MANAGED BY:
MINGGU
22 JULI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Senin, 03 Juli 2017 17:12
Arti Pakaian Dinas di Mata Purnawirawan Polri
Hargai dan Jangan Melukai Seragammu
Tice H Senas merapikan seragam Polri yang dikenakan suaminya Aiptu Ayandi T Bingan, beberapa waktu lalu. (AGUS PRAMONO/KALTENG POS)

PROKAL.CO, Makna Tribata jangan hanya diucap secara lisan. Jangan hanya diucapkan saat masa-masa pendidikan. Tetapi pedoman hidup Polri itu harus melekat di hati. Sampai pensiun. Bahkan sampai akhir hayat.

AGUS PRAMONO, Palangka Raya

DIBERI kepercayaan mengabdi selama 38 tahun 11 bulan merupakan sebuah kebanggaan bagi Aiptu Purnawirawan (purn) Ayandi T Bingan. Tertanggal 1 Juni lalu sudah memasuki masa purna tugas alias pensiun.

Berat. Berat sekali. Harus menanggalkan seragam yang selalu ia hargai itu. Setiap pagi, pergi ke kantor dengan gagahnya seragam itu dikenakannya. Kini, memakai seragam warna cokelat itu tinggal kenangan.

Terakhir, di saat masa purnatugas, dia diberi kesempatan memakainya kembali 1 Juli lalu, saat diundang oleh Kapolda Kalteng Brigjen Pol Anang Revandoko bersama purnawirawan lainnya menghadiri perayaan HUT ke-71 Bhayangkara di Mapolda Kalteng.

Momen itu tak disia-siakan. Istrinya, Tice H Senas, tak lupa merapikan seragam dan tanda pangkat yang dikenakan sang suami sebelum berangkat. Kangen itu terobati, lantaran seragam itu tak dipakai suaminya sebulan terakhir ini. Tak lupa, diabadikan dengan dengan kamera handphone produksi Jepang miliknya sebelum berangkat.

Setelah acara di Mapolda Kalteng, Kalteng Pos menyempatkan berbincang-bincang di rumahnya, Jalan Anggrek III. Di bawah pondok ukuran 4x4 meter itu, kakek enam cucu itu berbagi pengalaman selama bertugas menjadi abdi negara. Sudah pasti, suka dan duka dirasakan.

Pertama kali dinas tahun 1978. Setelah menyelesaikan pendidikan di SPN Banjarbaru. Petualangannya mengenakan seragam diawali saat berdinas di Komando Resort (Kores) 1309 Palangka Raya. Pernah juga bertugas di Polsek Tumbang Miri tahun 2000. Belum adanya akses jalan dan alat komunikasi yang canggih seperti saat ini, tak menghentikan langkahnya untuk menjadi pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.

“Pernah, harus menempuh perjalanan enam jam naik kelotok untuk menuju ke TKP. Melewati curam dan arus sungai yang deras,”kata purnawirawan yang mempunyai basic reskrim itu.

Seragam Polri tak ubahnya kulit baginya. Melekat. Menyatu dalam tubuhnya. Tribata menjadi pedoman moral dan penuntun nurani yang selalu ia jaga.

“Kalau melupakan itu (Tribata), pasti menyimpang,” ucapnya.

Menurut sang istri, suaminya adalah orang yang menerapkan sikap disiplin dalam keluarga maupun saat bertugas. Tidak ada istilah bangun siang.

“Jam 4 subuh sudah bangun,” sambung Tice yang duduk di samping kiri sang suami.

Kepercayaan dan dukungan juga diberikan sepenuhnya saat bertugas. Tidak ada rasa curiga. Pernah dalam mendampingi sang suami, selama dua bulan ditinggal tugas di Gunung Mas, hanya sesekali mengirim surat untuk mengabarkan kondisinya.

Sebagai bhayangkari, dia selalu menyematkan pesan saat sang suami berangkat tugas, yakni, menghargai seragam yang dikenakan.

“Saya selalu percaya sama bapak. Saya tahu tekad dalam hati bapak, adalah menjalankan tugas,”kata perempuan yang sudah pensiun tiga tahun lalu dari Dinas Pendidikan Kalteng.

Ayandi, terakhir bertugas selama 12 tahun di Polsek Pahandut. Tugasnya sebagai fungsi Binmas mengharuskan untuk lebih banyak bersosialisasi dengan masyarakat. Kesehariannya memberikan imbauan kamtibmas dan menyaring informasi dari masyarakat dijalaninya dengan ikhlas.

Dia hanya berharap seluruh peluh dan tetesan keringat yang dikeluarkan dalam mengabdi senantiasa berkah bagi institusi dan keluarganya.

“Semua kalau dijalani dengan ikhlas dan tanpa mengeluh, saya yakin hidup kita tenang,” imbuhnya sambil menunjukkan lembaran kertas berisi imbauan larangan membakar lahan tertanda tangan Kapolda Kalteng Brigjen Pol Anang Revandoko.

“Ini (lembaran kertas imbauan, red) saya simpan buat kenang-kenangan dan saya perbanyak, buat dibagikan ke masyarakat, kalau ada kesempatan,” tambahnya.

Secinta apa dengan polri? Pertanyaan itulah yang membuat Aiptu (purn) Ayandi T Bingan terdiam sejenak. Tangan kanannya mengambil selembar tisu di atas meja. Lalu, menyeka air matanya yang tak kuasa bergulir di pipinya.

“Tak bisa diuraikan dengan kata-kata. Pasti bangga,” ucapnya lirih.

Meski sudah purna tugas, Tribata masih ada di hatinya. Bahkan melekat erat. Dia berpesan dan tidak ada maksud untuk menggurui, jika keikhlasan dan disiplin, penting bagi anggota Polri. Di usia Bhayangkara yang sudah 71 tahun ini, dia berharap Polri lebih dicintai masyarakat. Semakin menunjukkan kinerja yang profesional.

“Jangan melukai seragam yang kau kenakan,” tutupnya. Dirgahayu Bhayangkara. (*/c3/abe/nto)


BACA JUGA

Sabtu, 12 Mei 2018 10:05
Toni Ardiyanto, Remaja 14 Tahun dengan Berat Badan 9 Kilogram

Diduga Gizi Buruk sampai Terminum Air Ketuban

Keluarga Suyatno (53) dan Suyati (36) dikaruniai anak pertama mereka bernama Toni Ardiyanto. Namun,…

Sabtu, 07 April 2018 07:49
Ketika Warung Goyang Seberang Vihara Ditutup Paksa

Kini, Pengguna Jalan Tak Lagi Curi-curi Pandang

Keluhan masyarakat akhirnya dijawab Satpol PP Palangka Raya. Warung goyang yang ada di pinggiran Jalan…

Sabtu, 31 Maret 2018 07:10
Sengsaranya Melalui Kubangan Lumpur di Jalan Kolam-Pangkalan Bun

Melewati 10 Meter Serasa 300 Kilometer

Puluhan kendaraan roda empat tak bergeming dari tempatnya. Hanya mesinnya menyala. Ada juga memilih…

Jumat, 30 Maret 2018 10:19

Pak Bo, Penjaga Pintu Rahim Masupa Ria

Tenaga kesehatan di Desa Masupa Ria sangat terbatas. Tidak ada bidan maupun perawat, apalagi dokter.…

Kamis, 29 Maret 2018 09:51
Masupa Ria, “Lumbung” Emas yang Terlupakan (3/habis)

Janji Manis Pemda Sedikit Mengurangi Tangis

Tradisi, potensi dan cita-cita sampai mati di desa menjadi roda kehidupan yang pasti. Pilihannya, bertahan…

Rabu, 28 Maret 2018 09:30
Masupa Ria, “Lumbung” Emas yang Terlupakan (2)

Kasek Hanya Setahun Sekali ke Sekolah

Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Masupa Ria dihuni 17 murid. Ada tiga guru berstatus honorer. Bagi mereka,…

Selasa, 27 Maret 2018 09:48
Masupa Ria, Lumbung Emas yang Terlupakan (1)

Jangankan Bantuan, Wajah Bupati pun Tak Tahu

Era 80-an, Desa Masupa Ria menjadi magnet kuat bagi mereka yang berburu bongkahan emas. Kejayaan itu…

Minggu, 25 Maret 2018 07:32
Senja Kala Lokasi Prostitusi Dukuh Mola (2)

Ratusan PSK Tak Mampu Bayar Hutang ke Muncikari

Kebijakan penutupan lokasi prostitusi memukul perekonomian di kawasan itu, sehingga perputaran uang…

Selasa, 20 Maret 2018 09:55
Ziarah Rohani ke Yerusalem-Mesir 11 Hari Bersama Rich Tour (10/Habis)

Doa Orang Percaya Pindahkan Gunung

Perjalanan atau ziarah rohani Yerusalem-Mesir 11 Hari bersama Rich Tour ditutup dengan tiga hari di…

Rabu, 14 Maret 2018 07:43
Ziarah Rohani ke Yerusalem-Mesir 11 Hari Bersama Rich Tour (4)

Sulitnya Masuk ke Negeri Perjanjian

Oh.. Yerusalem, Kota Mulia, hatiku rindu ke sana… Itulah sepenggal lagu yang menggambarkan keinginan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .