-betul membawa berkah bagi Dialah Senum (22). Bagaimana tidak,…

Sabtu, 01 Juli 2017 17:50
Melihat Objek Wisata Pantai di Kabupaten Kobar

Jadi Andalan Destinasi Wisata, Masyarakat Masih Buang Sampah Sembarangan

Dibalik indahnya pantai di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), ada pekerjaan rumah bagi pemerintah…

Sabtu, 01 Juli 2017 10:00
Ziarah Warnai Peringatan HUT ke-71 Bhayangkara di Seruyan

Generasi Muda Diharapkan Miliki Semangat Seperti Pahlawan

Ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kijang Kencana Kuala Pembuang mewarnai rangkaian peringatan Hari…

Jumat, 30 Juni 2017 17:57
LIPUTAN KHUSUS

Permasalahan Pengembangan Kerbau Rawa Jenamas

MENGEMBANGKAN populasi tujuh ribu kerbau rawa agar bisa dijadikan lokasi wisata, baik bagi masyarakat…

Jumat, 30 Juni 2017 17:50
LIPUTAN KHUSUS

Sejarah, Potensi dan Nilai Ekonomi Kerbau Rawa Jenamas

KERBAU rawa Jenamas awalnya dikembangkan atau dibawa oleh pendatang dari Kalimantan Selatan pada awal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .