MANAGED BY:
KAMIS
22 FEBRUARI
UTAMA | LINTAS KALTENG | METROPOLIS | OLAHRAGA | HIBURAN | FEATURE | NASIONAL | ARTIKEL | SERBA SERBI

FEATURE

Jumat, 30 Juni 2017 17:57
LIPUTAN KHUSUS
Permasalahan Pengembangan Kerbau Rawa Jenamas
Salah satu kandang kerbau rawa milik warga di Jenamas, Kabupaten Barito Selatan. (AGUS PECE/KALTENG POS)

PROKAL.CO, MENGEMBANGKAN populasi tujuh ribu kerbau rawa agar bisa dijadikan lokasi wisata, baik bagi masyarakat lokal maupun mancanegara, terbentur permasalahan kompleks. Masalah paling utama adalah jarak tempuh sangat jauh.

Meski begitu, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Barsel H Raden Sudarto mengatakan, dalam kurung waktu empat tahun terakhir ini pihaknya sudah melakukan peninjauan tempat atau lokasi hingga potensi yang katanya akan dijadikan objek wisata.

“Yang pasti kita tahu bahwa tempat penangkaran kerbau rawa itu semuanya di atas permukaan sungai, tepatnya di Desa Tampulangit dan beberapa desa lainnya di Wilayah Kecamatan Jenamas,” ucap Raden saat ditemui Kalteng Pos di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu.

Dari hasil peninjauan selama empat tahun terakhir itu juga, lanjut pria akrab disapa Haji Alek itu, Disparbud yang kemudian berganti nama Disporaparbud, seringkali mengusulkan kepada lembaga legislatif, agar populasi kerbau rawa bisa dijadikan tempat atau lokasi objek wisata, yang kemudian pengembangannya bisa diambilkan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

“Pada intinya permasalahanya tidak adanya dana anggaran untuk bisa mengembangkan kerbau rawa menjadi tempat atau lokasi wisata. Sebab dalam setiap tahunnya, hanya lokasi wisata Sanggu saja yang memberikan kontribusi terbesar bagi PAD,”ujarnya mengakhiri.

Di tempat terpisah, Ramin Hanan Kepala Bappeda Barito Selatan (Barsel) mengakui, untuk mengembangkan kerbau rawa menjadi tempat atau lokasi wisata permanen sama sekali tidak mudah. “Memerlukan biaya besar. Satu-satunya cara untuk mengembangkan bidang kepariwisataan di Barsel, yakni adanya pihak ketiga (investor),” singkat mantan Kadis PU Barsel itu.

Ketika solusi anggaran sudah ada gambaran dari pengusaha, masalah lain harus diselesaikan. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPP) Barsel Rusdhaasyoqa Eak, justru secara tidak langsung enggan mengakui jika kerbau-kerbau yang ada di Kecamatan Jenamas itu asli dimiliki warga Barsel. Selama ini, juga tidak ada yang bisa dihasilkan bagi Pemkab Barsel dari kerbau rawa.
“Kerbau rawa yang diternak di sana, kebanyakan milik Kalsel sehingga tidak ada PAD bagi Barsel, karena milik Kalsel,”celetuknya.

Penjelasan berbeda dilontarkan Kabid Peternakan DKPP Barsel Hevijanto. Menurutnya, yang menjadi kendala sehubungan surat-menyurat dikeluarkan DKPP Barsel untuk proses penjualan kerbau rawa tidak berlaku ketika memasuki Kalsel.

“Kawan-kawan di UPT Pos Kesehatan Hewan dan Pengembangan Bibit Hijau Makanan Ternak di Jenamas, sudah berusaha menata. Artinya terkait dengan surat-menyurat dibuatkan di Barsel. Tetapi pada praktiknya surat dan keterangan itu tidak laku di Kalsel,” paparnya.

Sebelumnya, pernah disosialisasikan kepada masyarakat dengan konsep. Minimal pihaknya mengantongi data berapa kerbau yang keluar ke Kalsel. Tapi, ujung-ujungnya terbentur persoalan surat-menyurat tadi, yang mengharuskan diganti dengan surat dari Kalsel.

Sehingga serapan PAD memang tidak ada dari kerbau rawa tersebut. Keuntungannya hanya dinikmati peternak kerbau. Sebab pembelinya sudah rutin berasal dari Kalsel. Konsumen yang memerlukan dan terbiasa mengonsumsi kerbau rawa itu hanya berasal dari Kalsel.

"Sementara masyarakat Barsel sendiri tidak terbiasa. Kalau pun ada, mungkin sewaktu ada acara adat,"sebutnya.

Di sisi lain, banyaknya masalah dan kebutuhan mewujudkan objek wisata, menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah yang mewacanakannya. Peternak terus berharap tidak dibiarkan berjalan sendiri. Dengan segala upaya, yang awalnya sebatas katanya wisata kerbau rawa, benar-benar nyata dan apa adanya. (ner/tha/c3/abe/nto)


BACA JUGA

Kamis, 22 Februari 2018 09:52
Menelusuri Bekas Kampung Etnis Tionghoa di Kobar (3/Habis)

Tak Diperhatikan, Tetap Jadi Magnet Wisata Sejarah

Keunikan bangunan tua yang berdiri sejak ratusan tahun silam, serta melihat keseharian warga keturunan…

Kamis, 22 Februari 2018 06:49
Menengok Prosesi Sidang BP4R di Mapolda Kalteng

Berawal dari Joget, Tumbuh Benih-benih Cinta

Wajib hukumnya bagi anggota Polri yang ingin menikah. Harus melewati sidang Badan Pembantu Penasihat…

Rabu, 21 Februari 2018 09:16
Melihat Eksotis Taman Hutan Raya Lapak Jarum yang Memesona

Tebing dan Gua Menambah Keindahan Flora dan Fauna

Bumi Habangkalan Penyang Karuhei Tatau menyimpan banyak pemandangan alam yang membelalakkan mata. Topografi…

Selasa, 20 Februari 2018 09:13
Menelusuri Bekas Kampung Etnis Tionghoa di Kobar (1)

Sudah Berdiri sejak Zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit

Bangunan tua bergaya China tradisional yang konon telah berdiri sejak ratusan tahun silam itu, merupakan…

Jumat, 16 Februari 2018 10:54
Fakta Persidangan Dugaan Pembakaran Tujuh Gedung SD

Modus Minta Sumbangan sambil Memetakan Sekolah

Sidang perkara dugaan pembakaran tujuh gedung SD di PN Jakarta Barat, terus berlanjut. Sidang sebelumnya,…

Kamis, 15 Februari 2018 09:36
Ketika Membuka Lahan dengan Cara Dibakar Dilarang

Ratusan Hektare Lokasi Pertanian Sebuai Barat Terbengkalai

Larangan membuka lahan dengan cara dibakar, ternyata berdampak cukup besar bagi masyarakat, karena selama…

Selasa, 13 Februari 2018 10:30

Jaringan Pipa Terbengkalai, Air Tak Mengalir

Berharap Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), dapat mengatasi kesulitan…

Sabtu, 10 Februari 2018 08:11
Melirik Bisnis Budi Daya Madu Kelulut di Kobar (2/Habis)

Satu Liter Bisa Mencapai Rp600 Ribu

Potensi usaha budi daya madu kelulut di Kabupaten Kotawaringin Barat, masih berpeluang besar untuk dikembangkan.…

Senin, 05 Februari 2018 12:52

Melihat Sepak Terjang Anggota Brimob Polda Kalteng di Tanah Papua (1)

Sebanyak 100 anggota Satbrimob Polda Kalteng menjalani tugas di Areal PT Freeport Indonesia, Distrik…

Minggu, 04 Februari 2018 08:12
Kisah Lima Hari Berburu Pemangsa Manusia

Tangkap Buaya dengan Umpan Itik dan Monyet

Perburuan buaya pemakan manusia di Desa Sebangau Jaya, Pulang Pisau, membuahkan hasil. Buaya yang diyakini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .