MANAGED BY:
SENIN
25 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Jumat, 07 Juli 2017 21:24
Lebih Dekat dengan Nenek Salamah Penghuni Panti Trisna Werdha (1)
Pilih Tinggal di Panti Sampai Mati Daripada Hidup Bersama sang Anak
Nenek Salamah ketika dibincangi di panti jompo Trisna Werdha Kecamatan Bukit Batu Tangkiling, Kamis (6/7) siang. (Nauval for Kalteng Pos)

PROKAL.CO, Ada tiga fase besar dalam kehidupan manusia, yakni lahir, hidup dan mati. Ketiga fase ini akan dilalui setiap manusia di dunia. Seperti manusia yang lain, fase kehidupan menuju fase terakhir inilah kini yang ditunggu-tunggu nenek Salamah.

Endrawati – Palangka Raya

PAGI itu, Kamis (6/7) mentari tampak tersipu malu memancarkan sinarnya. Sekitar pukul 07.00 pagi, nenek Salamah sudah berada di Jalan Tjilik Riwut Km 1. Pagi itu, rencananya nenek berusia 80 tahun ini ingin ke Panti Jompo Trisna Werdha yang ada di Kecamatan Bukit Batu Tangkiling.

Salah seorang ibu, Vivi Suminah namanya yang merasa iba pun menghampiri sang nenek ketika melintas di jalan tersebut.  Niat Vivi saat itu ingin menyapa dan memberikan buah yang dibawanya. Perbincangan pun terjadi. Nenek Salamah menceritakan bahwa ia ingin pergi ke panti jompo dengan berjalan kaki dan tinggal di sana.

“Saya kasihan melihatnya berjalan kaki membawa banyak barang. Waktu itu saya mau berangkat kerja, kebetulan lihat nenek ini saya berhenti. Niatnya pengen kasih buah saja. Ketika saya tanya si nenek ingin pergi ke panti jompo jalan kaki,” ungkap Vivi Suminah ketika dibincangi Kalteng Pos, Kamis (6/7) siang.

Mendengar cerita sang nenek Vivi pun merasa iba. Singkat cerita, sang nenek pun diantar ke panti oleh suami Vivi Suminah yang kebetulan juga sedang menjalankan tugas ke arah Tangkiling menggunakan sepeda motor.

Sekitar pukul 12.30 saat jam istirahat kerja, penulis berkesempatan bisa bertatap muka dengan nenek Salamah atas fasilitasi Vivi Suminah dan rekan-rekan komunitas Human Community Palangka Raya (HCP).

Sekitar pukul 13.00 siang diiringi rintik hujan penulis meluncur ke Tangkiling bersama rombongan HCP. Tepat pukul 13.30 kami pun tiba di sana, hujan bertambah lebat tak menyurutkan niat kami untuk menjenguk nenek Salamah.

Ketika ditemui, nenek Salamah sedang berada di kamarnya. Meskipun saat ini wajahnya dipenuhi kerutan, namun masih terlihat cantik. Nenek asal Pujon ini tampaknya tengah beristirahat, ketika ditemui sedang mengenakan bahalai (kain serupa dengan sarung) dan berkebaya putih. Salamah menyambut kami dengan senyum ramah. Perbincangan pun mengalir dengan santai diwarnai deru hujan dan sesekali bunyi petir memekakan telinga. Nenek dua anak ini menceritakan sekilas perjalanan hidupnya. Sayangnya nenek Salamah tidak fasih berbahasa Indonesia, sehingga berkomunikasinya pun menggunakan bahasa Dayak.

Nenek Salamah pun bercerita, ia memilih tinggal di panti karena merasa lebih nyaman dan diperhatikan. Menurut penuturannya, selama tinggal di rumah ia kurang mendapat perhatian.

Dulu, ujar Salamah, ia punya rumah peninggalan suaminya di daerah Pujon. Setelah suaminya meninggal ia pun tinggal bersama kedua anaknya. Salamah dikaruniai dua anak dan semua perempuan. Anak pertama tinggal di Pujon dan anak keduanya tinggal di Palangka Raya.

Penderitaan Salamah bertambah, ketika sang ingin anak menjual rumah peninggalan almarhum suaminya. Menurut pengakuannya rumah tersebut mereka dijual untuk modal menikah anaknya yang keduanya. “Rumah di Pujon dijual untuk modal kawin anakku dan untuk beli rumah di Palangka Raya,” urai nenek Salamah.

Lantas setelah itu, Salamah ikut tinggal di rumah anaknya di Palangka Raya. Selama tinggal bersama anaknya, ia merasa kurang nyaman jauh dari kata menyenangkan.  Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di panti. “Aku pernah ngomong ke anakku sesekali jenguk mama, kalau- kalau mama sudah meninggal. Anak saya menjawab “aku repot,” urai Salamah sambil berkaca-kaca.

Masih menurut pengakuan nenek Salamah, selama tinggal di rumah sang anak, ia masak sendiri. Ironisnya Salamah juga tak diizinkan memasak di dapur rumah anaknya, melainkan di luar rumah mereka. “Kalau masak di dapur takut dapurnya berantakan dan kotor. Saya takut kena marah anak dan cucu,” urai Salamah.

Saat ini Salamah merasa nyaman tinggal di panti. “Keleh aku melai huang panti jompo bara aq melai umba kawan anak kuh...lebih mangat aku melai huang panti jompo keleh oloh je tau dengankuh bara kawan anak kuh (aku lebih senang tinggal di panti jompo daripada sama anak karena lebih nyaman di sini),”ucap Salamah.

Salamah pun sudah mempersiapkan bekal ketika ia telah tiada. Sembari menunjukkan barang yang ia bawa ke panti. Ada baju kebaya dan peralatan lainnya dalam sebuah kotak yang terbuat dari alumunium. Ia merasa hidupnya tak akan lama. Saat ini ia sudah merasa sering sakit-sakitan. Tidak ada harapan apapun yang diinginkan Salamah, kecuali menunggu maut menjemput dan tidak ingin membuat anak-anaknya repot.

Kemarin saja ia mengaku baru suntik karena kakinya merasa sakit.  “Saya tidak ingin merepotkan anak-anak ketika saya mati, makanya semua sudah saya persiapkan semua barang perlengkapan ketika saya tiada,” ucapnya lirih.

Ketika malam tiba, Salamah sering merasa sedih dan menangis. Dia tidak menyangka anak yang ia besarkan tidak peduli dengan dirinya. Salamah merasa menyesal telah melahirkan anak-anaknya. Baginya lebih baik hidup sama orang lain daripada sama anak-anaknya. Menurutnya orang lain lebih baik memperlakukan dirinya.

Sementara menurut Untung rekan Salamah sesama penghuni panti. Salamah orang yang baik dan ramah. Senada Ane, rekan sekamarnya Salamah pun mengatakan demikian. Rupanya, Salamah sering keluar masuk panti. Terkadang ia pulang ke rumah anaknya karena merasa rindu. Salamah juga tak ingat ketika ditanya berapa lama sudah menjadi penghuni panti. Ia menginginkan ketika di pulang ke rumah anak-anaknya memperlakukannya dengan kasih sayang. (*/nto)


BACA JUGA

Sabtu, 09 September 2017 07:04
Pariman, Pengidap Penyakit Misterius Pascaoperasi

Dada Membengkak, Tak Punya Biaya untuk Kemoterafi

Pariman sontak menjadi perhatian dan keprihatinan dari masyarakat Kota Nanga Bulik, karena harus menahan…

Minggu, 03 September 2017 21:56
Sukarman, Tiga Tahun Derita Kanker Darah

Sudah 25 Kali Masuk Rumah Sakit, Dirujuk ke Banjarmasin Tidak Punya Biaya

Sukarman (54) hanya bisa terbaring di dalam rumah berukuran 4x6 milik Anjeng Kartini seorang warga di…

Sabtu, 02 September 2017 01:41
Rinco Norkim Berpulang

Selamat Jalan “Sang Penjaga Hutan”

  DI TENGAH kekhidmatan merayakan Hari Raya Iduladha, kabar duka juga tiba-tiba terdengar menjelang…

Selasa, 22 Agustus 2017 06:56
Cara Polres Kobar Mencegah Karhutla di Bumi Marunting Batu Aji

Sebarkan Maklumat Kapolda Sampai ke Desa Terpencil

Polres Kotawaringin Barat (Kobar) begitu intens menjaga daerah berjuluk Bumi Marunting Batu Aji dari…

Kamis, 17 Agustus 2017 21:07

Oleh-oleh dari menuntut Ilmu di Negeri Matahari, Jepang (11)

Banyak alasan orang dewasa di Jepang menunda perkawinan. Bahkan terkesan momok bagi mereka yang ingin…

Rabu, 16 Agustus 2017 07:02
Yang Dilakukan Sakariyas di Hari Pertama Menjabat Bupati Katingan

Kumpulkan Semua Pegawai dan Tokoh Masyarakat

Sakariyas resmi menjadi orang nomor satu di Kabupaten Katingan, Jumat (11/8) lalu, namun kesibukannya…

Rabu, 16 Agustus 2017 00:50
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (7)

Pekerja Dilarang Telat, Transportasi Harus Sesuai Perjanjian

Teraturnya lalu lintas di Jepang membuat kagum banyak orang, termasuk rombongan Kalteng Pos Group. Jalan…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:58
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (6)

Hachiko Anjing Setia Terkenal setelah Masuk Koran

Hachiko tak kenal menyerah untuk menemukan majikannya. Si anjing itu tetap setia menunggu Profesor Ueno…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:53
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (5)

Anjing Hachiko Sembilan Tahun Menunggu Tuannya

Berkunjung ke Jepang rasanya kurang lengkap sebelum mengunjungi Patung Hachiko. Patung itu dibuat untuk…

Selasa, 15 Agustus 2017 06:24
Slamet, Seniman Berbakat dari Lapas Klas IIB Pangkalan Bun

Lukisan Bupati Jadi Kado di Hari Kemerdekaan

Selama menjalani sepertiga masa hukuman, sudah sederet lukisan lahir dari tangan seniman Slamet Wisnu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .