MANAGED BY:
JUMAT
22 SEPTEMBER
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Jumat, 30 Juni 2017 17:57
LIPUTAN KHUSUS
Permasalahan Pengembangan Kerbau Rawa Jenamas
Salah satu kandang kerbau rawa milik warga di Jenamas, Kabupaten Barito Selatan. (AGUS PECE/KALTENG POS)

PROKAL.CO, MENGEMBANGKAN populasi tujuh ribu kerbau rawa agar bisa dijadikan lokasi wisata, baik bagi masyarakat lokal maupun mancanegara, terbentur permasalahan kompleks. Masalah paling utama adalah jarak tempuh sangat jauh.

Meski begitu, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Barsel H Raden Sudarto mengatakan, dalam kurung waktu empat tahun terakhir ini pihaknya sudah melakukan peninjauan tempat atau lokasi hingga potensi yang katanya akan dijadikan objek wisata.

“Yang pasti kita tahu bahwa tempat penangkaran kerbau rawa itu semuanya di atas permukaan sungai, tepatnya di Desa Tampulangit dan beberapa desa lainnya di Wilayah Kecamatan Jenamas,” ucap Raden saat ditemui Kalteng Pos di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu.

Dari hasil peninjauan selama empat tahun terakhir itu juga, lanjut pria akrab disapa Haji Alek itu, Disparbud yang kemudian berganti nama Disporaparbud, seringkali mengusulkan kepada lembaga legislatif, agar populasi kerbau rawa bisa dijadikan tempat atau lokasi objek wisata, yang kemudian pengembangannya bisa diambilkan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

“Pada intinya permasalahanya tidak adanya dana anggaran untuk bisa mengembangkan kerbau rawa menjadi tempat atau lokasi wisata. Sebab dalam setiap tahunnya, hanya lokasi wisata Sanggu saja yang memberikan kontribusi terbesar bagi PAD,”ujarnya mengakhiri.

Di tempat terpisah, Ramin Hanan Kepala Bappeda Barito Selatan (Barsel) mengakui, untuk mengembangkan kerbau rawa menjadi tempat atau lokasi wisata permanen sama sekali tidak mudah. “Memerlukan biaya besar. Satu-satunya cara untuk mengembangkan bidang kepariwisataan di Barsel, yakni adanya pihak ketiga (investor),” singkat mantan Kadis PU Barsel itu.

Ketika solusi anggaran sudah ada gambaran dari pengusaha, masalah lain harus diselesaikan. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPP) Barsel Rusdhaasyoqa Eak, justru secara tidak langsung enggan mengakui jika kerbau-kerbau yang ada di Kecamatan Jenamas itu asli dimiliki warga Barsel. Selama ini, juga tidak ada yang bisa dihasilkan bagi Pemkab Barsel dari kerbau rawa.
“Kerbau rawa yang diternak di sana, kebanyakan milik Kalsel sehingga tidak ada PAD bagi Barsel, karena milik Kalsel,”celetuknya.

Penjelasan berbeda dilontarkan Kabid Peternakan DKPP Barsel Hevijanto. Menurutnya, yang menjadi kendala sehubungan surat-menyurat dikeluarkan DKPP Barsel untuk proses penjualan kerbau rawa tidak berlaku ketika memasuki Kalsel.

“Kawan-kawan di UPT Pos Kesehatan Hewan dan Pengembangan Bibit Hijau Makanan Ternak di Jenamas, sudah berusaha menata. Artinya terkait dengan surat-menyurat dibuatkan di Barsel. Tetapi pada praktiknya surat dan keterangan itu tidak laku di Kalsel,” paparnya.

Sebelumnya, pernah disosialisasikan kepada masyarakat dengan konsep. Minimal pihaknya mengantongi data berapa kerbau yang keluar ke Kalsel. Tapi, ujung-ujungnya terbentur persoalan surat-menyurat tadi, yang mengharuskan diganti dengan surat dari Kalsel.

Sehingga serapan PAD memang tidak ada dari kerbau rawa tersebut. Keuntungannya hanya dinikmati peternak kerbau. Sebab pembelinya sudah rutin berasal dari Kalsel. Konsumen yang memerlukan dan terbiasa mengonsumsi kerbau rawa itu hanya berasal dari Kalsel.

"Sementara masyarakat Barsel sendiri tidak terbiasa. Kalau pun ada, mungkin sewaktu ada acara adat,"sebutnya.

Di sisi lain, banyaknya masalah dan kebutuhan mewujudkan objek wisata, menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah yang mewacanakannya. Peternak terus berharap tidak dibiarkan berjalan sendiri. Dengan segala upaya, yang awalnya sebatas katanya wisata kerbau rawa, benar-benar nyata dan apa adanya. (ner/tha/c3/abe/nto)


BACA JUGA

Sabtu, 09 September 2017 07:04
Pariman, Pengidap Penyakit Misterius Pascaoperasi

Dada Membengkak, Tak Punya Biaya untuk Kemoterafi

Pariman sontak menjadi perhatian dan keprihatinan dari masyarakat Kota Nanga Bulik, karena harus menahan…

Minggu, 03 September 2017 21:56
Sukarman, Tiga Tahun Derita Kanker Darah

Sudah 25 Kali Masuk Rumah Sakit, Dirujuk ke Banjarmasin Tidak Punya Biaya

Sukarman (54) hanya bisa terbaring di dalam rumah berukuran 4x6 milik Anjeng Kartini seorang warga di…

Sabtu, 02 September 2017 01:41
Rinco Norkim Berpulang

Selamat Jalan “Sang Penjaga Hutan”

  DI TENGAH kekhidmatan merayakan Hari Raya Iduladha, kabar duka juga tiba-tiba terdengar menjelang…

Selasa, 22 Agustus 2017 06:56
Cara Polres Kobar Mencegah Karhutla di Bumi Marunting Batu Aji

Sebarkan Maklumat Kapolda Sampai ke Desa Terpencil

Polres Kotawaringin Barat (Kobar) begitu intens menjaga daerah berjuluk Bumi Marunting Batu Aji dari…

Kamis, 17 Agustus 2017 21:07

Oleh-oleh dari menuntut Ilmu di Negeri Matahari, Jepang (11)

Banyak alasan orang dewasa di Jepang menunda perkawinan. Bahkan terkesan momok bagi mereka yang ingin…

Rabu, 16 Agustus 2017 07:02
Yang Dilakukan Sakariyas di Hari Pertama Menjabat Bupati Katingan

Kumpulkan Semua Pegawai dan Tokoh Masyarakat

Sakariyas resmi menjadi orang nomor satu di Kabupaten Katingan, Jumat (11/8) lalu, namun kesibukannya…

Rabu, 16 Agustus 2017 00:50
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (7)

Pekerja Dilarang Telat, Transportasi Harus Sesuai Perjanjian

Teraturnya lalu lintas di Jepang membuat kagum banyak orang, termasuk rombongan Kalteng Pos Group. Jalan…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:58
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (6)

Hachiko Anjing Setia Terkenal setelah Masuk Koran

Hachiko tak kenal menyerah untuk menemukan majikannya. Si anjing itu tetap setia menunggu Profesor Ueno…

Selasa, 15 Agustus 2017 23:53
Oleh-oleh dari Menuntut Ilmu di Negeri Matahari Terbit, Jepang (5)

Anjing Hachiko Sembilan Tahun Menunggu Tuannya

Berkunjung ke Jepang rasanya kurang lengkap sebelum mengunjungi Patung Hachiko. Patung itu dibuat untuk…

Selasa, 15 Agustus 2017 06:24
Slamet, Seniman Berbakat dari Lapas Klas IIB Pangkalan Bun

Lukisan Bupati Jadi Kado di Hari Kemerdekaan

Selama menjalani sepertiga masa hukuman, sudah sederet lukisan lahir dari tangan seniman Slamet Wisnu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .